Usaha Mengelola Hasil Laut Rumahan ‘Bangkalan Seafood’. Jawa Pos. 6 Februari 2022. Hal. 6

Memproduksi dan berjualan makanan masih menjadi favorit bisnis bagi pengusaha pemula. Hal itu dilakukan Novy Rohmawatie. Lepas dari pekerjaannya sebagai guru, dia memberanikan diri menjual masakan hasil laut.

USAHA rumahan Novy bermula pada 2018. Kala itu, dia juga masih berprofesi pengajar, plus ibu dua anak. Suami Novy, Dzikrullah, kebetulan merupakan supplier hasil laut. Dia menjual hasil laut kualitas ekspor dari Bangkalan, Madura, ke restoran-restoran dan hotel-hotel di Surabaya.

Novy pun terpikirkan ide untuk berkolaborasi bersama suaminya. “Saya kebetulan hobi masak dan suka makan seafood. Suami distributor. Ya sudah, sekalian saja toh,” katanya.

Setelah memberanikan diri resign dari tempatnya bekerja, Novy mulai men- coba memasak untuk dijual. Modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp 30 juta. Semua itu digunakan untuk membeli bahan dan peralatan.

Semula, dia hanya memasak lobster dan kepiting. Semua metode dicoba. Mulai direbus, digoreng, hingga dicampur dengan bumbu asam manis. “Awalnya ya coba-coba terus. Oh, ini rasanya terlalu strong, coba lagi. Ini rasanya light, coba lagi. Coba terus sampai berhasil ketemu rasa yang pas,” ujar perempuan 31 tahun itu.

Setelah beberapa kali percobaan, Novy mulai menjual lobster kepada relasi dan teman-temannya. Hasilnya, banyak yang memuji masakannya. Dia pun semakin yakin langkahnya untuk berwirausaha tidak salah. Kemudian, ibu dua anak itu menamai usahanya dengan brand “Bangkalan Seafood”:

Novy juga terus mencoba berbagai resep untuk berbagai hasil laut. Selain lobster dan kepiting, dia memasak rajungan, cumi cumi, udang, gurita, dan kerang. Variasi bumbu yang diracik juga bertambah. Tidak hanya asam manis, ada pula saus padang, pedas manis, saus singapura, lada hitam, dan saus inggris. Kemudian, ada pula bumbu kare yang dibuat khusus untuk kepiting dan rajungan.

Segmentasi pasarnya adalah kalangan menengah ke atas. Konsumennya brata-rata adalah karyawan, ibu rumah tangga, dan pengusaha. Novy mengaku, harga yang dipatok memang lebih mahal dari pasaran karena kualitas hasil laut yang menjadi bahan baku seafood adalah kualitas ekspor. Semua itu ada yang dia dapat dari nelayan, ada pula yang dia beli di pasar.

Novy mengaku, banyak tantangan untuk bisa bertahan. Sebab, banyak kompetitor yang menjual seafood dengan harga lebih murah. Namun, dia berprinsip ada harga, ada kualitas. “Saya kalau kepiting itu telurnya kurang dari 70 persen atau telurnya. sedikit, saya tidak mau beli dari nelayan. Karena konsumen saya juga kebanyakan suka kepiting telur. Saya jaga kualitas, meskipun mahal, tidak apa-apa,” papar alumnus STKIP PGRI Bangkalan itu.

Kendala yang Novy alami biasanya terkait musim. Saat musim hujan seperti sekarang, biasanya bahan baku sulit didapat. Angin kencang, nelayan jarang melaut. “Semua bahan baku harganya jadi naik,” katanya.

Harga hasil laut yang naik rata-rata terjadi pada November-Februari. Novy mencontohkan, tahun lalu saat hari biasa dan musim kemarau, harga kepiting Rp 250 ribu per kg. Menjelang akhir tahun melonjak hingga Rp 350 ribu per kg. kemudian turun pada awal Januari menjadi Rp 280 ribu.

Sekarang saat menjelang Imlek, permintaan seafood meningkat. Harga hasil laut naik lagi lantaran musim hujan dan permintaan yang naik menjelang Tahun Baru Imlek. Nantinya, kata Novy, harga itu menurun lagi ketika musim kemarau. “Maret Oktober biasanya harga dari nelayan agak murah. Harga jual kita juga ikut turun,” imbuh Novy yang kini sudah memiliki tiga anak.

Kini produk-produk Bangkalan Seafood dijual dengan sistem preorder. Pelanggannya meliputi konsumen di Bangkalan dan Surabaya. Novy yang kini memiliki dua orang karyawan belum terpikirkan untuk membuat rumah makan. Dengan kesibukan nya sebagai pengusaha dan ibu tiga anak, sementara ini dia memilih untuk bisnis dengan metode pesan antar. (rin/c13/dio).

 

Sumber: Jawa Pos. 6 Februari 2022. Hal. 6

Mindset Entrepreneur. Binis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 2

Oleh M Rochmad Purboyo

Baru-baru ini ada berita membanggakan dari kalangan startup, yaitu perusahaan rintisan di bidang makanan dan minuman asal Indonesia, Kopi Kenangan, resmi menyandang status unikorn.

Predikat unikorn atau perusahaan dengan valuasi minimal US$1 miliar itu diraih setelah startup F&B ini kembali mendapatkan suntikan pendanaan Seri C tahap pertama senilai US$96 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun.

