Pasien Omicron Boleh Isoman. Harian Disway. 22 Januari 2022. Hal. 14

MULAI saat ini, pasien probable maupun konfirmasi Covid-19 Omicron tidak perlu diisolasi di rumah sakit. Cukup isolasi mandiri (isoman). Ketentuan itu tercantum dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022.

Kementerian Kesehatan menetapkan dua syarat bagi pasien Omicron yang bisa isoman. Yakni, syarat klinis dan rumah. Syarat klinis menyangkut beberapa poin. Yaitu, pasien tanpa gejala atau bergejala ringan yang dapat melakukan isoman.

“Tapi, usia pasien harus di bawah 45 tahun,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Wiweko kemarin (21/1). Selain itu, tak punya komorbid. Pasien juga menjalani masa isolasi secara maksimal. Artinya, tidak boleh keluar ruangan sebelum diizinkan.

Syarat rumah juga harus mendukung. Pasien wajib ditempatkan di ruang terpisah. Lebih baik lagi jika di lantai yang terpisah. Begitu juga dengan kamar mandi untuk pasien, tidak boleh campur aduk dengan yang lain. Terpenting, pasien disediakan akses pulse oximeter.

Apabila tak bisa memenuhi dua macam syarat itu, pasien tidak boleh isoman. Mereka wajib isolasi di tempat isolasi terpusat. Agar bisa diawasi secara dekat oleh tenaga kesehatan.

Nadia memaparkan, kebijakan tersebut mengacu pada penelitian terkait varian Omicron. Berdasar beberapa studi di beberapa negara seperti Denmark, Afrika Selatan, Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat.

Hasilnya menunjukkan bahwa risiko perawatan pasien Omicron di rumah sakit lebih rendah. Itu jika dibandingkan dengan varian Delta. “Namun, penelitian masih terus berlanjut,” tandasnyi.

Hingga kini, tercatat 644 kasus varian Omicron di Indonesia. Dari jumlah itu, 529 kasus merupakan pelaku perjalanan dari luar negeri. Sisanya, 115 kasus, merupakan transmisi lokal.

Sementara itu, masih belum ada tambahan kasus Omicron di Jawa Timur. Tercatat total ada 8 kasus. Perinciannya, 3 pasien sudah dinyatakan sembuh dan 5 pasien masih menjalani isoman.

Epidemiolog Windhu Purnomo menegaskan bahwa varian Omicron memang sama dengan varian lainnya. Meskipun dianggap punya daya tular yang lebih cepat, hakikatnya masih sama. Masih tergolong Covid-19.

Artinya, penanganan pasien yang terpapar Omicron pun relatif sama dengan yang sebelumnya. Tidak ada perlakuan khusus. Kecuali bagi pasien lansia dan komorbid. “Pada dasarnya sama. Tapi, intinya kita harus tetap waspada untuk mencegah penularan,” ujarnya. (Noor Arief Prasetyo Mohamad Nur Khotib)

 

Sumber: Harian Disway. 22 Januari 2022. Hal. 14

Omicron Mulai Mengambil Nyawa. Kompas. 24 Januari 2022. Hal. 6

Galur Omicron yang sedang beredar disebut hanya menimbulkan gejala ringan. Namun, kini korban meninggal mulai berjatuhan.

Penelitian awal di Inggris dan Afrika Selatan menunjukkan, orang yang tertular Omicron hanya sedikit yang perlu perawatan di rumah sakit. Sejauh ini, sebagian besar kasus Omicron bergejala ringan, terutama pada mereka yang telah divaksinasi lengkap dan menerima suntikan penguat (booster).

Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan, sejak Desember 2021 hingga Sabtu (22/1/2022), tercatat 1.161 kasus konfirmasi Omicron. Belakangan, ada dua kematian akibat Omicron. Satu laki-laki berusia 64 tahun, belum divaksinasi, tertular lewat transmisi lokal. Satu lagi, perempuan usia 54 tahun, sudah divaksinasi lengkap yang merupakan pelaku perjalanan luar negeri. Keduanya memiliki penyakit penyerta.

Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan, kematian pertama tercatat pada Kamis lalu. Seorang perempuan berusia 92 tahun, belum divaksinasi, meninggal setelah 10 hari dirawat. Ia tertular virus dari anggota keluarga.

Di India, kematian akibat Omicron tercatat akhir tahun lalu, pada laki-laki usia 74 tahun yang telah divaksinasi lengkap. Pasien itu memiliki diabetes dan penyakit penyerta lain.

Kematian pertama akibat Omicron di AS terjadi pada laki-laki berusia 50 tahunan dengan penyakit penyerta dan belum divaksinasi. Permodelan yang dibuat para ahli memproyeksikan, 1,5 juta warga AS akan dirawat di rumah sakit dan 191.000 orang akan meninggal dari pertengahan Desember hingga pertengahan Maret. Mempertimbangkan ketidakpastian dalam model, kematian diperkirakan berkisar 58.000-305.000 orang.

Kematian akibat Omicron juga dilaporkan di Inggris, Israel, Australia, Jepang, Thailand, serta negara lain. Korban umumnya belum divaksinasi atau memiliki penyakit penyerta.

Meski secara umum menimbulkan gejala ringan, Omicron sangat menular. Tren di sejumlah negara, tingkat infeksi Omicron sekitar 400 per 100.000 orang. Tren di sejumlah negara, tingkat infeksi Omicron sekitar 400 per 100.000 orang.

Mutasi Omicron memungkinkan galur virus itu lolos dari kekebalan yang diberikan dua dosis vaksin meski mampu mengurangi risiko rawat inap dan kematian. Karena itu, diperlukan suntikan penguat.

Bagi Indonesia, dari 208 juta penduduk yang menjadi sasaran vaksinasi, hingga Rabu (19/1/2022), ada sekitar 30 juta penduduk belum divaksinasi dan 86,7 juta penduduk belum mendapatkan dosis kedua. Bahkan, cakupan vaksinasi dosis pertama di Maluku, Papua Barat, dan Papua di bawah 70 persen, (Kompas, 20/1/2022).

Di sisi lain, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, hingga Desember 2021 ada 1,12 juta dosis vaksin Covid-19 kedaluwarsa. Vaksin kedaluwarsa itu tersebar di sejumlah provinsi, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Selatan.

Komitmen pusat untuk pengendalian Covid-19 seyogianya sampai di semua daerah. Agar warga bersedia divaksinasi, komunikasi mengenai pentingnya vaksinasi di daerah perlu ditingkatkan. Pada pelaksanaan, jika perlu lebih banyak vaksinator, bantuan tenaga perlu diatur.

Berbagai rencana dan upaya dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran Omicron di Indonesia hanya tinggal rencana jika tidak terwujud di lapangan. Jika Covid-19 tetap merajalela, semua aspek kehidupan akan terus terhambat.

