Menjadi Jembatan Pemasaran

Astrid Juanita Stephanie yang merupakan lulusan food technology Universitas Gajah Mada dan Johannes Kristanto yang lulusan agriculture industry di universitas yang sama, berbagi mimpi untuk membuat bisnis dengan dampak sosial.

Setelah lulus menempuh pendidikan, Astrid sempat bekerja sebagai national sales manager di suatu hotel dan restoran. Demikian pula halnya dengan Johannes.

Berbekal latar belakang ilmu dan pengalaman bekerja di perusahaan produk makanan. Keduanya, mantap mendirikan PanenID pada Januari 2017 sebagai penghubung atau direct & fair trading agriculture product dengan konsumen akhir hotel dan restoran.

PanenID merupakan platform teknologi yang memiliki model bisnis untuk memotong rantai pasar, sehingga petani dapat langsung menjual hasil pertaniannya ke konsumen akhir, khususnya hotel dan restoran.

Adapun Astrid bertindak sebagai CEO dan Johannes menjadi chief technology officer atau CTO.

Astrid memaparkan, dengan modal sekitar Rp. 100 juta dari hasil jual kendaraan mobil miliknya PanenID mencoba peruntungan di Bali. Bukan tanpa alasan, Bali dipilih karena potensi segmen market yang dibidik sangat besar.

“Kami mulai di Bali dengan alasan memiliki lebih dari 5.000 hotel dan 200 diantarnya adalah bintang 5,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia mengatakan awalnya PanenID membina petani lalu hasilnya langsung dibawa ke pelanggan akhir (end customer). Namun, ada sedikit pembaruan saat ini PanenID mengambil posisi bekerja sama dengan para petani yang memiliki lahan dan melakuakan bagi hasil sebesar 70% dan 30%.

“Keunggulannya rantai kami pendek dan kualitas unggulan,” katanya.

Dia mengatakan PanenID masuk melalui dinas pertanian setempat untuk dipertemukan dengan petani-petani pilihan. Pihaknya kemudian membuat prototipe di satu lahan yang akhirnya berkembang.

Kini sudah ada 300 petani yang tersebar di delapan area yaitu untuk kawasan Bali ada di Auman, Pancasari, Belok atau Sidah, Ubud, Sanur untuk yang organik. Kemudian, kawasan Bogor ada dua lokasi. Selain itu, ada satu lagi di Getasan Jawa Tengah.

Saat ini, PanenID memiliki sekitar 300 komoditas pertanian dengan lebih dari 1.000 ton produk yang berhasil dikirimkan. Beberapa komoditas tersebut diantaranya, tomat, brokoli, dan cabai rawit.

Dari sisi pertumbuhan bisnis dan omzet, PanenID juga terus mengalami pertumbuhan signifikan.

“Januari 2017 vs Januari 2018, kami naik lebih dari 1.000%. [Untuk] Februari 2018 [dibanding Februari 2017] kami naik lebih dari 2.000%,” katanya.

Dia mengatakan dari sisi omzet, untuk dua bulan pertama yaitu Januari dan Februari 2018, juga melampaui omzet enam bulan pada 2017.

“Sekarang omzetnya per bulan di kisaran Rp. 500 juta. Targetnya [bisa] US$ 1 juta [untuk sepanjang] tahun ini [2018],” katanya.

Setelah dari Bali, PanenID juga mulai masuk ke Jakarta. Namun, beberapa tantangan dihadapi seperti persaingan.

Namun, pihaknya tetap optimis karena memiliki keunggulan dari sisi variasi produk yang mencapai 300 komoditas.

Selain itu PanenID juga telah memegang customer chain atau rantai pelanggan besar dari hotel dan restoran seperti Ayana, Padma, Four Season, dan Harris Group.

“Targetnya tahun ini ada di lima kota, bali, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung,” kata Astrid.

Baginya, untuk terjun ke bisnis di sektor ini, perlu dilakukan sesuai dengan passion atau minat karena langkah di awal akan berat sehingga jika tidak sesuai dengan minat akan mudah menyerah.

Dari sisi modal, dia juga mengatakan memang memerlukan tahanan modal yang besar bergantung dari perkembangan yang ingin dicapai. Hal tersebut karena dalam bisnis dengan target segmen market hotel dan restoran ini memiliki ketentuan pembayaran satu bulan.

PanenID juga terus melakukan inovasi dari sisi teknologi dengan mengembangkan sistem baru di lahan pertanian yang ada.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.25-Maret-2018.Hal_.5

Memupuk Semangat Wirausaha

Terkena pemutusan hubungan kerja tidak lantas membuat Bibit Ariyani [49] patah semangat. Sebaliknya, pengalaman itu membuat ia meneguhkan tekad untuk berhenti menjadi karyawan, kemudian memulai langkah baru sebagai wirausaha. Kini, semangat menggeluti telah mewujud dalam usaha tas berbahan ranting bambu.

Merintis usaha pada tahun 2008, Bibit ketika itu bermodal uang senilai Rp. 2 juta. Ia bersama dengan 10 karyawannya kini memproduksi sedikitnya 100 tas per bulan. Tas ini merupakan tas wanita dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari tas jinjing hingga ransel. Harga tas dari ranting bambu ini bervariasi dari Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000.

