Pengembangan Berbasis Adaptasi Digital

JAKARTA, KOMPAS – Kewirausahaan prelu dikembangkan dngan berbasis digital. Teknologi informasi yang terus berkembang menjadi saran efektif untuk itu. Penerapan TI dalam kewirausahaan kini mengarah pada perpaduan sistem dalam jaringan dan luar jaringan.

Pendiri Ciputra Group, Ciputra, mengemukakan, Indonesia kini tengah berada pada era transisi dari bisnis berbasis konvensional atau tradisional menuju ke era digital. Transisi ini membutuhkan kiat khusus agar pelaku bisnis bisa tetap bersaing.

“Kita memang harus memasuki bidang IT. Kita butuh wirausaha yang menerapkan teknologi tinggi” ujar Ciputra dalam konferensi pers bertajuk Outlook Ekonomi 2018 dan peluncuran Artpreneur Talk di Jakarta, Selasa (30/1).

Tren digital tumbuh luar biasa termsuk di Indonesia. Saat ini, empat perusahaan rintisan Indonesia masuk dalam kategori kakap atau unicorn dengan valuasi bisnis lebih dari 1 miliar dollar AS, yakni Traveloka, Tokopedia, Go-Jek, dan Bukalapak.

Kewirausahaan menjadi salah satu solusi untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. Teknologi Informasi (TI) mendukung hal itu. “Sekarang waktunya kewirausahaan tumbuh, termsauk dalam teknologi informasi. Perusahaan yang tidak masuk ke TI akan ketinggalan zaman,” kata Ciputra.

Yoris Sebastian, pendiri OMG Consulting, mengatakan, jumlah wirausaha milenial di era digital masih sangat rendah. Padahal, menurut Yoris, potensinya cukup besar untuk generasi ysng berkarakter suka kebebasan ini. “Mereka seharusnya menjadi entrepreneur, bukan menjadi karyawan,’ kata Yoris.

Menurut Ciputra, tahun ini pihaknya akan mendirikan pusat wirausaha di Tokopedia Tower, Jakarta. Pihaknya akan memberikan kursus digital kepada usaha rintisan ataupun mereka yang ingin memulai bisnis setelah pensiun. Usaha rintisan juga mendapat kesempatan untuk menyewa ruang kantor dengan tarif sewa ringan. “sekarang menjai saat yang tepat untuk bangkit dalam bisnis dan pengembangan TI,” ujarnya.

Chief Marketing Officer Go-Jek Piotr Jakubowski mengemukakan, Indonesia memiliki dua potensi utama yang bisa menjadi kekuatan, yaitu generasi milenial dan pemanfatan teknologi digital sebagai model bisnis masa depan. Penerapan TI bukan lagi sebatas digital, melainkan kombinasi dengan luring atau bentuk fisik. (LKT)

 

Sumber: Kompas.31-Januari-2018.Hal_.20

Menyadap Nira Kelapa

Dikawasan penghasil gula kelapa, tiap tahun selalu ada korban penyadap nira jatuh dari pohon. Sebagian dari mereka meninggak dunia. Sampai sekarang belum ada solusi memadai dari pemerintah setempat, untuk menanggulangi permasalahan ini.

Solusi yang dilakukan pemerintah, antara lain memberikan benih kelapa genjah kepada petani. Kelapa genjah pohonnya pendek, akan berbuah umur tiga sampai lima tahun.

Petani merespon negatif pemberian benih kelapa genjah ini, sebab hasil niranya akan sebanyak dan sebaik varietas kelapa dalam. Pemerintah kabupaten memberikan solusi dengan membagikan alat pengamanan berupa hardness, kern mantle dan carabiner.

Solusi ini juga direspon negatif oleh penyadap. Sebab mereka bukan pemanjat tebing sehingga peralatan justru memperlambat kerja merreka. Itulah sebabnya korban penyadap nira kelapa terus berjatuhan.

Sentra gula kelpa di Jawa ada di Ciamis, Pangandaran, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Purworejo, Kulon Progo, Jember dan Banyuwangi. Jumlah penyadap kemungkinan sampai ratusan ribu.

Sebagian besar gula kelapa ini diserap Indofood dan Unilever untuk bahan baku kecap. Sebagian lagi diolah menajdi gula semut (gula merah serbuk), untuk diekspor. Hanya sebagian kecil yang masuk ke pasar.

Sebagian besar gula merah yang ada di pasar, berasal dari tebu. Agroindustri gula tebu rakyat, sejak zaman Sriwijaya dan Mataram Hindu tak berubah. Digiling pakai tenaga kerbau atau sapi, airnya direbus, dicetak jadi gula merah.

Gula merah berwarna sangat cerah dan beredar selama bulan puasa, sebagian besar merupakan gula tebu rafinasi, yang dicairkan, dicampur gula merah tebu, diberi potongan kelapa, lalu direbus ulang dan dicetak. Hanya sebagian kecil gula kelapa yang masuk kepasar umum, itupun sebatas pasar tradisional sekitar sentra gula. Selain dari kelapa dan tebu , gula merah juga diproduksi dari nira aren, lontar, dan nipah.

