Mengenal Kanker Darah Limfoma. Agresif dan Berpotensi Kematian. Jawa Pos. 20 Februari 2022. Hal.16

Bulan ini tak ada awan kelabu lagi yang bergelayut di pangkuan hati sang pangeran cinta, Ari Lasso. Kakinya bakal siap melangkah lebih kukuh mengejar matahari setelah medis menyatakan kanker langka di dalam tubuhnya pupus.

SELAMAT datang kembali, Oppa Ari! Agustus tahun lalu, Ari membawa kabar yang mengejutkan publik. Lewat channel YouTube Deddy Corbuzier, Ari mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis kanker darah limfoma. Istilah lainnya adalah diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL). Pria kelahiran Madiun, 1973, itu menyampaikan bahwa kanker yang diidapnya tergolong langka. Jarang terjadi.

DLBCL tergolong kanker agresif dan berpotensi mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan segera. Dokter Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM mengungkapkan, ada dua jenis utama kanker limfoma atau kelenjar getah bening. Pertama, limfoma hodgkin yang melibatkan tipe limfosit sel B yang tidak normal disebut sel reed-sternberg. Jenis kanker itu termasuk limfoma yang lebih jarang terjadi. Lalu, yang kedua, limfoma non-hodgkin (LNH) adalah jenis yang paling umum. Biasanya berkembang dari limfosit B dan T (sel) di kelenjar getah bening atau jaringan di seluruh tubuh.

Niken menyatakan, limfoma memiliki sejumlah gejala yang perlu diwaspadai. Salah satunya, pembesaran kelenjar getah bening biasanya di selangkangan, leher, atau ketiak. Atau, lanjut dia, dapat juga ditemui di tempat lain seperti limpa, saluran cerna, dan rongga dada atau mediastinum. ’’Dapat diikuti gejala penyerta yang disebut gejala B seperti demam, kelelahan, dan keringat malam,’’ imbuhnya.

Staf Medis Fungsional Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair RSUD dr Soetomo Surabaya itu menambahkan, limfoma termasuk keganasan yang agak sering ditemui. Termasuk nomor 7 keganasan di Indonesia. Berdasar data dari lembaga survei dunia Global Cancer Observatory (Globocan), ditemukan 16.125 kasus baru limfoma non-hodgkin di Indonesia pada 2020.

Hingga kini, penyebab pasti limfoma non-hodgkin belum diketahui. Namun, menurut Niken, diketahui ada faktor risiko yang meliputi beberapa hal. Di antaranya, sistem kekebalan tubuh yang lemah, paparan beberapa bahan kimia, infeksi helicobacter pylori kronis, radiasi atau kemoterapi sebelumnya, dan penyakit autoimun.

Bagaimana pasien menjalani pemeriksaan di awal? Niken menjelaskan, proses diagnosis awal untuk limfoma non-hodgkin adalah pemeriksaan fisik, gejala-gejala yang dialami, dan detail riwayat kesehatan. Jika ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening di area tubuh tertentu dan organ limpa, tanpa dapat menemukan penyebabnya, pasien bakal menjalankan pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa pemeriksaan lebih lanjut, antara lain, pemeriksaan biopsi untuk mengambil sampel jaringan yang membesar, kemudian akan diperiksa di laboratorium. Jika ditemukan limfoma non-hodgkin, pemeriksaan dilanjutkan untuk mengetahui stadium dan area persebarannya, sekaligus menentukan tipe limfoma non-hodgkin yang tumbuh. Niken menyampaikan, macam-macam biopsi yang dapat dilakukan adalah biopsi bedah, biopsi jarum, serta biopsi lainnya (biopsi dan aspirasi sumsum tulang, lumbal pungsi, dan sampel cairan peritoneal atau pleura).

Pemeriksaan lainnya selain biopsi adalah pemeriksaan darah lengkap dan urine untuk melihat seberapa lanjut suatu limfoma atau untuk mengetahui kadar sel darah putih atau sel darah merah atau keping darah. Tes kimia darah untuk memastikan fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan pada lactate dehydrogenase (LDH) dilakukan karena sering kali meningkat pada limfoma.

Tak Hanya Menyerang Pria

KANKER DLBCL ternyata tidak hanya menyasar kelompok pria. Dokter Toman Tua Julian Lumban Toruan SpPD-KHOM menjelaskan, limfoma tidak memandang jenis kelamin. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama untuk terserang kanker tersebut. Penanganan kanker limfoma secara standar yang berlaku internasional ialah menggunakan kemoterapi. Tapi dapat juga disertai radiasi dan transplantasi sumsum tulang.

Nah, ada beberapa tips dari Toman sebelum menjalani kemoterapi. Antara lain, makan yang cukup, istirahat cukup, dan konsumsi minuman atau makanan yang mengandung jahe untuk mengurangi mual. Setelah kemoterapi, pasien bisa mengonsumsi obat antimual jika mual, makan dalam porsi kecil tapi sering, dan tidak makan makanan yang terlalu berbumbu atau pedas.

Toman menambahkan, saat menjalani kemoterapi, sebetulnya pasien tidak perlu menggunduli rambut dulu sebelum kemoterapi. Tapi, lanjut dia, ada beberapa pasien yang melakukan itu untuk kepraktisan. Menurut Toman, tergantung preferensi setiap pasien. ”Jangan lupa untuk tetap melakukan kegiatan spiritual dan religius. Supaya mental tetap terjaga selama pengobatan,” tuturnya.

Lantas, bagaimana pengobatan secara herbal? Alumnus Spesialis Penyakit Dalam dan Subspesialis Hematologi Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan, hingga kini belum ada studi penelitian yang mendalam tentang keefektifan pengobatan herbal untuk mengobati kasus limfoma.

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah, Pondok Indah, Jakarta Selatan, tersebut mengungkapkan, limfoma termasuk kanker yang dapat disembuhkan sepanjang pengobatannya dilakukan dengan benar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pasien. Antara lain, jangan mengonsumsi makanan yang mengandung pengawet, kurangi gula, stop merokok, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

STADIUM KANKER LIMFOMA NON-HODGKIN

Setelah diagnosis limfoma non-hodgkin dikonfirmasi, pemeriksaan stadium sangat diperlukan untuk membantu mengembangkan rencana pengobatan. Ada empat stadium dalam limfoma non-hodgkin. Yaitu:

Stadium 1 – kanker menyerang salah satu organ. Misalnya, hanya limfa pada paha atau leher.

Stadium 2 – kanker menyerang dua kelompok organ atau lebih, bisa pada bagian atas atau bawah diafragma (selaput tipis membatasi rongga perut dan rongga dada).

Stadium 3 – kanker sudah menyebar ke organ limfa pada tubuh bagian atas dan bawah diafragma.

Stadium 4 – kanker sudah menyebar melalui sistem limfatik dan masuk ke organ atau sumsum tulang.

Sumber: dr Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM

 

 

 

 

Industri Farmasi Pertebal Stok Multivitamin dan Alkes. Kontan. 4 Februari 2022. Hal. 13

JAKARTA. Kenaikan kasus positif virus Covid-19 yang terpacu penyebaran virus Omimembuat bisnis farmasi ketiban rezeki. Permintaan produk obat-obatan dan layanan kesehatan lainnya mendaki.

Emiten farmasi sekaligus anak usaha PT Kimia Farma Tbk, PT Phapros Tbk (PEHA) menyebut, pandemi Covid-19 mengubah gaya hidup. Masya rakat memilih melakukan aksi preventif dalam kesehatan dengan mengkonsumsi multi vitamin dan suplemen.