Pencapaian Kopi Kenangan kala pandemi ini menambah daftar perusahaan yang menyandang gelar tersebut, seperti Gojek (yang juga menyandang gelar Dekakorn karena valuasinya sudah menembus US$10 miliar), Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Ovo, J&T Express, Ajaib, Xendit, dan OnlinePajak.

keberhasilan Kopi Kenangan ini bukan diraih begitu saja. Berbagai tantangan, hambatan dan kendala juga dialami oleh Edward Tirtanata, sa lah satu CEO F&B itu. Edward pernah merasakan beratnya berjualan pakaian, hingga gagal di usaha trading batu bara dan terpaksa jual rumah.

Namun, dia selalu berupaya melihat peluang. salah satunya membuka kedai kopi kekinian premium yang berlokasi di tempat strategis di area perkantoran dan mal dengan harga yang lebih terjangkau serta menggunakan nama minuman kopi yang unik. Kali ini perhitungannya benar dan kedai kopi ini langsung banyak peminat dan berhasil mendapatkan perhatian perusahaan pendanaan dunia.

Sifat ulet, pantang menyerah dan jeli melihat peluang memang harus dimiliki oleh para pebisnis. Situasi yang kurang menguntungkan harus dianggap sebagai peluang dan bukan hambatan dalam berusaha.

Inilah pentingnya memiliki mindset sebagai pengusaha. Salah satu faktor yang kerap membuat orang gagal dalam memulai bisnis adalah mindset yang kurang tepat. Apalagi bagi seorang karyawan yang mau terjun ke dunia bisnis.

Dia harus mampu mengubah mindset karyawan menjadi mindset entrepreneur yang selalu ingin keluar dari zona kenyamanan, berani mengambil keputusan, terus berupaya mengembangkan usaha, dan berani mengambil risiko tentunya dengan perhitungan matang.

Bagi beberapa bidang bisnis memang pasti terdampak dengan adanya pandemi ini, seperti usaha yang mengandalkan kunjungan atau keramaian orang dan transportasi. Dengan relatif redanya sebaran Covid-19, sudah selayaknya usaha yang selama ini terpuruk bisa mulai bangkit.

Kita tentunya berharap 2022 bisa menjadi awal baik bagi usaha-usaha yang terdampak pandemi. Para usahawan kelas kecil dan menengah bisa menata kembali usahanya dan bersiap untuk naik kelas menjadi usaha besar.

Tahun ini juga diyakini peluang bagi para pelaku usaha rintisan mengingat masifnya adopsi. digital masyarakat selama pandemi berlangsung, sementara startup merupakan perusahaan yang umumnya berbasis teknologi.

JADI MOMENTUM

Meredanya pandemi harusnya menjadi momentum bukan lagi hanya bertahan, tetapi pengusaha atau entrepreneur harus bisa mengembangkan usahanya. Tentunya yang dipersiapkan adalah usaha itu harus memiliki daya saing dan inovasi berbasis kreativitas dan teknologi.

Memang masih ada kesenjangan antara pelaku usaha besar dan kecil dalam hal produktivitas, kualitas manusia, hingga pemanfaatan teknologi. Untunglah pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya perbaikan, termasuk pendanaan bagi pelaku UMKM melalui investasi tahap awal dan peningkatan pembiayaan perbankan. Apalagi pemerintah berupaya meningkatkan rasio kewirausahaan yang saat ini sebesar 3,47 % menjadi 3,95 % dan mencetak 500 perusahaan rintisan dari berbagai kalangan pada 2024. Juga ditarget kan ada penambahan 1,5 juta wirausaha muda yang diharapkan hadir dengan basis inovasi, berkelanjutan, dan menciptakan lapangan pekerjaan

Untuk mendorong perusahaan rintisan, pemerintah setidaknya telah menyiapkan sejumlah kebijakan misalnya program inkubasi dengan stakeholder terkait termasuk badan usaha, lembaga inkubator, dan perguruan tinggi. Selain itu, kementerian juga tengah menyiapkan beberapa program pengembangan kewirausahaan digital baru.

Untuk pendanaannya, Kementerian BUMN juga siap membentuk Merah Putih Fund, Perusahaan pendanaan bagi startup ini bakal fokus mening katkan modal calon unikorn serta soon to be unicom (soonicorn).

Rencananya, pada paruh pertama 2022, Merah Putih Fund mampu mengucurkan dana sebesar US$300 juta atau berkisar Rp 4,29 triliun (kurs Rp 14.300) kepada para soonicorn dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ini menjadi peluang bagi startup Indonesia untuk lebih cepat menjadi besar.

Bagi pemula yang ingin menjajal berbisnis pun kini sudah banyak tawaran kemitraan yang risikonya lebih kecil. Pola kemitraan merupakan kerja sama antara perusahaan yang sudah relatif dikenal dengan pihak yang me mulai usaha melalui bimbingan dari perusahaan mapan tersebut dengan imbalan tertentu, seperti misalnya beli bahan baku, peralatan, hingga tempat usaha dari perusahaan bersangkutan, atau adanya royalty fee.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak berani memulai usaha, atau mengembangkan usaha. Berbagai peluang sudah tersedia dan contoh kesuk sesan juga banyak. Tinggal kita berani untuk mengubah mindset menjadi seorang entrepreneur sejati.