Mencontoh Srilanka

Di Bangladesh dan India, gula merah diproduksi dari pohon kurma Phoenix sylvestris.

Kelapa merupakan komoditas penting di Sri Lanka. Mereka benar-benar memanfaatkan komoditas kelapa secar optimum, mulai dari daging buahnya,tempurung, sabut, kayu sampai air niranya. Sri Lanka adalah penghasil kelapa nomor lima dunia dengan produksi 2,5(juta ton). Di atasnya Brasil 2,9 juta ton; India 11,9 juta ton;Fillipina 15,3 juta ton dan Indonesia 18,3 juta ton.

Sri Lanka benar-benar cerdas memanen kelapa, baikmbuah maupun air niranya. Mengambil air nira si penyadap harus naik dan turun pohon kelapa sehari dua kali. Kalau pohonnya 100, maka tiap hari si penyadap harus naik dan turun 200 kali. Penyadap nira di Sri Lanka berupaya mencari cara, agar hanya naik pohon sekali , turun hanya sekali. Itu pun pas naik dan pas turun harus nyaman.

Pemanjat Sri Lanka mengikatkan belahan sabut pada batang kelapa, dengan tali sabut. Jumlah ikatan sabut sekitar15 sampai dengan 20, bergantung jangkauan kaki pemanjat serta krtinggian pohon kelapa. Sabut-sabut itu diikat permanen pada dua batang kelapa, untuk naik dan untuk turun. Dengan peralatan sangat sederhana ini, pohon kelapa tidak rusak, dan pemanjat tidak bisa naik dan turun dengan mudah. Tajuk pohon kelapa tempat memanjat itu, selanjutnya dihubungkan dnegan tajuk pohon kelapa berikutnya menggunakan dua atau tiga utas tali, yang dipasang atas dan bawah. Demikian semua tajuk pohon kelapa yang akan disadap air niranya itu terhubung dengan tali.

Dengan cara ini, pemanjat bisa menghemat energi sehingga, kecelakaan jatuh dari pohon kelapa bisa diminimalkan. Sesuai pengalaman penyadap nira kelapa di Sri Lanka, dalam jangka waktu tiga bulan mereka akan terbiasa meniti tali yang menghubungkan pohon kelapa. Sri Lanka pernah mencoba beberapa cara. Misalnya memasang galah-galah bambu yang diberi tiang penyangga juga dari bambu. Ternyata biasyanya lebih mahal ketimbang pakai tali.

Pertama harga bambu lebih mahal dari tali, Kedua bambu cepat rusak, karena tiang-tiang penyangganya dimakan rayap. Mereka juga pernah mencoba aneka alat pemanjat. Dalam praktik, memanjat biasa dengan pijakan dan pegangan sabut yang diikatkan ke batang, lebih cepat dibanding alat lain. Selain faktor kecapaian, kecelakaan biasanya juga terjadi pada saat penyadap naik atau turun tajuk. Dalam kosa kata Bahasa Jawa, naik ke tajuk pohon kelapa disebut mapah (naik ke pelapah). Inilah saat paling kritis bagi si penyadap, hingga harus ekstat hati-hati.

Gambaran visual tentang penggunaan perangkat penyadapan kelapa ini, cukup banyak tersebar di dunia maya. Diantaranya bisa dilihat di https://i.ytimg.com/vi/DLH7wkh40-c/maxresdefault.jpg;https://www.youtube.com/watch?v=DLH7wkh40-c;https://www.youtube.com/watch?v=uWIMc-gmuwE.

Petani Indonesia perlu contoh cara penyadapan nira kelapa yang lebih ramah ini. Perusahaan pengguna gula kelapa seperti indofood dan Unilever perlu menggunakan dana tanggung jawab sosial (coryparate Social Responbility/CSR); untuk membangun petak demonstrasi (demonstrasi plot demplot). Petani cukup responsif, untuk meningkatkan produktivitas, mereka akan mengadopsinya.

 

Sumber: Kontan-8-14-Januari-2018.Hal_.21

Nasib Tanah Abang

Bagus Marsudi

 

Penataan Kawasan Pasar Tanah Abang masih menjadi polemik. Konsep penataan yang disodorkan dan dimulai oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendapat tanggapan beragam dari banyak pihak. Bukan cuma pengamat dan institusi, bahkan sebagian pedagang dan pengusaha transportasi dikawasan itu juga tidak sedikit yang kontra. Keberpihakan pada pedagang dengan memberi ruang jualan di jalan belum dianggap sebagai solusi terhadap masalah di kawasan tersebut.

Justru kini yang terlihat malah kesemrawutan. Tingkat kemacetan di kawasan itu kembali meningkat drastis. Menurut pengamatan dan survei dari Dirlantas Polda Metro Jaya, dalam beberapa minggu terakhir, tingkat kemacetan di Tanah Abang meningkat sampai 60%. Padahal, beberapa tahun lalu, banyak yang menganggap kawasan itu menjadi lebih nyaman setelah ada pengaturan dan penertiban kendaraan dan angkutan umum secara teratur.

