Bagi-Bagi Rezeki dari Roti Bakar

Jika sebagian orang memilih berbisnis kafe, berbeda halnya dengan usaha yang dijalankan Yaya Ardiansyah.

Dengan merek Roti Bakar Parahyangan, Yaya beserta timnya melayani konsumen yang lalu lalang di jalan.

Roti bakar dengan 17 ragam isi disajikan dari gerobak yang mangkal di sejumlah titik jalan atau yang mangkal di teras minimarket.

Industri yang dibangun Yaya sebenarnya adalah membuat roti. Dari sana terpikir olehnya membuat jaringan pemasaran sendiri untuk roti peruntukan sajian dibakar itu lewat gerobak yang menawarkan roti bakar.

Yaya membuat gerobak dengan merek Roti Bakar Parahyangan yang bisa digunakan pedagang yang menjadi mitranya.

“Gerobak itu dipakai pedagang. Tidak ada bayaran. Silakan pakai hanya wajib ikuti aturan usaha. Kalau ditemukan beli produk [roti dan isinya] ke orang lain walau sebagian dia kena sanksi,” kata Yaya.

Selain milik sendiri, ada juga gerobak yang dibuat dengan menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra.

Selanjutnya pedagang membeli roti dari Yaya lengkap dengan sejumlah isinya.

Untuk isi atau selai yang akan menjadi ragam menu roti bakarnya, dia menjalin kerja sama dengan produsen pembuat selai seperti stroberi, nenas, kacang, blueberry, cokelat butir, keju.

“Pedagang tidak ada yang digaji, namun [mesti jual] menu roti bakar yang sama mulai dari Cikarang sampai jasi Asih,” kata Yaya.

Biasanya satu gerobak menjual antara 30-80 roti bakar setiap hari. Roti dibeli dari Yaya dengan harga Rp. 3.500 per satuan, sedangkan selai Rp. 15.000 per kilogram.

Setelah membayar uang sewa tempat, membayar listrik dan lainnya, keuntungan pedagang sekitar Rp. 3000 per satu roti bakar yang dijual. “Mereka wajib bayar sebanyak roti dan selai yang dibawa.”

Pedagang roti bakar yang menjadi mitranya ada yang tinggal di sekitar tempatnya membuat roti yaitu di kawasan Cibitung, Bekasi Timur atau Karang Setra di Bekasi Utara, dan membeli roti yang darinya serta isinya sebelum membuka dagangan mulai pk 16.00 WIB sampai 24.00 WIB.

Lainnya, tinggal tidak dekat lokasi tempat Yaya membuat roti, dan dapat mengambil roti serta selainya sendiri atau diantar. Saat ini ada 80-90 gerobak yang tersebar di sejumlah tempat di Bekasi. “Kebanyakan di komplek perumahan orang banyak keluar masuk.”

Yaya merintis usaha membuat roti setelah bekerja sekaligus menimba ilmu industri tersebut selama 3 tahun. Dia mulai membangun industri rotinya sejak 2002.

Kekuatan roti yang dibuatnya adalah menyajikan roti bakar yang tidak menggunakan pengawet.

Untuk itu, Yaya tidak memperkenankan pedagang menyetok royi untuk dijual selama 3 hari berdagang.

“Roti tak pakai pengawet. Tahan 3 hari, anak-anak [pedagang] saya larang bawa roti di atas 2 hari. Paling banyak [sekali beli] 160 roti. Dua hari tidak laku, masih ada hari ketiga,” kaya Yaya.

Dengan jaringan pemasaran lewat pedagang roti bakar dari gerobak yang disediakannya, Yaya bisa memasarkan roti tanpa pengawetnya.

Saat ini Yaya menargetkan menambah lokasi tempatnya membuat roti. Setelah Cibitung dan Karang Satria yang sudah berjalan dalam 2 tahun terakhir, dia mensasar Bekasi Barat, Pondok Gede, dan Cileungsi.

Pria asal Ciamis, Bandung, Jawa Barat mencoba peruntungan diluar kota kelahirannya, dan ia memilih Bekasi. Wilayah Cibitung yang menjadi lokasi untuk membesarkan industri rotinya.

“Saya menilai di [wilayah] Bekasi, Cibitung [itu] ada di poros tengah,” kata Yaya.

Dia mengemukakan untuk sukses industri roti, pengalaman dalam membuat adonan menjadi hal utama.

Tuntutan untuk menjalani usaha tersebut bukan semata mampu membeli peralatan dan menghadirkan tempat industri pembuatan, tapi mesti ahli dalam membuat adonan. “Adonan gagal mesti dibuang, harus hati-hati.”

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.25-Maret-2018.Hal_.6

Pertumbuhan Wirausaha Diupayakan

TANGERANG, KOMPAS – Negara membutuhkan lebih banyak orang yang berwirausaha. Jumlah pengusaha sangat perlu diperbanyak untuk menggerakan perekonomian nasional. Presiden Joko Widodo menyampaikan sejumlah langkah untuk mendorong pertumbuhan wirausaha antara lain dengan segera mengesahkan Undang-Undang Kewirausahaan.

“Di dalamnya (RUU Kewirausahaan) menyangkut percepatan ekonomi untuk pengusaha pemula, ini penting sekali. Tadi disampaikan bahwa pengusaha di Indonesia dari 1,6 persen di tahun 2014, meloncat menjadi 3,1 persen. Ini perlu diperkuat dengan adanya regulasi yang jelas, yaitu UU Kewirausahaan.,” kata Presiden di hadapan Sidang Dewan Pleno II dan Rapat Pimpinan Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Kota Tangerang, Banten, Rabu (7/3).

Sejalan dengan itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kucuran kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama ini nilai kredit untuk UMKM kurang dari 20 persen total kredit yang ada. Menurut Presiden, nilai itu sangat kecil sekali. “Seharusnya lebih dari 30 persen (dari total kredit yang dikucurkan bank),” kata Presiden.

Terkait hal itu, Presiden meminta Menter Koordinator Perekonomian Darmin Nasution untuk mengajak kalangan perbankan menaikkan plafon kucuran dana pinjaman untuk UMKM. Namun, upaya ini perlu mendapat paying hukum dalam UU Kewirausahaan yang belum disahkan.

Presiden berpandangan, pengusaha kelas kecil harus bisa naik kelas ke skalah menengah dapat berkembang hingga ke skala konglomerasi. “Jadi, nanti dalam siding pleno, tolong dirumuskan, jurus-jurusnya seperti apa, saya terima jadi saja, terutama dengan UU Kewirausahaan itulah, kita capai keinginan,” pesan Presiden pada Hipmi.

Ketua Umum Hipmi Bahlil Lahadalia menyampaikan organisasi ini menaruh perhatian serius pada sektor kewirausahaan. Hipmi berharap pemerintah memberi ruang bagi pengusaha lokal lebih terlibat pada pembangunan nasional.

