Pertumbuhan Wirausaha Diupayakan

TANGERANG, KOMPAS – Negara membutuhkan lebih banyak orang yang berwirausaha. Jumlah pengusaha sangat perlu diperbanyak untuk menggerakan perekonomian nasional. Presiden Joko Widodo menyampaikan sejumlah langkah untuk mendorong pertumbuhan wirausaha antara lain dengan segera mengesahkan Undang-Undang Kewirausahaan.

“Di dalamnya (RUU Kewirausahaan) menyangkut percepatan ekonomi untuk pengusaha pemula, ini penting sekali. Tadi disampaikan bahwa pengusaha di Indonesia dari 1,6 persen di tahun 2014, meloncat menjadi 3,1 persen. Ini perlu diperkuat dengan adanya regulasi yang jelas, yaitu UU Kewirausahaan.,” kata Presiden di hadapan Sidang Dewan Pleno II dan Rapat Pimpinan Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Kota Tangerang, Banten, Rabu (7/3).

Sejalan dengan itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kucuran kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama ini nilai kredit untuk UMKM kurang dari 20 persen total kredit yang ada. Menurut Presiden, nilai itu sangat kecil sekali. “Seharusnya lebih dari 30 persen (dari total kredit yang dikucurkan bank),” kata Presiden.

Terkait hal itu, Presiden meminta Menter Koordinator Perekonomian Darmin Nasution untuk mengajak kalangan perbankan menaikkan plafon kucuran dana pinjaman untuk UMKM. Namun, upaya ini perlu mendapat paying hukum dalam UU Kewirausahaan yang belum disahkan.

Presiden berpandangan, pengusaha kelas kecil harus bisa naik kelas ke skalah menengah dapat berkembang hingga ke skala konglomerasi. “Jadi, nanti dalam siding pleno, tolong dirumuskan, jurus-jurusnya seperti apa, saya terima jadi saja, terutama dengan UU Kewirausahaan itulah, kita capai keinginan,” pesan Presiden pada Hipmi.

Ketua Umum Hipmi Bahlil Lahadalia menyampaikan organisasi ini menaruh perhatian serius pada sektor kewirausahaan. Hipmi berharap pemerintah memberi ruang bagi pengusaha lokal lebih terlibat pada pembangunan nasional.

Kami memandang negara butuh pengusaha baru yang berjiwa nasionalis. Sebanyak 70 persen pendapatan negara diperoleh dari pajak, sementara pajak itu paling banyak dari pajak usaha. Tidak ad acara lain untuk meningkatkan pendapatan negara, (selain) dengan mendorong bertambahnya jumlah pengusaha,” kata Bahlil.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Panitia Khusus RUU Kewirausahaan Nasional DPR Ichsan Firdaus sepakat bahwa RUU tersebut mendesak untuk segera disahkan. Ichsan mengatakan, RUU Kewirausahaan saat ini dalam tahap pembahasan. Namun, pada tahap pembahasan ini, beberapa hal masih perlu diperkuat. Hal itu antara lain terkait pengaturan agar program kewirausahaan di seluruh kementrian dan lembaga tidak tumpeng-tindih.

Ichsan menargetkan selambat-lambatnya RUU Kewirausahaan bisa disahkan sebelum 17 Agustus 2018.

“Kami mau segera selesaikan. Ada hal yang mesti kami perbaiki, karena banyak unsur yang belum diakomodasi, terutama pada aspek perlindungan kepada wirausaha muda,” ujar Ichsan. (DD10/NDY)

 

Sumber: Kompas.8-Maret-2018.Hal_.18

Komunikasi untuk Kesuksesan Karier

Kita tidak bisa memasuki dunia kerja bermodalkan semangat dan kecerdasan kognisi semata. Banyak hal yang harus dipersiapkan termasuk softskill seperti komunikasi. Kemampuan yang satu ini sangat penting dan harus disiapkan dari sejak awal Anda melangkah ke dunia kerja.