Produk tas ini telah terdistribusi ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Batam, Makasar, dan kota-kota di Kalimantan. Tas produksi Bibit ini pun juga memikat warga asing dan laku terjual ke Amsterdam, Turki, dan Abu Dhabi.

“Beberapa warga asing itu ada yang datang langsung ke rumah saya, ada pula yang lalu menindaklanjuti dengan meminta tambahan tas untuk dikirim langsung ke negara asal mereka,” ujarnya.

Sejumlah pelanggan, termasuk yang berasal dari luar negeri, tertarik karena tas ini memiliki karakter unik, jarang ditemui atau diproduksi di daerah lain.

Usaha Bibit ini berawal dari cerita pahit ketika dia dan suaminya menjadi korban PHK, setelah lebih dari 20 tahun bekerja di sebuah pabrik mesin fotokopi. Sempat merasa limbung dan bingung, tahun 2007, keduanya pun merasa tidak ada pilihan lain, kecuali pulang ke kampung halaman mereka di temanggung, Jawa Tengah.

Sejalan dengan pilihan kembali ke kampunng, Bibit pun bertekad tidak akan melamar pekerjaan dan menjadi karyawan lagi. Sebaliknya, dia bercita-cita mebuka lapangan kerja di desa.

Demi mewujudkan tekad itu, Bibit mulai mengeksplorasi potensi desanya. Ia mencari tahu usaha apa yang bisa dikembangkan dari skala mikro atau kecil. Akhirnya ia pun mulai dengan usaha membuat keripik pisang, menggunakan modal senilai Rp. 500.000.

Sekalipun produknya diminati, usaha keripik pisang yang sempay dijalankannya selam satu tahun itu perlahan mulai ditinggalkan. Dia tidak ingin meneruskan, karena pada industri makanan itu ada resiko kedaluwarsa dan terbuang sia-sia.

Setelah itu, dia pun mulai melirik peluang usaha membuat kerajinan. Di tahap awalm dia mencoba membuat tas berbahan tempurung kelapa dna tas berbahan ranting bambu. Ketika itu, semua dilakukan sendiri, hanya dengan mengandalkan kemampuan menjahit, dan kreativitasnya sendiri. “Saya hanya membayangkan, mencoba-coba, bagaiman tas ini kelihatan bagus dikenakan perempuan seperti saya,” ujarnya,

Lakuakan perbaikan

Sebagai upaya melakukan uji coba, dia mulai membuat 1-2 tas yang kemudian dijual dan ditawarkan ke tetangga, warga sekitar rumahnya. Hal itu dilakukannya berulang kali selama sekitar setahun. Dari upaya itulah, Bibit mendapat banyak kritikan, yang kemudian dipakainya sebagai bahan pertimbangan untuk terus memperbaiki produk.

Salah satu hal yang dikeluhkan oleh salah seorang tetangga, misalnya, adalah bagian ranting dan kulit kelapa yang mudah ditumbuhi jamur saat disimpan. Dari situ, Bibit kemudian belajar memakai obat atau bahan kimia pencegah jamur.

Seiring dengan upaya-upaya perbaikan itulah, dia mulai mendapatkan pesanan tas dari tetangga-tetangga sekitar. Tidak hanya mendapatkan pesanan, sebagian warga sekitar pun tertarik utnuk ikut membuat tas tersebut. Mereka tertarik untuk dilatih membuat tas. Akhirnya sebagian juga direkrut Bibit sebagai karyawan atau tenaga lepas dalam proses produksi tas.

Respons positif dan peningkatan permintaan dari lingkungan sekitarnya, mendorong Bibit mengembangkan pemasaran dengan memperkenalkan produknya ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Temanggung. Dari situlah, ia kemudian mulai diajakn untuk mengikuti pameran-pameran. Pada pameran pertama yang diikutinya tahun 2010, produk tas dari ranting bambu yang diproduksi Bibit mendapatkan respons tak terduga.

“Waktu itu, saya mendapatkan pesanan 102 tas dari Denpasar, Bali,” ujarnya. Permintaan tersebut dipenuhinya dengan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga sekitarnya.

Dengan makin seringnya mengikuti pameran, Bibit pun mendapatkan semakin banyak pesanan dari berbagai kota di Indonesia. Hal ini mendorong Bibit terus berkreasi mengembangkan produknya. Bahan ranting bambu, misalnya, dipadupadankan dengan bahan-bahan lain, seperti tali kur dan biji genitri.

Selain memproduksi, Bibit pun giat berbagi ilmu dan keterampilan pembuatan tas. “Sejak tahun 2010 hingga sekarang, saya mengajar, berbagi ilmu tentang cara membuat tas di lebih dari 20 sekolah,” ujarnya.

Ia tidak keberatan jikan karyawan atau orang yang oernah ia latih nantinya jadi pesaing usahanya.

