Semangat mengeksplorasi. Marketeers. Desember 2020-Januari 2021. Hal. 76,77

Redefenisi komitmen merek. Markteers. Desember 2020-Januari 2021. Hal. 48,49

Perluas kolaborasi.Marketeers. Desember 2020-Januari 2021.Hal. 46,47

Menjadi pemimpin tangguh. Marketeers. Desember 2020 – Januari 2021. Hal.14,15

Self Leadership. Kompas. 30 Januari 2021.Hal.7

Seorang atasan mengeluhkan seorang manajer di bawahnya yang cerdas dan berprestasi bagus, tetapi tidak bisa melakukan bimbingan kepada anak buahnya. Ia memang melakukan koordinasi dan pemecahan masalah, tetapi tidak memberikan umpan balik yang membuat performa kerja anak buahnya berkembang menjadi lebih baik.

Dalam pembicaraan empat mata dengannya, tambak bahwa memberi masukan kepadanya pun tidak mudah. Semua masukan dari hasil assessment tentang kepribadiannya cenderung ia bantah dengan, “Kalau saya memang begini, kenapa? Apa saya harus berubah? Kalau tidak bisa, bagaimana?” atau “Ya, itu sudah saya lakukan. Saya sudah banyak berubah kok sekarang.”

Setiap manusia memang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tetapi bisakah Anda membayangkan orang yang tetap begitu saja dan tidak mau mengembangkan diri? Di sinilah self leadership berperan. Orang sering berpikir untuk meningkatkan dan memperbaiki keterampilan leadershipnya, tetapi lupa bahwa leadership yang efektif didahului oleh self leadership. “Self-leadership is the practice of intentionally influencing your thinking, feeling, and actions towards your objectives” (Bryant and Kazan, 2012).

Walaupun studi mengenai kepemimpinan sudah lama dilakukan, self leadership tampaknya baru disebut pada 1983 oleh Charles Manz yang mendefinisikannya sebagai: “a comprehensive self-influence perspective that concerns leading oneself”. Peter Drucker juga mengatakan, sebelum seseorang menjadi chief, captain, atau CEO, ia harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dulu. Ia harus menentukan tujuan yang ingin ia raih dalam hidupnya, berusaha mencapainya, dan bertanggung jawab terhadap pencapainnya.

Mastering others is strength. Mastering yourself is true power,” -Lao Tzu

Banyak sekali yang merasa, latihan kepemimpinan sulit mendapatkan hasil yang terlihat signifikan dalam waktu singkat. Padahal, kepemimpinan ini masih bersifat eksternal. Apalagi self leadership yang lebih bersifat inner game. Individu yang ingin mengembangkan self leadershi-nya harus menyadari intensi, rasa percaya diri, dan keyakinan dirinya terlebih dahulu.

Intensi selalu mempertanyakan “mengapa” kepada diri sendiri. Mengapa saya mengambil tindakan ini atau mengapa saya berbicara seperti ini.

Self awareness berkenaan dengan menyadari intensi dan nilai-nilai yang kita anut, tentang apa yang membuat kita bergerak, terganggu, ataupun menarik diri.

Self confidence bersumber dari kesadaran akan kekuatan dan kelemahan kita sehingga sigap menyusun strategi pengembangan diri.

Self efficacy adalah keyakinan bahwa kita bisa menanggulangi apa pun rintangan yang menghalangi. Kemampuan untuk menerima dan menggarap umpan balik serta melihat efeknya terhadap pengembangan diri.

Bila inner game ini dijalankan dengan baik, kita akan mendapat dua kekuatan baru sekaligus dalam proses kepemimpinan. Influence sebagai hasil dari purpose yang jelas dan kita yakini betul. Kita dengan mudah menularkan semangat untuk berubah. Penguasaan self leadership kita akan membawa impact yang besar.

Komponen yang utama dalam memimpin diri sendiri adalah bagaimana kita melihat dan mengelola masalah. Individu dengan self leadership yang kuat, mampu mengambil tanggung jawab untuk memecahkan masalah. Seorang pemimpin tidak mungkin berharap orang lain yang memimpin pemecahan masalah. Ia sendiri yang harus mendorong kreativitas tim dalam berpikir kritis dan berkolaborasi.

3 pilihan “self leadership”

Mereka yang memiliki self leadership yang kuat akan mampu menyeimbangkan kebutuhan pribadinya dengan organisasi. Ada tiga pilihan yang dihadapi seorang pemimpin: pertama, melakukan dengan caranya, kedua melakukan sesuai dengan keinginan organisasi, dan ketiga mencari jalan agar kita dan organisasi berjalan berdampingan dan tumbuh bersama.

Dalam memimpin, ada saat-saat ketika tidak sejalan dengan situasi, pelanggan atau otoritas tertentu. Di sinilah pemimpin perlu menyinkronkan antara kehendak jati dirinya dan tuntutan eksternal.

Implementasi “self leadership”

Pernahkan kita melihat seorang pemimpin yang tetap tenang ketika krisis melanda, bahkan terus memimpin timnya menembus kesulitan? Seorang pemimpin harus mampu memimpin timnya dengan tujuan jangka pendek, panjang, bahkan dalam menghadapi krisis. Di sinilah self leadership berperan.

Ada beberapa strategi berikut ini, yang bisa dilakukan para self-leaders agar bisa sukses.

Perjelas nilai yang dijunjung tinggi. Kepemimpinan akan tergambar dari bagaimana kita berhubungan dengan kolega dan stakeholder lain serta bagaimana kita mengambil keputusan. Hal ini didasari oleh nilai dan prinsip yang kita pegang. Bila kita memahami nilai-nilai kita sendiri, kita akan semakin engage dan dapat mengirim pesan yang jelas pada para pengikut sehingga mereka tahu alasannya mengikuti kita.

Kembangkan “common language” dengan pengikut. Bila antara pemimpin dan pengikut tidak ada pemahaman yang sama, proses kemajuan yang diharapkan akan sulit terjadi.