Sumber: Kompas. 24 Januari 2022. Hal. 6

Mengendalikan Penularan Omicron. Kompas. 22 Januari 2022. Hal. 6

Kasus Omicron terus berkembang luas, di dunia dan di negara kita. Setelah laporan kasus pertama varian Omicron Indonesia pada 16 Desember 2021, sebulan kemudian, sesuai penjelasan Kementerian Kesehatan pada 12 Januari 2022, jumlah kasus telah menjadi 572 kasus dan per 19 Januari 2022 menjadi 11.392 kasus.

Sementara, data dari GISAID 17 Januari 2022 menunjukkan ada 660 genomik sekuen dari Indonesia. Jumlah kasus di Indonesia diperkirakan bisa terus meningkat, dengan puncaknya, mengutip keterangan pers Menteri Kesehatan pada 17 Januari, diprediksi “terjadi dalam 35-65 hari ke depan”. Puncak gelombang kenaikan kasus Omicron di Indonesia diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret, dan ini dampak dari kenaikan kasus Omicron yang terjadi di seluruh dunia.

Data global dari GISAID menunjukkan sampai 17 Januari 2022 sudah 118 negara yang secara total memasukkan 374.295 genom Omicron. Sejauh ini, jumlah negara yang melaporkan kasus Omicron sudah lebih dari 120 negara, bahkan pada 13 Januari 2022 varian Omicron sudah ditemukan di semua negara anggota Uni Eropa.

Memang sebagian besar kasus di dunia dan di Indonesia kondisinya ringan dan sebagian bahkan tanpa gejala. Tetapi kita tak dapat menganggap semua kasus Omicron adalah ringan. Sudah jelas setidaknya ada puluhan orang yang meninggal di dunia karena Omicron.

Inggris melaporkan 75 kasus meninggal akibat Omicron sampai 31 Desember 2021, belum lagi negara lain seperti AS, Israel, India, Australia dan lain-lain. Jadi, varian Omicron dapat membuat pasiennya sakit parah sampai meninggal, walaupun persentasenya memang jauh lebih kecil daripada varian Delta.

Kita tahu, kalau ada yang meninggal, satu nyawa pun amat berharga dan tak bisa tergantikan dengan apapun, apalagi kalau menimpa kerabat kita. Lonjakan kasus yang membuat sebagian kecil penderita harus masuk rumah sakit—terutama jika ini menimpa para lansia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta— tentu akan memberi beban juga pada fasilitas pelayanan kesehatan kita.

Luar Negeri

Untuk mengendalikan kemungkinan kenaikan kasus, kita perlu mengenal pola penularan yang ada dan melakukan program pengendalian yang spesifik untuk masing-masing pola. Sejauh ini, setidaknya ada tiga pola penularan dan tiga kelompok yang menyebabkan naiknya kasus Covid-19 varian Omicron di negara kita, yaitu mereka yang datang dari luar negeri, mereka yang tertular dari orang yang datang dari luar negeri, dan sudah adanya transmisi lokal.

Untuk mereka yang datang dari luar negeri —sejauh ini masih merupakan kelompok terbanyak— maka setidaknya ada lima hal yang sudah dan perlu dilakukan. Pertama, kepada semua peserta perjalanan luar negeri, harus dilakukan pemeriksaan PCR begitu sampai di Tanah Air, dan akan baik kalau PCR itu dapat mendeteksi fenomena “SGTF — S gene target failure” yang dapat mengarahkan ke kemungkinan infeksi akibat varian Omicron. Mereka yang masuk ke negara kita perlu mengisi data kesehatan secara lengkap, sebagaimana tercantum dalam kartu kewaspadaan kesehatan (health alert card).

Kedua, semua harus menjalani karantina tanpa kecuali, di tempat yang benar-benar terjamin dan sesuai waktu yang ditentukan. Jika hasil tes PCR-nya positif, maka mereka harus dirawat di rumah sakit. Ketiga, pemeriksaan PCR harus negatif sebelum mereka dapat keluar dari karantina, sehingga tidak terjadi penularan di masyarakat.

Keempat, walaupun sudah selesai karantina —kebijakan saat ini adalah sela -ma tujuh hari— akan baik kalau mereka yang baru masuk dari luar negeri ini bisa tetap dipantau, sambil mereka beraktivitas di masyarakat. Ini yang disebut pengawasan pasca-karantina. Salah satu pemantauan yang bisa dilaksanakan ada -lah dengan memberikan informasinya ke puskesmas tempat pasien tinggal. Petugas puskesmas bisa menghubungi mereka dan memantau secara berkala.

Kelima, kalau ada yang baru datang dari luar negeri dan ternyata positif Omicron, maka akan baik jika diterap -kan mekanisme International Health Regulation (IHR). Dalam hal ini, IHR focal point Indonesia bisa menghubungi IHR focal point negara asal dan mengin -formasikan kasus yang ada agar mereka bisa melakukan testing dan telusur terhadap kemungkinan sumber penular di negara itu.

Tentang kasus dari luar negeri ini, memang sudah ada imbauan agar kita tak keluar negeri dulu sekarang ini, tetapi kalau toh ada WNI yang memutuskan pergi dengan berbagai pertimbangannya, maka setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan. Pertama, perlu diberikan penjelasan yang baik, jelas dan berdasarkan data akurat tentang risiko bahaya tertular penyakit. Selain itu, perlu terus dijelaskan ke publik situasi Omicron di dunia, hari per hari, terma -suk perkembangan di kota-kota negara -negara lain, seperti yang selalu diberikan oleh Center on Diseases Control and Prevention (CDC) AS kepada warganya, dengan berbagai level kewaspadaan dan persiapan yang perlu dilakukan.

Kedua, semua WNI yang terpaksa harus ke luar negeri, harus selalu dalam pengawasan Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal (KBRI/KJRI) setempat. Kewajiban melapor ke KBRI harus lebih ditegakkan lagi, demi kepentingan WNI itu sendiri. Ketiga, jika ada WNI yang sakit ketika berada di luar negeri maka bukan hanya harus ditangani di sana, tetapi juga diinformasikan ke Indonesia untuk antisipasi selanjutnya.

Didalam Negeri

Kasus Omicron juga dapat terjadi di Tanah Air. Kita ingat bahwa Tn N, kasus Omicron pertama Indonesia, adalah petugas kebersihan di Wisma Atlet. Belakangan juga dilaporkan ada petugas laboratorium di bandara yang tertular saat sedang menangani warga yang baru turun dari pesawat, dan petugas laboratorium ini kemudian menulari pula beberapa orang di tempat kos-nya.