                KEMAMPUAN komunikasi dibutuhkan dari sejak wawancara awal. Lain bidang kerja, tentu berbeda juga bentuk komunikasinya. Tidak hanya di dunia kerja, saat anda berwirausaha, komunikasi yang mumpuni mutlak harus dipenuhi. Berikut ini komunikasi yang ada di dunia kerja.

Komunikasi Langsung

Komunikasi ini penting bagi Anda yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan pemasaran. Komunikasi langsung identik dengan face to face communivation. Anda harus bisa melakukan pendekatan secara persuasif dengan calon pembeli. Untuk melancarkan komunikasi, pelajari dengan saksama terlebih dahulu produk yang akan Anda tawarkan atau jual. Hal ini agar saat pembeli bertanya, Anda bisa menjawab dengan meyakinkan.

Komunikasi Tulisan

Kemajuan teknologi membuat seseorang tak perlu lagi melakukan suatu kesepakatan kerja sama dengan bertemu langsung. Sering sekali kesepakatan terjalin hanya melalui surel atau faksimile. Jadi, komunikasi melalui tulisan pun sama pentingnya. Cobalah Anda membaca banyak contoh perjanjian kerja, surat resmi, dan lainnya. Hal ini agar kosakata Anda semakin kaya dan mahir dalam membuat surat resmi.

Komunikasi dengan Rekan

Komunikasi nonformal sering delakukan dengan sesama rekan kerja. Namun, jangan remehkan komunikasi ini. Hal ini harus tetap dijaga dan memerlukan kemampuan berbahasa yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman antar-rekan kerja. Apabila komunikasi ini kuat, perusahaan akan semakin berkembang dengan pesat. Tak ada salahnya menyediakan waktu sepulang kerja atau saat libur akhir pekan untuk pergi bersama teman-teman atau sekedar berkumpul bersama. Kegiatan ini akan membuat ikatan Anda dan rekan semakin kuat sehingga komunikasi menjadi lebih baik. [*/VTO]

 

 

Sumber: Kompas-Klasika.8-Maret-2018.Hal_.34

Jalan Terang Pendidikan Kewirausahaan

Oleh Jony Eko Yulianto, Dosen Universitas Ciputra Surabaya

 

Pendidikan kewirausahaan berfungsi sebagai mini ekosistem pemahaman bisnis.

Rancangan Undang-Undang (RUU) Kewirausahaan yang kini sedang memasuki fase pembahsan akhir dalam sidang pleno Kementrian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) dan Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat (Pansus DPR) menuai harapan bagi perkembangan perekonomian di Indonesia, khususnya bagi para pebisnis kecil dan menengah. Undang-undang tersebut diharapkan bisa menjadi medium yang mampu menstimulasi geliat kelahiran beragam usaha-usaha baru di berbagai level. Beberapa pihak yang menyambut positif prospek cerah ini salah satunya adalah dari kalangan akademisi dan praktisi yang tertarik dengan pendidikan kewirausahaan.

Ketika payung regulasi telah sampai pada taraf pengesahan, maka isu tentang bagaimana situasi ekonomi dapat tumbuh sebenarnyatelah menjadi topik prioritas nasional. Sayangnya jikat kita cermati dengan seksama, isu-isu tentang pertumbuhan start up atau usaha rintisan selama ini masih berlangsung secara sporadis. Meskipun ada beberapa rintisan usaha yang kemudian menjadi bertambah besar dan bahkan mendominasi pasar, hal tersebut sebenarnya masih bersifat kasuitik dan tidak benar-benar mempresentasikan situasi ekosistem kewirausahaan secara nasional.

Kondisi ini sebenarnya membawa kita kepada sebuah pertanyaan reflektif yang penting yang perlu mendapat perhatian. Sejauh mana kita dapat menyambut momentum ini dalam hal penyediaan bibit-bibit wirusahawan yang kompeten serta berkualitas?