Yang lebih ironis, para pedagang yang selama ini menyewa dan menempati kios-kios di beberapa blok pusat perbelanjaan itu juga merasakan imbasnya. Penjualan sepi karena pembeli berpikir ulang untuk belanja ke Tanah Abang. Ini belum termasuk faktor belanja daring yang bebas kemacetan. Bahkan, Pasar Tanah Abang Blok G yang sempat menjadi salah satu ikon kini sudah tinggal pedagang.

Jika tidak ada solusi yang nyata untuk pembenahan kawasan itu, cepat atau lambat, pijar Kawasan Perbelanjaan Pasar Tanah Abang kian meredup. Soalnya, kini pembe sudah memiliki banyak alternatif untuk mendapatkan barang dengan harga kompetitif. Banyak market place yang diisi oleh pedagang, bukan cuma dari Tanah Abang, membuat konsumen punya banyak pilihan pemsaok, hanya dengan membandingkan harga dan kualitas. Bahkan bnayak pemasok daring tak perlu lagi bikim toko luring lantaran sudah punya langganan tetap.

Yang dibutuhkan oleh ribuan pedagang dan mereka yang selama ini hidup dari ekonomi di Kawasan Tanah Abang adalah kebijakan yang konsisten. Problem beda pemerintahan beda kebijakan  justru akan menjadikan kawasan itu hanya sebagai objek persaingan, bukan aset berharga yang perlu dikembangkan. Apalagi jika kebijakan itu hanya melihat dari sisi jangka pendek, tidak mempertimbangkan keberlangsungan roda ekonomi dikawasan itu. Seharusnya komunitas pedagang di Kawasan Tanah Abang berteriak keras untuk mempertahankan masa depan mereka.

 

Sumber: Kontan.-Sabtu-27-Februari-2018.-Hal.-18

Menjaga Hasil Karya Berbahan Baku Barang Bekas

Beberapa orang mengerjakan pohon buatan. Bahan yang digunakan antara lain kertas koran, botol air mineral, kantong plastik, kelobot atau kulit jagung, daun, ranting, hingga aneka biji-bijian. Pohon setinggi 1 meter itu dikerjakan selama tiga jam.

Membuat pohon natal atau artifisial menggunakan bahan sampah yang sudah di daur ulang adalah salah satu kegiatan rutin yang digelar Asosiasi Pengusaha Bunga Kering dan Bunga Buatan Indonesia (Aspringta) Jawa Timur. Beranggotakan 60 pelaku usaha, organisasi ini ingin terlibat dan mewarnai kegiatan perekonomian di Tanah Air.

Karya perajin untuk hiasan dirumah, gedung, atau hotel itu umumnya berupa bunga kering,hiasan.pernak-pernik, hingga lukisan. Semuanya menggunakan bahan baku barang beksa atau sampah kering. Kerajinan yang dibuat perajin-yang rata-rata sudah berumur-itu bahklan merambah pasar luar negri.

Ketua Aspringta Kota Surabaya (Jawa Timur) Safni Yeti, yang ditemui di sela-sela pameran bunga kering dan buatan, beberapa waktu lalu, menyebutkan kendati dibuat dari barang bekas, psar daun kering, biji-bijian, dan ranting pohon itu justru keluar negri. Semua bahan bakunya menggunakan bahan lokal dan alami.

“kami, perajinyang rata-rata sudah berumur diatas 50 tahun konsisten pada jalur memuliakan barang-barang yang tak berguna” katanya

Perajin sekaligus pemilik usaha bunga kering dan buatan di Surabaya ada yang sudah 80 tahun, tetapi masih kreatif dan tak henti membuat pernak-pernik berbahan baku alami. Tentu saja, hiasan yang dibuat itu disesuaikan dengan tren yang berlaku di msyarakat.

Dahulu bunga kering, pernak-pernik, dan lukisan itu untuk mempercantik ruangan berukuran besar. Maka, hisaan pun dibuat dengan ukuran yang bisa setinggi 3 meter. Namun, kini ukuran hiasan disesuaikan dengan ruangan yang trennya kearah minimalis dan kecil.

“Produk kami kini digandrungi keluarga muda yang tinggal di apartemen sehingga ukuran berbagai hiasan itu tidak lebih dari 50 sentimeter, “kata Supardi,perajin asal Surabaya yang menggunakan bahan baku utama eceng gondok.

Pasar Ekspor

Pada umumnya, perajin hiasasn dan pernak-pernik ini menekuni usaha mereka karena panggilan jiwa. Meskipun, ada juga perajin yang pada awalnya hanya coba-coba dan mengisi waktu luang yang lantas berlanjut.

“Jadi meskipun sudah berusia lanjut, mereka masih bisa membuat karya sesuai zaman,” kata Nanik Heri, pemilik kerajinan daun kering.

Nanik, ibu dari tiga anak ysng meniti usaha bersama almarhum suaminya Heri, setiap tahun memngekspor kotak tempat abu jenazah. Setidaknya, 30.000 kotak terbang ke iNggris, Belanda, dan Spanyol per tahun.

Ditengah kesibukannya mengerjakan pesanan yang membanjir dari luar negri, Nanik tetap berupaya membagikan ilmu kepada perajin lain atau orang-orang yang ingin mempelajari cara mengolah dan berkreasi debgan daun kerig. Ilmu yang dibaginya itu terkait cara mengolah daun kering agar bernilai tinggi.