“Saya ingin agar pada kondisi paling sulit, orang bisa mencari uang dengan bekal keterampilan sendiri. Saya ingin mengajarkan semangat berwirausaha, karena saya sendiri pernah mengalami masa susah, pernah di-PHK, dan merasakan krisis keuangan,” ujarnya.

 

 

Sumber: Kompas.10-Maret-2018.Hal_.19

Kembang Bawa Berkah

Niat untuk fokus mengurus keluarga membuat septi Dwi Mirantika pun mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai staf di salah satu media televisi nasional pada 2 tahun lalu.

Kondisi itu pula yang mendorongnya untuk memberanikan diri merintis usaha baru di bidang dekorasi, yaitu bunga kertas atau yang populer disebut paper flower.

Ketertarikan Septi terhadap paper flower bermula ketika dia menghadiri pesta pernikahan temannya yang menggunakan dekorasi bunga kertas tersebut. Penampilan dekorasi yang cantik membuatnya lebih serius mempelajari secara otodidak pembuatan paper flower melalui kanal video Youtube.

“Modal awalnya hanya Rp. 300.00-an, belajar sendiri dari Youtube, lalu iseng posting [hasilnya] di Instagram,” ujarnya.

Tak disangka, dalam bulan pertama dia pun langsung mendapatkan dua pesanan untuk paper flower melalui media sosial tersebut. Meskipun terbilang baru, namun mayoritas konsumennya tak kesulitan menemukan produk jualnya melalui tagar di Instagram.

Melihat potensi tersebut, Septi pun mulai menekuni bisnis Queenapaper, yang diambil dari nama anaknya, secara lebih serius.

Kini, Septi tak hanya mengandalkan Instagram sebagai alat pemasaran. Dia pun mulai merambah situs penjualan online lainnya seperti Bukalapak, Shopee, dan Tokopedia. Alhasil, bisnisnya yang dikerjakan dari rumahnya di Bekasi ini mulai dipesan oleh konsumen luar kota, sebut saja Jepara, hingga Jambi.

Untuk membuat paper flower yang awet dan berkualitas, dia menggunakan kertas berbahan jasmine yang cukup tebal dan memiliki kilau yang menarik. Paket yang ditawarkan pun beragam, mulai dari paket termurah Rp. 100.000 yang berisi enam paper flower beragam ukuran, hingga paket paling mahal seharga Rp. 350.000 yang menawarkan 25 paperflower beraneka macam warna dan ukuran.

“Kami gunakan kertas jasmine yang biasa buat undangan pernikahan. Lalu ukiran daunnya kita bedakan bentuknya dengan toko semacam biar dikenal dan menjadi ciri khas Queenapaper,” jelasnya.

Belum genap setahun dirintis sejak Oktober 2017, bisnis Queenapaper mulai menunjukkan peningkatan. Modal awal Rp. 300.000 pun hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk kembali dan berputar.

Hingga kini, setiap bulan Septi mengatakan dapat menerima 30 hingga 40 pesanan paket paper flower. Dari setiap paket yang terjual, dia mengaku dapat memetik untuk hingga 40%.

“Biasanya dipesan mayoritas untuk [dekorasi] tunangan, wedding, buat aqiah, tujuh bulanan dan acara ulang tahun juga bisa,” jelasnya.

Hingga saat ini, dia masih mengelola bisnisnya seorang diri. Septi biasanya meluangkan waktu di malam hari setelah anaknya tertidur untuk membuat paper flower pesanan pelanggannya.

Untuk membuat satu paket paper floweri, dia membutuhkan waktu rata-rata dua hingga tiga jam dalam sehari. Guna menjaga kualitas bunga kertasnya agar tidak penyok, dia pun menggunakan kardus yang dibungkus plastik untuk mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi hujan saat pengiriman.

Dia menjelaskan, salah satu tantangan menjalankan bisnis tersebut adalah memastikan ketersedian stok bahan baku kertas jasmine yang warnanya sesuai pesanan pelanggan. Sejumlah warnah seperti merah jambu, marun dan emas merupakan warna yang paling laris dipesan.

“Pernah sih [kesulitan menemukan bahan baku], kayak sekarang ini sudah hampir dua bulan warna pink agak susah. Jadinya kita tawarin warna lain,” ujarnya.

Saat ini dia mengatakan fokus untuk menjalankan bisnisnya. Dalam jangka panjang, Septi tak memungkiri niat untuk mengembangkan bisnis dekorasinya ke ranah lain seperti penyewaan backdrop, mengingat orang tuanya juga memiliki bisnis penyewaan alat pesta.

Namun, dia mengatakan cukup senang bahwa bisnis paper flower berhasil membawa rezeki untuknya, sekaligus membuatnya tetap dekat dengan keluarga.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.6

Katering Sehat Bikin Kantong Gemuk

Menu makanan sehat menjadi salah satu tema hangat dalam perbincangan di media sosial, seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kebugaran tubuh.

Ketertarikan tersebut membuka peluang bisnis bagi pengusaha katering. Tidak hanya di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, bisnis katering dengan sajian menu sehat pun kian marak di berbagai daerah seperti Balikpapan dan Mataram.

Kalangan pebisnis katering kebanyakan menyediakan masakan yang sesuai dnegan kebutuhan dan selera pelanggan, namun diberi label dengan konsep menu sehat.