Maksudnya, kita tidak lagi memandang profil ekosistem kewirausahaan sebagai sesuatu yang berada di luar kendali kita. Sebaliknya, sudah saatnya kita berpikir dengan jernih untuk menciptakan sebuah ekosistem kewirausahaan yang kondusif. Caranya adalah melalui mekanisme penciptaan desainsecara sengaja lewat pendidikan kewirausahaan.

Ekosistem kewirausahaan yang kondusif dan bersifat by design, akan menjamin usaha-usaha yang muncul bukan hanya tampil sebagai usaha rintisan yang asal berdagang saja dan mendapatkan keuntungan, malainkan start up yang mampu meberikan nilai tambah (added value) dan mengambil peran sebagai solusi bagi permasalahan kebutuhan pasar. Prinsip ini yang sebenarnya amat penting dan esensial ketika berbicara tentang hakikat kewirausahaan. Kita tentu tidak berharap Undang-Undang Kewirausahaan yang akan muncul hanya berfungsi sebagai regulasi yang tidak melindungi sisi filosofis dari kewirausahaan itu sendiri.

 

Potong Waktu

Almarhum Bob Sadino dahulu kerap mengajukan sebuah pernyataan yang kontroversial. Jika Anda ingin berbisnis, keluarlah dari kampus mulailah berbisnis. Pernyataan ini sebenarnya sedang menggambarkan bahwa membangun bisnis tidak semata cukup hanya dengan teori dari buku teks semata. Bob sedang menjelaskan bahwa kemamuan melihat peluang dan berkawan dengan resiko adalah sebuah kemampuan yang lahir berdasarkan pengalaman. Nah, pengalaman inilah yang akan membuat seorang pelaku start up semakin matang dan memiliki sensitivitas terhadap pasar di sekelilingnya.

Apalagi beberapa pebisnis besar juga dikenal memiliki kemampuan bisnisnya dari pengalaman dan bukan dari jalur pendidikan yang formal. Malah, hasilnya sungguh luar biasa.

Sebut saja Mark Zuckerberg, bos Facebook yang justru keluar dari Universitas Harvard. Lantas ada Jack Ma, bos Alibaba yang terkenal dengan video-video inspiratifnya untuk memberikan semangat kepada generasi muda untuk tidak takut gagal dan terus mencoba hal-hal yang baru. Ia mengaku mendapatakan keahlihannya justru dari berbagai pengalaman atas kegagalannya dalam menjalani sejumlah bisnis. Hal tersebut sudah barang tentu tidak sepenuhnya keliru.

Masalahnya, waktu yang diperlukan untuk mencapainya tidak sebentar. Tidak semua orang juga memiliki cukup waktu dan biaya untuk mengalaminya. Tidak semua orang juga mampu secara indipenden merefleksikan dan menarik pola-pola keberhasilan atau kegagalan yang dialaminya. Padahal hal ini merupakan proses ideal yang harus dilewati untuk menjadi seorang wirausahawan yang matang. Maka, kita membutuhkan sebuah mini ekosistem yang dengan sengaja kita ciptakan melalui pendidikian kewirausahaan.

Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, putra-putra Prsiden Jokowi, juga berwirausaha. Tapi jika kita cermati, sebenarnya mereka tidak benar-benar mulai dari nol. Mereka telah memiliki sebuah mini ekosistem melalui ayahnya semasa menjadi pengusaha mebel. Dengan mengamati dan menarik prinsip-prinsip tersebut, ditambah dengan kesempatan utnuk mendapatkan nasehat dari sang Ayah dalam waktu-waktu santai bersama keluarga, mereka hakikatnya sedang memotong waktu. Terutama waktu yang berkenaan dengan pengalaman kegagalan yang dialami oleh orang-orang yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan nasihat bisnis seperti itu, dari orang yang langsung terjun di kewirausahaan.