Untuk mengendalikan ini, program pengendalian infeksi (PPI) harus lebih diperketat, baik di bandara maupun di Wisma Atlet atau wisma lain yang menampung warga yang baru datang, dan juga di hotel-hotel yang ditunjuk. Pengetatan PPI amat penting karena Omicron jauh lebih mudah menular daripada Delta. Walaupun kita sudah punya pengalaman panjang menangani varian Delta, upaya pencegahan penularan harus lebih ketat lagi di berbagai fasilitas yang ada. Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat sesuai aturan harus benar-benar diterapkan, termasuk standar operasional prosedur (SOP) bagaimana melepaskan dan membuang APD sesudah dipakai.

Kita melihat kenyataan, sudah cukup banyak kasus transmisi lokal terjadi di Indonesia. Mereka tak punya riwayat perjalanan keluar negeri dalam beberapa bulan sebelumnya dan tak ada riwayat kontak dengan orang yang baru datang dari luar negeri. Artinya, mereka tertular dari sumber penular di dalam negeri.

Untuk transmisi lokal ini ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, penelusuran kepada siapa saja virus ditularkan. Di beberapa tempat, mikro lock down sudah dilakukan dalam lingkup RT atau RW karena banyak yang tertular. Ini hal baik, tetapi selain itu harus dilakukan hal kedua, yaitu dicari juga dari mana kasus transmisi lokal tertular.

Jadi selain “telusur ke depan” siapa saja yang sudah tertular, harus juga dilakukan “telusur ke belakang” untuk menemukan siapa yang menulari. Jika sudah diketahui sumber awalnya maka bisa dicek ke mana saja ia sudah menularkan, lalu dilakukan telusur lagi dan bila diperlukan dilakukan isolasi, demikian seterusnya.

Tes dan Vaksinasi

Selain upaya-upaya di atas, jumlah tes harus ditingkatkan. Ini terutama karena banyak kasus Omicron yang tanpa gejala (OTG) dan hanya ditemukan waktu dilakukan tes. Dari tes yang dilakukan, jika ditemukan ada OTG yang positif Omicron, mereka harus diisolasi supaya tak menularkan ke sekitarnya. Dengan demikian, tak terjadi penularan berkepanjangan di masyarakat (continued community transmission) dan jumlah kasus bisa dikendalikan.

Tentu saja vaksinasi harus terus ditingkatkan. Data sampai 17 Januari 2022 menunjukkan, masih lebih dari 42 persen populasi kita dan lebih dari 55 persen lansia belum divaksin dua kali, artinya belum mendapat perlindungan memadai. Angka ini harus dikejar dengan lebih cepat lagi, sejalan dengan pemberian vaksin penguat yang sudah dimulai beberapa waktu yang lalu.

Pemberian booster memang bermanfaat untuk pengendalian Omicron, tetapi vaksinasi primer yang dua kali merupakan hal yang utama dan pelaksanaannya jangan sampai terganggu oleh program pemberian vaksin penguat.

Dalam dinamika pengendalian varian Omicron ini, bisa saja ada perubahan kebijakan dari waktu ke waktu. Tentu akan baik kalau perubahan aturan disampaikan secara transparan ke masyarakat, disertai bukti-bukti ilmiah yang mendasarinya, sehingga lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Tjandra Yoga Aditama Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Guru Besar FKUI, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

 

Sumber: Kompas. 22 Januari 2022. Hal. 6

Hati-Hati Gangguan Leher Selama WFH. Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7

Pada konferensi pers akhir pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengimbau agar perkantoran kembali menerapkan WFH. Setidaknya kapasitas maksimal di kantor 75% selama 2 minggu ke depan mengingat angka kasus Omicron terus bertambah. Satgas Covid-19 hingga Kamis (20/1) melaporkan kasus positif varian Omicron di Indonesia mencapai 817 kasus.

Lepas dari persoalan itu, Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Didik Librianto menyebut adanya peningkatan kasus gangguan pada leher sejak kebijakan bekerja dari rumah diterapkan pada 2020 lalu.

Dia menjelaskan struktur tulang belakang terdiri atas daerah leher, torakal atau punggung tengah, dan lumbar atau punggung bawah alias pinggang Nah, selama WFH, daerah servikal dan lumbar paling banyak mendapat tekanan akibat terlalu lama duduk mengikuti kegiatan rapat, webinar, atau mengerjakan pekerjaan di depan layar komputer. Tekanan ini bertambah ketika posisi duduk kurang tepat.

“Kasus servikal meningkat tajam, begitu pula Lumbar. Terjadi problem di daerah leher dan pinggang selama pandemi,” ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (20/12).

Didik mengatakan, penye bab tulang leher mudah sakit karena bagian ini memiliki ukuran lebih kecil dan sangat fleksibel. Namun, sangat rentan akan stres berulang dan cedera ringan. Cedera ringan yang berulang lama-lama menyebab kan bantalan antar ruas tulang leher yang volumenya kecil mudah sekali cedera. Kebiasa an tidur di satu sisi juga bisa memicu cedera.

Dia mengingatkan gangguan leher ini bisa menyebabkan sejumlah masalah, di antara nya gangguan postur tubuh, penuaan, kelainan bawaan seperti tulang leher mudah cedera, infeksi, hingga tumor. Walaupun tidak menimbulkan kematian, gangguan ini bisa menyebabkan disabilitas, yaitu ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Adapun, gangguan ringannya meliputi keluhan kesemutan atau kebas pada wajah, leher, bahu, tangan, atau kaki. Kemudian adanya gangguan motorik halus sebagai contoh tidak bisa memegang bolpoin, mengetik, maupun mengancingkan baju. “Itu gejala awal dari gangguan leher yang mengakibatkan otot kita menjadi lemah,” tuturnya.

Keluhan lainnya berupa leher pegal, leher kaku, sakit leher yang menjalar kebagian tubuh lainnya, leher bungkuk, hingga gangguan keseimbangan. “Sedangkan gangguan berat misalnya tidak mampu berjalan, jalan sempoyongan, mudah limbung, buang air kecil terganggu, dan tidak mampu mengangkat tangan,” tambah Didik.

Lantas bagaimana jika keluhan tidak ditangani dengan baik? Didik mengatakan, keluhan akan bertambah berat sehingga otot menjadi lebih kecil. Alhasil penderita akan kesulitan menggenggam atau angkat sesuatu. “Bakal terjadi kelemahan di kaki karena ma salah di leher.”

Untuk pengobatan gangguan pada leher, Didik mengatakan bisa dengan tindakan injeksi di rongga saraf dan akar saraf. Pasien sangat disarankan untuk melakukan senam tulang belakang.

Selain itu bisa dilakukan ope rasi untuk membebaskan saraf terjepit akibat tonjolan bantalan sendi. Endoskopi juga menjadi opsi untuk membebaskan saraf terjepit di leher. Didik menyebut masa pemulihan dan ra watnya terbilang cepat. “Angka keberhasilan 90%-95%.”