 

Sumber: Binis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 2

Foodpreneur Pantang Kendur. Binis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 4

Menyerah bukan kata yang pas bagi pebisnis tangguh pada masa pandemi ini. Bagi seorang pelaku usaha ataupun mereka yang mau berusaha, masa sulit justru harus disikapi dengan menjadikannya sebagai tantangan untuk terus berinovasi, mengembangkan diri maupun bisnis.

Perkembangan foodpreneur cukup pesat dengan menjamurnya bisnis makanan dan minuman. Hal ne dengan berjualan bubur dari rumah. ini tidak lepas dari berbagai inovasi seperti menciptakan waralaba makanan tradisional hingga makanan berbasis nabati.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengatakan, berkat inovasi tersebut dan juga kreativitas lain seperti penciptaan beragam rasa dan penjualan secara daring dengan pembayaran digital yang turut mendorong tumbuhnya bisnis ini.

“Foodpreneur membuka peluang baru, startup baru, inovasi baru, Seperti Burgreens, itu kan baru, dia kembangkan makanan vegan. Kini tinggal apakah dia bisa bertahan dan berkembang,” tuturnya.

Bicara strategi peningkatan bisnis, menurut Anang, banyak foodpreneur di Indonesia yang salah langkah karena hanya berpikir bagaimana cepat un tung dan mengembalikan modal. Alhasil, usahanya tidak tidak bertahan lama.

Padahal, menurutnya, seorang foodpreneur harus ulet dan tekun menjalankan bisnisnya. Semua harus diperhitungkan dengan matang sejak awal mendirikan usaha. Mulai dari mengatur produksi, mengatur keuangan, pemasaran, dan memastikan penjualan bisa berkelanjutan serta berkembang Modal adalah urusan kedua.

Foodpreneur, menurutnya, harus memiliki jiwa entrepreneurship. “Production, financial control, marketing and sales, itu diatur semuanya. Jangan asal, harus ulet, harus tekun,” tegasnya.

Anang memberi contoh foodpreneur yang cakap. dalam meningkatkan bisnisnya yakni Edward Tirtanata dan James Prananto yang mendirikan brand Kopi Kenangan, Usaha kopi lokal tersebut baru-baru ini resmi menyandang gelar unikorn di bidang makanan dan minuman (F&B) pertama di Asia Tenggara dengan valuasi tembus US$1 miliar. “Kopi Kenangan saja sudah mencapai unikorn. Luar biasa,” sebutnya.

Menurut Anang, pemerintah perlu mendukung bisnis kuliner lokal. Pasalnya, konsumsi domestiknya cukup besar dan tidak tergantung pada perdagangan luar negeri. “Konsumsi domestik akan menciptakan permintaan domestik dan menciptakan orang yang mau berinvestasi. Artinya, ekonomi Indonesia bisa berputar. Kembangkan ini di dalam negeri. Jangan langsung ke mancanegara,” tuturnya.

Satu kisah untuk tetap berjuang hadir dari seorang pilot maskapai swasta Ronald Darmadi. Pandemi Covid-19 yang menghantam sektor penerbangan membuat Ronald banting setir untuk sementara waktu menjadi pengusaha bubur

Ronald dibantu sang istri akhirnya menjalankan usahanya yang diberi nama Bubur Boetjin. Usaha yang pada awalnya menggunakan mobil di kawasan Gading Serpong, Tangerang, itu pada Maret 2020 tersebut kini berkembang menjadi puluhan cabang.

Perkembangan bisnis itu tidak lepas dari ide Ronald yang memanfaatkan layanan pesan antar ojek online dengan berjualan bubur dari rumah.

Dari bisnis rumahan hingga akhirnya Ronald membangun kemitraan usaha. Penjualan bubur ini pun bisa dilakukan dari rumah atau berkonsep ghost kitchen. Kemitraan ini ternyata cukup menarik minat banyak orang hingga kini tercatat Bubur Boet jin memiliki 60 cabang di 13 kota.

Dengan modal kemitraan tersebut, keuntungan bersih yang bisa didapat pun cukup menjanjikan. “Omzet rata-rata Rp20 juta-Rp30 juta per cabang,” papar Ronald.

Selain sabar, ulet, dan konsisten menjaga kualitas rasa, kunci sukses Ronald adalah inovasi, bahkan dia memaksimalkan media sosial mulai dari Instagram hingga TikTok untuk meningkatkan branding. Usahanya pun sempat viral di TikTok dan akhirnya menarik minat banyak pelanggan.

BERTAHAN DARI KRISIS

Pengalaman pengusaha kuliner lainnya yang mampu bertahan dan melewati krisis pernah dialami pemilik restoran ayam goreng cepat saji, d’Besto Evalinda Amir dan suaminya, Setyajid. Pengusaha yang berlatarbelakang dokter hewan ini dua kali menghadapi krisis, yakni krisis moneter dan wabah flu burung. Namun, bisnis ayam goreng yang didiri kan pada 1994 itupun bertahan hingga saat ini.

Corporate Secretary d’Besto, Wahyu Pambudi mengatakan, rintangan yang dihadapi tidaklah mudah bagi usaha yang pada awalnya disebutnya usaha gerobak bernama Ku FC yang kemudian menjadi mini resto dengan nama d’BestO ini.

“Founder kami pada 2011 merintis brand baru. Waktu itu belum terlalu banyak, mulai 2013-2014 kami mulai buka franchise,” jelas Wahyu.