Pertanyaannya kemudian, berapa orang yang memiliki hak istimewa untuk mendapatkan mentor bisnis yang kapabel dan berpengalaman? Tentu saja tidak semua orang memiliki hal tersebut. Maka, disinilah peran dari para akademisi dan praktisi untuk dapat secara serius mempersiapkan sebuah mekanisme pendidikan kewirausahaan yang mampu memotong waktu proses wirausahawan-wirausahawan muda tersebut. Pendidikan kewirausahaan itu dapat berfungsi sebagai mini ekosistem yang akan memperlengkapi anak-anak didik itu dengan berbagai pengalaman, mentor, rekan-rekan sesama pelaku, dan lain sebagainya.

Peserta didik akan belajar tentang kewirausahaan bukan semata dalam kacamata ekonomi yang menekankan tentang pemerolehan untung, tetapi juga dalam perspektif liberal arts yang mengajarkan untuk membangun bisnis yang memiliki nilai tambah dan berperan sebagai solusi yang menjawab permasalahan pasar. Pendidikan kewirausahaan juga akan berfungsi sebagai komunitas yang akan menyediakan berbagai potensi bisnis. Mulai dari jejaring, ilmu pengetahuan, diskusi tentang tren terbaru (state of the art) dan lain-lain. Selain itu, para peserta didik tidak hanya belajar tentang bagaiman pengetahuan tetapi juga memiliki peluang untuk menjalin berbagai kolaborasi.

Dalam perspektif investasi, pendidikan kewirausahaan akan menjamin masa depan ekosistem kewirausahaan kita berisi aktor-aktor kreatif yang solutif. Maka, kini kita dapat pula melihat undang-undang kewirausahaan ini sebagai representasi jalan terang ekosistem kewirausahaan di Indonesia.

 

 

Sumber:

Ekowisata Lahirkan Pengusaha

Pariwisata telah menjadi salah satu primadona ekonomi Indonesia. Sektor ini pun menjadi sektor prioritas keempat dalam pembangunan sepanjang 2017, setelah pangan, energi dan maritim.

Bahakan Menteri Pariwisata Arief Yahya sering memprediksi bahwa sektor pariwisata akan menjadi sektor penyumbang devisa terbesar pada 2019, dengan proyeksi devisa mencapai US$ 24 miliar.

Adapun pada tahun ini, Kementerian Pariwisata memiliki target kunjungan wisatawan yang cukup ambisius, yaitu 17 wisatawan mancanegara dan pergerakan lokal 270 juta wisatawan nusantara.

Gembar-gembor pariwisata memang sudah sepatutnya diiringi dengan kehadiran sejumlah pengusaha baru. Di tengah derasnya investasi asing, para pengusaha lokal tengah berupaya menjadi tuan dan nyonya di tanahnya sendiri.

Dua orang pengusaha yang lahir dari industri tersebut adalah Eliana, pengusaha asal Sumatera Barat yang mendirikan Green House Lezatta, dan Maulana Kidangjati, pendiri Orangutan Kingdom, yaitu Online travel agenttravel agent yang menawarkan paket ekowisata ke daerah konservasi, tepatnya Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Kedua pengusaha itu sama-sama mengandalkan ekowisata, yaitu konsep pariwisata berwawasan lingkungan yang mngedepankan aspek konservasi alam. Selain itu, kedua usaha ini juga menerapkan aspek pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lokal, baik sebagai mitra bisnis, maupun sebagai pekerja.

Dengan ekowisata, masyarakat tidak hanya dapat menikmati liburan yang menyenangkan. Lebih dari itu, mereka juga akan mendapatkan wawasan baru.

Dari Orang Utan Kingdom, pengunjung akan memahami pentingnya mempertahankan konservasi orang utan di habitatnya, sedangkan dari Green House Lezatta, pengunjung akan mempelajari budidaya bercocok tanam. Menyenangkan sekaligus mencerahkan, bukan?

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.4-Maret-2018.Hal_.5