Kami memandang negara butuh pengusaha baru yang berjiwa nasionalis. Sebanyak 70 persen pendapatan negara diperoleh dari pajak, sementara pajak itu paling banyak dari pajak usaha. Tidak ad acara lain untuk meningkatkan pendapatan negara, (selain) dengan mendorong bertambahnya jumlah pengusaha,” kata Bahlil.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Panitia Khusus RUU Kewirausahaan Nasional DPR Ichsan Firdaus sepakat bahwa RUU tersebut mendesak untuk segera disahkan. Ichsan mengatakan, RUU Kewirausahaan saat ini dalam tahap pembahasan. Namun, pada tahap pembahasan ini, beberapa hal masih perlu diperkuat. Hal itu antara lain terkait pengaturan agar program kewirausahaan di seluruh kementrian dan lembaga tidak tumpeng-tindih.

Ichsan menargetkan selambat-lambatnya RUU Kewirausahaan bisa disahkan sebelum 17 Agustus 2018.

“Kami mau segera selesaikan. Ada hal yang mesti kami perbaiki, karena banyak unsur yang belum diakomodasi, terutama pada aspek perlindungan kepada wirausaha muda,” ujar Ichsan. (DD10/NDY)

 

Sumber: Kompas.8-Maret-2018.Hal_.18

Komunikasi untuk Kesuksesan Karier

Kita tidak bisa memasuki dunia kerja bermodalkan semangat dan kecerdasan kognisi semata. Banyak hal yang harus dipersiapkan termasuk softskill seperti komunikasi. Kemampuan yang satu ini sangat penting dan harus disiapkan dari sejak awal Anda melangkah ke dunia kerja.

                KEMAMPUAN komunikasi dibutuhkan dari sejak wawancara awal. Lain bidang kerja, tentu berbeda juga bentuk komunikasinya. Tidak hanya di dunia kerja, saat anda berwirausaha, komunikasi yang mumpuni mutlak harus dipenuhi. Berikut ini komunikasi yang ada di dunia kerja.

Komunikasi Langsung

Komunikasi ini penting bagi Anda yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan pemasaran. Komunikasi langsung identik dengan face to face communivation. Anda harus bisa melakukan pendekatan secara persuasif dengan calon pembeli. Untuk melancarkan komunikasi, pelajari dengan saksama terlebih dahulu produk yang akan Anda tawarkan atau jual. Hal ini agar saat pembeli bertanya, Anda bisa menjawab dengan meyakinkan.

Komunikasi Tulisan

Kemajuan teknologi membuat seseorang tak perlu lagi melakukan suatu kesepakatan kerja sama dengan bertemu langsung. Sering sekali kesepakatan terjalin hanya melalui surel atau faksimile. Jadi, komunikasi melalui tulisan pun sama pentingnya. Cobalah Anda membaca banyak contoh perjanjian kerja, surat resmi, dan lainnya. Hal ini agar kosakata Anda semakin kaya dan mahir dalam membuat surat resmi.

Komunikasi dengan Rekan

Komunikasi nonformal sering delakukan dengan sesama rekan kerja. Namun, jangan remehkan komunikasi ini. Hal ini harus tetap dijaga dan memerlukan kemampuan berbahasa yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman antar-rekan kerja. Apabila komunikasi ini kuat, perusahaan akan semakin berkembang dengan pesat. Tak ada salahnya menyediakan waktu sepulang kerja atau saat libur akhir pekan untuk pergi bersama teman-teman atau sekedar berkumpul bersama. Kegiatan ini akan membuat ikatan Anda dan rekan semakin kuat sehingga komunikasi menjadi lebih baik. [*/VTO]

 

 

Sumber: Kompas-Klasika.8-Maret-2018.Hal_.34

Jalan Terang Pendidikan Kewirausahaan

Oleh Jony Eko Yulianto, Dosen Universitas Ciputra Surabaya

 

Pendidikan kewirausahaan berfungsi sebagai mini ekosistem pemahaman bisnis.

Rancangan Undang-Undang (RUU) Kewirausahaan yang kini sedang memasuki fase pembahsan akhir dalam sidang pleno Kementrian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) dan Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat (Pansus DPR) menuai harapan bagi perkembangan perekonomian di Indonesia, khususnya bagi para pebisnis kecil dan menengah. Undang-undang tersebut diharapkan bisa menjadi medium yang mampu menstimulasi geliat kelahiran beragam usaha-usaha baru di berbagai level. Beberapa pihak yang menyambut positif prospek cerah ini salah satunya adalah dari kalangan akademisi dan praktisi yang tertarik dengan pendidikan kewirausahaan.

Ketika payung regulasi telah sampai pada taraf pengesahan, maka isu tentang bagaimana situasi ekonomi dapat tumbuh sebenarnyatelah menjadi topik prioritas nasional. Sayangnya jikat kita cermati dengan seksama, isu-isu tentang pertumbuhan start up atau usaha rintisan selama ini masih berlangsung secara sporadis. Meskipun ada beberapa rintisan usaha yang kemudian menjadi bertambah besar dan bahkan mendominasi pasar, hal tersebut sebenarnya masih bersifat kasuitik dan tidak benar-benar mempresentasikan situasi ekosistem kewirausahaan secara nasional.

Kondisi ini sebenarnya membawa kita kepada sebuah pertanyaan reflektif yang penting yang perlu mendapat perhatian. Sejauh mana kita dapat menyambut momentum ini dalam hal penyediaan bibit-bibit wirusahawan yang kompeten serta berkualitas?

Maksudnya, kita tidak lagi memandang profil ekosistem kewirausahaan sebagai sesuatu yang berada di luar kendali kita. Sebaliknya, sudah saatnya kita berpikir dengan jernih untuk menciptakan sebuah ekosistem kewirausahaan yang kondusif. Caranya adalah melalui mekanisme penciptaan desainsecara sengaja lewat pendidikan kewirausahaan.

Ekosistem kewirausahaan yang kondusif dan bersifat by design, akan menjamin usaha-usaha yang muncul bukan hanya tampil sebagai usaha rintisan yang asal berdagang saja dan mendapatkan keuntungan, malainkan start up yang mampu meberikan nilai tambah (added value) dan mengambil peran sebagai solusi bagi permasalahan kebutuhan pasar. Prinsip ini yang sebenarnya amat penting dan esensial ketika berbicara tentang hakikat kewirausahaan. Kita tentu tidak berharap Undang-Undang Kewirausahaan yang akan muncul hanya berfungsi sebagai regulasi yang tidak melindungi sisi filosofis dari kewirausahaan itu sendiri.