Rancang kemenangan Anda. Menggerakkan tim tidak sama dengan menggerakkan diri sendiri. Karenanya, kita perlu membuat rencana detail menuju kemenangan, meninjaunya dari hari ke hari, agar pengikut juga bisa mengejarnya dengan derap yang sama. Kita juga perlu mengantisipasti tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanannya dan bereaksi dengan bijak sesuai dengan nilai yang kita anut.

Dalam setiap kepemimpinan, self awareness yang kuat dan kemampuan memanfaatkan pengetahuan tentang diri sendiri ini akan membuat kita menjadi pemimpin yang kuat. Empowerment is a concept; sel-leaderhip is what makes it work. Empowerment can’t exist, won’t work and is meaningless without self leaders – people who passes the ability, energy and determination to accept responbility for success in their work-related role.

EILEEN RACHMAN & EMILIA JAKOB

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

 

 

Sumber: Kompas, 30 Januari 2021

Inovasi di Tengah Rasa Sulit. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.6

Setelah berdamai dengan Covid-19 mungkin terlalu berlebihan untuk digu nakan.  Yang jelas bagi masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, virus korona justru menjadi inspirasi dalam membuat motif batik.

Batik dengan motif gambar virus corona yang diproduksi oleh Rumah Batik Dewi Busana Lunang dan ada cerita yang menarik di baliknya.  Sang perajin merupakan penyintas Covid-19.

Dewi Hapsari Kurniasih (44) sehari-hari memang berprofesi sebagai seorang pengrajin batik di Pesisir Selatan.  Batik yang populer berkembangnya adalah Batik Mandeh Rubiah dan Batik Tanah Liek yang pernah populer di tingkat nasional.

Dewi mengungkapkan dirinya dinyatakan positif Covid-19 tepat jelang penutupan 2020. Entah dari mana dia terpapar, yang jelas kejadian tersebut seakan menjadi berkah yang tersembunyi.

Namun, hari-hari yang dilalui Dewi tidak mudah.  Dua orang pekerjanya juga dinyatakan positif Covid-19 sehingga harus melakukan isolasi mandiri.

Di tengah kesendirian itu, akhirnya Dewi akhirnya terpikir untuk menjadikan bentuk virus corona sebagai motif batik.  Tak disangka-sangka, motif batik justru kebanjiran pesanan.

“Saya awalnya memang lagi cari-cari ide untuk motif batik yang baru. Jadi, ketika saya terpapar Covid-19 dan mengharuskan isolasi mandiri saya merasa suntuk dan mencoba membuat gambar corona,” kadirinya tanya kepada Bisnis.

Awalnya, Dewi uji coba motif batik terse- tetapi dan belum menemukan komposisi wama yang cocok.  Lambat laun, dia memutuskan untuk menggunakan warna- warna cerah.

Warna terang yang diingin- kan Dewi ternyata memiliki alasan.  Mehurutnya, berkaca dari pengalaman yang dialam- inya itu, penting mendorong orang untuk selalu menjaga kesehatan dan tetap semangat hidup meski sedang terpapar Covid-19.

“Warna terang itu artinya semangat. Penting untuk menginspirasi banyak orang,” tegasnya.

Warna motif batik korona yang berubah oleh Dewi itu mencakup jingga, kuning, biru, hijau, dan merah, dengan perang- na kain dasar hitam.

Selanjutnya, dengan penuh percaya diri, Dewi mengusik ke Dewan.  Kerajinan Nasional Daerah Pesisir Selatan agar diberi kesempatan menampilkan motif batik.

Saat ini, pesanan yang ma- suk untuk batik motif corona telah mencapai ratusan potong.  Pesanan itu datang dari instansi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan serta salah satu SD IT di Painan.

“Saya menjual batik dengan model dua pilihan. Pertama, motif batik korona yang dibuat menggunakan percetakan dan yang kedua menggunakan kain putihnya, juga bisa disesuaikan,” ucapnya.

Motif batik Corona dengan metode printing dijual de- ngan harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per meter.  Harga akan bervariasi sesuai dengan pilihan jenis kain putih yang digunakan.

Untuk motif batik korona yang diproduksi dengan cara dicat, harganya mencapai Rp225.000 hingga Rp250.000 per 2 meter.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Pesisir Selatan Lisda Hendrajoni menjelaskan kera-jinan batik di Pesisir Selatan sudah berkembang sejak empat tahun terakhir dan terkenal di tiga kecamatan dari 15 kecamatan.

Saat ini, di Pesisir Selatan ada lebih dari 200 perajin aktif yang memproduksi batik di tiga kecamatan tersebut.

“Saya sangat senang adanya motif baru muncul. Artinya, perajin kita masih mampu mengembangkan produktivitas di tengah-tengah ini,” tutur Lisda.

  PERAJIN BALI

Apa yang terjadi di Pesisir Selatan sejatinya terjadi pula di banyak tempat di Indonesia.  Seperti yang terjadi di Bali, misalnya, di mana pandemi Covid-19 berbagai inovasi baru.

Meski dilanda kondisi yang serba sulit sejak tahun lalu, pengrajin perak di Bali tidak akal sehat untuk tetap menjalankan bisnisnya dengan membuat gantungan masker yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Perajin perak binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Putu Sudi nyani mengatakan permintaan gantungan masker dari ba- han nonperak dalam waktu satu hari dapat mencapai 600 buah dengan harga mulai dari Rp25.000 sampai Rp35.000.

Gantungan masker dari perak senilai Rp1 juta hingga Rpl, 2 juta tetap diproduksi, hanya saja permintaannya tidak sebanyak produk berbahan nonperak.

“Gantungan masker dari bahan nonperak ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kalau yang dari bahan perak tetap ada yang membeli, tapi tidak terlalu banyak,” tutur pemilik Bara Silver ini saat dihubungi Bisnis.

Menurutnya, saat ini permintaan gantungan masker masih didominasi oleh pekerja kan- toran sehingga pernak-pernik yang digunakan dapat seragam.