Perlahan tetapi pasti, d’Besto kini tercatat memiliki 300 outlet yang tersebar di hampir seluruh wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Sumatra Barat dan Jambi. Dalam mengembangkan bisnis, Wahyu menilai bahwa pelaku usaha harus jeli melihat segmen pasar, misalnya masuk ke sektor-sektor yang belum terjamah. Selain berinovasi pada paket sajian menu, usaha ini juga memaksimalkan layanan digital agar bisnis berkembang.

Wahyu menuturkan d’BestO telah bekerja sama dengan banyak layanan pesan antar online dan beragam alat pembayaran digital. “Ini membantu scale up bisnis kami, agar bisa dikenal luas dan mudah diakses customer,” tuturnya.

Wahyu optimistis pada 2022, d’Besto bisa ekspansi dengan target dua kali lipat pembukaan outlet baru dari sebelumnya yaitu membuka lebih dari 8-15 outlet dalam sebulan.

Co-Founder Foodizz Sarita Sutedja menyebutkan, foodpreneur perlu memerhatikan sejumlah hal untuk meningkatkan skala bisnisnya. Pertama, rencana bisnis yang memang sejak awal usaha dibangun bertujuan untuk naik kelas. Dari situ strategi dan keuangan harus sudah tergambar jelas.

Kedua, bahan baku. Foodpreneur perlu mencari produk yang memang cocok untuk bisnis yang ingin dikembangkan, khususnya terkait dengan supl bahan baku yang mudah didapat. Ketiga, target segmen pasar yang memang besar, sehingga usaha bisa dikembangkan di banyak lokasi.

“Jika menjual steak seharga Rp300.000 tentu akan lebih sulit scale up dalam ratusan cabang di bandingkan dengan menjual steak dengan tepung harga Rp20.000,” ujar Sarita.

Keempat, adalah membangun brand. Menurutnya, brand sangat penting karena dengan melakukan scale up bisnis, berarti pelaku usaha itu akan masuk ke banyak pasar dengan karakter yang berbeda-beda. “Penting sekali untuk diperkuat dengan brand. Ini tentu akan memberikan impact yang berbeda,” jelasnya.

Kelima, fundamental perusahaan yaitu organisasi mampu memperkuat seluruh divisi dengan orang-orang yang memiliki kompetensi, mengadopsi teknologi, hingga membangun budaya yang kuat. Fundamental adalah kunci penting apakah seorang foodpreneur bisa melakukan scale up bisnisnya dengan cepat, tepat, dan berlanjut atau sebaliknya.

Kemudian, satu hal lain yang juga penting adalah inovasi. Menurutnya, inovasi harus menjadi budaya perusahaan sehingga foodpreneur bisa bergerak dengan cepat atau beradaptasi dengan perubahan yang bisa datang dari internal, pesaing, pelanggan, kebijakan pemerintah, hingga masa sulit atau situasi di suatu negara.

Selain inovasi, foodpreneur juga perlu memperbanyak kolaborasi dan mendapat dukungan tim serta pandai mengatur arus kas dengan ketat, efektif, dan efisien terutama dalam pengeluaran. “Ting galkan dulu sesuatu yang tidak produktif dan tidak memberikan kontribusi terhadap revenue perusahaan,” imbuhnya.

Jangan pula tergantung pada satu sumber pen apatan bisnis, misalnya 100% mengandalkan online delivery, tetapi jalankanlah pula omnichannel seperti menerima order melalui WhatsApp hingga membangun reseller

Peluang bisnis kuliner masih sangat menjanjikan pada 2021. Itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan Foodizz Juli-Agustus 2021. Disebutkan bahwa kuliner menjadi 3 pencarian terbesar [Top 3] di media sosial.

Kebiasaan Makan di Akhir Bulan

  • Dine in: 54%
  • Pesan melalui aplikasi GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood):50%
  • Take away dari restoran atau kafe: 45%
  • Aplikasi pengiriman makanan dari restoran/kafe: 7%
  • Layanan pengiriman makanan melalui call center restoran/kafe: 4%
  • Layanan pengiriman makanan via WhatsApp restoran/kafe: 4%
  • Tidak membeli makanan dari restoran atau kafe selama 3 bulan: 25%

Cara Konsumen Memesan Makanan di Luar Dine In

  • Aplikasi pengiriman pihak ketiga: 89%
  • GoFood: 61%
  • GrabFood: 49%
  • ShopeeFood: 22%
  • Dari aplikasi restoran/kafe: 9%
  • Melalui call center restoran/kafe: 7% • Melalui WhatsApp restoran/kafe: 7%
  • Lainnya: 6%

Hal yang Paling Banyak Dicari di Media Sosial

  • Keluarga:53%
  • Kuliner/makanan/restoran/memasak: 52%
  • Gaya hidup: 51%
  • Olahraga: 41%
  • Hobi (game/berkebun/dan lain-lain]: 34%
  • Kecantikan: 28%
  • Teknologi: 26%
  • Politik: 18%
  • Finansial & bisnis: 12%

Cara Menemukan Informasi tentang Kuliner

  • Akun kuliner di sosial media: 54%
  • Review youtuber: 41%
  • Review selebgram: 25%
  • Aplikasi untuk melihat restoran: 9%
  • Portal berita online: 9%
  • Lainnya: 14%

Lokasi Favorit Makan di Tempat (Dine In)

  • Warung makan di pinggir jalan: 56%
  • Warung tenda di pinggir jalan: 56%
  • Restoran mandiri: 55%
  • Kafe dekat rumah: 26%
  • Restoran di dalam mal (selain pujasera/foodcourt]: 22%
  • Pujasera di dalam mal: 17%
  • Pujasera di luar mal: 13%
  • Kafe yang berdiri sendiri: 12%
  • Kafe di dalam mal: 9%
  • Lainnya: 1%

 

Sumber: Binis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 4

Cuan Subur dari Metan Premium. Tabloid Kontan. 24-30 Januari 2022. Hal. 14-15

Peluang media tanam (metan) premium cocok untuk usaha sampingan de ngan margin minimal 120%

Kalau mendengar istilah  metan, orang awam bakal langsung berpikir tentang jenis gas. Tapi, istilah metan sudah familiar bagi para pehobi tanaman. Metan adalah media tanam.