 

Potong Waktu

Almarhum Bob Sadino dahulu kerap mengajukan sebuah pernyataan yang kontroversial. Jika Anda ingin berbisnis, keluarlah dari kampus mulailah berbisnis. Pernyataan ini sebenarnya sedang menggambarkan bahwa membangun bisnis tidak semata cukup hanya dengan teori dari buku teks semata. Bob sedang menjelaskan bahwa kemamuan melihat peluang dan berkawan dengan resiko adalah sebuah kemampuan yang lahir berdasarkan pengalaman. Nah, pengalaman inilah yang akan membuat seorang pelaku start up semakin matang dan memiliki sensitivitas terhadap pasar di sekelilingnya.

Apalagi beberapa pebisnis besar juga dikenal memiliki kemampuan bisnisnya dari pengalaman dan bukan dari jalur pendidikan yang formal. Malah, hasilnya sungguh luar biasa.

Sebut saja Mark Zuckerberg, bos Facebook yang justru keluar dari Universitas Harvard. Lantas ada Jack Ma, bos Alibaba yang terkenal dengan video-video inspiratifnya untuk memberikan semangat kepada generasi muda untuk tidak takut gagal dan terus mencoba hal-hal yang baru. Ia mengaku mendapatakan keahlihannya justru dari berbagai pengalaman atas kegagalannya dalam menjalani sejumlah bisnis. Hal tersebut sudah barang tentu tidak sepenuhnya keliru.

Masalahnya, waktu yang diperlukan untuk mencapainya tidak sebentar. Tidak semua orang juga memiliki cukup waktu dan biaya untuk mengalaminya. Tidak semua orang juga mampu secara indipenden merefleksikan dan menarik pola-pola keberhasilan atau kegagalan yang dialaminya. Padahal hal ini merupakan proses ideal yang harus dilewati untuk menjadi seorang wirausahawan yang matang. Maka, kita membutuhkan sebuah mini ekosistem yang dengan sengaja kita ciptakan melalui pendidikian kewirausahaan.

Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, putra-putra Prsiden Jokowi, juga berwirausaha. Tapi jika kita cermati, sebenarnya mereka tidak benar-benar mulai dari nol. Mereka telah memiliki sebuah mini ekosistem melalui ayahnya semasa menjadi pengusaha mebel. Dengan mengamati dan menarik prinsip-prinsip tersebut, ditambah dengan kesempatan utnuk mendapatkan nasehat dari sang Ayah dalam waktu-waktu santai bersama keluarga, mereka hakikatnya sedang memotong waktu. Terutama waktu yang berkenaan dengan pengalaman kegagalan yang dialami oleh orang-orang yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan nasihat bisnis seperti itu, dari orang yang langsung terjun di kewirausahaan.

Pertanyaannya kemudian, berapa orang yang memiliki hak istimewa untuk mendapatkan mentor bisnis yang kapabel dan berpengalaman? Tentu saja tidak semua orang memiliki hal tersebut. Maka, disinilah peran dari para akademisi dan praktisi untuk dapat secara serius mempersiapkan sebuah mekanisme pendidikan kewirausahaan yang mampu memotong waktu proses wirausahawan-wirausahawan muda tersebut. Pendidikan kewirausahaan itu dapat berfungsi sebagai mini ekosistem yang akan memperlengkapi anak-anak didik itu dengan berbagai pengalaman, mentor, rekan-rekan sesama pelaku, dan lain sebagainya.

Peserta didik akan belajar tentang kewirausahaan bukan semata dalam kacamata ekonomi yang menekankan tentang pemerolehan untung, tetapi juga dalam perspektif liberal arts yang mengajarkan untuk membangun bisnis yang memiliki nilai tambah dan berperan sebagai solusi yang menjawab permasalahan pasar. Pendidikan kewirausahaan juga akan berfungsi sebagai komunitas yang akan menyediakan berbagai potensi bisnis. Mulai dari jejaring, ilmu pengetahuan, diskusi tentang tren terbaru (state of the art) dan lain-lain. Selain itu, para peserta didik tidak hanya belajar tentang bagaiman pengetahuan tetapi juga memiliki peluang untuk menjalin berbagai kolaborasi.

Dalam perspektif investasi, pendidikan kewirausahaan akan menjamin masa depan ekosistem kewirausahaan kita berisi aktor-aktor kreatif yang solutif. Maka, kini kita dapat pula melihat undang-undang kewirausahaan ini sebagai representasi jalan terang ekosistem kewirausahaan di Indonesia.

 

 

Sumber:

Ekowisata Lahirkan Pengusaha

Pariwisata telah menjadi salah satu primadona ekonomi Indonesia. Sektor ini pun menjadi sektor prioritas keempat dalam pembangunan sepanjang 2017, setelah pangan, energi dan maritim.

Bahakan Menteri Pariwisata Arief Yahya sering memprediksi bahwa sektor pariwisata akan menjadi sektor penyumbang devisa terbesar pada 2019, dengan proyeksi devisa mencapai US$ 24 miliar.

Adapun pada tahun ini, Kementerian Pariwisata memiliki target kunjungan wisatawan yang cukup ambisius, yaitu 17 wisatawan mancanegara dan pergerakan lokal 270 juta wisatawan nusantara.

Gembar-gembor pariwisata memang sudah sepatutnya diiringi dengan kehadiran sejumlah pengusaha baru. Di tengah derasnya investasi asing, para pengusaha lokal tengah berupaya menjadi tuan dan nyonya di tanahnya sendiri.

Dua orang pengusaha yang lahir dari industri tersebut adalah Eliana, pengusaha asal Sumatera Barat yang mendirikan Green House Lezatta, dan Maulana Kidangjati, pendiri Orangutan Kingdom, yaitu Online travel agenttravel agent yang menawarkan paket ekowisata ke daerah konservasi, tepatnya Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Kedua pengusaha itu sama-sama mengandalkan ekowisata, yaitu konsep pariwisata berwawasan lingkungan yang mngedepankan aspek konservasi alam. Selain itu, kedua usaha ini juga menerapkan aspek pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lokal, baik sebagai mitra bisnis, maupun sebagai pekerja.

Dengan ekowisata, masyarakat tidak hanya dapat menikmati liburan yang menyenangkan. Lebih dari itu, mereka juga akan mendapatkan wawasan baru.

Dari Orang Utan Kingdom, pengunjung akan memahami pentingnya mempertahankan konservasi orang utan di habitatnya, sedangkan dari Green House Lezatta, pengunjung akan mempelajari budidaya bercocok tanam. Menyenangkan sekaligus mencerahkan, bukan?

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.4-Maret-2018.Hal_.5

Mawar Valentine

Oleh F Rahardi, Pengamat Agribisnis

 

Menjelang Hari Kasih Sayan (Valentine’e Day) 14 Februari 2018 lalu, seklompok mahasiswa Bogor berunjuk rasa, menyebut cokelat sama dengan maksiat. Orang boleh setuju atau tak setuju dengan pendapat itu. Pertanyaany, mengapa hanya cokelat?

Padahal ada dua komoditas yang identic dengan Hari Kasih Sayang: cokelat dan mawar lebih kuat dari pada cokelat. Mawar sudah dikenal sejak zaman sumeria, mesir, dan Babilonia. Sementara hari Valentin baru pada abad 14 (decade 1.300).