Guna mencegah gangguan leher ini selama WFH, Didik menyarankan agar duduk pada posisi ergonomi. Dia menuturkan ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia guna merancang suatu sistem kerja.

Dengan demikian, mereka dapat hidup dan bekerja dengan efektif, nyaman, aman, dan efisien.

Lantas bagaimana posisi duduk ergonomi? Pada saat menggunakan kursi dan meja kerja, Didik menyarankan agar saat duduk pandangan mata sejajar dengan layar komputer atau laptop. Letakkan tangan di sandaran, tepat di bawah tinggi siku, sementara lengan berada di samping badan. Usahakan paha sejajar dengan lantai dan kaki berpijak dengan nyaman di lantai atau sandaran kaki.

“Sebelum melakukan kerja kita harus mengatur kursi di posisi yang baik. Sandaran punggung harus pas dengan lekukan bawah punggung. Postur tulang belakang leher bergantung pada tulang belakang pinggang. Kaki berpijak sehingga tidak terjadi beban di lutut,” terangnya.

Secara terperinci, pada saat menggunakan keyboard, pastikan lengan di samping badan tidak terangkat atau membuka. Usahakan tangan lurus dengan lengan bawah, netral atau lurus dengan postur pergelangan tangan. Kemudian tangan berada di depan pusat tubuh.

Keyboard, menurut Didik harus memiliki penyangga lengan atau pergelangan tangan yang tingginya sama dengan space bar. Sementara itu, pertahankan sudut lengan atau siku sekitar 90 derajat.

Ketika menggunakan mouse, letakkan pengarah komputer itu di samping keyboard. Pastikan benda itu mudah dijangkau, dengan lengan ditekuk sekitar 90 derajat selama penggunaan. Sejajarkan tinggi mouse dengan keyboard dan jaga lengan tetap lurus saat menggunakannya.

Untuk monitor, Didik meng imbau agar posisi monitor sejauh panjang lengan dan tidak kurang dari 50 cm dari pandangan mata. Layar harus tegak lurus dengan jendela atau sumber cahaya untuk mengurangi silau. Kemudian atur layar setinggi mata atau letakkan monitor lebih rendah untuk pengguna lensa bifokal.

Apabila tidak ada meja kerja atau kursi yang bisa diatur, Didik menyebut ada alternatif menggunakan meja lainnya di rumah, seperti meja makan. Untuk memastikan posisi layar monitor sejajar dengan pandangan masa, bisa mengganjalnya dengan tumpukan buku. Kendati demikian, Didik mengingatkan agar memberi jeda waktu saat bekerja guna melakukan peregangan untuk merelaksasi otot mata maupun leher.

Setidaknya waktu yang diperkenankan untuk menatap layar monitor 45 menit hingga 1 setengah jam, tetapi semua tergantung pada tubuh tiap-tiap orang. “Bila rajin olahraga, 1 jam kuat. Peregangan 3-5 menit sangat membantu,” katanya.

Perlu diingat, menatap layar ponsel genggam juga bisa menyebabkan gangguan leher, karena saat menggunakan ponsel, kepala kita secara tidak disadari akan menunduk sehingga menjadi beban pada daerah leher. Untuk itulah, kita pun perlu melakukan peregangan.

STRES BERLEBIHAN

Terpisah, Spesialis Penyakit Dalam di RSU Bunda Margon da Depok Resha Murti Wibowo mengatakan stres yang berlebihan juga membuat kekakuan pada bagian tulang leher belakang dan menimbulkan rasa tidak nyaman dan radikal bebas akan jauh lebih banyak. Dengan demikian saat beristirahat, tubuh akan merasa sangat lelah.

Kemudian, adanya gangguan tulang leher seperti saraf ter jepit. Kondisi ini terjadi akibat posisi yang salah di mana tulang leher yang harusnya melengkung justru menyempit.

Latihan beban juga bisa menyebabkan gangguan pada leher, terutama jika berlebihan dan tidak diikuti pemanasan serta pendinginan. Selain itu, bahu terlalu menopang benda berat, seperti menggendong tas yang isinya sangat berat.

Nah, untuk memperbaiki kondisi ini, selain memperbaiki posisi saat bekerja atau menggunakan gadget, Resha menyarankan agar memperbaiki posisi tidur, terutama dalam penggunaan bantal. Sebisa mungkin agar berada di atas dari posisi tubuh.

Dia juga menyarankan untuk melakukan relaksasi. Olahraga juga tidak boleh ditinggalkan untuk menjaga tubuh tetap bugar dan melemaskan otot. “Berikutnya fisioterapi, minum air putih cukup, makan buah-buahan dan sayuran yang memberi nutrisi pada otot tubuh. Terakhir buat diri nyaman dan berpikir positif,” katanya.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7

Cara Menjaga Kesehatan Mata Saat Kuliah Online

Semenjak pandemi COVID-19 tahun 2020 lalu, proses belajar tatap muka di sekolah dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring. Metode pembelajaran daring ini menuntut kamu menatap layar HP atau laptop terus-menerus setiap harinya. Bukan tidak mungkin, kesehatan mata menjadi terganggu karena hal tersebut. Mata jadi sering kelelahan atau kering selama belajar online di rumah. Berikut beberapa tips yang harus diikuti agar mata kamu tetap sehat dan bisa terjaga dengan baik.

  1. Pastikan Cahaya di Ruangan Cukup

Pencahayaan lampu di ruangan sangat penting agar kamu bisa melihat secara jelas. Hanya saja, saat belajar online di rumah, kamu perlu mengatur tingkat pencahayaan tersebut. Hindari pencahayaan yang terlalu terang karena membuat silau. Jangan pula membiarkan pencahayaan terlalu redup karena membuat penglihatan buram. Atur pencahayaan yang cukup sesuai kondisi mata kamu saat ini.

Selain dapat merawat kesehatan mata, ternyata pencahayaan ruangan juga berpengaruh terhadap produktivitas belajar, lho. Belajar dalam ruangan terang cenderung dapat meningkatkan konsentrasi, produktivitas, dan semangat belajar ketimbang dalam ruangan remang-remang.

  1. Konsumsi Makanan Bergizi

Cara menjaga kesehatan mata berikutnya yaitu mengonsumsi makanan bergizi. Makanan seperti sayuran hijau, ikan segar, serta buah-buahan mengandung banyak nutrisi yang baik untuk memelihara kesehatan tubuh dan meningkatkan kinerja mata. Mengonsumsi wortel secara rutin juga membantu menjaga kesehatan mata kamu. Hal ini karena wortel sarat akan beta karoten, suatu antioksidan yang dapat mengurangi risiko degenerasi makula pada mata.