Lantaran itu pula, Sekretaris Perusahaan PT Phapros Tbk Zahmilia Akbar menyebut, produk kesehatan lain terkait Covid-19 mengalami peningkatan penjualan. Itulah sebabnya, Phapros terus melakukan continuous improvement di sistem supply chain, sistem manufaktur, sistem pemasaran dan supporting, untuk menjaga proses bisnis di masa pandemi.

Dengan cara ini, perusahaan mampi menjaga ketersediaan stock produk serta menjaga kesehatan masyarakat. Untuk mengoptimalkan produksi PEHA juga bersinergi dengan anak usaha PT Lucas Djaja Group.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga mempersiapkan produk vitamin hingga minuman kesehatan seiring dengan ada nya prediksi lonjakan kasus Covid-19 gelombang ketiga.

Direktur Utama SIDO David Hidayat menuturkan, Sido Muncul mengalami pening katan permintaan atas produk vitamin dan minuman kesehatan dari awal pandemi sampai pandemi gelombang ke dua. “Adanya varian Omicron dan diprediksi terjadi gelombang ketiga, kami juga telah mempersiapkan jika terjadi lonjakan permintaan yang lebih besar,” ujarnya kepada KONTAN, kemarin. Tapi, David tidak memberikan detail besaran lonjakan permintaan yang dialaminya serta volume produksinya.

Hanya SIDO akan mencoba terus fokus memproduksi barang utama dan menjadi andalan yakni vitamin, jamu dan produk herbal seperti Tolak Angin. Produksi minuman ke sehatan dan herbal ini menjadi cara SIDO untuk memanfaatkan peluang dari permintaan yang ada. “Target pertumbuhan penjualan kami tahun ini minimal 15%,” ujar dia. Strategi penjualan terus disempurnakan utamanya penyempurnaan jaringan distri busi, serta meningkatkan penjualan B to B.

Manajemen PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyatakan, saat ini permintaan vitamin dan alkes masih normal diban dingkan dengan masa mening katnya kasus Covid-19 tahun lalu. “Saat kasus Covid-19 melonjak dan bertambah, memang ada peningkatkan permintaan vitamin dan alkes. Sebaliknya, saat Covid-19 turun, demand juga turun. Saat ini normal sesuai kebutuhan konsumen,” ujar Direktur Utama KLBF, Vidjongtius kepada KONTAN, kemarin (3/2).

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan produk alkes, alat kebersihan, dan multivitamin, saat ini Kalbe menyiapkan persediaan yang cukup di semua titik distribusi di seluruh provinsi.

Vidjongtius menambahkan, pihaknya juga akan memperkuat penetrasi pasar melalui penjualan secara online dan offline. “Tahun 2022 ini, kami harapkan pertumbuhan penjualan bisa di angka double digit growth,” tuturnya lagi.

 

Sumber: Kontan. 4 Februari 2022. Hal. 13

7 Cara Mencegah Kambuhnya GERD. Kompas. 8 Februari 2022. Hal. 16

Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit karena naiknya asam lambung sangat mengganggu keseharian, bahkan dapat berakibat fatal. Beberapa upaya dapat dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit ini.

GERD terjadi ketika asam dari lambung kembali naik ke esofagus. Esofagus adalah saluran yang menghubungkan kerongkongan dan perut. Gejala paling umum dari naiknya asam lambung adalah perut yang terasa kembung dan sensasi seperti terbakar pada area dada. Gejala yang lain bisa juga berupa nyeri pada perut, kesulitan menelan, atau batuk.

Menurut Jurnal Penyakit Dalam Indonesia (2019), prevalensi GERD di Indonesia mencapai 22,8 persen. Meski banyak orang menggunakan obat-obatan untuk mengatasinya, ada beberapa modifikasi gaya hidup yang dapat membantu Anda mencegah kambuhnya GERD dan meningkatkan kualitas hidup. Simak beberapa tips berikut ini.

Hindari makanan pemicu

Jenis makanan atau minuman tertentu bisa memicu naiknya asam lambung. Misalnya, kopi, teh, cokelat, makanan berlemak, makanan pedas, tomat, bawang bombai, bawang putih, minuman bersoda, dan alkohol. Jika Anda mempunyai penyakit GERD, jangan konsumsi makanan tersebut dalam jumlah besar atau dalam waktu berturut-turut.

  1. Makan dalam jumlah kecil

Alih-alih makan sekaligus banyak, lebih baik makan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang lebih sering. Ketika perut penuh, risiko refluks asam lambung akan lebih tinggi.

  1. Hindari berbaring setelah makan

Jangan langsung berbaring setelah makan. Ketika Anda berdiri atau duduk, gravitasi akan membantu asam lambung tetap berada di perut. Tidurlah minimal tiga jam setelah makan, ini berlaku untuk tidur malam maupun tidur siang.

  1. Jangan langsung berolahraga berat setelah makan

Hindari aktivitas olahraga berat sampai dengan beberapa jam setelah makan. Berjalan kaki ringan masih oke. Namun, jangan melakukan olahraga intensitas tinggi, apalagi yang melibatkan banyak gerakan membungkuk.

  1. Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi

Bagi mereka yang memiliki penyakit GERD, idealnya ketika tidur posisi kepala berada 15-20 sentimeter lebih tinggi daripada kaki. Namun, yang tidak boleh dilupakan, topangan diagonal harus mencakup bagian punggung atas sampai kepala, jangan cuma bagian kepala. Jadi, menumpuk bantal di bawah kepala bukan solusi. Posisi ideal adalah seperti tempat tidur rumah sakit yang bagian atasnya bisa ditinggikan.

  1. Berbaring dengan tumpuan tubuh bagian kiri

Sejumlah studi mendapati, tidur dengan bertumpu pada tubuh bagian kanan dapat memperburuk gejala GERD. Sementara itu, . berbaring dengan tumpuan tubuh bagian kiri dapat menurunkan keluhan asam lambung. Secara anatomis, ini masuk akal. Esofagus berada di sisi kanan perut. Ketika Anda tidur menghadap kiri, bagian sfingter esofagus bawah berada di atas level asam lambung. Oleh karena itu, risiko asam lambung untuk naik ke kerongkongan menjadi lebih kecil.

  1. Jaga berat badan

Kenaikan berat badan menyebabkan esofagus bawah melebar. Ini akan mengurangi tekanan yang menjaga katup sfingter tertutup. Akibatnya, risiko naiknya asam lambung pun lebih tinggi. Menjaga berat badan tetap ideal dapat membantu mengurangi keluhan GERD dalam jangka panjang. [NOV]

 

Sumber: Kompas. 8 Februari 2022. Hal. 16

Makanan & Gaya Hidup. Bisnis Indonesia. 6 Februari 2022. Hal. 2

Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok manusia. Orang perlu makan. untuk memenuhi kebutuhan energinya. Energi ini dibutuhkan agar manusia dapat beraktivitas, mulai dari yang ringan hingga berat.

Dengan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah, makanan pun kini menjadi industri yang sangat besar. Industri makanan ini pun saling berekspansi ke berbagai negara. Sekarang dengan mudah waralaba makanan dari berbagai negara kita temui, bahkan sampai ke kota ecil.

Untuk memenuhi kebutuhan manusia yang beraneka ragam itu, aneka makanan olahan juga diproduksi. Berbagai makanan yang diawetkan memenuhi kebutuhan pasar, mulai dari bumbu, ikan, daging, sayuran, beras, dan sebagainya.