Pada zaman Yunani dan Romawi kuno, mawar sudah menjadi symbol kasih saying. Diduga, mawar sudah mulai dibudidayakan di daratan china pada tahun             5.000 SM. Kemudian tahun 3.000 SM mawar berkembang di Timur Tengah, sebagai elemen taman, buket, persembahan, dan didestilisasi untuk diambil minyaknya.

Belakangan, variasi mawar makin beragam. Di Jawa ada mawar tabor. Mawar merah dan putih yang ditetik setelah mekar, untuk ditaburkan di makam saat berziarah, atau saat pemakaman. Selain untuk ziarah dan pemakaman, mawar tabor juga di gunakan sebagai sarana sesasji tujuh bunga. Ada pula mawar pagar, karena digunakan sebagai pembatas taman. Mawar pagar juga dirambatkan di gerbang, gazebo, oergola, lengkungan lorong taman, dan patio.

Perkebungan mawar potong

Untuk destilasi, mawar tabor Bandungan dan mawar Damaskus, dipetik setelah mekar. Sementara mawar valentine, sama dengan mawar untuk vas dan rangkaian, dipetik saat masih kuncup, menjelang mekar.

Sebelum decade 1989, mawar belum lazim untuk vas dan rangkaian. Waktu itu agroindustri bunga masih sebatas sedap malam  dan aster untuk masyarakat bawah; dan gladiol dahlia lily putih serta krisan tunggal untuk kalangan atas. Aster diproduksi di beberapa lokasi, sedap malam di produksi di Bangil, Bandungan dan Cicuruh. Galdiol, dahlia, lily putih dan krisan tunggal diproduksi di Bandungan.

Pada decade 1980, masuklah benih, teknologi, danmodal agroinustri bunga potong dari Aalmeer, Belanda. Sejak itulah krisan sprai berkembang pesat. Mawar yang dulunya tak laku di pasaran, mulai dibudidayakan. Hasfarm salah satu pemain yang serius menekuni mawar potong, dengan membuka kebun di Goalpara, Sukabumi, Jawa Barat. Beberapa pengusaha pernah masuk ke agroindustri mawar potong, tapi bertumbang. Salah satunya haryanto Dhanutirto, mantan Menteri Negara Urusan Pangan, dan Menteri Perhubungan di era Soeharto.

Meskipun sudah ada mawar Hasfarm yang memasok ke pasar kembangRawa Belong, namun untuk memenuhi kebutuhan pada hari raya tertentu, atau ketika ada tokoh meninggal, Indonesia masih mengimpor mawar.

Pada awak decade 2000, Hasfarm memindahkan kebun mawarnya ke Dallat, Vietnam. Sejak itulah Indonesia “krisis mawar”. Padahal pada decade 2000, tren merayakan Valentine mulai marak di kalangan remaja kota besar di negeri ini. Dan, Valentine identic dengan mawar, selain cokelat.

Melihat peluang ini seorang pengusaha membangun greenhouse mawar di Pengungan Halimun, Jawa Barat. Mawar Halimun ini diberi nama Nirmala Rose, karena di lokasi itu juga ada kebun teh Nirmala. Praktis sejak itu, Bungan mawar potog yang beredar di kota – kota besar Indonesia, terutama Jakarta, merupakan produk Nirmala Rose. Sama dengan produk anggrek Phalaenopsis yang merajai pasar Indonesia, hampir 100% berasal dari kebun Ekakarya di Cikampek, Jawa Barat. Pendatang baru sulit untuk masuk ke bisnis dua jenis bunga ini.

Sejak decade 2000 itu, produksi mawar nasional terus naik, meskipun  kadang juga terjadi fluktuasi. Badan Pusat Statistik mencatat produksi mawar Indonesia 2005 sebesar 60.719.517 tangkai. Tahun 2006 turun menjadi 40.394.027 tangkai. Tahun 2007 naik lagi menjadi 59.492.699 tangkai. Tahun 2008 kembali turun ke 39.265.696 tangkai. Tahun 2009 naik lagi menjadi 60.191.362 tangkai. Tahun 2010 kembali naik menjadi 82.351.332 tangkai. Kemudian 2011 turun lagi menjadi 74.319.773. Tahun 2012 kembali turun ke angka 68.624.998 tangkai. Setelah greenhouse baru Nirmala Rose berproduksi, tahun 2013 produksi mawar nasional melonjak menjadi 152.0066.469 tangkai. Tahun 2014 naik menjadi 173.077.811 tangkai, 2015 naik lagi menjadi 188.302.152 tangkai, tapi di 2016 turun jadi 181.884.630 tangkai.

Produksi mawar tahun 2016 itu sebanyak 56,5 ton diekspor dengan nilainya Rp US$ 481.381,82. Dengan kurs Rp 13.300, nilainya Rp  6,4 miliar.

Kita agak suli memperkirakan beraoa persen produksi mawar nasional yang dikonsumsi dalam negeri, dan berapa persen yang diekspor. Sebab Kementerian Pertanian menyajikan data per tangkai, sementara Kementerian Perdagangan mencantumkan kilogram.

Tetapi praktis impor mawar kita hampi total berhenti. Selama 2016 impor mawar kita hanya 3,1 ton denga nilai US$ 39,361 (Ro 523,5 juta).

Anggrek yang justru keok. Produksi anggrek nasional 2016 sebesar 19,9 juta tangkai, berada jauh di bawah produksi mawar 181,8 juta tangkai. Bahkan disbanding produksi sedap malam yang pada tahun 2016 sebanyak 117 juta tangkai, danmelati 31 183 991 kilogram, anggrek masih sangat ketinggalan. Dampak dari kecilnya produksi anggrek nasional, selama 2016 kita masih mengimpor komoditas ini sebesar 24,3 ton dengannilai US$ 142.244 (Rp 1,8 miliar). Sebagian besar anggrek yang kit aimpor jenis Dendrobium, sebab yang dihasilkan Ekakarya jenis Phalaenopsis. Jadi produksi bunga nasional tertinggi adalah krisan, menyusul mawar, sedap malam, melati, dan anggrek. Gerbera, gladiol, anthurium, anyelir dan helikonia; masih berada di bawah anggrek.

Anggrek potong untuk Valentine selalu berwarna merah hati, sangat jarang yang warna pink atau oranye. Mawar merah memang paling umum diproduksi di dunia maupun di Indonesia. Menyusul pink, oranye, dan putih. Mawar putih biasanya masuk ke floris sebagai rangkaian atau unutk vas. Jarang orang membawakan mawar putihkepada orang yang di cintainya.