Terkait banyak yang menaMenampilkan produk serupa dengan harga sekitar Rp5.000 di pasar, diameternya tidak terlalu lama karena memiliki desain dan kualitas produk yang lebih baik.

“Kami punya desain sendiri, bahannya juga bahan pilihan, sehingga tidak takut dengan persaingan di luar,” katanya.

Disinggung mengenai dampak pandemi terhadap usaha peraknya, wanita asal Celuk Sukawati ini menjelaskan bahwa permintaan produk dari perak memang menurun secara drastis karena ekonomi masyarakat Bali sangat terdampak Covid-19.

Untuk menyiasatinya, pihak- nya tetap membuat kerajinan dari bahan logam lain, alpaka, kuningan, dan gempa sehingga 30 orang pengrajin logam yang bekerja sama dengan masih tetap dapat berproduksi.

Selain gantungan masker, dia juga membuat kalung, cincin, dan bros dengan harga yang dapat dicapai oleh masya- rakat dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini.

“Dulu produksi perak di- bandingkan nonperak sebesar 50:50. Kalau sekarang, produksi dari nonperak mendominasi hingga 80%,” tambahnya.

Harus, pandemi Covid-19 memang telah menghadirkan banyak luka dan kesedihan bagi sejumlah sektor usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah.  Namun, dengan inovasi dan kegigihan, selalu ada celah dalam meraih berkah.  (k56 / k44) B

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.6

Peluang Budidaya Makadamia.Tabloid Kontan.23-29 April 2018.Hal.23

Oleh F. Rahardi, Pengamat Agribisnis

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tahun 2017 Indonesia mengekspor makadamia gelondong dan kupas 260 kilogram senilai US$ 2.578. Dengan Kurs Rp 13.781 per dollar AS, nilainya Rp 35,5 juta atau Rp 136.648 per kilogram.

Tapi pada 2017, Indonesia juga mengimpor makadamia kupas dengan volume 6.862 kilogram senilai US$ 145.100 (sekitar Rp 1,9 miliar) atau per kilogram Rp291.405,29. Harga per kilogram makadamia impor dua kali lipat harga ekspor makadamia kita

Ekspor makadamia Indonesia berasal dari Perkebunan Kopi Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII di Pegunungan Ijen, Jawa Timur. Perkebunan kopi arabika ini menanam makadamia sebagai peneduh jalan, dan sudah memproduksi kacang makadamia sejak dekade 1980. Pohon induk makadamia di kalisat Jampit ditanam pada decade 1920 saat pembukaan kebum pada jaman Belanda. Selain di kalisat Jampit, pohon induk makadamia juga ada di Kebun Raya Cibodas, Blai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), dan Kebun Percobaan Manoko (Lembang), di Jawa Barat.

Meskipun masih sangat kecul, ekspor makadamia Indonesia itu menandakan adanya peluang membudidayakan komoditas ini.

Australia merupakan pengahasil macadamia terbesar di dunia. Maklum komoditasa ini memang asli Australia. Macadamia baru diketemukan (diketahui) dunia Barat tahun 1828. Ahli botani Inggris, Allan Cunningham, yang datang ke Australia untuk eksplorasi tumbuhan, menemukan jenis nut baru ini. Tapi Australia cuek. Yang menangkap peluang budidaya macadamia justru Hawaii dan Afrika Selatan. Baru belakangan Australia menyadari kesalahan itu, dan membudayakan secara besar – besaran.

Makadamia (genus macadamia), merupakan tumbuhan family Proteaceae, terdiri dari lima spesies: macadamia francii, macadamia integrifolia, macadamia neurophylla, macadamia ternifolia, dan Macadamia tetraphylla.  Yang dibudidayakan sebagai penghasil kacang macadamia, spesies macadamia tetraphylla.  Spesies inilah yang juga Diintroduksi Pemerinta Belanda ke Indonesia.

Sebagai tumbuhan subtropics, macadamia hanya tumbuh baik di dataran tinggi Indonesia. Dataran tinggi Ijen, Cibodas, dan Lembang merupakan kawasan dataran tinggi, dengan elevasi lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Dari hasil pengamatan di tiga lokasi penanaman, macadamia yang tumbuh di dataran tinggi Ijen paling produktif denga kualitas buah paling baik. Ini disebabkan karena makin ke timur, posisi di Pulau Jawa juga mekin ke selatan sehingga makin menjauhi katulistiwa, yang berarti akan semakin kering.

Dugaan saya, Kawasan dataran tinggi NTT paling potensial untuk mengembangkan macadamia. Sebab tingkat kekeringan kawasan NTT pasti lebih tinggi dibanding Pulau Jawa. Ruteng, Bahawa, ende, Muemere, Timor Tengah Selatan (TTS), dan pegunungan di Sumba paling berpeluang untuk membudidayakan macadamia.

Waktu Ben Boi menjadi gubernur NTT, TTS pernah mengembangkan buah – buahan subtrops, termasuk apel. Hasilnya cukup baik. Tapi waktu itu terkendala pemasaran. Macadamia pun akan berhasil cukup baik dikembangkan di TTS dan kawasan pegugnungan lain di NTT. Di kawasan kering ini, macadamia agak toleran dengan factor ketinggian, hingga cukup baik dibudidayakan pada elevasi 800 – 900 meter dpl.

Saat dibangun tahun 1992, Taman Buah Mekarsari mencoba menanam macadamia dan kesek (persimmon). Aneh juga, dua jenis tanaman pegunungan ini bisa berbuah pada elevasi 100 meter dpl. Makadamianya berukuran normal, tapi dalam satu pohon hanya terdapat kurang dari lima butir buah, persimon berbuah cukup banyak, tapi buahnya kecil. Fenomena macadamia dan persimon di Mekarsari ini, memberi inpirasi bahwa dua komoditas ini berpeluang dikembangkan di dataran menengah (400 – 800 meter dpl), dikawasan kering terutama di NTT. Jika di dataran rendah basah mau berbuah, di dataran menegah kering hasilnya pasti lebih baik.