Cukup banyak peminat makanan sehat, tapi tidak memiliki waktu untuk memasak, membuat bisnis itu makin layak untuk dicoba, khususnya bagi mereka yang memiliki hobi memasak dan juga perhatian terhadap pola hidup sehat.

Berbisnis makanan sehat, tidak hanya menyajikan makanan yang menarik untuk disantap baik dari sisi tampilan maupun rasa. Kandungan kalori dan gizi dari bahan-bahan yang diolah pun harus bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.

Tidak seperti katering pada umumnya, kreativitas untuk mencari inovasi menu baru agar pelanggan tidak bosan menjadi tuntutan. Pasalnya, makanan sehat kerap identik dengan image hambar dan tidak menarik untuk disantap.

Metode promosi pun bisa dilakukan melalui sosial media seperti Instagram. Dengan berpromosi di sosial media, tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan kocek untuk promosi dan menjaring pelanggan.

Bagaimana, tertarik mencicipi gurihnya bisnis makanan sehat?

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.5

Dana Memulai Usaha

Saat ini banyak masyarakat yang membutuhkan tambahan penghasilan karena berbagai alasan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah memulai usaha. Dalam perencanaan keuangan, menemppatkan uang dalam modal usaha sebenarnya merupakan salah satu bentuk investasi. Kelebihan dari jenis investasi ini adalah berpotensi memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis investasi lain dan juga memberikan peluang bagi pemilik usaha untuk menjalankan aktivitas sebagai pengusaha.

Namun, potensi keuntungan juga diikuti oleh risiko yang cukup tinggi, terlebih dalam hal potensi kehilangan modal usaha. Bagi calon pemilik usaha, selain mempersiapkan operasional usaha juga penting untuk mempersiapkan modal usaha. Apa saja alternatif dana yang dapat digunakan untuk memulai usaha dan kapan saat yang baik untuk menggunakan alternatif tersebut? Simaklah penjelasan berikut.

Pertama, mengumpulkan dana sendiri. Saat awal memulai usaha, opsi ini adalah yang menurut saya paling aman. Modal usaha dapat dikumpulkan dari tabungan pribadi. Dana dapat dikumpulkan secara bertahap atau bisa juga mengambil dari penghasilan lain yang bersifat tidak rutin seperti bonus atau hadiah. Jika tekad sudah kuat, pengumpulan dana untuk modal usaha sebaiknya dilakukan terpisah dari rekening untuk investasi lainnya. Apabila target memulai usaha sudah dekat, sebaiknya dana dapat dikumpulkan pada aset berbentuk reksa dana pasar uang.

Kedua, menjual aset dan barang berharga. Agar usaha impian dapat diwujudkan, tidak ada salahnya berkorban terlebih dahulu. Salah satu bentuk pengorbanan adalah menjual berbagai aset yang mungkin sudah tidak atau jarang digunakan, tetapi memiliki nilai tinggi. Contoh barang berharga yang dapat dijual untuk modal usaha adalah kendaraan yang sudah jarang digunakan.

Ketiga, mengendalikan aset dan barang berharga. Jika menjual barang masih belum sanggup dilakukan, alternatifnya adalah menggadaikan barang tersebut ke pegadaian. Hasil dana gadai digunakan untuk modal usaha. Aset yang sangat cocok untuk digadaikan adalah perhiasan dan logam mulia. Prosesnya relatif medah dan pemilik usaha dapat memperpanjang jangka waktu penebusan apabila masih memerlukan pinjaman.

Keempat, pengajuan pinjaman modal usaha ke bank atau koperasi merupakan alternatif berikutnya. Saat usaha sudah berjalan setidaknya dua tahun dan sebagai pemilik usaha ingin melakukan pengembangan, opsi keempat ini dapat dipertimbangkan. Tujuannya, agar pihak bank dapat melakukan studi kelayakan yang mempertimbangkan kemampuan usaha untuk membayar pinjaman ke depannya. Alternatif lain adalah mengambil pinjaman dana tunai atau pinjaman tanpa anguan. Jumlah pinjaman biasanya dimulai dari Rp. 5 juta hingga ratusan juta rupiah dengan jangka waktu pinjaman hingga lima tahun. Pahami bahwa cicilan pinjaman sebaiknya dibayarkan dari hasil penjualan usaha, bukan gaji dalam rumah tangga.

Kelima, mencari investor atau pemodal lain. Jika sendirian tidak cukup, mengapa tidak melakukannya bersama-sama? Mencari investor adalah alternatif terbaik untuk memulai usaha yang cukup efisien. Biasanya, kemitraan ini dijalankan di awal usaha. Pahami bahwa menggandeng investor, artinya rekan bisnis akan menjadi pemilik usaha juga alias memiliki porsi saham dalam usaha. Rekan bisnis akan berhak terhadap sebagian dari hasil keuntungan. Namun, jika usaha tidak balik modal, dana modal awal tidak perlu dikembalikan.