Bagi anggota Aspringta Surabaya, tak ada barang bekas yang tak berguna. Produk mereka, meski dari limbah, tetap digemari konsumen domestik dan asing.

Untuk itu, Aspringta berusaha mencari orang-orang berbakat dan mencintai kerajinan berbahan baku alami. Salah satu caranya, anggota aspringta secara bergiliran berbagi ilmu mengolah limbah kering menjadi barang bernilai ekonomi.

“Anggota kami rutin diundang pemerintah daerah dari Sabang hingga Papua untuk berbagi ilmu. Syarat pelatihan  di setiap daerah tetap sama, yakni bahan bkau disesuaikan dengan yang tersedia di daerah it. Misalnya, di Nusa Tenggara Timur mudah menenmukan kelobot jagung, di Sulawesi gampang menenmukan daun kering dan biji-bijian, begitu juga di Kalimantan,” kata Safni.

Dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di daerah masing-masing, hambatan untuk berkarya bisa dikurangi.

Hal serupa juga dilakukan Wiwit Manfaati, perajin yang menggunakan bahan baku eceng gondok. Wiwit juga kerap berbagi ilmu hinga ke Papua dan Papua barat. Sambil berbagi ilmu, Wiwit mencari pengusaha baru yang bisa bergerak dikerajinan bunga kering dan buatan.

Upaya mencari pelaku usha yang bersedia menekuni kerajinan berbahan baku limbah kering juga dilakukan Ani Susilowati. Selama ini, Ani sukses mengembangkan kerajinann dari karung goni bekas yang diperoleh dari psar loak di Surabaya itu dikreasikan menjadi bunga.bros, dan tempat tisu.

Sama seperti perajin lain yang bergabung di Aspringta, Ani tidak ingin kerajinan berbahan baku barang bekas itu tersisih karena kekurangan pengrajin. Sambil berkreasi, para pelaku usaha tersebut berbagi ilmu dan menjaga napas kerajinan berbahan baku barang bekas.

 

Sumber: Kompas-Minggu-28-Januari-2018.hal_.-12

Transformasi Manusia di Era Digital

Oleh Ellen Rachman & Emilia Jakob (Experd Character Building Assesment & Training)

 

ARTIFICIAL Intellegence , superkonektivitas, alat-alat digital yang canggih, informasi ‘realtime’, lingkungan virtual, dan beragam inovasi yang merupakan terobosan teknologi yang selama ini kita sangka hanya dalam film-film science fiction ternyata sekarang sudah menjadni bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Selamat datang di era digital!

Kita menyaksikan mayoritas perusahaan ritel menunjukkan perubahan. Banting harga, buka tutup toko, bahkan beberapa dari mereka sudah mnegecilkan ukuran perusahaan karena ancaman disrupsi ini. Hanya perusahaan yang melihat disrupsi ini sebagai kesempatan yang bisa berhasil bertahan.

Pada 1963, Leon C Megginson, pernah menyatakan, “it is not the strongest of the species that survives, nor the most intellegent, but the one most responsive to change”. Saat sekarang, pada abad milenial ini, kapasitas organisasi sebetulnya terletak pada kumpulan dari pemikiran para individu didalamnya, yang tidak bisa hanya beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga harus mendorong perubahan dan bahkan menggalakkan inovasi. Kita tidak boleh hanya puas dengan berada dalam situasi yang relevan, tetapi juga harus selalu siap berubah bahkan bertransformasi, berubah bentuk.

Transformasi bisnis atau organisasi sebetulnya tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi manusia-manusia di dalamnya. Jadi, fokus siapakah tugas mentransformasi manusia dalam organisasi kalau bukan departemen sumber daya manusianya?

Bila bebicara mengenai  departemen sumber daya manusia di sebuah organisasi, dengan cepat kita kan membayangkan evaluasi kinerja, struktur organisasi beserta tingkat jabatan, pangkat, job description, dan segala macam tata car4a kenaikan pangkat dan remunerasi, yang di desain lebih dari 20 tahun lalu ketika zaman sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini. Namun, saat sekarang, baru segelintir perusahaan yang sudah berani meniadakan pengukuran 360 derajat, dan malahan ada lembaga-lembaga pemerintah yang baru saja memulai menjalankan evaluasi kinerja yang lebih transparan.

Sadar tidak sadar,kita msiah menggunakan cara lama untuk menangani tenaga kerja yang sudah berada dan terpengaruh era digital ini. Di sinilah sumber permasalahannya, mengapa dalam organisasi kita tidak kunjung menghasilkan pemikiran-pemikiran inovativ. Bila manusia nya dikelola dan dikembnagkan dengan pola pemikiran lama, bagaiman organisasinya mau tampil berpikiran baru? Bagaimana kita menanggapi lingkungan yang sudah demikian berbeda dengan tetap diam dan meneruskan praktik lama?

Namun, mudahkah untuk keluar dari status quo dan memulai sesuatu yang baru, sementara praktik lama sudah dilakukan puluhan tahun?