Kini manusia dihadapkan pada beragam pilihan makanan. Mulai dari makanan segar, hingga makanan yang sudah diawetkan, termasuk makanan junk food, fast food, hingga slow food. Tidak heran kini makanan menjadi industri raksasa.

Industri makanan yang kian masif ini bisa berdampak negatif terhadap kesehatan manusia jika penggunaannya berlebihan. Makanan olahan ini diklaim banyak mengandung pengawet, baik berupa garam, gula, maupun bahan kimia lain yang berfungsi agar makanan kemasan tersebut bisa tahan lama, bahkan mungkin beberapa tahun.

Misalnya garam, kebanyakan konsumsi garam dapat meningkatkan tekanan darah tinggi yang bisa mengakibatkan sakit jantung, ginjal, kolesterol, dan lain-lain. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan penyakit darah tinggi. Paparan bahan kimia diklaim dapat mengakibatkan penyakit kanker.

Kini, orang kembali disadarkan akan makanan sehat dalam berbagai bentuknya, baik makanan segar sampai dengan suplemen. Hingga kemudian muncul suatu istilah superfood, yaitu makanan yang diyakini memiliki kandungan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh.

Saat ini berbagai iklan terkait superfood mudah kita temukan di berbagai media. Aneka makanan mulai dari makanan pokok, sayur, buah dan seba gainya. Baik untuk produk organik, maupun dari perkebunan industri. Sebut saja seperti sayuran kale, chia seed, sampai dengan madu.

Apakah semua makanan itu perlu dikonsumsi oleh manusia? Untuk mencapai derajat kesehatan yang kita inginkan, tentunya kita karus mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan.

Kendati setiap orang perlu makan, kondisi tu buh setiap orang berbeda-beda. Ada yang sehat dan fit sehingga dapat menerima aneka makanan tanpa gangguan, ada pula yang memiliki alergi terhadap makanan khusus, sehingga harus selektif terhadap asupan yang dikonsumsinya. Oleh karena itu, dengan banyaknya jenis makanan, baik makanan segar, olahan, organik, dan nonorganik dan kondisi tubuh setiap orang berbeda, maka setiap individu orang harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan mempertimbangkan kemampuan bujetnya, kesehatan, dan wilayahnya.

MENU SEIMBANG

Berbedanya asupan nutrisi yang masuk ke setiap orang akan berpengaruh terhadap derajat kesehatannya. Padaha kesehatan yang baik, akan berpengaruh pada tubuh dan jiwanya.

Apapun yang dikonsumsi manusia demi men dapatkan tubuh yang sehat, pastikan Anda mem buat menu makanan seimbang. Seperti yang sering dikatakan: Apapun yang bersifat berlebihan tidak bagus buat kesehatan, dan bahkan mungkin bisa menjadi racun untuk tubuh.

Selain itu, pastikan juga Anda tidak alergi terha dap jenis makanan yang anda konsumsi.

Tidak semua superfood tersebut akan dengan mudah tersedia di sekitar lingkungan kita, bahkan banyak di antara jenis makanan itu harus di impor, sehingga harganya menjadi lebih mahal, serta kontinuitas distribusinya juga tidak bisa diprediksi.

Alih-alih mencari makanan dengan berbagai effort yang tidak sedikit, mungkin kita bisa menengok lingkungan di sekitar kita. Jika beruntung punya lahan yang luas, kita bisa menyisakan sebagian untuk menanami dengan aneka sayuran, buah, tanaman obat, bahkan sampai memelihara ikan.

Jika kita tidak memiliki lahan yang luas, kita bisa memanfaatkan untuk menanam aneka tanaman dengan menggunakan pot. Suatu kesenangan tersendiri apabila kita dapat memanfaatkan lahan untuk menanam aneka sayuran untuk kebutuhan makanan yang sehat bagi keluarga.

Dengan makanan yang sehat dan beragam jenis yang kita dapat dari lingkungan sekitar kita juga merupakan sumber pangan yang baik. Selain terjaga kualitas dan kesegarannya, tentunya tidak membuat kantong keluarga kita menjadi jebol, dan pastinya asupan gizi keluarga terlindungi, dan dampaknya tubuh menjadi sehat dan kuat.

Kita harus tetap bijak dalam mengonsumsi makanan, apapun itu. Dan untuk memiliki sehat tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua jenis makanan.

Selain nutrisi yang baik, kesehatan juga dipengaruhi rangkaian gaya hidup yang kita jalani, termasuk olahraga, mengelola stres, istirahat atau rekreasi, menjauhkan diri dari rokok, alkohol, dan obat terlarang.

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 6 Februari 2022. Hal. 2

Dunia Masih Tidak Siap Hadapi Pandemi. Kompas. 7 Februari 2022. Hal. 8

Dunia Masih Tidak Siap Hadapi Pandemi

JAKARTA, KOMPAS-Merebaknya Covid-19 menunjukkan bahwa sistem kesehatan saat ini tidak siap menangani pandemi. Pembenahan sistem kesehatan diperlukan, seperti menggencarkan surveilans penyakit, menyiapkan platform untuk menjaga pasokan obat dan alat kesehatan, serta mengonsolidasi sistem kesehatan tingkat nasional.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (FKUI) Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa dunia sebenarnya telah bersiap menghadapi kemungkinan pandemi sejak satu dekade lalu. Kesadaran untuk bersiap timbul setelah pandemi flu babi akibat virus HINI.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan flu babi sebagai pandemi pada Juni 2009. Status pandemi berakhir pada Agustus 2010. Ada 74 negara yang melaporkan kasus infeksi flu babi.

HINI pertama kali dideteksi di Meksiko. Kasus pertama dicurigai berasal dari sebuah peternakan babi di Negara Bagian Oaxaca. Namun, titik asal ataupun titik pasti penyebaran virus tidak diketahui (Kompas, 29/4/2009),

“Setelah pandemi HINI, WHO membuat komite peninjauan tentang bagaimana dunia menghadapi pandemi. Kesimpulannya, dunia tidak siap. Karena itu, dunia mencoba bersiap sejak 2011,” kata Tjandra pada Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Pipkra) Ke-19 secara daring, Sabtu (5/2/2022).

Kendati persiapan sudah berlangsung sekitar 10 tahun, dunia dinilai masih tidak siap saat ada pandemi Covid-19. Data WHO per 4 Februari memperlihatkan, ada lebih dari 386 juta kasus positif Covid-19 dan lebih dari 5,7 juta kematian.

Indeks Keamanan Kesehatan Global 2021 juga menunjukkan ketidaksiapan dunia dalam menghadapi pandemi dan epidemi di masa depan. Dari 195 negara, 115 negara belum mengalokasikan dana selama tiga tahun terakhir untuk menangani ancaman epidemi.

Adapun 126 negara belum menerbitkan dan menerapkan rencana tanggap darurat kesehatan nasional, khususnya untuk penyakit yang berpotensi epidemi atau pandemi. Sementara itu, hanya 33 negara yang rencana tanggap daruratnya mempertimbangkan populasi rentan.

Persiapan

Menurut Tjandra, para pakar kesehatan telah merumuskan beberapa hal yang bisa disiapkan untuk menghadapi pandemi ke depan. Pertama, kerja sama multisektor. Kedua, memperkuat independensi dan finansial WHO.