Seiring dengan kian banyaknya penggemar tanaman, pamor metan pun naik. Misalnya saja, metan tidak melulu berasal dari tanah dan pupuk kandang belaka. Saat ini di pasar, ada metan yang berasal dari racikan dari cocopeat, humus, andam, hidroton, dan perlite.

Kemasannya juga bukan pakai karung seadanya atau plastik disablon merek. Ada yang menggunakan kemasan pouch standing yang premium. Harga pun jauh berbeda. Dulu kebanyakan metan dijual dengan harga Rp 5000 – Rp 15.000. Kini, Anda bisa menjumpai metan yang harganya Rp 60 ribu per kemasan.

Sifaul Wardani, pemilik Omah Metan mengungkapkan, empunya tanaman hias yang harganya mahal, tentu tidak mau ambil risiko dengan sem barangan memakai metan.

“Kalau asal pakai metan, risiko kematian tanaman jadi tinggi,” jelas Sifa, panggilan akrab Sifaul.

Sebutlah untuk tanaman jenis aglonema, kalau asal diberi metan yang banyak mengandung pupuk kandang ada risiko busuk batang. Karena sifat pupuk kandang yang panas, kurang cocok dengan aglonema yang batangnya cenderung mengandung air dan tidak keras.

Tak heran, pengoleksi tanaman biasanya memilih metan yang premium. Misalnya yang mengandung cocopeat, humus, andam, hidroton, dan perlite.

Bahan-bahan ini dibilang premium karena harganya lebih mahal daripada metan biasa yang berupa racikan kompos, sekam, atau campuran tanah dengan pupuk kandang.

Sifa menjual produk metan premiumnya seharga Rp 25.000 per dua kilogram. Dalam sebulan dia mampu menjual hingga 500 kg pupuk.

“Lumayan hasilnya untuk sampingan, lagipula proses pembuatannya mudah,” ujar Sifa yang juga punya usaha penjualan tanaman hias yang beromzet Rp 25 juta per bulan.

Sebagai ibu rumah tangga, omzet penjualan tanaman hias dan metan bagi Sifa sudah lebih dari cukup. Apalagi keuntung an yang didapat Sifa bisa lebih dari 50%. Dan lagi, Sifa yang dibantu satu karyawan untuk memproduksi metan itu, hanya memanfaatkan teras dan pekarangan rumahnya yang tak begitu luas.

Hal serupa dialami oleh Rachmad Satrio Putra pemilik usaha Tanaman Istimewa Solo yang memproduksi metan merek Metan Istimewa. Satrio, yang akrab disapa Yoyok, juga seorang pecinta tanaman hias terutama aglonema dan kemu dian berbisnis tanaman hias.

Nah sejak enam bulan ter akhir, Yoyok melebarkan sayap untuk mengkomersilkan metan racikannya. Karena masih bekerja di salah perusahaan ritel asal Korea Selatan, Yoyok efektif memproduksi dan menjual metan racikannya hanya di akhir pekan. Dalam sebulan bisa laku 80 sak. Harganya Rp 35.000 per 2 kg/sak.

“Semua masih saya garap sendiri. Karena respon market bagus, saya mulai tahun ini mau rekrut karyawan,” jelas Yoyok yang memproduksi metan di area pekarangan rumahnya.

Tak cuma Sifa dan Yoyok yang menjadikan metan sebagai sumber penghasilan sampingan, Alfatika Aunuriella atau Tika juga memanfaatkan peluang ini. Sejak awal tahun 2020, Tika memasarkan Metan Sultan melalui media sosial. Sama seperti Sifa dan Yoyok, Tika juga pecinta dan penjual tanaman hias.

“Kebetulan ada teman yang punya usaha penggilingan padi, dan sekamnya menggunung. Jadi saya ajak dia untuk memproduksi metan,” jelas Tika yang menggandeng temannya bernama Alya Mirza untuk ber bisnis metan.

Ketika masih awal jualan, Metan Sultan racikan Tika bisa laku hingga 300 pouch per bulan. Harganya Rp 25.000 per pouch. Ukuran pouch ini bisa untuk 5 pot ukuran diameter 8 centimeter (cm). Sedangkan yang kemasan ukuran 2,5 kg-3 kg bisa laku 50 sak. Harganya Rp 140.000 per sak.

“Kalau akhir tahun lalu per mintaan landai rata-rata terjual 500 pouch dan 100 sak per bulan,” jelas Tika.

Tika bilang, dia menyediakan ukuran pouch karena ingin mengincar pehobi tanaman yang baru. Pehobi baru, biasanya akan coba-coba dulu,

 

Sumber: Tabloid Kontan. 24-30 Januari 2022. Hal. 14-15

Berbisnis Demi Kelestarian Alam. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 8

Sejumlah pengusaha berbisnis bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi berupaya agar usaha yang dijalankan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan juga lingkungan sekitar. Salah satunya dengan mengolah limbah menjadi bahan yang dibutuhkan masyarakat.