Tinjau ulang konsep karier

                Di sebuah perusahaan kecil, ketika seorang programmer yang lincah dan bersemangat baru begabung, ia bertanya, bagaimana jenjang karir saya disini? Pimpinan menjawab, “ Tidak ada jenjang karier di sini, kita semua disini adalah tim. Bila kamu berprestasi, kami akan memberimu peran yang lebih besar”. Si programmer kemudian ragu dan kembali ke perusahaan lamanya, yang menawarkannya kenaikan pangkat. Pimpinan preusahaan kecil itu pun kecewa karena ia tidak bisa menawarkan karier pada anak muda ini. Namun, apakah sebenarnya karier yang dimaksud oleh kebanyakan anak muda sekarang? Apakah mereka mau berjuang keras, berinovasi demi kenaikan pangkat dan jabatan? Apakah ini yang diperlukan anak muda sekarang? Karier bisa jadi sudah bukan lagi berbentuk tangga seperti apa yang kita hayati dulu.

“The Why”

Bila perilaku konsumtif saja sekarang terlihat sudah berubah, dari konsumsi pakaian ke travelling, konsep berkarier pun sepertinya sudah tiak lagi seperti 20 tahun yang lalu. Ini sebabnya perputaran tenaga kerja pun, terutama para milenial yang akan berdominasi tenaga kerja pada 2020, sudah pasti telah bergeser. Karier tidak bisa lagi dilihat sebagai suatu proses the what, the how, atau bahkan when atau where seperti dalam job description.

Para praktisi SDM pasti sudah merasakan betapa job description itu hanya kertas yang tidak bermakna pada zaman sekarang. Kita benar-benar perlu menanamkan the why dalam organisasi. Mengapa kita harus menciptakan produk baru, mengapa kita harus mengejar waktu, mengapa kita harus mengejar angka penjualan tertentu. The why ini hanya bisa dibudayakan bila semua orang ikut berpikir.

Karier sekarang dianggap asyik apabila setiap orang bisa berpikir bersama. Kebersamaan atau engagement bisa terjadi dalam penyatuan pendapat dan tantangan. Praktis SDM perlu mengajak para karyawan untuk berpikir tentang dirinya apa kekuatannya, apa yang bisa mereka kontribusikan, apa yang ingin mereka ciptakan sebagai karyanya. Inilah bentuk job description yang baru, berbobot nilai-nilai yang kita anut bersama, legacy yang bisa ditinggalkan individu, yang sejalan dengan kesesuaian minat individu dan pekerjannya.

Dalam transformasi SDM ini, dialog “why” inilah yang perlu dibudayakan dalam setiap kegiatan, misalnya dalam rapat, briefing dan obrolan kerja sehari-hari. Tugas DSDM adalah meniadakan proseedur karier yang usang dang menggantikannya dengan pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru. Lebih dari 60 persen dari 500 perusahaan top dalam daftar Fortune sudah tidak eksis lagi. Ini bukti bahwa transformasi tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Transformasi budaya

Diakui atau tidak, disrupsi yang terjadi saat sekarang, yang sering dianggap sebagai disrupsi teknologi sebenarnya lebih tepat bisa dipandang sebagai transformasi budaya. Bila organisasi tidak cepat-cepat mengubah arah perusahaan untuk berfokus pada customer experience ,memahami dan mendalami pelanggan dengan perubahan kebutuhan dan minatnya, menggalakkan kolaborasi berpikir seluruh karyawan, dan memperlakukan setiap karyawan sebagai duta kognitif yang utuh, kita memang bisa ketinggalan kereta.

Saatnya sekarang para praktisi SDM menggalakkan dan menjalankan pelatihan analisis mendalam, dan berfokus pada content dan informasi bisnis.

 

Sukses Berdagang di Media Sosial

Berawal dari praktik terapi depresi, Kania Annisa sukses berbisnis aneka produk yang jual lewat media sosial.

 

Merlinda Riska

Menjadi ibu rumah tangga dengan tugas utama mengurus keluarga bukan halangan untuk sukses berbisnis. Kania Annisa Anggiani sudah membuktikannya. Berawal dari keinginan untuk mengisi waktu luang saat mengurus anak, kini ia sukses berbisnis tanpa mengganggu kewajibannya sebagai ibu.

Saat ini, Kania sukses berjualan aneka pernik perabot rumah. Sebagian besar transaksi lewat daring. Lewat Chic & Darling, kini ibu dua anak itu mampu meraup omzet hampir setengah miliar setiap bulan. Uniknya, bisnis itu dirintis sebagai bagian dari terapi. Awalnya, perempuan kelahiran Jakarta,13 November 1982 mengalami depresi pasca melahirkan (post partum depression). Saat itu, selepas meninggalkan kariernya selama 13 tahun di production house demi kandungannya ia merasakan emosi yang tidak stabil, perasaaan rendah diri, tidak berguna, meratapi nasib dan hidup.

Salah satu bentuk terapi untuk menyembuhkan hal ini adalah dengan membuat prakarya. Awalnya, untuk kebutuhan rumah tangga dan sehari-hari. Ia mengawali dengan membuat taplak meja kecil, pouch, serbet (napkin), dan srung bantal dari perca. Tak disangka, hasil kreasinya itu disukai banyak orang. “Karena dirumah saya itu ada banyak sisa bahan, handai tolan yang datang kerumah minta dibuatkan juga,” katanya. Saat pesanan terus bertambah, ia menjadi lebih percaya diri untuk memasarkannya ke orang luar. Pada tahun 2013,saat sedang ramai media sosial Instagram, Kania mengunggah foto bantal hasil kreasinya. Beberapa bulan kemudian, dia juga membuat laman Chic & Darling.