Hal ini berbeda jika mencari pinjaman lunak kepada teman mau pun saudara. Dalam hal mencari investor yang memberikan pinjaman, sebenarnya investor tidak menjadi bagian dari pemilik usaha. Namun, setiap bulan ada pengembalian pinjaman beserta bagi hasil yang harus dikembalikan kepada pemberi pinjaman tersebut.

Keenam, pinjaman dari peer to peer lending (pinjaman antarsejawat). Bagi pemilik usaha yang mencari pinjaman kepada lembaga nonbank mungkin dapat mempertimbangkan alternatif dari situs peer to peer lending. Sistem ini prinsipnya menjodohkan pemilik dana yang memiliki visi yang serupa. Pemilik usaha sebagai peminjam dana menawarkan jenis usaha melalui situs P2P, lalu pemilik dana yang tertarik dengan apa yang dilakukan akan memberikan dananya dengan imbal hasil tertentu. Kontrak akan disiapkan oleh pihak lembaga nonbank tersebut. Selain itu, pihak lembaga nonbank juga umumnya akan melakukan studi kelayakan sebelum memuat proposal di situsnya. Beberapa P2P memiliki strategi penyaluran dana yang berbeda-beda dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemilik usaha.

Opsi untuk mengumpulkan modal usaha memang cukup beragam. Bisa saja, pemilik usaha menggunakan kombinasi dari beberapa cara untuk dapat mewujudkan usaha impian. Namun, jangan lupa melakukan perhitungan matang agar dapat membayar cicilan modal usaha yang masih menjadi kewajiban. Live a Beautiful Life!

 

 

Sumber: Kompas.10-Maret-2018.Hal_.24

Co-working Space Murah Meriah

Geliat ekonomi di Bali memang dipacu oleh sektor pariwisata, ditopang dengan pesona alam serta atraksi budayanya.

Seiring dengan terpacunya pertumbuhan ekonomi Bali yang ditopang sektor pariwisata, sekaligus menciptakan pasar yang memikat bagi sejumlah pebisnis. Tidak heran, jika saat ini bermunculan usaha rintisan (startup) di Pulau Dewata.

“Orang berpikir Bali hanya tempat buat main-main [wisata], itu yang juga ingin kami ubah. Bali juga bisa memberi hal lain selain sunset dan pantai,” kata Faye Alund pemilik Kumpul Co-working Space dan KE{M}BALI Inovation Hub.

Kumpul berlokasi di Plaza Renon, salah satu pusat perbelanjaan di Bali yang berada di  Denpasar. KE{M}BALI berada di Sunset Road yang berada di kawasan Seminyak.

Faye menilai, dengan adanya pembangunan infrastruktur serta sejumlah fasilitas lainnya yang menyokong aktivitas wisata di Bali, akan semakin mendukung iklim usaha.

Namun, pola pikir masyarakat lokal lebih memilih menjadi pekerja. Faye mengungkapkan data, dari 10.000 lulusan technopreneur di Bali, hanya 10% yang membuka usaha.

Menurut dia, saat ini pertumbuhan wirausaha di Indonesia masih kecil yakni sekitar 0.8%. Padahal jika dilihat dari segi luas wilayah, Indonesia seharusnya bisa menyamai pertumbuhan bisnis seperti di Singapura yang mencapai 5%-10% per tahun.

Lantaran itu pula, Faye meyakini Bali perlu memiliki co-working space.

Hal menarik yang ditawarkan Faye adalah dia menyewakan tempat bekerja dengan harga terjangkau. Bisa dikatakan biaya yang dikeluarkan dengan bekerja di co-working space-nya bersaing dengan uang yang dibelanjakan jika memilih menyelesaikan tugas di kedai kopi, misalnya.

Faye mengenakan tarif sewa tempat bekerja mulai dari Rp. 30.000 per jam atau Rp. 2.5 juta per bulan. Dia menuturkan, karena lebih membidik komunitas lokal, maka biaya sewa ruang atau menjadi member tergolong murah. Biaya sewa yang diterapkannya diklaim lebih rendah dibandingkan pesaing.

Penyewa co-working-nya tidak sebatas orang lokal, asing pun menggunakan jasa sewa tempat bekerja tersebut.

Faye mengatakan semakin digemarinya bekerja di co-working space, dipicu kesempatan untuk bertemu dengan pekerja atau sejumlah pebisnis lainnya saat berada di ruang sewa bekerja tersebut.

“Selama ini dari co-working space yang kami kelola, ada sesama member yang tahu-tahu menulis buku bersama, ada juga yang membuka bisnis bareng,” katanya.

Perempuan yang giat bekerja tersebut, membangun Kumpul Co-working Space pada 2014. Sementara KE{M}BALI muncul pada awal Maret 2018.

Awalnya, Faye menyewa satu lantai di Rumah Sanur Creative Hub yang berkapasitas 50 orang. Disana, dia tidak hanya menyediakan meja, kursi, maupun fasilitas Internet ke pengunjung. Berbagai kegiatan penunjang bisnis juga diadakan, misalnya seminar.

Bisnis sewa tempat bekerjanya berkembang pesat, untuk itu Faye membutuhkan kapasitas ruang yang lebih besar lagi. Dia memilih satu pusat perbelanjaan untuk Kumpul, dan membangun gedung dua lantai untuk KE{M}BALI yang ditarget mampu menampung hingga 100 orang.