Bapak entrepreneurship (alm) Ir. Ciputra pernah menyampaikan, entrepreneur adalah mereka yang bisa mengubah sampah menjadi emas. Konsep inilah yang diterapkan ecopreneur dengan memanfaatkan limbah sampah menjadi eduk bernilai tambah. Produk

Salah satu ecopreneur yang sukses menyulap limbah menjadi produk bernilai adalah Alterga Edi Tri Anggoro, Owner Jerawood. Pria kelahiran Magelang, 4 Desember 1989 ini mengolah limbah-limbah kayu yang berasal dari pabrik sekitar rumahnya menjadi produk kerajinan seperti jam tangan, kacamata, sprio (stereo aktif), dan sebagainya.

“Di daerah kami banyak limbah kayu dari pabrik dan itu berujung pada pembakaran. Lalu saya pikir bagaimana agar limbah ini ini dimanfaatkan saja sehingga nilainya bisa naik. Kami pun mengolah potongan-potongan kecil dari limbah kayu ini menjadi jam tangan dan kacamata,” tuturnya.

Meski berasal dari limbah kayu, memproduksi dalam Jerawood, pria yang akrab disapa Erga ini benar-benar memperhatikan kualitas kayu yang digunakan. Sebab, bagaimanapun bahan baku dan material menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi ecopreneur

“Karena ini limbah maka setiap pabrik pasti beda-beda ukuran dan potongan kayunya. Nah, ini yang harus benar benar kami sortir, misalnya dari 100% limbah yang kami ambil hanya 60%-70%% yang bisa digunakan,” ujarnya.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Erga tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi memberi nilai filosofi dan story dari setiap produk yang dijual, termasuk membuat packaging yang menarik dan finishing eco living yang tidak mengganggu lingkungan. Dengan demikian, konsumen juga dapat ikut merasakan kontribusi mereka dalam lingkungan sekaligus membantu brand lokal.

Menurutnya, penjualan produk Jerawpod sempat mengalami kendala pada awal pandemi. Namun, dengan memanfaatkan media sosial dan marketplace penjualan produk kembali meningkat. Adapun produk yang paling diminati adalah jam tangan dan kacamata dengan kisaran harga Rp350.000-Rp1,2 juta.

Dalam mengembangkan produknya, saat ini Erga terus fokus melakukan penyebaran informasi mengenai nilai filosofi dan kisah di balik proses produksi Jerawood, kemudian melakukan branding untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, dan selling atau penjualan.

Adapun untuk melakukan scale up bisnis, Erga lebih fokus pada segmentasi pasar, yakni mencari konsumen yang memang memiliki visi dan misi yang sama terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Mona Monika, Head of GSMC Bank DBS Indonesia mengatakan secara umum ada dua konsep entrepreneur yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, yaitu ecopreneur dan sociopreneur Ecopreneur biasanya lebih berfokus pada lingkungan sedangkan sociopreneur memberi fokus lebih kepada masyarakat atau manusianya.

Dalam proses perjalanan dan pertumbuhannya, dua tipe bisnis ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, makin baik lingkungan maka akan makin baik pula dampaknya untuk masyarakat. Begitu pula makin baik kualitas kehidupan dan intelektualitas masyarakat, akan memberikan dampak positif pada perbaikan lingkungan.

Terkait perkembangan ecopreneur di Indonesia saat ini, menurutnya ada potensi untuk terus meningkat seiring dengan mulai aktifnya pemerintah dan pemimpin negara di dunia dalam menjalankan agenda keberlanjutan.

“Namun ada tantangan yang dihadapi ecopreneur untuk dapat berkembang pesat di Indonesia, berbeda dengan negara maju. Sebab, negara berkembang seperti Indonesia belum memiliki standar kehidupan dan awar eness yang sama tingkat atau levelnya dengan negara maju,” tuturnya.

Meski demikian, saat ini sudah ada sejumlah pelaku in dustri dan bisnis yang telah memberikan perhatian khusus serta melakukan langkah-langkah signifikan untuk mendorong pertumbuhan ecopreneur di Indonesia.

Salah satunya Bank DBS melalui DBS Foundation yang memberikan dana hibah DBS Foundation SE Grant Pro gramme dalam program Towards Zero Food Waste bagi wirausaha yang bekerja mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu menghentikan perubahan iklim dengan menangani masalah sampah makanan.

RUMAH KACA

Karen Ngui Group Head DBS Strategic Marketing and Communications dan Board Member DBS Foundation mengatakan bahwa sampah makanan telah menjadi pe nyumbang besar emisi gas rumah kaca. Kaca “Towards Zero Food Waste ini berupaya untuk mendukung bisnis berdampak sosial untuk mengatasi masalah terkait, seperti, sampah pangan dan kesenjangan dalam rantai pasokan pangan,” ujarnya.