Ketiga, investasi dalam kesiapsiagaan masalah kesehatan. Keempat, surveilans dan pengumpulan data kesehatan secara terus-menerus yang diikuti respons. Kelima, menyiapkan platform suplai obat dan alat kesehatan. Lalu, koordinasi tingkat nasional untuk merespons potensi pandemi.

Menurut Guru Besar FKUI Menaldi Rasmin, pandemic Covid-19 jadi momentum meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia kesehatan. Selain memperkaya keilmuan dan riset, memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan masalah kesehatan juga penting.

Ia mencontohkan, teknologi nano sudah berkembang selama 20 tahun terakhir, tetapi belum dimanfaatkan. Padahal, teknologi nano dipercaya dapat membantu pengobatan kanker dan penyakit infeksi, seperti tuberkulosis. Transplantasi paru juga diperkirakan bisa segera dilakukan. Hal ini membutuhkan banyak ahli dari berbagai cabang ilmu. Itu sebabnya, ia mendorong tenaga medis bersiap dengan kemajuan medis.

“Kode etik kedokteran dan regulasi juga mesti dipahami. Kewajiban selanjutnya bagi kita ialah memberikan apa yang dibutuhkan pasien, menghargai kemampuan dan kompetensi rekan sejawat. Kita juga perlu mematangkan diri, menambah keterampilan, keilmuan, dan kompetensi,” ucap Menaldi.

Direktur Utama RSUP Persahabatan Agus Dwi Susanto menambahkan, pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien kini kian penting. Perkembangan ilmu pulmonologi dan kedokteran respirasi pun menjadi penting. Perkembangan ilmu kedokteran dapat diselaraskan dengan perkembangan teknologi. (SKA)

 

Sumber: Kompas. 7 Februari 2022. Hal. 8

Seramnya Dampak Kekurangan Vitamin D. Harian Disway. 27 Januari 2022. Hal. 42-43

Dalam era pandemi yang tak berkesudahan seperti sekarang, masyarakat selalu panik dan latah. Mencari tahu obat apa saja yang terbaik untuk menaikkan imumintas tubuh. Di berbagai literatur, ada yang menganjurkan minum vitamin D dosis tinggi. Ada juga yang menyarankan berjemur setiap hari. Mana metode yang paling oke untuk mendapatkan asupan vitamin D?

DI SELURUH dunia, diperkirakan satu miliar orang mengalami kekurangan vitamin D. Karena itu, pihak berwenang di bidang kesehatan perlu mempertimbangkan untuk memberikan suplemen bagi mereka yang paling berisiko kekurangan vitamin D.

Perempuan Indonesia rata-rata mengalami defisiensi vitamin D. Sebab, karunia Tuhan berupa sinar matahari yang berlimpah malah dihindari. Kita takut berjemur. Takut hitam kena matahari. Sedangkan di Eropa, karena matahari merupakan barang mewah, malah ditunggu tunggu. Berjemur jadi kebiasaan. Dan pada musim dingin, mereka mengonsumsi suplemen vitamin D.

Jadi, perempuan Indonesia itu ibarat tikus mati di lumbung padi. Matahari berlimpah, tapi tidak mau terkena matahari. Padahal, kekurangan vitamin D berdampak pada pengeroposan tulang, lupus, kanker, lemas lesu, dan penyakit lainnya.

Sebenarnya, vitamin D bisa didapatkan dari makanan. Misalnya seperti salmon, susu, dan sebagainya. Namun, vitamin D dari bahan-bahan makanan itu hanya bisa diaktifkan jika tubuh kita mendapatkan paparan sinar matahari. Kalau hanya meningkatkan konsumsinya, bahkan dengan vitamin D dosis tinggi pun. tidak akan efektif tanpa matahari.

Vitamin D juga dapat ditemukan pada minyak hati ikan, telur dan ikan berlemak seperti salmon, ikan haring dan makerel, atau diperoleh sebagai suplemen, Tapi, sekali lagi, ia hanya berfungsi aktif jika kita berjemur. Sebab, sebagian besar vitamin D dibuat sendiri oleh tubuh sebagai produk sisa alami dari kulit yang terpapar sinar matahari.

Kelebihan vitamin D dapat menimbulkan penyakit. Demikian juga kekurangan vitamin D. Karena itu, sangat penting memenuhi kebutuhan harian sesuai dosis yang dianjurkan.

Vitamin D mempengaruhi DNA melalui sesuatu yang disebut Vitamin D Receptor (VDR), yang terikat pada lokasi khusus dari gen manusia. Heger dan timnya memetakan titik-titik tersebut dan mengidentifikasi lebih dari 200 gen yang dipengaruhi secara langsung.

Kekurangan vitamin D merupakan faktor risiko yang dikenal untuk penyakit rickets, sejenis penyakit yang biasa terjadi pada bayi dan anak-anak dan menyebabkan metabolisme tulang terganggu. Sehingga pertumbuhan tulang tidak normal. Penyakit ini biasanya ditandai oleh bengkoknya tulang kaki sehingga berbentuk seperti huruf O.

Defisiensi vitamin D bisa menyebabkan keletihan, nyeri otot umum dan lemas, kram otot, nyeri sendi, hingga nyeri kronik. Ia bahkan, berpengaruh terhadap kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, membuat tidur gelisah, konsentrasi yang buruk, serta sakit kepala.

Riset terbaru para ahli mengindikasikan bahwa masalah kekurangan vitamin D tidak bisa dianggap sepele. Defisiensi vitamin D bisa berdampak serius terhadap kesehatan karena vitamin itu mempengaruhi lebih dari 200 gen. Termasuk yang berkaitan dengan kanker dan penyakit autoimun.

Hubungan Vitamin D dengan Penyakit Autoimmum

Berdasarkan sejarahnya, vitamin D berhubungan dengan regulasi dari metabolisme tulang. Namun data terbaru menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara vitamin D dengan beberapa proses biologis yang berhubungan dengan regulasi respon imunitas.

Penemuan tentang reseptor vitamin D pada berbagai segmen sel-sel imun seperti pada monosit, sel dendrit dan sel T teraktivasi, menunjukkan adanya pengaruh dari vitamin D dalam proses modulasi fungsi imunologi dan bagian bagiannya dalam perkembangan dan pencegahan penyakit autoimun.

Dari review yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Reviews in Allergy & Immunology pada Januari 2013, diketahui bahwa paling tidak ada lima hal utama tentang dampak vitamin D dalam hubungannya dengan sistem imunitas. Kelima hal terebut meliputi:

  1. metabolisme vitamin D
  2. reseptor vitamin D polimorfisme pada penyaki autoimun seperti; DM tipe 1, SLE (systemic lupus erythematosus) sklerosis multiple,
  3. regulasi reseptor vitamin D terhadap sel-sel imunitas di semua lini, termasuk Th1, Th17, Th2 regulator dan sel T NK,
  4. prevalensi defisiensi vitamin D pada pasien sklerosis multipel, DM tipe 1 dan SLE (systemic lupuserythematosus),
  5. efek terapi pemberian vitamin D terhadap progresivitas dan keparahan peyakit autoimun.

Sejumlah ilmuwan Inggris dan Kanada menemukan, vitamin D berpengaruh kuat terhadap gen-gen yang berkaitan dengan beragam jenis penyakit seperti kanker dan jenis penyakit autoimun seperti multiple sclerosis. Kondisi itu dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit autoimun seperti multipel sklerosis, rheumatoid arthritis dan diabetes tipe 1, beberapa jenis kanker, bahkan kepikunan (demensia).