Kania bilang, usaha ini nyaris tanpa modal. Sebab, dia hanya memakai kain perca dan mesin jahit dari mertua. “modal awal tidak sampai Rp.500.000. paling untuk membeli berbagai perlengkapan menjahit, seperti benang, jarum,ritsleting, dan lain-lain,”paparnya. Sejak membuat akun di Instagram, setiap minggu pesanan bantal terus meningkat. Kania sampai kewalahan. Soalnya,semua dikerjakan seorang diri,mulai dari mendesain,menjahit,menerima pesanan lewat email,SMS,membungkus produk,mengirimkan ke kurir hingga belanja bahan baku. Ia masih harus mengurus rumah dan anaknya yang saat itu masih batita.

Karena itulah , tiga bulan setelah usaha berdiri, Kania mulai menggandeng penjahit langganannya. “Desain, bahan, dan pola tetap dari saya. Sya juga memperkejakan satu pegawai sebagai admin untuk membantu membungkus produk, menjawab email pelanggan, mengantar produk ke kurir” jelasnya. Karena pesanan terus naik, Kania menambah empat karyawan lagi untuk admin, penjahit,dan desain grafis. Meski begitu, ia tetap memilih sendiri bahan baku. “Sambil gendong anak,saya keliling Cipadu atau Mayestik untuk mencari bahan,”ceritanya.

Mulai dari garasi

Awalnya, semua aktivitas bisnis itu digarap di meja makan rumah. Karena kebutuhan tempat lebih luas, Kania merombak garasi sebagai ruang kerja. “Saya siapkan uang Rp.25juta. saya bolak-balik ke material untuk beli semen, tegel, dan cat. Semua interiornya itu saya atur dan putuskan,”ujarnya. Ruang kerja baru ikut memompa semangat baru juga. Namun bukan berarti tak ada kendala. Pada tahun kedua, bisnis seret,pesanan menurun. Bahkan dia sampai meminjam uang suaminya guna membayar gaji pegawai. “Saya pernah merasakan usaha saya sepi, gaji pegawai tidak bisa dibayar,bayar vendor molor, dimaki-maki vendor,” cerita Kania.

Berkat saran sang suami, Kania mulai merancang strategi pemasaran. Selain mengeluarkan gimmick marketing lewat media sosial, ia juga berkolaborasi dengan pihak tertentu. Misalnya, bekerjasama dengan perusahaan untuk memproduksi ratusan tas,agenda, atau keprluan kantor. “Contoh kolaborasi kami adalah dengan Hijabenka untuk produk scraf edisi Ramadhan,” terangnya.

Demi memperkuat branding Chic & Darling, Kania tidak lagi membeli bahan motif di pasaran, tapi medesain dan mencetak sendiri dibahan. “Saya lakukan ini karena saya menemukan produk Chic & Darling mulai ditiru,”ungkapnya,. Ia juga rajin ikut pameran untuk menjalin hubungan dengan perusahaan besar. “Ini merupakan skema B2B usaha kami. Sekali pesan minimal 100 produk,” ujar dia.

Kini produk Chic & Darlng pun semakin beragam. Jika sebelumnya Chic & Darling dikenal sebagai home essential product, kini sudah menjadi lifestyle product yang terdiri dari tiga kategori, home essential product seperti bantal, keset, taplak meja, lalu daily essential product seperti tas, pouch, agenda, kalender, dan terakhir ready to wear product seperti baju. “Sekarang ada tiga bidang dengan jumlah kurang lebih 30 produk,”ujar dia.

Tahun lalu, Kania menyewa kantor di gedung tak jauh dari rumahnya. “Suami saya ingin agar rumah kami dikembalikan lagi fungsinya sebagai rumah,” ucap dia. Karyawannya sast ini mencapai 10 orang.

Berkat jirih payah itu, Kania mengaku omzet rata-rata Chic & Darling per bulan mencapai Rp 300 juta- Rp 400 juta. Bila ada pameran atau ada gimmick marketing baru atau peluncuran produk baru, omzet itu bisa meningkat dua kali lipat.

 

Sumber: Kontan.22-28-Januari-2018.Hal_.19

Membangun Organisasi Bisnis

Di awal tahun 2018, saya mendapatkan pembelajran tentang organisasi bisnis yang sangat menarik dari seorang pengusaha kawakan. Ilustrasinya begitu jelas dan juga sederhana. Beliau mengawali sharing-nya dengan mengatakan, “Membangun sebuah organisasi bisnis itu laksana menempuh suatu perjalanan.” Menarik bukan?

Sebagai suatu perjalanan (travelling), pertama kita harus menetapkan terlebih dahulu destinasi yang hendak dituju. Dari situ kita bisa kedua, menentukan rute yang akan ditempuh, entah melalui jalan darat, jalur udara, atau laut.