Dia mengharapkan dengan adanya peluang bertemu sejumlah pihak di co-working space, akan makin meningkatkan jumlah usaha rintisan di Bali.

“Penting untuk Bali memiliki ekosistem usaha yang bagus, [demikian juga untuk] daerah [wisata] lain seperti Lombok dan Labuan Bajo.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.11-Maret-2018.Hal_.6

Cari Ide dari Pelanggan

Berawal dari kesulitan dalam mendapatkan makanan sehat namun cepat saji usai melakukan olahraga fitness, Putu Depi akhirnya mencoba berkolaborasi bersama rekannya Desi untuk membuka layanan katering sehat berkonsep eat clean.

“Banyak yang kesulitan mencari makan sehat. Saya pikir apa gunanya berolahraga tetapi setelah itu diisi kembali dengan yang tidak sehat,” ujar Depi.

Menurut dia, makanan sehat sebenarnya tidak sulit untuk dibuat hanya perlu menyederhanakan proses dan mengurangi bahan tambahan dalam makanan tersebut. Sayangnya, masih belum banyak yang sadar akan pentingnya makanan yang sehat.

Dalam sebulan Depi melalui katering Tom’s Kitchen atau akun @tomskitchen17 bisa melayani hingga 40 pelanggan dalam satu bulan. Biasanya, banyak sedikitnya peserta katering tergantung dari momen tertentu.

Dicontohkan, biasanya, peserta katering sehat pada masa Lebaran dan Tahun Baru akan berkurang. Namun, setelah itu peminat katering bisa meningkat cukup signifikan.

Tom’s Kitchen berbeda dengan katering sehat lainnya, karena pelanggan bisa bebas memilih satu dari tiga menu yang disiapkan. Hal itu dilakukan untuk mengurangi kebosanan pelanggan terhadap menu-menu tertentu yang kerap menjadi momok ketika berlangganan katering.

Setiap harinya, Depi menyediakan dua kali pengantaran yaitu untuk makan siang dan malam. Untuk menu makan siang diantarkan mulai pukul 11.00 WIB dan santap makan malam mulai pukul 16.00 WIB.

Bagi yang sekedar ingin mencoba menu makanan sehat yang ditawarkan, bisa mencoba katering harian, yang artinya tidak perlu terikat dalam jangka waktu tertentu.

Untuk satu paket menu makan siang atau makan malam dibanderol Depi dengan harga Rp. 35.000 per boks. Harga tersebut sudah termasuk biaya untuk pengantaran seputar wilayah Kota Mataram dan Lombok Barat.

Agar tidak bosan, Depi kerap meminta masukan menu apa yang ingin disantap oleh pelanggan. Masukan dari pelangga tersebut diolah dan dimodifikasi olehnya agar tetap masuk dalam konsep makanan sehat.

“Saya pernah buat semacam ayam taliwang. Sebisa mungkin rasa dan aromanya dibuat mirip. Namun, memang untuk makanan sehat butuh effort yang besar, apalagi kalau harus mencari alternatif bahan pengganti seperti santan,” ujar Depi.

Dalam menjalankan bisnis katering sehat ini, Depi enggan disebut sebagai katering diet. Menurutnya, menjaga pola makan saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup untuk menurunkan berat badan.

Tak jarang, Depi mendapatkan pelanggan yang berekspektasi tinggi untuk mendapatkan berat badan ideal hanya dengan beberapa hari mengikuti katering sehat.

Sama seperti di kota besar, peluang dalam menjalankan bisnis ini dinilai masih terbuka lebar di Mataram. Pasalnya, banyak orang membutuhkan makanan untuk hidup sehat. Sayangnya, hal tersebut masih belum diimbangi dengan kesadaran masyarakat.

“Banyak yang mau hidup sehat, tapi banyak yang malas untuk mengolah. Maunya yang cepat, instan. Jadi kami mencoba menggarap peluang pasar ini. Kebetulan di Mataram belum banyak katering yang menggunakan konsep seperti ini,” ujar Depi.

Selain itu, diet dan menjaga pola makan sehat merupakan dua hal yang berbeda. Dalam menjalankan pola makan sehat, menurut Depi tidak perlu harus menghilangkan unsur dalam makanan seperti garam atau gula. Dua unsur tersebut tetap dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja takarannya yang harus dibatasi sehingga tidak berlebihan.

Depi menargetkan, dalam beberapa tahun mendatang Tom’s Kitchen akan membuka gerai makanan sehat dengan konsep eat clean. Rencananya, gerai tersebut akan dibuka dekat dengan tempat berolahraga yang ada di Mataram. Hal tersebut untuk memudahkan masyarakat dalam mencari makanan sehat dengan harga yang relatif murah.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.5

Cantiknya Laba Bunga Kertas

Ketika berpikir untuk memulai suatu usaha, kita biasanya langsung berpikir mengenai besarnya modal yang diperlukan. Belum lagi mengenai keterampilan yang dibutuhkan, waktu yang harus dialokasikan, dan rentetan tantangan lainnya yang harus dihadapi.