Tim itu mengamati daerah yang berkaitan dengan penyakit dari peta gen itu mengetahui apakah mereka memiliki kadar ikatan VDR yang lebih tinggi. Mereka menemukan bahwa ikatan VDR “cukup tinggi” pada daerah yang berkaitan dengan sejumlah penyakit autoimun seperti multipel sklerosis, diabetes tipe 1 dan penyakit Crohn’s. Serta di daerah yang berkaitan denga kanker seperti leukimia dan kanker usus besar,

Sreeram Ramagopalan, dari Wellcome Trust Center – for Human Genetics di Universitas Oxford, mengatakan hasil penelitian itu, yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Research, menunjukkan “betapa pentingnya vitamin D bagi manusia.”

Sejumlah ahli mengatakan, setengah jumlah penduduk dunia memiliki kadar vitamin D lebih rendah dari tingkat optimal. Dan sekitar satu miliar orang kekurangan vitamin D. Masalah itu memburuk karena orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup.

Sebuah studi yang dipublikasikan Maret lalu menemukan vamin D penting untuk mengaktifkan pembunuh pada sistem kekebalan tubuh yang dikenal dengan sel T, yang dapat nyebabkan infeksi jika darah kekurangan vitamin D.

Ramagopalan mengatakan, studi terbaru itu menunjukkan bah vitamin D memainkan peran dam “korentanan penyakit dan pihak berwenang perlu mempertimbangkan untuk memberikan suplemen kepada wanita hamil dan anak-anak muda sebagai langkah pencegahan. Suplemen vitamin D selama masa kehamilan dan tahun-tahun awal anak dapat memberikan dampak menguntungkan pada kesehatan anak pada masa selanjutnya.

Dosis Vitamin D

Nah, berapa dosis vitamin D yang aman? Menurut dia, sejumlah negara seperti Prancis memberikan suplemen vitamin D secara rutin sebagai kebijakan kesehatan masyarakat. Belum ada studi definitif tentang dosis optimal harian vitamin D, tetapi sejumlah ahli merekomendasikan 25 hingga 50 mikrogram.

Menurut Institute of Medicine pada 2010 kebutuhan harian (daily value) vitamin D untuk usia 9 sampai 70 tahun adalah 600 iu hingga 4000 iu perhari. Cara yang diketahui efektif untuk mendapatkan vitamin D adalah dengan memaparkan kulit ke sinar matahari antara pukul 8 sampai 11 setiap pagi selama 10 hingga 15 menit. Nah, ayo berjemur! (Retna Christa-“)

 

Sumber: Harian Disway. 27 Januari 2022. Hal. 42-43

‘Kekebalan Super’ dan Akhir Pandemi. Kompas. 26 Januari 2022. Hal. 6

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom baru-baru ini menarasikan prediksi optimistik; pandemi bisa berakhir tahun ini. Alasannya, saat ini telah terdapat beragam penatalaksanaan efektif pandemi. Salah satunya, yaitu vaksin, bahkan telah diberikan kepada lebih dari setengah penduduk Bumi.

Target selanjutnya adalah memberikan paling tidak satu dosis vaksin penguat kepada 70 persen populasi Bumi pertengahan tahun ini. Bila target ini tercapai, prospek akhir pandemi Covid-19 makin nyata di depan mata. Ini narasi WHO.

Sebagian ahli setuju pandangan ini. Sebagian lainnya pesimistis. Alasannya, di tengah badai varian Omicron saat ini, terlalu prematur memprediksi pandemi dapat selesai. Apalagi, meski vaksinasi telah diberikan kepada sebagian besar penduduk, masih terdapat ketimpangan global akses dan distribusi vaksin. Asimetritas cakupan vaksin masih besar. Ini menjadi kendala berakhirnya pandemi.

Omicron: berkah tersembunyi?

Sejumlah ahli sependapat dengan Dirjen WHO bahwa pandemi akan berakhir tahun ini. Alasannya, cakupan vaksin yang luas saat ini jelas meminimalkan magnitudo pandemi. Program vaksinasi memang sangat masif. Per 18 Januari, hampir 10 miliar dosis vaksin telah diberikan di 180 negara. Sekitar 60 persen penduduk Bumi telah ter-cover vaksin.

Walau masih terdapat asimetritas cakupan antara satu negara dengan negara lain, cakupan global saat ini dianggap telah mendekati kekebalan komunitas (herd immunity). Dengan level ini, secara langsung maupun tidak, transmisi dan kefatalan Covid-19 tereduksi. Bila reduksi ini terus terjadi, pandemi secara gradual akan menghilang.

Alasan lain, kemunculan varian Omicron. Sebagian ahli menganggap varian ini sebagai blessing in disguise. Sesuatu yang tidak diharapkan namun membawa keuntungan. Beragam argumennya.

Pertama, berbagai studi awal (preliminary study) secara konsisten melaporkan bahwa varian ini bertransmisi sangat cepat, namun kefatalannya lebih rendah dibanding varian-varian sebelumnya. Keluhan klinisnya umumnya ringan dan proporsi pasien yang dirawat di rumah sakit dan meninggal tidak sebesar varian Delta. Bila varian ini terus meluas dan mendominasi, terjadilah fenomena penyebaran kasus yang luas tapi ringan (widespread but mild).

Kemunculan varian ‘ringan’ di tengah pandemi dianggap transisi yang landai sebelum pandemi mereda. Selain itu, fenomena widespread but mild ini dinilai menguntungkan karena dapat mengambil alih dominasi varian Delta yang lebih fatal. Bila fenomena widespread but mild ini terus berlanjut, Covid-19 akhirnya akan menyerupai flu biasa. Menyebar tetapi tidak terlalu mematikan.

Baca juga : Mencegat Gelombang Ketiga

Kedua, akhir-akhir ini berkembang sebuah konsep baru yang disebut super-immunity atau kekebalan super. Beberapa kajian awal (preliminary study) melaporkan bahwa orang yang telah mendapat vaksinasi lengkap dan terinfeksi Covid-19 lagi, maka dalam tubuhnya terbangun antibodi yang sangat kuat (super-immunity).

Fenomena kekebalan super ini juga dianggap terjadi pada orang yang terinfeksi varian Omicron. Dengan kekebalan super ini, orang menjadi kebal dan resisten terdapat infeksi Covid-19 dari varian apapun. Mereka tidak akan terinfeksi lagi untuk periode yang lama. Semakin banyak orang yang sudah divaksin dan terinfeksi lagi, semakin besar prevalensi kekebalan super di populasi.

Bila pada akhirnya mayoritas manusia telah memiliki kekebalan ini, transmisi Covid-19 akan sangat terhambat dan pandemi akhirnya menghilang. Banyak berharap hipotesis ini benar. Jika benar, fenomena kekebalan super ini akan menjadi pintu keluar dari pandemi.

Menariknya, terlepas dari hubungannya dengan hipotesis di atas, berbagai negara saat ini melonggarkan aturan karantina dan isolasinya. Padahal dunia sementara tengah diterpa badai Omicron. Di Amerika dan Inggris, masa isolasi penderita dikurangi dari 10 hari menjadi masing-masing lima dan tujuh hari. Di Jepang, masa karantina direduksi dari 14 hari menjadi 10 hari.

Relaksasi ini merupakan respons terhadap bukti ilmiah bahwa masa infeksi Omicron lebih rendah dibanding varian sebelumnya, yakni berkisar 3-5 hari saja. Bahkan di Inggris, relaksasi lebih longgar mulai dilakukan. Di mata sebagian ahli dan masyarakat, pelonggaran ini menjadi sinyal meredanya pandemi.