Kesan keliru

Belakangan ini benih makadamia ditawarkan secara daring. Beberapa memberi kesan benih yang mereka jual berasal dari Australia. Mereka mengklaim, benih yang mereka pasarkan merupakan benih okulasi (sambung mata tempal), yang bisa berbuah pada umur lebih pendek. Informasi dari para penjual itu ada yang menyesatkan. Misal, disebutkan makadamia cocok dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah. Padahal, makadamia hanya bisa beroprasi baik di dataran tinggi,, elevasi di atas 1000 meter dpl, di kawasan kering. Sampai kini belum ada perkebunan makadamia skala komersial di dataran menengah, apalagi di dataran rendah. Makadamia Kalisat Jampit, juga hanya brupa tanaman peneduh di perkebunan kopi.

Dalam situs penjual benih itu juga disebutkan macadamia Bondowoso. Perkebunan kopi arabika kalisat Jampit yang membudidayakan macadamia, memang terletak di Kabupaten Bondowoso. Namun sebutan macadamia Bondowoso, mengesankan macadamia berasal dari kota Bondowoso yang elevasinya 258 metr dpl. Padahal lokasi penanaman macadamia Kalisat Jampit di Pegunagan Ijen, Berelevasi di atas 1000 metr dpl. Informasi ini akan menjebak konsumen, bahwa macadamia bisa dibudidayakan di dataran menengah – rendah.

Sumber benih makadania yang mereka tawarkan juga tak pernah disebutkan dengan jelas. Agar tak mendapat benih dan informasi keliru, calon pekebun sebaiknya menghubungi Perkebunan Kalisat Jampit, PT perkebunan Nusantar, di Kabupaten Bondowoso atau Kebun Percobaan Manoko, Lembang, Jawa Barat.

Meski baru diketemukan tahun 1828, macadamia bisa cepat merebut hati onsumen kacang – kacangan (nuts) yang sudah lebih dahulu dibudidayakan. Antara lain almond, mete, chestnut, hazelnut, pistachio, dan walnut.

Di Perkebunan Kalisat Jampit, macadamia sudah diproduksi menjadi jajanan dan dipasarkan sebagai oleh – oleh khas pegunungan Ijen dengan merek Rolas. Rolas berarti 12. Ini nomor PT Perkebunan Nusantara yang membawahi Perkebunan Kalisat Jampit. Jika Anda ingin membudidayakan macadamia, berkunjunlah ke Perkebunan Kalisat Jampit. Sekalian mencicipi kopi arabika Ijen, dan menonton api biru di Kawah Ijen.

 

Sumber: Tabloid-kontan.23-29.April.2018.hal.23

Kostum Karakter Pembawa Rezeki.Kontan.26 Maret 2018.Hal.1727042018

Kehadiran kostum superhero atau karakter lain di sebuah acara tengah menjadi tren. Kondisi ini membuat pebisnis di bidang kostum superhero bermunculan. Ada yang khusus menggarap kostum superhero, hingga animasi Jepang hingga yang lain.

Baelakangan ini mulai banyak pesta yang menggunakan kostum dengan berbagai tema. Sebut saja yang lagi tren saat ini adalah memakai karakter kartun dan superhero. Dan tak hanya pesta untuk anak-anak yang menggunakan kostum karakter tersebut. Kalangan remaja hingga orang dewasa pun, kini juga makin banyak menggunakan kostum karakter untuk pesta atau acara tertentu lainnya.

Banyaknya permintaan kostum karakter untuk pesta ini tentu membuka peluang yang lebar bagi bisnis pembuatan kostum karakter tersebut.

Phrinshella Vhyta, pendiri House of Constume (HOC) asal Jakarta menilai industri di salah bidang industri kreatif ini masih memiliki potensi yang bagus. Ini terbukti dari terus bertambahnya para pemain di bidang ini.

Kondisi ini mebuktikan bila makin banyak kebutuhan masyarakat yang membutuhkan jasa pembuat kostum untuk berbagai acara tertentu. “Karena kini semakin banyak kebutuhan akan kostum”, ungkapnya kepada KONTAN (24/3).

Tak pelak, situasi ini menimbulkan persaingan bisnis yang ketat. Namun Vhyta tidak patah arang. Untuk bisa memenangkan persaingan bisnis, tentu dibutuhkan kreativitas untuk bisa membuat kostum yang sesuai kebutuhan dengan baik.

HOC sendiri memproduksi beragam kostum. Mulai dari tokoh kartun, tokoh karakter, badut, maskot perusahaan, hingga seragam untuk event organizer (EO).

Selain membuat dengan desain sendiri dan mengikuti tren yang sedang up to date, Vhyta lebih sering membuat sesuai dengan permintaan dari para konsumen.

Untuk membuat sebuah kostum tentu harus ada keahlian khusus. Lantaran menurutnya, ilmu membuat kostus segaris lurus dengan fashion designer atau yang lebih akrab disebut costume designer.

Nah, nilai lebih dari perancang kostum adalah popularitas kostum tidak mudah pudar. Sejatinya, banyak pihak yang membutuhkan kostum seperti adanya event, wedding organizer (WO), EO, acara ulang tahun, keperluan fotografi, hingga maskot perusahaan.

Nah, kostum tersebut isa bertahan karena adanya kebutuhan. Untuk menyelesaikan satu pesanan, biasanya ada dua sampai lima orang yang mengerjakannya tergantung tingkat kesulitannya.

Adapun bisnis kostum ini adalah dari sewa kostum yang bersangkutan. HOC sendiri membanderol aneka karakter film buatannya dengan tarif mulai Rp. 150.000 per set untuk biaya sewa harian. Dalam sehari, ia menyebut setidaknya lebih dari 50 kostum bisa keluar tersewa oleh para pelanggan.

Kebanyakan para pelamggan menyewa kostum itu untuk acara kantor, gathering, ulang tahun, acara sekolah, sampai lomba kostum. Pesanan datang tak hanya dari pihak perusahaan dan sekolah, HOC juga sering mendapat pesanan dari jajaran artis tanah air. Sebut saja Nia Ramadhani, Jessica Iskandar, dan Ayu Ting Ting kerap menggunakan kostum dari House of Costume.