  1. Sering Mengedipkan Mata

Selama pembelajaran daring, sebaiknya kamu rutin mengedipkan mata. Normalnya, manusia berkedip sebanyak 15-20 kali dalam satu menit. Namun, frekuensi mengedipkan mata tersebut bisa menurun saat kamu membaca buku, menonton televisi, bahkan menatap layar laptop atau HP terlalu lama. Kalau kamu membiasakan berkedip sebanyak 15-20 kali saat belajar online, kamu akan terhindar dari mata kering dan kelelahan.

  1. Atur Pencahayaan dan Jarak HP atau Laptop

Untuk menurunkan risiko mata tidak sehat karena belajar online, pastikan mengatur pencahayaan layar. Usahakan pencahayaan tidak terlalu terang atau gelap agar mata tidak cepat lelah dan kamu lebih mudah melihat materi pelajaran di layar tersebut. Jika perlu, gunakan filter blue light pada layar untuk melindungi mata dari paparan sinar biru laptop maupun HP. Selain itu, kamu perlu memberi jarak setidaknya 60-65 cm antara layar dengan wajah. Pastikan posisi layar tepat di depan mata sehingga kamu tidak perlu menunduk maupun mendongak. Jadi, tubuh kamu tetap dalam kondisi nyaman dan kinerja mata tetap prima selama belajar online di rumah.

  1. Menjaga Kesehatan Mata dengan Metode 20-20-20

Metode 20-20-20 ini terbukti ampuh merawat kesehatan mata. Khususnya bagi kamu yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, HP, dan komputer. Metode ini berarti, setiap 20 menit sekali saat belajar online, usahakan melihat objek lain sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter, selama 20 detik. Cara ini bermanfaat mengurangi ketegangan mata karena menatap layar terlalu lama. Itu dia beberapa cara menjaga kesehatan mata yang bisa kamu ikuti selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Yuk, mulai membiasakan diri menjalankan kelima cara tersebut! Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati.

  1. Pilih Posisi yang Pewe (Paling Wenak)

Agar kamu tetap nyaman dalam melihat laptop atau komputer, bisa nih dicoba untuk set tempat kamu duduk, jarak kamu dalam melihat laptop, atau posisikan laptop mu agar sejajar dengan pandangan mata mu. Ingat untuk atur jarak 30cm antar mata dengan layar laptop. Dengan posisi duduk yang baik, kamu bisa terhindar dari mata lelah dan low back pain loh.

Nah itu tadi merupakan tips untuk menghindari penyakit mata maupun cara menjaga kesehatan mata pada saat pembelajaran daring. Tips ini juga bisa diterapkan siapa saja, dimana saja. Semoga bermanfaat!

Kenali Lemak Perut dan Cara Mengatasinya. Surya. 1 Januari 2022. Hal. 6

Bagi banyak orang, lemak perut adalah yang paling dirisaukan. Tidak hanya menyebabkan kenaikan berat badan, lemak perut juga membuat perut tampak lebih maju sehingga mengganggu penampilan.

BANYAK dari kita yang mungkin belum mengetahui beberapa jenis lemak perut yang disebabkan berbagai faktor. Berbeda jenis lemak tentu saja berbeda cara mengatasinya.

  1. Beer belly

Seseorang yang mengonsumsi terlalu banyak bir selama bertahun-tahun akan mengalami perubahan bentuk perut menjadi lebih besar. Bir mengandung sekitar 180-500 kalori per takaran, tergantung jenis alkohoinya.

Cara mengatasinya: Kurangi minum bir setiap harinya hingga setiap minggunya akan membantu memangkas kalori dan berat badan. Jika hal itu pun terasa sulit, cobalah pilih bir yang lebih rendah kalori. Sebagai perbandingan, segelas anggur merah baik untuk pencernaan dan bisa membantu menurunkan berat badan. Meski begitu, perubahan pola hidup seperti memerbanyak olahraga serta memangkas asupan kalori dan makanan berlemak juga bisa membantu.

  1. Setelah kehamilan

Kehamilan bisa memberi dampak yang sangat drama tis terhadap tubuh seorang. perempuan, termasuk salah satunya pada area perut yang membesar. Meskipun berhasil menurunkan berat badan pascapersalinan, kebanyakan perempuan mengalami kenaikan berat badan selama hamil.

Pemisahan perut juga dapat terjadi selama atau setelah kehamilan, yaitu ketika rahim yang tumbuh menyebabkan dua otot sebuah studi menemukan, panjang yang bekerja paralel di perut menjadi terpisah satu sama lain.

Cara mengatasinya: Menurunkan berat badan setelah kehamilan cukup memakan waktu. Tubuh membutuhkan waktu pemulihan sebelum menjalani pola makan atau rutinitas olahraga baru. Biasanya dokter merekomendasikan menunggu hingga pemeriksaan pascapersalinan. sekitar 6-8 minggu.

Mulailah dengan makan makanan sehat dan minum minimal delapan gelas sehari untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Hindari makanan tinggi gula dan prioritaskan makanan tinggi serat.

  1. Stres

Stres juga bisa menyebabkan masalah pencernaan, yang berujung pada area perut yang membesar, Stres memicu peningkatan tingkat kortisol atau hormon stres sehingga berdampak pada penyimpanan lemak. Masalah penyimpanan lemak biasanya terjadi pada area perut karena merupakan lemak yang paling sulit dihilangkan. Stres juga bisa memicu peningkatan oksidasi lemak, proses yang memungkinkan lemak untuk dibakar menjadi energi.

Cara mengatasinya: Melakukan manajemen stres terlebih dahulu, misalnya dengan mengatur pernafasan, jalan kaki ringan, hingga meluangkan waktu untuk beristirahat. Beberapa suplemen herbal juga diketahui mampu membantu menurunkan kadar kolesterol. Ahli gizi merekomendasikan konsumsi kacang-kacangan jika kamu merasa perutmu membesar karena stres karena kacang tinggi akan magnesium yang bisa menurunkan kadar kortisol. Brokoli yang kaya asam folat juga baik untuk membantu menurunkan tingkat stres.

  1. Faktor hormon

Salah satu efek samping menopause adalah kenaikan berat badan karena hormon yang fluktuatif. Fakta baru menemukan bahwa penurunan kadar estrogen dapat mendorong kita untuk makan lebih banyak dan berolahraga lebih sedikit, menurunkan tingkat metabolisme dan mening- katkan resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit untuk berurusan dengan gula dan pati. Hor- Sensasi kembung bisa mon juga berdampak pada distribusi lemak. Pertambahan berat badan perimenopause sering dikaitkan dengan penumpukan lemak di sekitar perut dan organ dalam, yang bertentangan dengan pinggul dan paha.