Setelahnya, ketiga, kita pun perlu menetapkan sekaligus mempersiapkan kendaraan ttransportasi yang baik. Tentu kita harus memastikan bahwa modal transportasi yang dipilih tersebut adalah saran angkut yang bukan hanya sekedar layak jalan, namun musti cakap jalan.

Keempat, kita harus memastikan bahwa ssang pengemudi kendaraan (entah itu supir, pilot, nahkoda dan juga masinis) adalah orang yang cakap dan profesional. Kelima, tentunya tak lupa pula, kita harus memastikan bahwa crew (awak) perjalanan terdiri dari pekerja yang terampil, ramah, dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.

Seandainya kelima elemen perjalanantersebut terkelola dan tertata dengan baik, semesrinya kita akan menempuh proses perjalanan yang aman,nyamaan,dan tiba di tempat sesuai dengan rencana.

Dan, sang guru pun memberikan analogi kelima elemen perjalanan tersebut dalam konteks membangun organisasi bisnis. Jika, pertama, perjalanan memerlukan “destinasi, maka membangun organisasi bisnis membutuhkan tujuan besar pula. Tujuan besar merupakan kehendak mulia dari organisasi yang dipersembahkan kepada lingkup kehidupan yang lebih luas. Entah itu berwujud keinginan mendatangkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, atau memerangi kemiskinan dan kebodohan rakyat.

Faktor manusia

Jims Collins dan Jerry Porras (dalam bukunya Built to Last,1994) menyebutnya sebagai big hairy audicious goal, tujuan yang jauh lebih besar dari sekedar soal uang dan keuntungan.

Demikian hanya, kedua, ada sebgaian pilihan “rute” praktis bisnis, yang meruoakan pilihan strategis seseorang dalam membangun usahanya. Kita mengenalnya pula dengan sebutan “stratgei”. Ada yang menempuh model seperti Warren Buffett yang menciptakan kekayaannya dengan cara meracik portofolio investasi di berbagai perusahaan yang potensial mendatangkan keuntungan, dan ada juga yang melakoni cara Bill Gates yang mengumpulkan kekayaan dengan membangun Microsoft.

Apapun pilihan model bisnisnya, yang jelas pilihlah lapangan bisnis yang memiliki hembusan angin kencang. Bukankah kita bisa menerbangkan layang-layang ke tempat yang tinggi, dengan dorongan angin besar?

Beerikutnya, ketiga, memastikan “kendaraan” yang tepat pada dasarnya analogis dengan membangun “organisasi” yang kapabel. Cita-cita yang mulia dan strategi bisnis yang hebat tak akan mendatangkan hasil bila tak diiringi oleh kemampuan eksekusui yang solid. Hanya manajemen organisasi yang baik, dengan segala perangkatnya (yakni struktur organisasi, sistem dan proses bisnis, budaya kerja) yang bisa memungkinkan eksekusi gagasan strategis berjalan dengan baik.

Tentang elemen keempat dan kelima, yakni pengemudi dan crew, tak sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ini berbicara tentang pemimpin organisasi dan sumber daya yang profesional. Jim Collins, dalam bukunya Good to Great (2011), bilang bahwa yang paling penting (sekaligus sulit) dalam membangun organisasi adalah get the right people on the bus. Lebih jauh, katanya: first who, then what…, yang berarti kecakapan manusia acapkali jauh lebih penting daripada kecanggihan strategi bisnis dan manajemen organsiasi.

Singkat kata, ada lima elemen yang disyaratkan untuk membangun organisasi unggul, yakni tujuan besar organisasi yang dirumuskan baik, strategi yang hebat, organisasi yang tertata rapi, pimpinan yang cakap, sekaligus juga jajaran SDM yang profesional.

Secara bergurau saya bertanya, bagaimana jika analogi kendaraan yang digunakan adalah “kendaraan otonom” nirawak semisal kereta listrik? Apakah itu berarti sebuah organnisasi bisa saja tak membutuhkan pemimpin dan jajaran SDM? Sang guru hanya menjawab “Dalam gerbong kereta listrik memamng tak ada masinis dan awaknya. Mereka ada di ruang kontrol yang mengendalikan seluruh sistem pengatur gerak langkah kereta yanng berseliweran tersebut.”

 

Sumber: Kontan.22-28-Januari-2018.Hal_.29

Komoditas Politik Beras

Sebagai satu-satunya makanan pokok Bangsa Indonesia, beras bukan sekedar komoditas ekonomi, tapi politik. Rencana impor beras 500.000 ton pada awal tahun 2018, sebenarnya termasuk biasa, tidak ada yang istimewa.

Dengan asumsi harga beras impor itu US$415 per ton, maka 500.000 ton beras nilainya US$ 207,5 juta sekitar Rp 2,7 triliun. Bandingkan impor gandum Indonesia 2016 sebanyak 10 juta ton, senilai Rp 30 triliun lebih.

Tetapi politik,sama dengan iman dalam agama, tidak bisa dirumuskan secara matematika. Dalam hitungan politik, dua kali dua, tidak selalu empat.

Saat ini cadangan pangan di Indonesia dan juga di dunia sedang aman. Panen padi di India, China dan Indonesia normal. Tiga negara inilah penyerap beras terbesar di dunia. Jika  salah satu dari tiga negara ini gagal panen, harga beras di pasar dunia melambung.