Morbiditas vs mortalitas

Evaluasi perkembangan pandemi menggunakan berbagai parameter, di antaranya adalah tren morbiditas (tingkat kesakitan) dan mortalitas (tingkat kematian). Terkait morbiditas, banyak parameter yang dapat digunakan; di antaranya adalah tingkat kasus (case rate) dan tingkat terkonfirmasi positif (positive rate). Pada aspek mortalitas, parameter yang umum digunakan adalah tingkat kematian (death rate) dan tingkat kefatalan penyakit (case fatality rate).

Hingga kini, tingkat kasus pada tingkat global masih terus berfluktuasi. Belum ada tren penurunan; bahkan terjadi peningkatan tajam akhir-akhir ini. Pada Januari 2021, tingkat kasus global adalah 94 per satu juta penduduk; saat ini menjadi 250 per satu juta penduduk. Tren fluktuasi ini mengisyaratkan bahwa perkembangan kasus baru masih sangat sulit diprediksikan. Jumlah kasus dapat naik atau turun setiap saat.

India dan Jepang adalah contoh negara yang sempat mengontrol kasus mereka pada titik rendah selama beberapa bulan. Namun beberapa waktu lalu, kasus Covid-19 mereka melonjak kembali. Banyak alasan terkait ini; salah satunya adalah kemunculan varian. Varian memiliki potensi meningkatkan kasus dan menjadi game changer. Pesan yang ditoreh jelas: sepanjang varian masih bermunculan, jangan euforia dengan jumlah kasus yang tampak rendah.

Bukan hanya tingkat kasus, tingkat terkonfirmasi positif juga masih sulit diprediksi hingga kini. Vietnam dan Singapura adalah contoh negara yang berhasil menekan tingkat terkonfirmasi positif di bawah 5 persen selama lebih dari setahun. Namun baru-baru, tingkat terkonfirmasi positif negara-negara ini kem -bali meroket, bahkan jauh di atas angka terkonfirmasi positif sebelumnya.

Berbeda dengan morbiditas yang polanya masih sulit diprediksikan, profil mortalitas mengalami tren penurunan signifikan dalam dua tahun pandemi. Setelah mencapai puncak tahun lalu dengan tingkat kematian (death rate) 1,8 per satu juta penduduk, tingkat kematian terus menurun dan saat ini berada di level 0,8 per satu juta penduduk.

Pada saat yang sama, tingkat kefatalan penyakit juga menurun dari puncak 7,3 persen menjadi 0,3 persen. Bahkan beberapa negara telah mencapai level di bawah 0,1 persen. Ini penurunan yang sangat signifikan. Ini mengisyaratkan bahwa dari hari ke hari tingkat kefatalan penyakit atau letalitas Covid-19 menjadi semakin berkurang.

Profil-profil di atas mengindikasikan bahwa meski tingkat kasus dan angka terkonfirmasi positif masih fluktuatif dan belum bisa diprediksi trennya, angka kematian dan tingkat kefatalan penyakit mengalami perbaikan signifikan. Artinya, transmisi infeksi masih terus bermunculan tapi kefatalannya berkurang.

Multimodalitas penanganan

Saat awal pandemi, strategi penanganan pandemi masih terbatas. Yang tersedia hanya pembatasan pergerakan orang dan barang, protokol kesehatan 3M serta 3T. Strategi konvensional ini diimplementasikan secara luas di berbagai negara dengan kualitas dan intensitas berbeda. Sebagian dilaksanakan dengan baik dan sebagian lagi seadanya.

Menariknya, meski dengan segala keterbatasannya, penatalaksanaan ini ternyata memberi efek kondusif signifikan. Dalam satu tahun penatalaksanaan, tigkat kefatalan penyakit global menurun dari 7,2 persen menjadi 2,2 persen pada akhir Desember 2020. Artinya, meski tanpa vaksinasi, penatalaksanaan konvensional ini bisa menurunkan tingkat kefatalan penyakit berkali-kali lipat.

Berbagai hal dihubungkan dengan penurunan ini; di antaranya, luasnya implementasi program dan partisipasi masyarakat serta meningkatnya cakupan tes dan penelusuran. Juga digunakannya beberapa obat meski dengan keterbatasan kemanjuran, seperti dexamethasone, tocilizumab dan sarilumab.

Vaksin Covid-19 pertama kali digunakan akhir Desember 2020. Dalam setahun, berbagai jenis vaksin Covid-19 telah disuntikkan kepada 4,7 miliar penduduk. Kombinasi penatalaksanaan konvensional dan program vaksinasi membuat tingkat kefatalan penyakit dan angka kematian menurun lebih jauh lagi. Dalam satu tahun program vaksinasi, tingkat kefatalan penyakit menurun dari 2,2 persen menjadi 0,3 persen saat ini.

Angka kematian juga menurun dari 1,3 per satu juta penduduk menjadi 0,8 per satu juta penduduk. Sebagian ahli memprediksi bahwa pada 2022, tingkat kefatalan penyakit dapat ditekan menjadi paling tidak 0,1 persen. Artinya, dari 1.000 orang yang terkonfirmasi positif, hanya satu orang yang meninggal.

Saat ini pula, telah bermunculan berbagai obat yang dapat digunakan untuk kasus Covid-19. Selain dexamethasone dan monoclonal antibody, baru-baru ini WHO menyetujui lagi dua obat, yaitu baricitinib dan sotrovimab. Studi klinis menunjukkan obat ini bermanfaat.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika akhir tahun lalu juga menyetujui molnupiravir sebagai obat Covid-19. Obat ini dapat menurunkan 30 persen perawatan rumah sakit dan kematian. Tersedianya beragam modalitas memberi pesan bahwa manusia telah memiliki beragam senjata efektif untuk melawan Covid-19.

Metamorfosis pandemi

Dengan beragam modalitas efektif, wajar bila muncul harapan bahwa pandemi akan segera berakhir. Gabungan penatalaksanaan 3M, 3T, pembatasan pergerakan, obat dan vaksin memang telah menurunkan angka kematian dan tingkat kefatalan penyakit. Sayangnya, belum ada indikasi bahwa penatalaksanaan-penatalaksanaan ini mampu mengontrol kemunculan kasus-kasus baru. Intinya, multi-modalitas dapat menekan tingkat kefatalan tetapi belum dapat menekan tingkat kejadian kasus baru.

Sebagian berharap kemunculan Omicron akan menjadi end game pandemi. Dengan tingkat kefatalan yang rendah, varian ini diasumsikan dapat mengambil alih dominasi varian Delta yang lebih fatal dan menjadi varian transmisi sebelum berakhirnya pandemi.

Omicron juga dihipotesakan dapat menginduksi kekebalan super dan memberi proteksi kuat dan lama. Sayangnya, harapan-harapan ini masih didasarkan pada hipotesis tanpa pembuktian ilmiah yang adekuat dan komprehensif. Ia diwacanakan saat informasi dan bukti-bukti terkait belum solid dan komprehensif. Ia muncul di tengah ketidaksempurnaan pengetahuan dan sains terkait Covid-19 dan variannya.

Dengan pra-kondisi demikian, kecil kemungkinan pandemi dapat berakhir di tahun ini. Kemungkinan potensial adalah penyebaran dan kasus Covid-19 masih tetap fluktuatif namun tingkat kefatalannya sangat rendah. Bahkan bisa jadi mendekati tingkat kefatalan flu biasa, yaitu di bawah 0,1 persen.