Cara mengatasinya: Cobalah menerapkan pola makan rendah kalori selama dan setelah menopause. karena jumlah kalori yang dibakar pada usia tersebut konsumsilah banyak protein untuk menjaga kita tetap kenyang, meningkatkan tingkat metabolisme dan mengurangi kehilangan otot. Selain itu, kualitas tidur juga menjadi kunci menjaga berat badan yang sehat.

  1. Perut kembung

Kembung adalah pera saan adanya tekanan yang membuat perut membesar dan lebih dari 70 persen orang mengalami ini. Kondisi ini bisa disebabkan sejumlah hal, seperti sindrom iritasi usus, flatulence, penyakit celiac, peradangan usus besar, dan endometriosis.

Sensasi kembung bisa menyebabkan area perut seperti lebih membesar. Pada kasus langka, kembung juga bisa menjadi gejala masalah serius, seperti kanker ovarium, maka ada baiknya jika berkonsultasi dengan dokter

Cara mengatasinya: Terapis nutrisi yang bekerja bersama Bio-Kult, Natalie Lamb mengatakan, pada umumnya mengonsumsi sari cuka sebelum makan bisa membantu memperlancar fungsi pen cernaan. Selain itu, usaha kan untuk mengurangi gula dan karbohidrat sederhana serta mengonsumsi lebih banyak serat.

  1. Kelebihan berat badan

Berat badan berlebih biasanya disebabkan karena konsumsi kalori lebih besar daripada kalori yang dibakar melalui fungsi-fungsi tubuh dan aktivitas fisik. Banyak orang mengalami perut membesar karena kelebihan berat badan atau menerapkan pola makan tinggi lemak dan sering makan manis.

Cara mengatasinya: Meningkatkan aktivitas fisik adalah salah satu cara utama untuk menurunkan berat badan. Kamu tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di gym atau untuk lari hanya untuk menjaga kesehatan. Cukup lakukan olahraga ringan selama 15 menit setiap harinya dan lakukan secara rutin untuk mendapatkan hasil. Pada intinya, memangkas konsumsi kalori adalah kunci menurunkan lemak perut. (kompascom)

 

Sumber: Surya. 1 Januari 2022. Hal. 6

Kanker Ovarium Stadium Awal Tak Bergejala, Kenali Faktor Risiko dan Tanda-tandanya. Kompas. 14 Januari 2022. Hal. 8

JAKARTA, KOMPAS-Kanker ovarium stadium awal tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Namun, penyakit ini bisa diidentifikasi dengan mengenali faktor risiko dan tanda-tandanya sehingga dapat didiagnosis sedini mungkin.

Berdasarkan Global Burden of Cancer Study, terdapat 14.896 kasus baru kanker ovarium di Indonesia pada 2020. Tidak adanya gejala khas membuat kanker pada indung telur itu sulit terdeteksi pada stadium 1 dan 2.

Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI) Brahmana Askandar mengatakan, mayoritas kasus kanker ovarium terdeteksi pada stadium 3 dan 4. Saat stadium awal, penderitanya tidak mengeluhkan gejala spesifik.

“Haidnya normal saja. Indung telur masih bisa berproduksi. Rata-rata pasien yang datang perutnya sudah membesar. Sesak karena ada cairan di paru-paru, gangguan buang air besar, dan ada penyebaran di usus,” ujarnya dalam konferen si pers Kampanye 10 Jari: Bersama Kita Bisa Menghadapi Kanker Ovarium, yang digelar daring, Kamis (13/1/2022).

Oleh sebab itu, meski kasus nya tidak sebanyak kanker ser viks, kanker ovarium tetap wajib diwaspadai. Menurut Brahmana, hanya 20 persen kasus kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal.

“Jika ditemukan lebih dini, 94 persen pasien mempunyai harapan hidup lebih dari lima tahun setelah didiagnosis. Penyakit ini dikenal sebagai silent killer bagi kaum perempuan,” katanya.

Mengenali faktor risiko sa ngat penting agar kanker ovarium bisa segera ditangani. Terdapat enam faktor risiko yang harus diperhatikan untuk mengenali penyakit ini.

Pertama, perempuan lanjut usia di atas 60 tahun. Faktor kedua, mempunyai angka kelahiran rendah. Artinya, perempuan yang lebih sering mengandung cenderung punya risiko lebih kecil.

“Faktor ketiga adalah riwayat kanker ovarium pada keluarga, seperti ibu dan saudara perempuan. Gava hidup buruk seperti kurang berolahraga juga turut menjadi faktor risiko,” ujar Brahmana.

Dua faktor lain adalah mempunyai riwayat kista endome triosis dan memiliki mutasi genetik. Endometriosis merupakan kondisi terbentuknya jaringan darah haid di luar rahim.

“Ukuran ovarium kecil, sekitar 2 sentimeter. Namun, jika menjadi kanker, ukurannya bisa mencapai 40 – 50 cm ucapnya. Kanker ovarium juga memiliki empat tanda yang bisa dikenali, yaitu perut kembung, nafsu makan berkurang, gangguan buang air kecil, nyeri panggul atau perut.

Paling tidak, empat gejala ini harus diedukasi kepada masyarakat. Berbeda dengan kanker serviks yang perubahannya tahap demi tahap. Perubahan dari normal menjadi kanker ovarium tidak jelas tahapannya. Tutur brahmana.

Hidup sehat

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Elvieda Sariwati mengatakan, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 30-50 persen kematian akibat kanker bisa dicegah. Pencegahan kanker dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko dan menerapkan pola hidup sehat.

“Jadi, perlu deteksi secara berkala. Namun, kanker ovarium menjadi salah satu kanker yang agak sulit untuk dideteksi dini,” katanya.

Oleh karena itu, kampanye 10 jari mesti terus digaungkan agar dipahami masyarakat luas. Kampanye tersebut mengacu pada mengenali enam faktor risiko dan empat tanda-tanda nya.

Elvieda menambahkan, penanggulangan kanker di Indo nesia dilakukan dengan beragam cara, mulai dari promosi kesehatan, deteksi dini, hingga penanganan kasus kampanye 10 jari tersebut menjadi bagian dari promosi kesehatan untuk mengedukasi masyarakat.

Ketua Umum Cancer Information and Support Center Ar yanthi Baramuli Putri menyebutkan, penanggulangan kanker ovarium membutuhkan kolaborasi sejumlah pihak. Langkah yang bisa diambil meliputi upaya promotif, diagnosis, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif secara berkesinambungan.

“Kami juga melihat bagaimana para penyintas kanker ovarium dapat bersatu dan mendukung satu sama lain untuk saling menguatkan dalam melawan penyakit ini. Diharapkan lebih banyak lagi perempuan di Indonesia yang melakukan deteksi dini ini,” ujarnya. (TAM)

 

Sumber: Kompas. 14 Januari 2022. Hal. 8

Arsitektur Kesehatan Global dalam Perspektif Politik Internasional. Kompas. 18 Januari 2022. Hal. 7

Dalam literatur konvensional, masalah kesehatan masih dianggap sebagai persoalan low politics sehingga dianggap kurang signifikan untuk diurus oleh negara.