Sebelum menjadi komoditas poliik, beras hanyalah komoditas ekonomi. Saat satu negara kekurangan, dan negara lain kelebihan, akan ada transaksi perdagangan.

Pada 2011, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mentri pertanian Suswono dan mentri perdagangan Gita Wirjawan ada impor beras 2,7 juta ton, tapi tak pernah ada ribut-ribut.

Awal januari 2018 ini, harga beras naik dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 9.500 per kilogram (kg), jadi Rp 14.000 per kg. Kenaikan harga beras sebenarnya merupakan konsekuensi wajar dari berlakunya hukum pasar. Saat pasokan tetap, permintaan naik, harga akan naik. Atau, ketika permintaan tetap, tetapi pasokan kurang, harga juga naik.

Kebijkan mematok HET itulah yang sebenarnya menyalahai hukum pasar. Kebijakan HET ini dibuat sebagai reaksi politik dari bisnis beras premium ,perusahaan yang terkait Parpol bukan pendukung pemerintah.

Sebuah kebijakan, tentunya harus disertai kemampuan untuk mengamankan. Cadangan beras bulog pada 2017 saat kebijakan ini dibuat, hanya 1,7 juta ton. Produksi gabah 2017 sekitar 77 juta ton. Dengan rendemen 62,74%, hasil 77 juta ton itu setara 48,3 juta ton beras.

Cadangan beras Bulog 1,7 juta ton hanyalah 3,5% dari total produksi beras nasional 2018. Artinya 96,5% produksi beras nasional dikuasai oleh pedagang beras.

Kenyataan seperti ini membuat HET menjadi sia-sia. Memang HET dibuat bukan tanpa perhitungan. Angka RP 9.500 perkilogram merupakan titik keseimbangan kepentingan petani, pedagang dan konsumen.

Tapi, dengan cadangan hanya 3,5% dari total produksi beras nasional yang berada ditangan pedagang, HET menjadi sia-sia. Terlebih lagi, kualitas 1,7 juta ton cadangan beras Bulog dibawah beras yang dipunyai pedagang. Maka, operasi pasar oleh pemerintah melalui Perum Bolog tak membuahkan hasil.

Konsumen tetap lebih memilih beras harga Rp. 14.000 per kg tapi kualitas lebih baik, dibanding beras operasi pasar harga murah. Kenaikan harga beras diatas HET, bisa jadi disebabkan oleh naiknya permintaan, sementara pasokan tetap. Atau sebaliknya, permintaan tetap, tapi pasokan kurang.

Incaran partai politik

Kementrian Pertanian, selama ini diangap jadi lahan subur untuk fundraising partai poltik. Pada zaman Orde Baru , semua dikuasai oleh Golkar.

Setelah reformasi, Kementrian Pertanian seperti “tak bertuan”. Baru kemudian dikuasai oleh PDIP. Pada era Presiden SBY, jatuh ketangan PKS. Terbongkarnya skandal suap impor daging sapi yang melibatkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, sebenarnya merupakan upaya “mengambil alih” kementrian ini dari PKS, tapi gagal.

Amran Sulaiman, Mentri Pertanian sekarang, tidak berasal dari partai politik. Tetapi ia juga bukan orang pilihan Presiden atau Wakil Presiden. Sadar posisinya yang lemah, Amran berupaya menunjukkan kinerja positif dimata Presiden. Upaya ini berhasil, sehingga ia lolos bebrapa kali reshuffle.

Untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras, pada 2018 ini Kementrian Pertanian malahan dapat tambahan dana RP 22,6 triliun. Kepercayaan Presiden terhadap Amran, tak menyurutkan niat dari mereka yang mengincar kementrian ini. Maka beras pun dimainkan sebagai komoditas politik.

Tanpa permainan politik pun, harga komoditas pangan bisa tak terkendali akibat pedagang menahan stok, atau oleh sistem yang disebut perdagangan berjangka (future trading). Petani sebagai pelaku budidaya, bisa memperoleh modal kerja untuk menanam padi dari pengusaha perdagangan berjangka.

Untuk itu, petani akan menandatangani ‘potofolio’ yang menyebutkan bahwa ia akan menyerahkan hasil padi yang dia budidayakan ke pengusaha itu saat panen. Oleh pengusaha perdagangan berjangka tersebut, ‘potofolio’ ini bisa kembali dijual ke perusahaan lain, tentu dengan mengambil keuntungan. Demikian seterusnya hingga komoditas yang belum ada, , bisa diperdagangkan sampai berkali-kali dengan peningkatan harga yang bisa tidak masuk akal.

Guna mengatasi penguasaan pangan oleh sekelompok pemodal, HET diperlukan. Di Negara-negara maju, pemerintah tidak perlu memiliki cadangan pangan sendiri. Tapi pemerintah memiliki kemampuan untuk mengontrol cadangan pangan melalui asosiasi gandum,jagung, kedelai,juga beras. Di sinilah kelemahan Indonesia, tidak punya sosisasi yang kuat dan efektif di tingkat petani.

 

Sumber: Kontan.22-28-Januari-2018.Hal_.21