Salah pelaku usaha ecopreneur yang berhasil mendapatkan dana hibah karena mampu mengembangkan bisnisnya dengan mengolah sampah pangan adalah Kita Hebat. Dalam pengembangan bisnisnya, Kita Hebat berfokus pada gerakan pengolahan sampah makanan menjadi produk ramah lingkungan. Misalnya saja dengan mengolah sisa sayuran menjadi sanitizer dan pembersih cair organik. Selain itu, mereka juga dapat mengolah sisa minyak jelantah menjadi sabun batang organik, serta kotoran hewan yang diolah menjadi pupuk kompos. Semua produk tersebut dikemas dengan baik sehingga lebih menarik untuk kemudian dipasarkan secara langsung maupun melalui pemasaran digital.

Menariknya, dalam proses pengolahan tersebut, bisnis yang dikembangkan oleh Sukendro Saputro ini juga mem berdayakan para remaja putri, remaja berkebutuhan khusus dan keluarga berpenghasilan rendah sehingga dapat ikut menciptakan lapangan pekerjaan bagi kelompok marginal.

“Saat ini kami banyak memasarkan melalui marketplace dan media sosial, rata-rata penjualan bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta sebulan,” ujar Sukendro.

Kita Hebat, katanya, akan terus berkomitmen mensosialisasikan gerakan Zero Food Waste kepada masyarakat luas dengan memberikan pelatihan kepada beberapa ko munitas, sekolah, maupun usaha rumahan.

Sukendro menceritakan, mulanya pada 2011, Kita Hebat mengolah sampah-sampah anorganik seperti kertas, botol, karton dan sebagainya. Namun ternyata mereka sulit bersaing dengan pabrik-pabrik besar karena menggu nakan mesin industri, sedangkan mereka hanya memakai alat tradisional.

“Akhirnya kami berpikir untuk mengolah sampah-sampah organik pada 2016, ternyata tanggapan pasar cukup baik, maka kami fokus di sini. Untuk packagingnya kami menggunakan kertas dan plastik daur ulang, sebisa mungkin material yang kami pakai tidak merusak lingkungan,” ujarnya.

Namun, memang dalam mengembangkan produk daur ulang ini masih ada kendala yang kerap dihadapi, teruta ma dalam hal standardisasi bahan baku. Hal ini yang kemudian membuat mereka sulit mendapatkan sertifikasi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Mereka cukup kesulitan untuk mengurus legalitas dan sertifikasi karena sulit untuk membuat standardisasi ba han-bahan daur ulang. Bisa jadi juga karena teknologi pangan yang mereka gunakan masih konvensional, meng ingat harga peralatan dengan teknologi yang canggih itu mesinnya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Sayangnya, kami juga sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk pendanaan dari perbankan. Pada hal, bisnis yang kami kembangkan ini membantu program pemerintah untuk lingkungan dan sosial,” ujar pria yang berdomisili di Medan, Sumatra Utara ini,

Mendorong Ecopreneur

 

Ecopreneurship adalah wirausaha yang berinovasi dalam menciptakan dan menjual produk ramah lingkungan atau jasa. Konsep utamanya mengubah paradigma pelaku usaha dari berbisnis ekonomi yang berorientasi pada mutlak keuntungan menjadi orientasi yang ramah lingkungan.

4 Prinsip Ecopreneur dalam menjalankan usahanya

  1. Reduce atau mengurangi, yaitu melakukan penghematan penggunaan sumber daya serta mengurangi penggunaan bahan beracun yang dapat membahayakan lingkungan serta makhluk hidup lainnya.
  2. Reuse atau pemakaian kembali, menggunakan kembali sumber daya yang sudah digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas.
  3. Recycle atau mendaur ulang, mengubah bentuk dan memanfaatkan kembali limbah menjadi barang-barang yang berguna dan mempunyai nilai jual.
  4. Upcycle, yaitu memberikan manfaat yang baru, inovatif, serta tampilan menarik pada produk-produk yang tadinya sudah tidak terpakai lagi.

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 8

Agar Usaha Camilan Selalu Renyah. Kontan Mingguan 20-26 Desember 2021. Hal. 14

Kiat menjalankan usaha camilan, karena pasarnya besar namun kompetisi didalamnya sengit. Belum lagi, tren yang gampang berubah.

Camilan rupa keripik sudah jadi bagian dari masyarakat Indonesia. Langgengnya permintaan produk keripik ini jadi pendorong lahimnya pelaku pelaku usaha di bidang olahan keripik.

Selain itu, tren di pasar keripik ini gampang berubah. Sekitar sepuluh tahun lalu, sempat booming keripik dengan variasi pedas. Produk keripik singkong dari Bandung bermerek Maicih menggebrak pasar. Melalui akun Twitter dan Blackberry Messenger, Maicih dipasarkan dan diperbincangkan karena keripik singkong ini tampil berbeda.

Maicih mampu bertahan hingga sekarang. Keripik singkong dan bakso gorengnya, dengan variasi pedas hingga kini bertengger di rak minimarket.

Bisa diduga, banyak yang ingin mengekor sukses Maicih, hingga sekarang. Karena keripik pedas, banyak penggemarnya. Belum lama ini viral di Tik Tok, Nadin Fathia yang sukses berbisnis cemilan pedas.

Nadin, pemilik Raja Ngemil ini menjual baso goreng, tempe goreng, cilok goreng, macaroni, dan kerupuk seblak goreng yang semuanya bercitarasa pedas dengan aroma daun jeruk. Melalui akun Tik Tok, Nadin membeberkan omzetnya pada 11.11 di akun Shopee bisa mencapai Rp 300 juta.

Kesuksesan berbisnis keripik pedas ini juga dirasakan Ailip Apipah, pemilik usaha Beledag Jagara. Perempuan 23 tahun ini dalam sehari bisa menjual 2 ton aneka keripik pedas.