Namun bila jeli melihat peluang, sebenarnya ada jenis usaha yang tidak memerlukan modal besar, dan keterampilannya pun dapat dipelajari secara otodidak. Hal itu pula yang dilakukan oleh Septi Dwi Mirantika, pemilik toko Queenapaper, dan Ana Fitriana yang menjalankan usaha Kembang Paper.

Berbekal modal Rp. 100.000 hingga Rp. 300.000, kedua pengusaha tersebut dapat mengembangkan usaha paperflower atau bunga kertas menjadi lini bisnis yang beromzet jutaan rupiah setiap bulannya.

Bagi ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan namun tetap dekat dengan keluarga di rumah, bisnis paperflower patut dilirik.

Septi dan Ana juga berhasil membuktikan bahwa usaha bunga kertas merupakan usaha yang potensial dalam mengahasilkan laba yang cantik. Secara persentase, rata-rata keuntungan yang dapat diperoleh dari setiap paket bunga kertas dapat mencapai 40% hingga 45% dari harga jual.

Keterampilan dalam membuat bunga kertas pun bahkan dapat dipelajari secara otodidak dari media sosial dan Youtube. Kita tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk mengikuti kursus membuat bunga kertas.

Untuk promosi, bisnis ini dapat berjalan dengan cukup mengandalkan media sosial. Baik itu dengan membuka toko online di sejumlah marketplace, hingga mencantumkan tagar yang kreatif di media sosial Instagram.

Penampakan dekorasi paperflower yang cantik dan harganya yang terjangkau kini membuat dekorasi ini diminati oleh generasi muda. Dengan jumlah populasi generasi milenial (20 tahun-34 tahun) yang dapat mencapai 34% dari total populasi Indonesia pada 2020, tentu menjadi pasar yang cukup menjanjikan. Tertarik?

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.6

Bisnis di Dua Kota

Jiwa wirausaha nampaknya memang kental berada dalam diri Ana Fitriana. Sejak kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tangerang, dia terbiasa mengambil tawaran kerja lepas di bagian penjualan.

Seakan tak cukup, di sela-sela aktivitasnya itu, dia pun melirik bisnis bunga kertas atau paperflower yang sedang populer dan mulai mendirikan toko online bernama Kembang Paper sejak Juni 2017.

Menurutnya, tren dekorasi bunga kertas membuat bisnis ini memiliki prospek yang cukup menarik di kalangan kawula muda. Selain itu, bisnis ini juga ramah bagi pemula, mudah dipelajari, dan tidak memerlukan modal besar untuk memulainya.

Terbukti sejak awal pendiriannya, pesanan pun mulai berdatangan mulai dari kalangan teman-teman kuliahnya, dan merambah hingga masyarakat luas.

“Aku buka modal Rp. 100.000. Belajar membuat pola melihatnya dari tutorial Instagram luar negeri sama Youtube,” ujarnya.

Untuk menarik minat konsumen yang luas, Kembang Paper menyediakan beragam paket bunga kertas dengan varian  harga yang cukup terjangkau. Paket paling kecil seharga Rp. 150.000 untuk 13 bunga, hingga termahal Rp. 500.000 yang menyediakan puluhan bunga kertas untuk dinding dengan lebar hingga dua meter.

Keuntungannya pun cukup lumayan, dia menggambarkan untuk setiap paket seharga Rp. 150.000, dia dapat menikmati keuntungan hingga Rp. 70.000.

Pelan tapi pasti, bisnis yang dipasarkan secara online melalui media sosial Instagram dengan akun @kembangpaper ini pun mulai menunjukkan hasilnya. Ana mengatakan telah menerima rata-rata puluhan pesanan secara online.

Terlebih lagi, bisnisnya pun telah berkembang lebih jauh. Selain menjual dekorasi bunga kertas, Kembang Paper juga menyediakan jasa sewa backdrop pesta dengan beragam ukuran, mulai dari 1 meter x 2 meter hingga 2 meter x 3 meter. Harga sewanya berkisar Rp. 850.000 hingga jutaan rupiah. Setiap minggunya dia mengatakan rata-rata menerima pesanan dua penyewaan backdrop.

“Untuk backdrop sebenarnya desain tergantung keinginan customer, bisa disesuaikan dengan tema juga. Pakemnya tetap dari aku tapi tema di bagian bawahnya terserah mau apa, bisa rumput, daun juntai, kayu,” jelasnya.

Memanfaatkan relasi saudara yang tinggal di Lampung, Ana menjalankan bisnis dekorasi tersebut di dua tempat, yaitu Jakarta dan Lampung. Di Lampung, ia mengkhususkan bisnisnya lebih ke penyewaan backdrop karena jarangnya ketersedian kertas jasmine sebagai bahan baku dekorasi paper flower di kota tersebut. Sementara itu di Ibu Kota, Kembang Paper melayani permintaan bunga kertas sekaligus backdrop.