Sebenarnya, selain Nirmala Rose, tetap ada petanin yang menanam mawar potong, tetapi dalam skala kecil. Para petani krisan dan bunga potong lainnya, sebagian juga membudidayakan mawar. Tetapi disbanding Nirmala Rose, produk si mawar para petani itu relative kecil

Sumber: Tabloid-Kontan.26-Februari-4-Maret-2018.Hal_.23

Studi Model Bisnis Groupon yang Menolak Google

Oleh Jennie M Xue (Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California)

 

Berdiri tahun 2008, Groupon mempunyai masa lalu yang cemerlang dan pernah dilamar oleh Google seharga US$ 6 miliar di tahun 2010. Sayangnya, ternyata model bisnis kupon online belum matang hingga hari ini. Sehingga berbagai masalah timbul setelah penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) prematur.

Groupon menerima Series B Investment sebesar US$ 30 juta pada Desember 2009. Setahun kemudian, Google menawarkan perusahaan ini senilai US$ 6 miliar. Tapi ditolak. Groupon melakukan IPO di Nasdag dan mencapai nilai valuasi sebesar US$ 11,2 miliar.

Manajemen Groupon dikenal berantakan, termasuk kesalahn dokumentasi pendapatan di tahun 2010 dari US$ 714 juta menjadi US$ 312 juta. Di tahun 2011, mereka berhasil mendapat investasi US$ 700 juta dan nilai penjualan saham di hari pertama mencapai US$ 12,7 miliar.

Selain masalah manajemen berantakan, factor utama kegagalan Groupon adalah model bisnis. Sebagai bisnis kupon online, Groupon mengandalkan email harian. Namun ternyatan banyak pelanggan penerimaanya yang menandai sebagai spam sehingga terjadi email bounce atau unsubscribe.

Selain itu, Groupon dikenal pemilih dalam menerima merchant yang mereka wakilli. Merchant bersedia memberi kupon kepada para prospek saat bisnis mereka sendiri sedang kembang – kempis.

Bayangkan saja bagaimana bisnis yang sedang berkembang pesat dan yang sedang menukik turun. Apakah yang pertama mengeluarkan kupon – kupon pemotong harga? Biasanya tidak. Diskon biasanya hanya dilakukan bisnis – bisnis yang sedang menghabiskan sisa stok maupun yang telah sulit bertahan.

Dalam satu tahun dari IPO, nilai saham Groupon turun 85%. Nilai total menjadi hanya US$ 2 miliar. Sehingga board of director memecat sang pendiri, Andrew Mason.

Ketika artikel ini ditulis, Groupon masih berdiri dengan nilai US$ 4,9 miliar. Bahkan Groupon telah mengakuisisi LivingSocial dari Amazon.

Amazon sendiri menanggung rugi akuisisi LivingSocial sebesar US$ 169 juta. Sebelumnya Google membeli seharga US$ 175 juta.

Satu lagi problem medol bisnis kupon online ini. Sebenarnya, berapa banyak member yang sungguh – sungguh menggunakan kupon – kupon tersebut? Sebagaimana para follower media social yang bisa jadi berjuta – juta, sebenarnya berapa yang sungguh – sungguh berinteraksi denganpemilik akun? Bisa jadi hanya beberapa.

Kondisi ini disebut vanity stat. Alias “statisik keren tapi belum tentu valid”

Belajar dari studi kasus Groupon, bisa kita simpulkan bahwa tidak semua model bisnis dapat diterapkan secara online maupun offline. Selain itu, gaya dan kualitas juga sangat menentukan reputasi perusahaan serta bahaimana setiap tahap perkembangan pertumbuhan.

Dalam kasus kupon online, merchant yang tertarik bergabung basanya terbatas atas dua jenis. Pertama, yang omezetnya telah merosot, sehingga memberi kupon merupakan cara promosi menarik konsumen.

Kedua, begitu mendapatkan jumlah konsumen yang telah diharapkan, bisa saja kerjasama dengan Groupon dibatalkan. Karena tidak lagi memerlukan diskon menarik konsumen.

Salah satu problem klasik Groupon adalah ketika salon yang berisi kursi – kursi sewaan para stylist ternyata ditolak oleh salon. Ketika salah satu stylist menggunakan Groupon dan lainnya tidak, ini bisa menjadi pemicu masalah para pengguna kpon tersebut.

Bisnis kupon adalah bisnis dengan margin sangat tipis, jadi dapat dipahami jika pertumbuhan tidak dapat dipaksakan meraksasa dalam sekejab. Dalam dua tahun pertama pendirian, hype cukup banyak karena antisipasi para investor akan sesuatu yang “baru”. Valuasi pun menggelembung dahsyat. Google termasuk salah satu pengincar awal yang terkena demam gelembung ini.

Model bisnis kupon online saat itu masih sangat gres. Dan pasar Amerika Serikat (AS) yang baru saja mengalami The Great Recession tahun 2008 mengharapkan ada senacan harapn yang membantu kondisi finansial individu. Jadilah kupon online menjadi tumpuan harapan mereka.

Suatu model bisnis dapat dianalisa dari berbagai segi, termasuk kesiapan dan animo pasar, merchant yang terlibat dan para konsumen. Bagi para pemilik bisnis, pikirkan dengan baik – baik. Mungkinkah valuasi bisnis meraksasa dalam pertama pendirian? Padahal omzet dan growth masih belum teruji?

Jika ternyata bisnis Anda divaluasi dengan demikian tinggi, bersiaplah ternyata itu hanya gelembung. Namun jika ada penawaran akuisisi sedahsyat tawaran Google sebaiknya diterima. Karena bisa saja ini hanya terjadi satu kali dalam sumur hidup.

Sumber: Tabloid-Kontan.23-February-2018

Perlukah Usaha “Cryptocurrency” Ditutup?

Oleh Adler Haymans Manurung

Belakangan ini, cryptocurrency (mata uang vitual digital) menjadi pembahasan hangat di Indonesia dan juga di banyak negara. Nilai seluruh cryptocurrency ini, yang dikenal nilai pasaranya (market capitalization), sebesar 752,45 miliar dollar AS (sumber: presentasi Bank Indonesia),  sebuah angka yang fantastis, bahkan melebihi tinggi kapitalisasi pasar dari saham – saham di Bursa Efek Indonesia.

Bitcoin sebagai salah satu dari cryptocurrency memberikan kontribusi terbesar dibandingkan dengan jenis cryptocurrency yang lain, seperti ethereum, ripple, bitcoin cash, cardano, dan NEM. Artinya, transaksi bitcoin ini sangat diminati di banyak ehara dalam rangka mendapatkan dana atau menjadi kaya lebih cepat.