Lantaran sudah punya nama, Vytha mengungkapkan, dirinya tak lagi pusingmemikirkan strategi pemasaran. Kini, hasil karya HOC dapat ditemui di Grand Indonesia, Senayan City, Gandaria City, Mal Alam Sutera, dan Pakuwon Surabaya. Selain itu, dia juga sudah memiliki tiga pabrik yang ada di Jakarta Pusat, Bogor dan Bekasi. “Karena bisnis ini sudah lama, awalnya dari mulut ke mulut saat ini melalui sosial media, online, offline, dan bermitra di pusat perbelanjaan”, terang Vytha yang membesut bisnis pembuatan kostum karakter sejak 2008 lalu kepada KONTAN.

Pemain lain, Ars Ramdha Imanda Indra Yahya, produsen kostum superherodan animasi Jepang (anime) asal Malang, Jawa Timur, juga sependapat dengan Vytha. Ia menilai potensi sektor bisnis ini masih bakal menjanjikan hingga beberapa tahun kedepan.

Berbeda dengan Vytha, yang solo karier, pria yang akrab disapa Ars ini mengawali usaha pembuatan kostum karakter bersama dua rekannya dari awal sekedar hobi. Kini, sayap bisnisnya kian berkembang.

Workshop miliknya yang berada di Janti, Malang, Jawa Timur, kian dipenuhi permintaan pelanggan. Kostum yang dibuat pun beragam mulai dari tokoh pahlawan Hollywood sampai karakter gim online.

Tidak hanya melayani permintaan pelanggan dalam negeri, kostum karakter buatan Ars juga sampai merambah pasar luar negeri seperti Amerika, Eropa, Malaysia, Australia, Singapura dan negara lainnya. Pengerjaan kostum superhero dan anime yang tidak mudah dan banyak detail, membuat harga jual kostum dibanderol cukup mahal. Yakni mulai Rp. 3 juta sampai dengan Rp. 30 juta per kostum.

Ia akui kalau pembuatan kostum karakter cukup ini cukup sulit dan memakan waktu. Berbeda dengan produksi aksesoris kostum, seperti helm pada salah satu karakter “Proses pembuatannya cukup rumit, jadi sebulan hanya ada sekitar tujuh set kostum yang bisa saya buat,” katanya kepada KONTAN, Sabtu (24/3).

Meski begitu, ia mengklaim bila aneka kostum karakter superhero dan animasi Jepang tersebut dibuat secara manual. Setelah jadi, ia memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan hasil produksinya. Yakni lewat Youtube, Facebook, dan Instagram. Tujuannya agar jangkauan konsumen semakin luas.

Geliat bisnis kostum karakter yang makin menjanjikan juga diakui oleh Ranan Dwigusnanto Boer, pemilik Rafa Kostum asal Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Berawal dari hobi membuat sendiri kostum cosplay. Ia mendirikan Rafa Kostum sejak tahun lalu.

Awal usaha, ia menjahit sendiri kostum cosplay tersebut. Namun setelah melihat ada peluang bisnis, tercetus ide mebuat kostum itu. “Akhirnya saya kepikiran, kenapa tidak membuka sewa kostum sekalian,” tandasnya.

Setelah jadi membuat sejumlah kostum cosplay, ia mulai berbisnis kostum. Ia membanderol tarif sewa kostum besutannya antara Rp. 200.00 sampai Rp. 500.000 per set.

Meski baru setahun menggeluti bisnis persewaan kostum karakter, Ranan mengatakan jika pelanggannya tak hanya datang dari Tangerang, Jakarta, dan sekitarnya. Tapi juga sudah merambah hingga Banjarmasin, Lampung, Surabaya dan Medan. Kebanyakan pelanggannya berasal dari perusahaan. Dan biasanya digunakan untuk acara kantor.

Ranan kebetulan spesialis memproduksi kostum karakter superhero. Khususnya memproduksi kostum tersebut untuk orang dewasa. Maklum, target pasar yang ia bidik memang untuk kalangan perusahaan. Meski begitu, ia juga kerap membuat kostum anak-anak dengan desain yang lebih sederhana.

Nah, ia menyebut dua karakter superhero, yakni Iron man dan Wonder Woman menjadi karakter favorit para pelanggan. Kedua kostum tersebut paling sering disewa sampai Ranan harus menambah stok agar tidak ada pelanggan yang kehabisan. Dalam sebulan ada puluhan kostum dari Rafa Kostum bisa keluar untuk disewakan.

Sebagai langkah ekspansi, pada tahun ini juga, Ranan berencana untuk memproduksi kostum dan menjualnya. Ia ingin bekerjasama dengan EO untuk pengadaan kostum karakter ini. “Saya mencoba untuk beberapa tokoh superhero terlebih dahulu,” katanya.

Bila terealisasi, ia akan membanderol kostum pahlawan tersebut di kisaran Rp. 4 juta Rp 6 juta untuk ukuran dewasa. Sedangkan bagi ukuran anak-anak ia banderol sekitar Rp. 1.5 juta per satu set. Siap-siap menjadi superhero.

 

Harus Telaten dan Sabar Membuat Kostum

Membuat kostum dengan berbagai karakter kartun maupun superhero memang tidak mudah. Butuh Ketelatenan serta kesabaran setiap kalimembuat kostum tersebut.

Ars Ramdha Imanda Indra Yahya, produsen kostum superhero dan anime asal Malang, Jawa Timur bilang nilai lebih dari kostum karakter terletak pada detail jahitan yang menjadi kesempurnaan produk tersebut. Tak heran jika harga sewa maupun harga jual di banderol cukup tinggi.

Untuk mencapai kesempurnaan dalam detail kostum, Ars harus benar-benar selektif dalam memilih bahan dasar pembuatan kostum. Bahkan ada beberapa bahan yang harus ia dapatkan dari luar negeri. “Masalahnya tidak semua bahan lokal memiliki kualitas yang bagus. Untuk pemilihan bahan dan pasokannya, saya dibantu oleh tiga orang karyawan,” katanya ke KONTAN.