Hingga saat ini, dia dibantu oleh beberapa orang untuk menjalankan Kembang Paper. Adiknya berperan sebagai admin media sosial, tetangga rumahnya ikut membantu pemotongan kertas, saudaranya di Lampung menjalankan sewa backdrop di Lampung, dan Ana sendiri berperan dalam penentuan pola bunga kertas.

“Mebuat paper flower itu seperti memasak. Jadi orang maunya apa, warna apa, baru kita bikin. Dibikin mendadak [sesuai pesanan] dengan dibikinin sendiri hasilnya beda,” jelasnya.

Dia optimis bisnis ini dapat berjalan secara berkelanjutan, dan tidak khawatir dengan tren dekorasi yang berganti. Pasalnya, bunga kertas dapat dipakai hingga beberapa kali, dan harganya pun cukup terjangkau.

Untuk pemasaran, Ana mengandalkan promosi gratis ongkos pengiriman untuk meningkatkan penjualan.

Dia menilai pelanggan lebih menyukai promosi gratis ongkos kirim ketimbang inovasi bunga kertas. Terbukti, setiap kali dia mengadakan promosi ongkos kirim, pesanan bunga kertas pun dapat meningkat hingga dua kali lipat.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.6

Berburu Ilmu ke Singapura

Terpikir untuk menjalankan bisnis roti bakar, dimulai dari kebiasaan Aditya dan Rya Dhelanto keluar masuk kafe bersama rekannya.

Dari sana dia mengamati, jika kafe yang didatanginya menjual penganan roti bakar.

“Awalnya kami suka nongkrong di kafe. Kebanyakan kafe menjual roti bakar. Dari situ kami berpikir untuk membuat kafe sendiri dan roti bakar adalah menu utama kami,” kata Aditya.

Aditya dan Rya kemudian mencari tahu lebih banyak terkait pangan roti bakar, untuk mendapatkan produk dengan cita rasa yang berbeda dibanding makanan sejenis lainnya.

Dapoer Roti Bakar membidik konsumen dari berbagai kalangan. Hal itu disesuaikan dengan harga jual yang dimulai dari Rp. 12.000 per porsinya.

Adapun target utama pelanggannya orang yang berusia 15-40 tahun. “Sebagian besar adalah pelajar atau mahasiswa dan keluarga muda yang menyukai wisata kuliner,” kata Aditya.

Dia mengemukakan bahwa pangan roti bakar sudah populer di kalangan masyarakat. Namun selama ini yang diketahui terkait roti bakar adalah panganan yang berbentuk tipis, dengan topping cuma coklat, keju, stroberi, dan nanas.

Sementara itu, Dapoer Roti Bakar dalam panganan roti bakarnya menggunakan konsep blue ocean dan red ocean.

Dalam konsep blue ocean, membuat bahan baku seperti roti, selai dan sirup sendiri atau home made dengan mengutamakan kualitas dan keunikan produk.

“Konsep blue ocean  dimana kami menganggap bahwa kompetitor relatif tidak ada,” ujarnya.

Harga jual mulai dari Rp. 12.000 sampai dengan Rp. 30.000. Dapoer Roti Bakal mengutamakan produk yang unik.

“Kami adalah USP atau unique selling proposition dan terobosan yang inovatif,” kata Aditya.

Salah satu produk unik yang diandalkan adalah roti selimut hijau yaitu roti yang dibungkus daun pisang dan roti martabak yang dibungkus dengan adonan kulit martabak.

Selain roti bakar juga menjual Indomie, susu segar, jus alpukat, dan aneka nasi.

Membesarkan usaha roti bakar bukan hal yang mudah. Aditya merasakan jatuh bangunnya usaha yang ia rintis.

Awalnya, usaha roti bakar Aditya dan rekannya yaitu pada 2011 bernama Warung Papa Roti, kemudian baru berganti nama menjadi Dapoer Roti Bakar, dengan pertimbangan nama kafe sebelumnya terkesan tidak menampilkan produk yang dijual.

“Dulu sempat 8 kali buka tutup, lalu mengganti nama saat ini di usaha yang ke sembilan,” kata Aditya.

Aditya sebelumnya memutuskan untuk memperlajari bisnis roti bakar di Singapura selama 10 hari, hingga akhirnya nama Dapoer Roti Bakar pun muncul. Saat ini sudah ada 8 gerai Dapoer Roti Bakar, dan empat outlet diantaranya milik sendiri dan lainnya dalam bentuk kemitraan.

Adapun outlet Dapoer Roti Bakar ada di Pasar Minggu, Jalan Raya Pasar Minggu km 18, Ruko No 72d, Jakarta Selatan, Dapoer Roti Bakar Citra Raya: Jl. Ecopolis Boulevard Blok P No 151, Citra Raya, Cikupa, Dapoer Roti Bakar Condet: Jl. Raya Tengah No. 16, Jakarta Timur, Dapoer Roti Bakar Utan Kayu: Jl. Raya Utan Kayu Mataram, Jakarta Timur, Dapoer Roti Bakar Pondok Gede: Jl. Lubang Buaya Pondok Gede, Jakarta Timur, Dapoer Roti Bakar Jl. Arteri Kedoya no 8a, Jakarta Barat.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.25-Maret-2018.Hal_.6