Bila ini benar terjadi, maka akan terjadi metamorfosis pandemi; pengalihan magnitudo dari pandemi menjadi endemi. Covid-19 akan menjadi sebuah kejadian endemi (endemic event); virus terus ada, menyebar (scattered), hilang-timbul di berbagai daerah dengan tingkat kefatalan yang rendah. Kira-kira mirip flu musiman.

Iqbal Mochtar Dokter dan Doktor Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Timur Tengah.

 

Sumber: Kompas. 26 Januari 2022. Hal. 6

Batuk Kering Gejala Umum Omicron. Kompas. 25 Januari 2022. Hal. 8

Mayoritas pasien Covid-19 varian Omicron mengalami gejala batuk kering dan nyeri tenggorokan. Meski begitu, ini tidak boleh dianggap remeh karena bagi sebagian orang gejalanya bisa lebih buruk.

JAKARTA, KOMPAS – Gejala yang muncul pada kasus Covid-19 varian Omicron tidak jauh berbeda dengan varian-varian sebelumnya. Meski begitu, sebagian besar pasien bergejala mengeluhkan adanya batuk kering dan nyeri tenggorokan. Jika mengalami hal ini, segera periksakan diri agar bisa ditangani sejak dini.

“Infeksi virus SARS COV-2 varian Omicron tidak terlalu banyak ditemukan di jaringan paru, tetapi di saluran napas. Oleh karena itu, gejala yang muncul lebih banyak berupa batuk kering dan nyeri tenggorokan,” kata dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat (SUP) Persahabatan Erlina Burhan, di Jakarta, Senin (24/1/2022).

Berdasarkan data pasien ka sus positif varian Omicron di RSUP Persahabatan, dari total 17 pasien yang dirawat, 11 pasien mengeluhkan adanya gejala ringan. Dari pasien yang bergejala tersebut, 63 persen mengalami batuk kering, 54 persen mengalami nyeri tenggorokan, 27 persen mengalami pilek, 36 persen mengeluhkan sakit kepala, dan 18 persen mengeluhkan adanya demam.

Erlina menyampaikan, meski gejala yang muncul terbilang ringan, berbagai data melapor kan adanya perburukan pada pasien sehingga perlu perawatan lebih lanjut. Ini terutama terjadi pada kelompok rentan, seperti masyarakat lanjut usia, mereka dengan penyakit penyerta, dan anak-anak. Kelompok masyarakat ini perlu waspada jika tertular Covid-19.

Apabila gejala mulai muncul, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan harus segera dilakukan. Jika positif Covid-19, maka isolasi mandiri di rumah bisa dilakukan apabila memungkinkan atau ke tempat isolasi terpusat. Protokol kesehatan juga harus disiplin di jalankan. Vitamin bisa dikonsumsi disertai dengan pemenuhan gizi seimbang dan is tirahat cukup.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menambah kan, gejala ringan yang lebih banyak ditemukan pada kasus varian Omicron tidak boleh di sepelekan. Varian Omicron memiliki daya tular yang lebih cepat. Perburukan pada pasien tetap berisiko terjadi, terutama pada kelompok rentan.

Oleh sebab itu, pembatasan mobilitas masyarakat yang sudah diatur harus betul-betul di laksanakan. Bahkan, dengan kondisi penularan yang terus meningkat, pembatasan perlu diperketat. Aturan karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri juga diharapkan tetap diberlakukan secara ketat. Selain itu, vaksinasi Covid-19 juga perlu dipercepat dan diperluas. Vaksinasi dinilai menjadi salah satu upaya untuk mening katkan imunitas atau daya ta han tubuh dari penularan Covid-19.

Pasien Covid-19 varian Omi cron yang meninggal di Indo nesia diketahui belum menda patkan vaksinasi dan memiliki penyakit penyerta.

Kelompok rentan

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tar mizi, kasus pertama varian Omicron berusia 64 tahun yang terpapar dari transmisi lokal, memiliki penyakit penyerta, dan belum mendapatkan vaksinasi lengkap. Sementara kasus meninggal kedua merupakan pelaku perjalanan luar negeri yang sudah divaksin, tetapi dengan komorbid yang tidak terkontrol.

Hal tersebut menunjukkan bahwa vaksinasi dan perlindungan pada kelompok rentan amat dibutuhkan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, total warga yang sudah mendapatkan vaksin dosis primer lengkap sebanyak 124,3 juta orang atau 59,7 persen dari seluruh sasaran vaksinasi. Sementara jumlah penduduk lanjut usia yang sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap sebanyak 10 juta orang atau 46,5 persen dari total sasaran warga lansia.

Erlina menyampaikan, vaksinasi memang tidak bisa sepenuhnya mencegah penularan Covid-19. Namun, melalui vaksinasi, perburukan akibat penyakit tersebut bisa dicegah. Dari laporan yang didapatkan, sebagian besar pasien yang terpapar Covid-19 varian Omicron tanpa gejala sudah mendapatkan vaksinasi lengkap.

“Pencegahan primer juga perlu diperkuat, yakni dengan protokol kesehatan. Upaya pelacakan dan pemeriksaan juga perlu diperluas agar kasus penularan di masyarakat bisa segera terdeteksi sehingga tidak semakin meluas,” kata Agus.

Cegah kolaps

Seiring terus meningkatnya kasus Covid-19 dan meluasnya penularan varian Omicron, upaya pencegahan harus diperkuat. Tidak hanya untuk memutus rantai penyebaran, tetapi juga untuk mencegah kolapsnya fasilitas kesehatan menangani pasien Covid-19 yang melonjak.

Berdasarkan data kasus harian yang dilaporkan satgas penanganan Covid-19, pada 24 Januari 2022 terdapat 2,927 kasus baru Covid-19. Adapun jumlah kasus varian Omicron di Indonesia secara kumulatif hingga 23 Januari sebanyak 1.629 kasus yang terkonfirmasi. “Masyarakat harus waspada karena risiko kematian akibat Covid-19 masih bisa terjadi, apa pun variannya. Upaya pencegahan harus dilakukan, mulai dari pencegahan primer, sekunder, hingga pencegahan tersier,” ujar Agus.

Erlina menambahkan, kewaspadaan akan varian Omicron perlu ditingkatkan. Kasus terkonfirmasi varian tersebut dari transmisi lokal semakin banyak. Lebih dari 20 persen ka sus varian Omicron di Indonesia berasal dari transmisi lokal. Artinya, penularan tidak hanya terjadi dari pelaku perjalanan luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat.

Tingkat keparahan penularan varian Omicron belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, tingkat penularannya bisa lebih tinggi daripada varian sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian karena penularan yang tinggi bisa berisiko puta menyerang kelompok rontan yang akhirnya membutuhkan perawatan yang lebih serius.

“Pemerintah dan masyarakat harus maksimal melakukan upaya-upaya penanganan Covid-19, terutama mencegah penularan. Jika kasus terus meningkat dan tidak terkendali, ada kemungkinan sistem ke sehatan Indonesia akan kewa lahan,” tuturnya.

Nadia menyebutkan, berba gai upaya tengah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi meluasnya kasus Omicron di Indonesia. Upaya tersebut, antara lain, mengoptimalisasi upaya pelacakan, pemeriksaan, dan isolasi, meningkatkan rasio pelacakan kasus, menjamin ke tersediaan ruang isolasi terpusat, menggencarkan akses telemedik, dan meningkatkan ketersediaan tempat tidur Covid-19 di rumah sakit.