Meski sudah hampir 10 tahunmenggeluti bisnis tersebut, kendala yang kerap ia temui dalam bisnis ini tak lain dari kerumitan pola kostum tersebut. Lantaran ada beberapa karakter kartun maupun superhero yang polanya sangat rumit,  sehingga ia dituntut untuk menggunakan daya imajinasi.

Terutama untuk kostum karakter yang baru muncul dan langsung tren. “Saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya utnuk mengamati detail kostum yang diminta,” tambahnya.

Selain itu, bapak satu anak ini selalu memberikan info perkembangan produksi kostum secara berkala kepada pelanggannya. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi revisi atau perombakan desain saat kostum sudah selesai 100%. Karena, jika ada kesalahan saat kostum sudah jadi sepenuhnya tidak mungkin hanya merombak bagian tertentu, tapi harus membuatnya dari awal lagi. “Fasilitas ini yang menjadi keunggulan untuk menghadapi persaingan,” tandasnya.

Jika Ars menjaga kualitas dan komunikasi dengan pelanggan, Prinshella Vytha, Founder House of Costume (HOC) asal Jakarta rela memberi fasilitas lain, yakni menerima pesanan dadakan. Pesana dadakan tersebut bisa diselesaikan dalam satu hari pengerjaan. Tentu akan ada harga yang berbeda untuk fasilitas satu ini.

Tak hanya bisa menerima pesanan dadakan, Vytha juga terus berkreasi dalam meningkatkan kualitas dari pembuatan kostum tersebut. Sebab ia akui bila semakin kesini, desain dan tampilan kostum yang diminta para pelanggan semakin rumit. “Maka kreativitas dan imajinasi terus kami tingkatkan,” tukasnya.

Ia memandang penting persoalan kreativitas dan imajinasi tersebut. Sebab, hambatan terbesar menggeluti bisnis ini adalah dari sisi sumber daya manusia. Terutama saat Lebaran yang minim sumber daya manusia. Maka, ia terus melatih para pekerja menjadi ahli pembuat kostum karakter.

 

 

Sumber: Kontan.26 Maret 2018.Hal.17

Inovasi, Kunci Kemitraan Es Krim.Kontan.24 Maret 2018.Hal.1727042018

Meski ada yang usahanya tutup karena bahan baku, bisnis es potong ala singapur masih punya potensi.

                JAKARTA. Cuaca panas yang sering mendera, membuat camilan manis dan dingin seperti es krim selalu diminati. Apalagi, hampir semua kalangan menyukai es krim.

Tak heran, bisnis es krim terus berkembang. Salah satunya, bisinis jenis es krim potong berbalut roti atau yang sering disebut es krim singapur. Rasa es krim ini pun kian beragam. Ramainya penjualan juga membuat pelaku usaha baru terus bermunculan.

Kali ini KONTAN akan mengulas perkembangan bisnis es krim potong ini dari ketiga pemainnya, yakni Bay Sands Ice Cream, Manda Ice Cream, dan Es Potong Sandwich Raymond Lim. Umumnya, jumlah gerai pemain ini bertambah. Berikut ulasan lengkapnya:

Bay Sands Ice Cream

Usaha es krim potong besutan Joana Indah asal Tangerang, Banten ini berdiri sejak November 2013 lalu. Selang dua tahun, dia mulai menawarkan kerjasama melalui sistem kemitraan.

KONTAN, sempat mengulasnya pada 2015 lalu. Saat itu, belum ada mitra yang bergbung. Hampir tiga tahun berlalu, kini sudah ada 20 reseller yang bekerjasama.

Joana bilang, para reseller itu mulai bergabung sejak 2016, seiring dengan berubahnya nilai investasi kerjasama. “Dulu ada yang kerjasama tidak menggunakan booth sehingga nilainya berbeda,” katanya.

Per 2017, Joana kembali membuat tawaran kemitraan baru dengan modal kerjasama Rp. 8 juta. Fasilitas yang didapatkan mitra adalah booth, perlengkapan masak, freezer, branding, dan pelatihan.

Sebelumnya, calon mitra harus menyiapkan modal Rp. 50 juta bila ingin menjalin kerjasama. Dalam waktu tiga bulan, mitra sudah bisa balik modal asalkan, bisa mencapai target penjualan senilai Rp. 75 juta dalam sebulan.

Dia optimis dapat mencapai target memiliki 50 mitra karena menu es potong masih mempunyai potensi bagus. Buktinya, setiap minggu dia bisa mengikuti lima sampai enam event bazar. Hampir lima tahun menjalankan roda usahanya, Joana tak pernah mengalami kendala yang berarti.

Manda Ice cream

Pelaku usaha es potong lainnya adalah Mariono asla Tangerang Selatan, banten. Ia membesut Manda Ice Cream dan menawarkan kemitraannya sejak 2013.

KONTAN pernah mengulas pada Januari 2017, saat itu ada 15 gerai Manda Ice Cream yang tersebar di Jabodetabek. Kini, Mariono mengatakan jika seluruh gerai Manda Ice Cream tutup akibat kesulitan mendapatkan bahan baku. “Bahan baku yang kami gunakan banyak yang impor. Sedangkan sejak awal tahun bahan impor susah masuk ke Indonesia. Kalaupun ada harganya mahal,” ungkapnya.

Penutupan gerai ini sudah dimulai sejak akhir 2017. Mariono mengaku bakal kembali membuka usahanya bila kondisi bahan baku impor mulai stabil. Ia bilang sebagian besar bahan baku, terutama flavour dan gelatin didapatkannya dari Australia dan Eropa.

Sejatinya, dia sudah mencoba utnuk mencari bahan subtitusi bahan lokal. Namun, rasanya tidak bisa sama. “Saya nggak mau ambil resiko ganti bahan baku, nanti malah menurunkan kualitas,” kata Mariono.