Berita terakhir di 2018 ini, Korea Selatan akan melarang traksaksi yang virtual digital tersebut karena banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat. Bahkan, pemerintah Korea Selatan akan mengajukan undang – undang kepada lembaha DPR-nnya ahar melarang perdangan bitcoin tersebut dan memakan waktu yang panjang juga untuk melakukannya karena harus bekerja sama dengan berbagai instansi. Bagaimana dengan Indonesia, haruskah atau perlukah usaha cryptocurrency tersebut dilarang di Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu dilihat bagaimana harga bitcoin tersebut di beberapa negara dan juga resiko yang dihadapi masyarakat yang melakukan transakasi cryptocurrency tersebut. Harga bitcoin di Korea Selatan jatuh 21 persen menjadi 18,3 juta won atau 17.064,53 dollar AS. Selain itu, harga bitcoin juga turun 10 persen di Luksemburg menjadi 13,199 dollar AS setelah turun ke tingkat terendah 13,120 dollar AS (sumber: Finance.detik.com). Melihat harga tersebut terlihat bahwa harga dari cryptocurrency sedang turun dan investor mengalami kerugian jia melakukan pembelian pada harga tertinggi atau masuk pada belakangan ini.

Berita – berita yang beredar membuat harga mata uang digital turun karena pemegang produk tersebut menjual secepatnya lantaran takut akan kerugian lebih besar. Kebih baik menjual secepatnya karena kemungkinan untuk naik agak sulit menyusul adanya aturan yang membuat mata uang digital dilarang oleh beberapa negara.

Bank Indonesia menyebutkan bahwa resikoyang ditemukan dalam transaksi cryptourrency adalah, pertama, resiko konvertibilitas: tidak ada jaminan di tukarkan dengan fiat money, apalagi dengan viotilitas harga yang tinggi. Kedua, resiko perlindungan konsumen. Tidak ada pihak ketiga yang menangani keluhan nasabah. Ketiga, resiko operasional, yakni keaman system dan ekosistem di sekelilingnya belum terbukti. Keempat, resiko settlement, yakni nasabah melakukan transaksi melalui virtual environment sehingga tidak adajaminan settlement (sumber: bahan oresentasi BI januari 2018). Resiko yang dikemukakan Bank Indonesia bisa menjadi pertimbangan berbagai pihak yang melakukan transaksi cryptocurrency.

Pada sisi lain, banyak berita juga menjlaskan bahwa pengusaha yang menyediakan transaksi cryptocurrency turut serta mengalami kerugian dengan alasan komputer mereka di-hack oleh pihak lain sehingga walletnya hilang. Sebuah perusahaan di Jepang yang sangat terkenal melakukan transaksi bitcoin, yaitu MtGox, mengumumkan kebangkrutan pada 2014. Perusahaan ini menyatakan mengalami kerugian sebesar 0,5 miliar dollar AS akibat dompet yang dimilikinya dirusak oleh para perangkat lunak dalam computer.

Bithumb di Korea mengumumkan bangkrut karena di-hack dompet (wallet)-nya senilai 1 juta dollar AS. Bithumb merupakan salah satu bursa penukaran cryptocurrency terbesar di dunia yang mengotrol 20 persen transaksi etherium dan 10 persen transaksi bitcoin.

NiceHash kehilangan 4.700 bitcoin. Jumlah tersebut setara dengan 1.097 triliun mengingat harga satu bitcoin saat ini mencapai 234 juta. Pada 19 Desember 2017. Youbit Exchange, juga perusahaan Korea Selatan, mengumumkan bahwa perusahaannya bangkrut karena diretas oleh para peretas dengan besaran 27 persen dari asetnya. Kejadian ini merupakan kejadian kedua pada perusahaan tersebut. Dari contoh ini, seakan ada tujuan mendapatkan keuntungan dari kelemahan yang terjadi sehingga perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Indonesia. Berdasarkan situs web bitcoin Indonesia, sudah ada 1.013.305 rekening (sumber: https://www.bitcoin.co.id/). Coba kita bandingkan dengan para pihak yang melakukan transaksi di Bursa Efek Indonesia, di mana transaski ini lebih aman.

Di Indonesia

Pemerintah Indonesia secara tegas melarang bitcoin sebagai alat pembayaran. Hal ini disampaikan kepada publik pada Desember 2017. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga turut serta menyatakan bahwa transaksi dengan bitcoin tidak dapat diterima di wilaya Indonesia, pelarangan ini sesui dengan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta Undang – Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (sudah mengalami beberapa perubahan). Namun, pada pihak saya duka masih terus mentransaksikan atau menawarkan transaksi cryptocurrency tersebut sehingga perlu ditegaskan dengan tindakan langsung kepada pihak yang melakukan usaha tersebut.

Salah satu model berusaha di Indonesia, sering para pemilikk dana menggandeng pejabat yang sudah pensiun untuk duduk menjadi komisaris atau adviser dari perusahaan tersebut. Para pejabat ini yang diminta untuk bernegosiasidengan pemerintah yang sedang berkuasa agar usaha tersebut tidak ditutup dan menyatakan transaksi tersebut sengat diperlukan. Bahkan, kalau diperhatikan, model ini sudah menjamur di Indonesia dan beberpa pihak mengalami kerugian.

Pemerintah harus secara tegas duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang sedang suka melakukan transaksi cryptocurrency. Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementrian Perdagangan perlu memperhatikan secara seksama usaha ini karena banyak pihak mendapat izin dari salah satu lembaga tersebut.

Saling membantu atau kerja sama untuk melindungi masyarakat sangat diperlukan. Tujuan akhir dari tindakan ini adalah perlindungan terhadap masyarakat. Bahkan, pejabat yang dipakai        namanya perlu mengumumkan keluar dari lembaga tersebut untuk memperbaiki namanya. Mudah – mudahan ini bisa membuat semua pihak melakukan usaha yang lebih dapat memberikan kenyamanan kepada masyarakat.

Sumber: Kompas.3-Februari-2018.Hal_.24

Pembicaraan yang Menjual

 

Nosi Bahwa Seorang Penjualal adalah seorang yang hanya berbicara sattu arah telah lama kedaluwarsa. Mungkin anda membayangkankan para pedagang kaki lima yang memanggil – manggil pejalan kaki untuk memnonton perahaan mereka. Ya, itu masih ada dan mungkin masih berlaku di antara pedagang kaki lima.

Namun, konsep penjualan era terkini telah bergulir menjadi komunikasi dua arah. Inimembutuh pengenalan diri, pengenalan produk (product knowledge), kemampuan berkomunikasi positif, kemampuan persentasi, dan kemampuan menutup pembicaraan (closing­).

Mengapa demikian? Di era internet ini, penjual frictionless semakin menjamur. Setiap konsumen mempunya akses untuk melakukan riset, kompetisi produk, spesifikasi, dan studi kasus. Tidak ada lagi rahasia. Semua transparan.

Bagaimana seorang penjual membawakan diri merupakan faktor pembeda yang juga merupakan competitive advantage. Proses penjualan ini deikenal sebagai collaborative selling atau penjual kolaborasi.

Ada enam faktor yang mempengaruhi proses penjual kolaborasi. Petama, seorang sales perlu “melihat dunia” dengan kacamata seorang konsumen. Perspektif korporat bisa disimpan dulu sebagai pembanding. Sebaliknyam empati akan perspektif konsumen perlu dipegang sejak awal.