“Penanganan pasien konfirmasi Omicron dilakukan sesuai dengan penanganan Covid-19, di mana untuk kasus sedang sampai berat dirawat di rumah sakit, sementara pasien tanpa gejala hingga ringan difokuskan untuk isolasi mandiri dan isolasi terpusat,” kata Nadia. (TAN)

 

Sumber: Kompas. 25 Januari 2022. Hal. 8

Ajarkan Bahaya Stunting sejak SD. Jawa Pos. 26 Januari 2022. Hal 13 & 19

Usulan Dewan Terkait Penanganan Gizi Buruk di Surabaya

SURABAYA-Tren angka stunting di Surabaya memang turun pada triwulan terakhir tahun lalu. Pada triwulan sebelumnya, angka kasus stunting mencapai 5.727, kemudian pada triwulan terakhir turun menjadi 1.785 kasus.

Meski merosot 300 persen, stuntingmasih menjadi PR besar bagi Pemkot Surabaya. Wakil Ketua Komisi D Ajeng Wirawati meminta agar target penurunan kasus stunting tidak hanya dibuat untuk jangka pendek. Dia mengatakan, kurikulum kesehatan keluarga sejak dini juga perlu digalakkan.

Menurut Ajeng, tidak hanya sebagai pengetahuan saat mau menikah, tetapi sejak SD dan SMP sudah diajarkan materi mengenai stunting. Dengan demikian, gizi untuk generasi emas bisa tercapai dan investasi untuk tetap zero stunting.

Ajeng menambahkan, selain permasalahan kemiskinan, stun- ingjuga disebabkan pola keluarga dalam mengambil keputusan 41 Yakni, terlalu muda saat menikah, terlalu tua saat hamil, terlalu dekat jarakkehamilan, dan terlalu banyak anak. “Dan, erat kaitannya juga dengan pola asuh dalam pemenuhan gizi,” terangnya.

Politikus Partai Gerindraitumeng- ungkapkan, Surabaya memiliki anggaran dan kesiapan fasilitas untuk penanganan kuratif dan rehabilitatif stunting. Namun, lanjut dia, peran preventif dan promotif dalam memerangi stunting akan lebih bermanfaat jika dilakukan sejak dini. Tidak hanya sebelum persiapan pernikahan.

Terpisah, anggota Komisi B dr Zuhrotul Marahmengungkapkan, pemkot perlu memetakan kasus stunting berdasar kelas ekonomi masyarakat. Menurut dia, stunting tidak mengenal kondisi ekonomi seseorang Bisa menyerang siapa saja. Untukmasyarakat dengan ekonomi ke bawah, dia menyarankan agarpemkot memberdayakan orangtua bayi sturting “Pemberdayaan bertujuan mengangkattarafekonomi orang tua bayi stranting” ujamya

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mendorong pemkot untuk memberikan pelatihan hingga permodalan bagi orang tua bayi stunting. Setelah bisa menghasilkan produk, pemkot tidak boleh melepaskan begitu saja. Fasilitasi produk tersebut untuk sampai ke pasar. “Kemudian, kader kesehatan juga jangan lupa tetap terus bekerja,” imbuhnya.

Di lain sisi, puskesmas pun proaktif menjaring warga yang anaknya masih mengalami stunting. Mereka diberi edukasi pengolahan makanan dan diimbau untuk rutin konsultasi gizi.

Di Puskesmas Wonokromo misalnya Petugas gizidi puskesmas tersebut berfokus untuk menjaring wargayangmemiliki anak dengan masalah gizi. Septi Dwi Winami, salah seorangahligizi Puskesmas Wonokroma, menuturkan bahwa salah satu faktor penyebab sainting yang banyak ditemui adalah kesalahan pola asuh orang tua

“Kadang orang tua enggak ngerti, jadinya dibiarkan saja. Yang penting, anak bisa bergerak dan beraktivitas,” tuturnya kepada Jawa Pos, Selasa (25/1). (sam/deb/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 26 Januari 2022. Hal 13 & 19

Teknik Baru Atasi Tumor Tulang Jinak. Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7

Keberadaan tulang sangat penting untuk tubuh. Memiliki fungsi utama menopang dan menggerakkan tubuh, organ ini juga mampu melindungi organ dalam dari kerusakan, menyimpan nutrisi penting seperti kalsium dan fosfor, serta membentuk sel darah.

Kendati demikian, tulang bisa diserang sejumlah penyakit, salah satunya giant cell tumor (GCT). Penyakit ini adalah tumor jinak primer pada tulang yang memiliki kecenderungan lokal agresif. Tumor ini biasanya terjadi pada rentang usia 20-40 tahun.

Spesialis Ortopedi dan Trauma tologi Rumah Sakit Universitas Indonesia Muhammad Rizqi Adhi Primaputra mengatakan GCT sering terjadi pada bagian terbawah tulang paha, bagian teratas tulang kering, tulang di pergelangan tangan, dan bagian teratas tulang panjang di lengan atas. Gejala awal yang sering dirasakan adalah nyeri lokal pada daerah yang terkena dan bersifat progresif, terutama pada malam hari. Nyeri disusul oleh timbulnya benjolan pada daerah yang terserang.

Pada kondisi sudah lanjut, benjolan dapat menyebabkan ganggu an fungsi dari sendi.

Menurut National Institute of Health, cacat genetik atau faktor keturunan, cedera pada tulang, dampak pengobatan anti kanker pada anak anak, radiasi, hingga kanker yang menyebar ke tulang merupakan risiko pemicu tumor tulang jinak.

Dalam penanganannya, Rizqi menjelaskan pasien dapat dilakukan tindakan operasi limb salvage surgery, yaitu tindakan yang akan dilakukan sebisa mungkin dengan penyelamatan tulang yang terlibat. Tindakan sederhana yang dilakukan dapat berupa kuretase dari tumornya hingga pengangkatan sebagian tulang yang terkena dan dilakukan rekonstruksi sebagai pengganti tulang yang diangkat.

“Salah satu teknik kuretase dapat dikombinasikan dengan metode cryotherapy, yaitu salah satu metode untuk membunuh sel sisa tumor dengan cara pembekuan menggunakan nitrogen cair,” katanya. Penelitian dari luar negeri juga menemukan bahwa tindakan limb salvage surgery yang mengombinasikan teknik kuretase dengan metode cryotherapy pada kasus GCT, memiliki angka kekambuhan jauh lebih kecil dibandingkan hanya dengan kuretase biasa.

“Kalau dikombinasikan dengan cryotherapy kemampuan membunuh sisa sel tumor lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa dikombinasi dengan cryotherapy sehingga ini yang membuat angka kekambuhan lebih kecil,” katanya.

Sebagai informasi, pada 29 Desember 2021, Rumah Sakit Universitas Indonesia, menurut nya, berhasil melakukan operasi kasus GCT di bagian teratas tulang kering dengan tindakan penyelamatan ekstremitas berupa extended curettage, menggunakan cement dan cryotherapy, diikuti internal fiksasi menggunakan plate dan screw.

Operasi dilakukan pada pasien laki-laki berusia 45 tahun, dan berlangsung sekitar 2 jam.

Rizqi berharap keberhasilan operasi GCT dengan teknik limb Salvage Surgery ini, menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan pelayanan dalam bidang ortopedi dan traumatologi menggunakan teknologi mutakhir.

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7