Sebelumnya, Manda Ice Cream menawarkan dua paket kemitraan, yaitu paket Rp. 15.5 juta dan Rp. 26.5 juta. Sedangkan, untuk harga produknya dibanderol mulai dari Rp. 8000 sampai Rp. 16.000 per buah.

Selai itu, Mariono juga menual bubuk es krim. Dengan membayar Rp. 1 juta, sudah dapat bergabung menjadi mitra dan masuk dalam grup pendamping. Lainnya, mitra pun dibekali bahan baku es krim sebanyak 14 kilogram (kg). Untuk pembelian selanjutnya, mitra dikenakan biaya Rp. 70 ribu per kg.

Padahal bisnis Manda Ice Cream sempat mengalami masa kejayaan pada awal buka hingga tahun 2016. Saat itu, Mariono sempat berhasil menggandeng lebih dari 1.000 mitra dari Aceh hingga Papua. Penjualan tertinggi bubuk ice cream ada di Papua. Bahakan beberapa mitra disana, dalam sebulan bisa memesan lebih dari 100 kg per bulan.

Sandwich Raymond Lim

Pemilik gerai Es Potong Singapur Sandwich Raymond Lim makin gencar melakukan inovasi seiring kian ramainya kompetitor. Meski begitu, jumlah mitra justru menyusut.

Es Sandwich Raymond Lim ini mulai menjual kemitraan pada 2014. Setahun kemudian, mereka berhasil menggandeng 14 mitra. Namun, saat ini hanya tersisa 4 mitra aktif dengan gerai di Bekasi, Radio Dalam dan Palembang. Banyak mitra yang menutup gerainya lantaran bermasalah dengan sewa tempat yang kian mahal.

Namun tahun ini, ia menargetkan 20 mitra baru. Raymond Lim, pemilik kemitraan es potong ini, mengemas sistem penjualan baru, yakni menggunakan sepeda juga door to door untuk menghindari sewa tempat yang kerap menjadi masalah para mitra.

Sebelumnya Raymond, menawarkan paket investasi senilai Rp. 20 juta untuk join fee. Nilai ini untuk membayar lesensi kerjasama selama 3 tahun, peralatan, seragam karyawan, dan peralatan serta perlengkapan berjualan.

Kini nilai investasi untuk kemitraan, yaitu Rp. 10 juta dengan fasilitas freezer, 100 slice roti dan es krim, brosur dan kartu nama.

Disamping melakukan perubahan nilai paket kemitraan agar bisnis kian moncer, inovasi yang kini dilakukan adalah mempersingkat waktu agar lebih efektif dan efisien. Kini, es krim yang dijual oleh mitra sudah dipotong langsung dari pusat dan sudah dalam kemasan berikut dengan rotinya, jadi mitra tidak perlu lagi memotong es krim sendiri saat berjualan. Hal ini tentu untuk mempercepat proses penjualan.

Es Potong Sandwich Raymond Lim memiliki sejumlah varian rasa, diantaranya coklat, durian, stroberi, alpukat, kopi, vanila, kurma, green tea, mangga, jeruk, melon, kacang hijau, kacang merah, jagung manis, kelapa, kismis, rambutan, ubi ungu, ketan hitam, dan terong belanda. Satu porsi atau satu slice es krim berbungkus roti ini dibandrol Rp. 15.000. Estimasi balik modal sekitar 3 bulan dengan omzet Rp. 3 juta-Rp. 5 juta per bulan.

Tahun ini, Raymond juga membuat sistem pabrik home industry. Bagi mitra yang ingin kerjasama dalam bentuk ini, modalnya Rp. 700 juta dan memperoleh fasilitas yang lengkap. Mitra hanya perlu menyiapkan ruangan seluas 5x6m2 untuk memproduksi es krim. Ada empat mesin pembuat es krim dalam satu pabrik. Paket itu sudah termasuk biaya pesawat, tukang bangunan, pelatih khusus, dan semua instalasi. “Saat ini yang sudah ada di Palembang yang niat menjalankan kerjasama tersebut,” ujarnya.

Kendala yang kerap ditemui adalah seputar penggunaan buah segar. Ia harus teliti melihat kualitas buah agar bisa diolah menjadi es krim. Raymond pun tidak takut bersaing dengan kompetitor, karena es krim buatannya terbuat memakai buah asli. “Selama kita menjaga kualitas dan menggunakan buah asli, Es Potong Sandwich Raymond Lim tidak akan hilang dari peredaran”, tegas Raymond kepada KONTAN.

Semenjak bermitra dengan ojek online, Raymond sangat terbantu dan pengaruhnya terhadap bisnis sangat baik. Sebab, es krimnya bisa menjangkau lokasi pelanggan yang lumayan jauh, seperti Jakarta Barat, Kelapa Gading, Pondok Indah sampai Bogor.

 

Pusat dan Mitra Harus Pintar Cari Celah Pasar

SELAIN persoalan bahan baku impor yang mebuat salah satu pemain es krim potong, yakni Mandala Ice Cream menutup usahanya, para pemain lainnya hampir tak mendalami kendala dalam bisnis ini. Boleh dibilang, mereka tetap optimistis bisnisnya bakal lebih ramai, dengan kemasan-kemasan baru.

Menurut Erwin Halim, Konsultan Warlaba dari Proverb Consulting Ya bisnis es potong dengan roti yang dahulu terkenal di Singapura cukup bagus dijalankan di Indonesia. Namun umumnya para mitra perlu dukungan dari pusat untuk memilih lokasi dan karyawan dalam menjalankan usaha.

“Kalau ada yang tutup, karena teknis sewa menyewa dan harga itu diluar kemampuan pusat dan mitra. Oleh karena itu, mitra harus punya punya banyak pilihan lokasi saat menjalankan usaha. Seperti bisa memilih lokasi rumah sakit dan kampus sebagai alternatif lokasi,” ujar Erwin Halim.

Erwin berpendapat usaha es potong bersifat niche marketi dan mitra tidak bisa besar-besaran dalam melakukan penjualan. Kecuali, mitra bergabung dalam sebuah restoran atau coffee shop sehingga menjangkau banyak pembeli juga dan mendulang keuntungan lebih. “Intinya bisnis ini relatif mudah dijalankan dan memiliki penggemar tersendiri,” pungkasnya.