Kalau yang dimaksud ada- lah masalah kesehatan “pada umumnya”, masih patutlah untuk dianggap seba- gai isu low politics.

Akan tetapi, kalau yang kita bicarakan adalah pandemi Covid-19 yang hingga Desember 2021 telah merenggut nyawa lebih dari lima juta jiwa di seluruh dunia dan di Indonesia tercatat korban sejumlah 150.000 lebih maka memosisikan kesehatan sebagai persoalan low politics sungguh sangat naif.

Virus Covid-19 yang terus bermutasi hingga sampai galur Omicron dan varian-varian lainnya memang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia, kecuali flu Spanyol yang terjadi lebih dari seabad yang lalu. Sama ganasnya, sama globalnya, tetapi situasi dan kondisi pendukungnya sangat berbeda.

Sebagai bagian pendukung dari diplomasi kesehatan yang kali ini sedang digencarkan oleh Indonesia terkait dengan presidensi G-20 tahun 2022, tu lisan singkat ini ingin memotret arsitek kesehatan global dari kacamata politik internasional. Ingin menjelajah lebih jauh mencari jawaban apa saja yang perlu dilakukan untuk mengonstruksi arsitektur kesehatan dunia berdasarkan perspektif politik internasional?

Epistemologi krisis

Mengapa arsitektur kesehatan global harus dilihat sebagai isu politik internasional? Karena hal ini berkait dengan pandemi Covid-19 yang telah merenggut lebih dari lima juta jiwa, mengakibatkan lebih dari 100 juta orang menjadi miskin, dan lebih dari 800 juta penduduk di seluruh dunia mengalami kelaparan.

Mengonstruksi arsitektur kesehatan global dari perspektif politik internasional menuntut semua negara di dunia ikut melakukan gerakan bersama dalam menanggulangi krisis kesehatan ini. Politik internasional memosisikan persoalan arsitektur kesehatan global untuk menghadapi pandemi Covid-19 (ataupun pandemi lain di masa depan) sebagai isu high politics agar semua negara menghadapinya secara bersama-sama.

Kredo “Recover Together, Recover Stronger” dalam presidensi G-20 sangat tepat, tetapi harus didukung dengan sosiali sasi akademik yang menawarkan perspektif kritis yang baru ini, yang memosisikan human security sebagai traditional security supaya semua negara bertanggung jawab bersama, karena pandemi Covid-19 mengancam keselamatan manusia secara global dan simultan

Ancaman global

Menganggap Covid-19 sebagai ancaman global menjadikan isu arsitektur kesehatan global sebagai isu strategis dalam po litik internasional.

Menghadapi ancaman pandemi ternyata tak lebih mudah daripada menghadapi ancaman perang nuklir. Virus korona, va rian Delta, varian Omicron, dan segenap turunannya tidak pandang bulu. Manusia mana pun, baik yang komunis maupun kapitalis liberal, semuanya berpotensi menjadi korban. Hampir dua tahun ekonomi global terjebak dalam fobia global, ribuan penerbangan internasional dihentikan, pabrik pabrik, toko, restoran, ataupun kerumunan menjadi alergi sosial yang mencekam. Isu kesehatan yang semula hanya merungunan. pakan isu biasa langsung memaksa orang, di seluruh dunia, untuk taat protokol kesehatan yang kedengaran sederhana, tetapi sangat melelahkan. Korona muncul sebagai panglima global dalam rezim “koronokrasi” yang totaliter tanpa kompromi terhadap pasar.

Memang tidak semua orang percaya bahwa virus itu benar-benar telah mencekam dunia. Banyak orang yang menganggap peristiwa itu sebagai konspirasi para pihak yang mendapatkan keuntungan dari kepanikan global tersebut. Dalam arsitektur kesehatan global, kelompok orang semacam ini harus diyakinkan bahwa keberadaan mereka, dengan cara hidup mereka, mengancam kehidupan orang lain dan mengancam diri mereka sendiri.

Jumlah mereka tidak ba- nyak, tetapi penanganan pandemi memerlukan ketegasan komando global yang eksistensial, yang tak kenal kompromi, yang berpola preemtif, yang berupaya menihilkan semua halangan, karena sifat pandemi memang tanpa ampun. Yang percaya ataupun yang tidak percaya bisa menjadi mangsanya.

Suprastrukturbace, Kalau persoalan epistemologi dan penanganan pro anti konspirasi sebagai bagian dari suprastruktur yang harus dikelola lebih dulu dalam arsitektur kesehatan global, bentuk riil suprastruktur nya adalah multilateralisme penanganan pandemi secara serentak.

Keselamatan manusia harus menjadi prioritas tujuan masyarakat dunia. Harus percaya seratus persen bahwa pandemi Covid-19 hanya “melahap” manusia, tidak menyerang hewan, tanaman, ataupun bangunan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 Vaccine Global Acces (COVAX), Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) dan sejenisnya merupakan suprastruktur yang harus bervisi global untuk kemanusiaan. Karena pandemi termasuk sebagai bencana yang tak bisa diprediksi, lembaga penjamin mitigasi dan penanganan semacam asuransi kesehatan global menjadi sangat diperlukan.

Sayang, rencana pembentuk an Global Health Fund di bawah G20 Join Finance Task Force yang memerlukan dana sekitar 15 miliar dollar AS per tahun tidak disepakati oleh banyak negara anggota.

Kalau global health insurance (asuransi kesehatan global) di anggap riskan bisa saja dimulai dengan intercontinetal health fund, yang pengelolaannya berbasis benua. Ada di Afrika, Asia, Eropa, Amerika, dan juga Australia. Mengapa tidak?!

 

Sumber: Kompas. 18 Januari 2022. Hal. 7

Menghasilkan Enzim Rekombinan. Kompas 17 Januari 2022. Hal. 8

Tim peneliti di IPB University mengembangkan produk enzim rekombinan buatan dalam negeri. Hasil inovasi ini bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan reagensia dalam tes PCR yang meningkat selama masa pandemi Covid-19.

Kebutuhan reagensia pen dukung pemeriksaan polimerase makin besar. Padahal, sebagian besar reagensia masih diimpor. Tim peneliti dari IPB University pun berupaya menghasilkan reagensia berupa produk enzim rekombinan buatan dan produksi massal dalam negeri.