Dalam ilmu komunikasi bisnis, etnografi bisnis mampu menjawab bagaimana dan proses apa yang terjadi di dalam diri konsumen ketika proses komunikasi bisnis terjadi. Untuk singkatnya, seorang penjual hanya perlu mengamati bagaimana konsumen sesungguhnya menggunakan produk. Catat setiap dimensi yang terkadang overlapping.

Kedua, berpikir lebih dari keinginan dan kebutuhan (want and need). Ini merupakan dasar dari kampanye pemasaran, penjualan, dan strategi produksi. Namun, penjual perlu mengenal lebih dari sekedar apa keresahan (pain points) konsumen dan keinginan tambahannya.

Berpikir harapan (beyond) keinginan dan kebutuhan ini dapat dimulai dengan mengenali layanan – layanan tambahan, termasuk penyajian proses pemasaran dan penjualan. Kenali seperti apa pendekatanyang mereka harapkan dan hargai.

Ketiga, mempersiapkan presentasi sejak awal. Presentasi perlu dipersiapkan sejak awal dengan pengenalan keresahan secara mandala. Selain itu, bentuk dan pendekatan yang dihargai juga perlu diterapkan. Apakah sasaran pasar lebih “kena” dengan bentk Tanya – jawab ala kampus? Atau dengan pendekatan presentasi klasik? Kenali format yang lebih dihargai sasaran kelompok.

Fokus pada konsumen

Keempat, introduksi mengalir. Memperkenalkan produk baru dapat dilakukan dengan introduksi mengalir. Berbagai scenario dan format dapat dipersiapakan sejak awal, namun introduksi yang terbaik adalah intruksi yang mengali secara organic.

Ini membutuhkan strategi pemasaran yang matang. Bagi penjual, introduksi mengalir memungkinkan kesepakatan yang organic pula, dengan probabilitas yang lebih besar.

Kelima, bertanya dengan pertanyaan yang tepat dengan pertanyaan yang tepat. Seorang penjual yang baik bertanya dengan baik dan tepat tanpa faktor mendesak. Negosiasi dberjalan dengan sedirinya dalam konteks yang tepat.

Bertanya merupakan bagian dari menjual. Ketika bertanya digunakan dalam permbicaraan dalam konteks menjual, ia mampu berperan sebagai penentu arah pembicaraan yang menuju kesepakatan. Namun hati – hati dalam bertanya karena sebaiknya tidak terdengar pretensius dan “menjebak”. Kejujuran dan kesungguhan hati dalam berkomunikasi dapat terbaca jelas dari pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan.

Keenam, mengakhiri pembicaran denga tetap berfokus kepada konsumen. Forkuslah akan kebaikan yang akan diterima oleh konsumen, bukan ke tujuan atau misi korporat yang “ditipkan” oleh manajemen. Tentu juga bukan semata – mata fokus ke kesepakatan agar anada mendapat komisi.

Yang terakhir ini sangan “berbahaya”, karena ketika “terdengar” oleh konsumen, kepercayaan pada anda akan menurun drastic. Kuncinya adalah kejujuran dan kesungguhan dalam memberikan apa yang terbaik bagi konsumen, bagaimana produk memberikan solusi terhadap kebutuhan dan keinginan, serta bagaimana tim anda dapat memberikan sesuatu yang lebih daripada yang di harapkan.

Membangun kepercayaan bahwa anda “tidak mengejar komisi” membutuhkan ketulusan membantu. Setelah sekian banyaknya iklan – iklan deseptif, terutama di berbagai media sosial dan konten organic, konsumen semakin terasah akan berbagai bentuk desepsi (deception).

Akhir kata, memulai dan menutup pembicaraan dalam kontek menjual membutuhkan kemampuan tersendiri yang perlu direncanakan namun bergulir scara organik. Semakin berpengalaman seorang penjual, semakin ia mampu menciptaktan suasana (ambiance) yang berfokuskan kepada konsumen, baik dari kebutuhan, keinginan, hingga melampaui harapan – harapan klasik. Gunakan perspektif konsumen setiap saat.

Sumber: Tabloid-Kontan.5-February-2018

Strategi Memasarkan Bisnis Franchise di 2018

Oleh Rofian Akbar (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Franchise Indonesia)

Maraknya franchise di Indonesia akhir – akhir ini menjadi sebuah ancaman bagi para franchisor di dunia bisnis. Karena salah satu faktor yang paling berpengaruh pada bisnis franchise adalah franchisornya atau pewaralabanya. Di mana dalam membangun bisnis franchise seorang franchisor harus berkompeten dan tangguh dalam persaingan di dunia bisnis.

Bisnis franchise yang tengah “booming” bisa menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang tidak memiliki inovasi dan renovasi dalam membangun atau mempertahankan franchienya. Tetapi juga menjadi sebuah kesempatan bagi mereka yang baru dan memiliki inovasi dan ide – ide kreatif dalam berbisnis franchise. Dengan melihat fenomena terssebut, seorang franchisor mau tidak mau harus mampu mengembangkan kemampuan bersaingnya dalam dunia bisnis.

Beberapa tahun yang lalu mungkin kita masih ingat bagaiman Dunkin Donuts menjadi brand yang dominan dalam dunia donat. Yang memang dulu relatif tidak memiliki pesaing. Namun coba kita lihat sekarang, di mana – mana sudah muncul J – CO, Mister Donut, Krispy Kreme dll. Sama halnya juga dengan Pizza Hut, yang juga saat ini sudah diganggu oleh merek Domino Pizza dll. Hoka – Hoka Bento pun begitu pula, semula seolah – olah tanpa pesaing, sekarang ditantang oleh beberapa merek lainnya. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada yang stag dalam dunia bisnis, harus terus – menerus ada inovasi inovasi baru.

Di 2018, pemilik bisnis franchise (Franchisor) harus memiliki orientasi mengembangkan bisnis menjadi tangguh agar bisa bertahan di tengah – tengah persaingan yang semakin sengit. Sebab, jika sudah tagguh dan kuat, hail ini akan lebih mempermudah mengundang calon terwaralaba untuk memberi hak waralaba mereknya.

Apalagi kondisi perekonomian Indonesia diprediksi semakin membaik. Hal ini akan menjadi salah satu pendorong tumbuhnya berbagai produk baru yang di pasarkan dengan sitem franchise. Keadaan ini juga yang membuat segala bentuk informasi tentang franchise (waralaba) mulai dicari pasar, karena pada dasaarnya masyarakat mulai tertarik unutuk memasarkan produk – produknya dengan system franchise.