Yang jelas Erwin juga menegaskan bahwa pasar es potong berbalut roti ini masih cukup luas dan bagus, selama mitra dan pusat pintar mencari celah. Apalagi jika menawarkan keagenan di restoran atau coffee shop.

 

 

Sumber: Kontan.24 Maret 2018.Hal 1727042018

Belajar dari Perjalanan Yahoo.Kontan.16 Maret 2018.Hal.15

Jauh sebelum Google menjadi raksasa yang menggurita dunia maya, Yahoo! Pernah merajai dunia internet. Bagaimana kabar Yahoo! sekarang? Masih adakah harapan baginya untuk kembali merajai internet?

Terhitung 16 Juni 2017, Altaba Inc, yang berbasis di New York City, telah mengakuisisi Yahoo!. Ticker YHOO di bursa saham kini tidak ada lagi dan telah tergantikan oleh ticker Altaba yaitu AABA.

Bagaimana metamorfosis Yahoo! dari awal pendirian hingga hari ini? Pendiri Yahoo! adalah dua pmuda bernama David Filo dan Jerry Yang. Awalnya, mereka hanya membangun situs sederhana berisi link situs-situs pada masa itu yang masih belum terorganisasi dengan baik. Nama situs mereka cukup unik dan lugu, yakni David and Jerry’s Guide to the Internet.

Ternyata situs sederhana tersebut meledak dengan 50.000 pengunjung per hari. Jadilah situs tersebut berganti dengan domain yang mudah diingat. Yahoo adalah singkatan dari “Yet Another Hierarchical Officious Oracle.”

Pada tahun 1995, pengunjung Yahoo mencapai satu juta klik per hari. Alhasil infrastruktur hosting Stanford University tidak lagi memadai. Dengan suntikan dana dari Sequoia Capital, Mike Moritz dan Tim Koogle bergabung sebagai CEO dan chairman.

Yahoo! 2.0 yang dikelola secara profesional itu menjadi “tempat pemasangan iklan” karena tingginya pengunjung per hari. Reuters mulai menerbitkan artikel disana dengan biaya US$ 20.000 per bulan.

Pada tahun 1998, revenue melampaui US$ 200 juta dan jumlah klik mencapai 6 juta per hari. IPO pun digelar pada tahun 1996 dengan nilai kapitalisasi US$ 848 juta. Lalu pada tahun 1999, market value Yahoo! mencapai US$ 23 miliar.

Sayangnya, revenue model Yahoo! itu-itu saja, alias menjadi tempat pemasangan iklan. Tanpa inovasi berarti, tujuan Yahoo! semata-mata hanya demi mengejar revenue dari iklan.

Pada tahun 1999, startup Drugstore.com mengucurkan dana US$ 25 juta per tahun untuk beriklan di Yahoo!. Hal itu lantas meningkatkan nilai IPO mereka.

Yahoo! sebagai tempat pemasangan iklan startup, kemudian “kena batunya” karena tidak semua startup punya reputasi bagus. Akibatnya, pengguna pun berangsur-angsur meninggalkan Yahoo!.

Selain itu, ada kesalahan-kesalahan Yahoo! lain yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Satu, kesalahan terbesar Yahoo! adalah tidak menerima tawaran Larry Page yang menyodorkan Google hanya seharga US$ 1 juta. Beberapa tahun kemudian, Yahoo! menyesal dan melamar Google dengan tawaran US$ 60 miliar di 2002. Namun, Google menolak.

                Dua, 400 jenis produk yang ditawarkan Yahoo! terlalu membingunkan konsumen. Tidak ada satu unique value proporsition (UVP) Yahoo! yang jelas. Ada Yahoo! Finance, Media, listing iklan, dan 397 jenis produk lain yang kurang popular.

Kalau Google dikenal sebagi search engine dan eBay adalah tempat pelanggan, Yahoo! apa ya? Tempat listing iklan? Tempat membaca berita? Atau apa?

                Tiga, terlalu banyak eksekutif yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Alhasil tidak ada satu individu yang bertanggung jawab. Beberapa kali manajemen berganti, tanpa hasil nyata kontribusi mereka.

                Empat, fokus baru ke mobile internet atas saran CEO terbaru Marrisa Mayer. Dengan pengalaman user experiences interface design (UI) di Google, ia mengutamakan bagaimana Yahoo! dapat menjadi the best app for mobile. Sayangnya, Yahoo! terlambat masuk.

                Lima, Yahoo! Media sebenarnya cukup berhasil dengan revenue US$ 5 miliar per tahun. Namun, di bawah kepemimpinan Mayer, divisi media tidak berkembang karena pengalaman Mayer yang minim.

Misalnya, Gwyneth Paltrow yang sangat berhasil dengan buku masakan best-selling­­-nya pernah ditolak Mayer sebagai editor, dengan alasan Paltrow tidak pernah duduk di bangku perguruan tinggi. Dalam konteks bisnis media, Mayer termasuk buruk track record-nya.

                Enam, Yahoo! Mail versi baru telah dirilis meskipun belum siap. Akibatnya banyak masalah saat penggunaannya. Para pengguna email Yahoo! banyak yang meninggalkan emailnya.

                Tujuh, aplikasi Yahoo! tidak menarik cukup trafik. Yahoo! gagal masuk ke pasar mobile internet yang telah lama dikuasai oleh Apple iOS dan Android. Kedua platform itu sudah punya pengguna evangelis yang fanatik.

Perjalanan bisnis Yahoo! yang fantastis di era Web 1.0 kini tela bermetamorfosis menjadi situs tua yang masih eksis tapi kurang greget. Berbagai masalah manajemen, product development, dan revenue model menjadi pengahambat perkembangan di era Web 2.0 dan Web 3.0. Sungguh, ini menjadi pelajaran yang berharga.

 

 

Sumber: Kontan.16 Maret 2018.Hal 15