Teknik pemeriksaan berbasis reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) banyak digunakan dalam bidang biologi molekuler. Selama masa pandemi Covid-19, teknik pemeriksaan itu makin banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi vim SARS-CoV-2 penyebab

Penggunaan yang makin banyak ini membuat kebutuhan kit PCR semakin besar. Tidak hanya mesin PCR, kebutuhan reagensi untuk mendukung pemeriksaan PCR pun kian besar. Sementara ketersediaan reagensia di Indonesia saat ini bergantung dari produk luar negeri. Hal itu menyebabkan reagensia sulit didapatkan, terutama saat banyak permintaan di tingkat global.

Keterbatasan reagensia sempat terjadi ketika lonjakan kasus Covid-19 terjadi di banyak negara di dunia. Selain harga menjadi lebih mahal, proses pemesanannya pun menjadi lebih sulit karena negara yang memproduksi reagensia tersebut menghentikan pengiriman ke luar negeri.

Oleh sebab itu, penelitian dan pengembangan reagensia dari dalam negeri sangat mendesak. Diharapkan Indonesia bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bahkan membantu memenuhi kebutuhan secara global.

Berangkat dari situasi itu, para peneliti dari Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB University, Bogor, pun berupaya mengembangkan enzim dari bagian reagensia dalam pemeriksaan PCR baik secara konvensional maupun real time. Inovasi yang telah dihasil kan itu kini memiliki merek dagang yang disebut Invent pro.

Ketua Peneliti Produk Inventpro Joko Pamungkas dalam acara peluncuran produk enzim reverse transcriptase (RT) Inventpro pada akhir Desember 2021 menyampaikan, enzim RT Inventpro merupakan enzim rekombinan asal gen sintetik Moloney Murine Leukemia Virus (MMLV) dan Simian Retro virus Serotype-2 (SRV-2) yang sudah dimodifikasi pada beberapa asam amino lain.

Enzim tersebut dihasilkan melalui proses ekspresi dalam sistem Escherichia coli dengan menggunakan sumber DNA dari gen sintetik

Gen sintetik dipilih karena dapat memudahkan proses konstruksi rekayasa genetik yang dilakukan. Konstruksi rekayasa diperlukan untuk menghindari efek dari penggunaan kode genetik individual (individual codon usage) yang dapat memengaruhi efektivitas ekspresi gen.

Penggunaan gen sintetik melalui teknologi sintesis gen juga relatif baru. Selain itu, enzim rekombinan sejenis dari gen sintetik tersebut belum pernah dikembangkan.

“Enzim reverse transcriptase Inventpro sangat penting dalam pengembangan teknologi, terutama bidang bioteknologi dan kegiatan yang terkait pengujian biomolekuler atau uji-uji yang memerlukan sintesis DNA dari materi genetik RNA,” kata Joko

Pengujian biomolekuler tersebut terutama untuk pengujian dari virus yang memiliki materi genetika. Apabila amplifikasi materi genetik akan dilakukan, mesin PCR tidak dapat melaksanakan pengujian sehingga materi genetik RNA ha rus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Enzim RT Inventpro inilah yang berperan dalam proses komplementari DNA dari materi genetik RNA.

Joko mengatakan, para peneliti sekarang berhasil mengembangkan kit enzim RT Inventpro sistem sintesis cDNA serta enzim RT Inventpro murni. Pengadaan enzim murni itu diharapkan bisa juga digunakan untuk pengujian lain selain pengujian berbasis PCR.

Keunggulan

Produk enzim RT Inventpro diklaim memiliki sensitivitas yang sebanding dengan produk komersial kualitas premium yang digunakan untuk sintesis cDNA dalam amplifikasi gen dari berbagai jenis spesimen. Secara spesifik, enzim ini juga telah teruji pada amplifikasi gen spike (S) SARS-CoV-2.

Joko memaparkan, enzim ini telah teruji memiliki periode simpan minimal dua tahun dengan fungsi sintesis yang tetap terjaga baik. Sebagai produk dalam negeri, enzim ini juga lebih mudah dijangkau dan dipasti 2021. kan ketersediaannya. Harga produk ini pun jauh lebih terjangkau, yakni 25 persen dari harga produk komersial dengan kualitas premium.

Produk enzim RT Inventpro sudah mendapatkan izin produksi dengan nomor FK.0102/VI/474/2018 dan dapat diproduksi melalui PT Biomedical Technology Indonesia Sejak awal pengembangan, penelitian enzim tersebut sudah dilakukan bersama dengan PT Biomedical Technology Indonesia dengan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pen didikan (LPDP) Kementerian Keuangan pada tahun 2019 dan 2021

Bioteknologi

Direktur PT Biomedical Technology Indonesia Gunadi Setiadarma menuturkan, produk enzim RT Inventpro dinilai dapat bersaing dengan produk-produk lain yang serupa. Hal tersebut terutama jika di tinjau dari segi harga dan kemudahan dalam penyediaan di dalam negeri.

“Inovasi ini memiliki nilai penting dalam pengembangan bioteknologi di Indonesia dan juga ilmu pengetahuan secara umum. Enzim ini juga memiliki nilai ekonomi yang strategis sekaligus dapat mendukung kemajuan bidang biomolekuler ucapnya. dan bioteknologi di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB University Ernan Rustiadi, inovasi enzim Inventpro memperlihatkan bahwa penelitian yang dilakukan di IPB University cukup beragam, termasuk di bidang kesehatan. Inovasi tersebut juga menjadi bentuk sumbangsih dalam memberikan solusi atas pandemi Covid-19.

“Kerja sama dan kolaborasi akan terus ditingkatkan agar lebih banyak keluaran yang di hasilkan untuk mengatasi berbagai persoalan di masyarakat,”

Rektor IPB University Arif Satria, dalam siaran pers beberapa waktu lalu, mengutarakan, inovasi yang dihasilkan IPB University ini didapatkan dari hasil pengamatan terhadap realitas. Ia menyebut, interaksi antara dunia riset dan dunia nyata akan menghasilkan solusi yang baik. “Kombinasi antara imajinasi peneliti dan kebutuhan lapangan ini kombinasi yang tidak boleh dipisahkan,” katanya. Kehadiran inovasi di bidang medis ini menempatkan IPB University tidak hanya berkiprah di bidang pangan, tetapi juga di bidang kesehatan dan biomedis. “Dengan adanya inovasi Inventpro, IPB University menempatkan diri tidak hanya di bidang pangan, tetapi dalam bidang kesehatan,” ujarnya.

“Ketika kita berbicara mengenai kesehatan, maka kita harus membahas tentang kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan tanaman, dan kesehatan lingkungan. Kesehatan manusia tidak bisa terlepas dari kesehatan hewan, apalagi ber kaitan dengan sumber penyakit di masa depan yang diproyeksikan banyak bersumber dari hewan,” kata Arif.

 

Sumber: Kompas 17 Januari 2022. Hal. 8