Nah sebelum kita sampai pada strategi memasarkan franchise kita pada franchisee tentunya kita harus memiliki kesiapan dalam memperkokohkan franchise kita sehingga bisa mengundang franchisee untuk berkerja sama dengan kita. Berikut persiapan yang harus di siapkan:

  • Mempersiapkan paradigm

Persiapa parafigma merupakan hal yang pertama yang dilakukan oleh pewaralaba (franchisor). Ketika kita telah memutuskan akan memfranchiskan bisnis kita, makan paradigm yang harus dimiliki bukan lagi paradigma untuk menjual produk/jasa kepada konsumen.

Misalnya, ketika kita memiliki bisnis makanan bakso, maka paradigm kita bukan lagi menjual bakso kepada pelanggan tetapi paradigm yang harus dibangung adalah menjual “bisnis” baksonya kepada calon – calon franchisee. Maka perlakuan untuk kedua jenis customer tersebut sangat berbeda. Yang pertama, kita bisa menjual kepada pembeli langsung yang merupakan pemakanan bakso kita, tetapi yang kedua, kita menjual kepada calon investor franchise yang belum tentu suka makan bakso. Namun Karena tertarik dengan bisnis kita maka dia membeli franchise kita.

  • Mempersiapkan Organisasi yang Solid

John Schnatten di usianya yang masih 20 tahunan, John mulai bereiraswasta dengan membuka took pizza. Ketika harus memilih merek, ia lebih suka menyusung namanya sendri, yakni John. Maka jadilah Papa John’s oada tahun 1984.

Berkat kegigihan dan sedikit keberuntungannya, ia berhasil melebarkan sayapnya menjadi 46 outlet pada 7 tahun pertama. Dan 7 tahun berikutnya jumlah outletnya melonjak secara eksponensial yakni lebih dari 1.600 unit. Tidak hanya itu saja, rata – rata penjualan per outletnya bahkan sanggup mengalahkan nama nama besar seperti Pizza hut, Domino’s dan Sebagainya.

Ada sedikit rahasia dibalik kesuksesan John, dan itu adalah kepawaiannya dalam memimpin. Tetapi tidak hanya sampai di situ saja, John juga memimpin para pemimpin – pemimpin (bisnis) kelas satu seperti Oney, Robert Wadell dan lain – lainnya.

Disinilah kunci kesuksesan John, selain ia juga pawai dalam memimpin, John juga melantik salah satu anggotanya untuk menjadi leader (ketua) anggota anggota lainnya. Itulah yang disebut hukum reproduksi kepemimpinan.

Sehingga semua anggota diberdayakan, akhirnya semua kendari tidak terpusat pada satu kepala saja. Karena, kita telah menggunakan system empowerment, dimana wewenang telah dipercayakan dan dititipkan kepada kepala setiap bagian dan tentunay hal ini dilakukan bertujuan untuk membentuk organisasi yang solid.

  • Mempersiapkan investasi

Persiapan terakhir adalah persiapan investasi. Di sini merupakan persiapan modal yang nantinya harus kita keluarkan untuk menjalankan bisnis franchise.

Setelah ketiga persiapan itu telah siap matang, saatnya kita menyiapkan strategi – strategi dalam memasarkan bisnis franchise. Yang di antaranya adalah:

  • Memberikan kunggulan produk yang bersaing

mengenai hal keunggulan suatu produk adalah suatu hal yan berkaitan dengan kreatifitas. Yang mana, hal ini berkaitan dengan perbedaan produk kita dengan produk saingan lainnya, sehingga menciptakan keunikan yang lain dari pada yang lain. Umumnya konsumen akan memilih produk yang memberikan nilai lebih pada dirinyaa. Oleh karena itu, kita dapat membuat produk yang baru dan sulit untuk ditiru para pesaing. Bila perlu kita dapat menggunakan strategi diferensiasi produk dan kemudian kita fokus untuk menggarap segmen pasar tertentu. Hal ini berguna membidik target konsumen yang ditentukan. Dengan demikian konsumen tidak akan berpaling pada produk lain, dan secara tidak langsung telah menciptakan keunggulan suatu produk dibanding dengan produk lain. Misalnya, dengan banyaknya franchise makanan junk food yang bertebaran di Indonesia, kita dapat menciptakan franchise makanan daerah uang diolah sedemikian rupa. Sehingga dapat menarik konsumen yang mulai bosan dengan makanan junk food dan berpindah ke franchise makanan daerah tersebut. dan hal ini tentunya akan menjadi bahan pertimbangan para franchisee dengan meliihat franchise  makanan daerah tersebut dengan pasar yang jelas.

  • Memperkuat produk merek produk

Untuk memenangkan persaaingan pasar yang semakin padat, kekuatan brand atau merek produk menjadi modal utama untuk memenangkan persaingan yang ada. Karena itu menjaga citra baik perusahaan dan memberikan pelayanan teraik bagi para konsumen adalah hal utama yang harus diperhatikan. Strategi ini secara tidak langsung dapat membangun loyalitas konsumen. Jika kita perhatikan bagaimana membangun citra yang baik ataupun brand nukan hanya sekadar dari promosi dari dalam perusahaan saja, akan tetapi promosi terbaik berasal dari konsumen sendiri. Sehingga pemasaran dapat berjalan dengan sendirinya melalui promosi dari mulut ke mulut para pelanggan.

  • Membuat rencana pemasaran yang kreatif

Selain memberikan produk dan pelayan yang terbaik, dalam memasarkan sebuat produk juga membutuhkan pemasaran kreatif untuk menciptakan daya tarik tertentu bagi para konsumen. Langkah ini dapat dilihat pada sebahian besar bisnis franchise yang saat ini ada di pasaran. Banyak dari mereka sengaja menggunakan both (gerobak) menarik, baju seragam mencantumkan logo dan nama brand yang menonjol untuk menarik minat konsumen, bahkan sampai menggunakan warna cerah untuk menarik konsumen. Sehingga bisnis yang dijalankan lebih menarik dibandding bisnis – bisnis non kemitraan.

  • Pemasaran dengan gencar

Poin ke empat ini tentulah menjadi point penting yang harus diperhatikan dan giat dalam memasarkan franchisenya dengan berbagai media, seperti beiklan di media segmented, mengikuti pameran waralaba, menjadi sponsor, dan sebagainya. Karena menjual franchise bukan proses sekali jadi, buka stand di pameran atau satu kali pasang iklan dan langsung mendapat pembeli. Menjul franchise adalah merupakan rangkaian proses yang terkain, dimulai dari memperkenalkan usahanya, memperhatikan kualitanya meningkatkan mereknya (Brand, melakukan positioning, menetapkan target market investornya dan kemudian mempromosikan franchisenya. Dengan strategi pemasaran tersebut, maka peluang dalam memasarakan produk – produk kita lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan strategi – strategi pemasaran. Selajutnya para pelauku usaha yang menjadi franchisor maupun franchisee dapat terhindar dari kemungkinan gulung tikar yang saat ini banyak dialami pelaku usaha.

Sumber: Franchise. Januari-2018.Hal_.78-79