“Sekarang memang lagi ramai lagi permintaan keripik. Sudah mulai seperti sebelum pandemi,” terang Ai yang mulai menjajakan keripik kaca buatan ibunya sejak SMA. Ai bilang, saat banyak pembatasan karena pandemi, permintaan hanya di kisaran 5 kuintal sampai 7 kuintal sehari.

“Sekarang sekolah sudah mulai masuk, di online lagi banyak gebyar belanja, dan sudah mau tutup tahun. Permintaan melonjak lagi,” kata Ai yang pembelinya kebanyakan distributor. Saking tingginya permintaan, hampir setiap hari ada distributor yang menginap di sekitar pabrik keripik Ai demi mendapatkan barang.

Ai memproduksi keripiknya di Ciamis, Jawa Barat. Pabriknya berkapasitas produksi 2 ton per hari seluas 1700 meter persegi. “Ada distributor yang bisa beli 1 ton,” jelas Ai.

Ai menjual keripiknya seharga Rp 45.000 per 1 kilogram (kg). Keripiknya dikemas dalam karung 12 kg.

Kriuknya bisnis keripik ini juga dirasakan oleh Sofyani Mirah, pemilik usaha keripik pisang Bananania asal Yogyakarta. Meski bukan menjual keripik pedas, tetapi Sofyani mampu merebut hati pasar dalam waktu singkat dengan keripik pisang olahannya.

Dalam sebulan Sofyani mampu menjual 6.000 bungkus keripik pisang kemasan 125 gram. Padahal perempuan berkerudung ini baru mendirikan Bananania di pertengahan tahun 2019. “Baru enam bulan merintis usaha malah ada Covid. Untungnya hanya beberapa bulan saja permintaan menurun,” kata Sofyani.

Jalur distribusi Sofyani dalam memasarkan Bananania terus bertambah. Sekarang dia memasarkan di 400 gerai, termasuk minimarket, swalayan, dan toko oleh-oleh di seputar Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sofyani juga rutin mendapatkan order dari Australia, Jepang, Malaysia, dan Singapura. “Waktu pandemi, saya mulai pasarkan melalui Instagram, dari situlah ada order dari luar negeri. Kebanyakan adalah seller,” jelas Sofyani.

Sofyani bilang bisnis keripik sangat menjanjikan. “Semua orang Indonesia suka ngemil, terutama keripik atau kerupuk,” kata Sofyani. Itulah alasan Sofyani masuk dalam bisnis keripik pisang yang sudah banyak pemainnya.

“Penduduk kita banyak, jadi saya yakin tak akan kekurangan market,” jelasnya. Sofyani mampu membuktikan perhitungan market dan bisnisnya. Hanya dalam waktu tiga bulan, modal awal senilai Rp 15 juta sudah kembali.

Ai yang mengawali usaha sejak di bangku SMA, juga mampu mengembangkan dan mempertahankan bisnisnya. Dari hanya mengandalkan keripik olahan ibunya di dapur mungil, kini punya pabrik yang luas.

Saat ini, ia mempekerjakan 50 karyawan dan menggandeng 300 orang warga sekitar untuk membantu produksi keripik.

Ai mengaku sempat dengar jika bisnis makanan itu paling lama bertahan hanya 5 tahun. “Saya bersyukur Jagara mau masuk tahun ke 9,” kata Ai.

Rasa enak

Memang, tidak sedikit pengusaha keripik yang gulung tikar. Tapi, pebisnis keripik yang mengawali usaha bukan dari pabrikan besar seperti Maicih, Karuhun, dan Jagara ternyata mampu bertahan dan masih eksis hingga sekarang.

“Saya yakin bisnis keripik bukan bisnis musiman. Bisa eksis dan bertahan,” jelas Sofyani.

Bagaimana kiatnya? Menurut Ai, produk keripik yang dibuat, harus bercitarasa dan berkualitas. harus bercitarasa dan berkualitas. “Jangan tanggung-tanggung pilih bahan baku,” tukasnya. Sebagai contoh, Ai pilih pakai bumbu yang diolah sendiri, bukan bumbu bubuk yang ada di pasar.

Selain itu, Anda juga harus melengkapinya dengan izin seperti PIRT. Selanjutnya, garap kemasan secara serius, jika Anda berniat membidik end user. Jadi, Anda harus memikirkan kemasan semenarik mungkin.

“Karena jalur distribusi offline yaitu nitip di toko-toko maka saya harus membuat kemasan yang mencolok tapi berkelas supaya produk saya lebih terlihat dibanding produk lain toko tersebut,” Sofyani yang membuat kemasan warna-warna pada keripik pisangnya.

Dengan kemasan yang mencolok tersebut, pembeli akan mendekat dan mencoba, bahkan mencicipi.

Ai juga membuat desain khusus dan menarik untuk aneka cemilan buatannya. “Sekalipun market utama kami distributor yang beli karungan, tapi kami juga perlu memperkenalkan brand,” jelas Ai yang juga membebaskan distributornya untuk membuat merek sendiri bermodal keripiknya.

Selanjutnya, terkait dengan marketing. Sebagai pemain yang sudah lebih dulu eksis, Ai mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. “Kami aktif di IG, dua tahun terakhir. Sedangkan yang di marketplace itu adalah distributor,” ujarnya.

Awal usaha, Ai hanya mengandalkan kenalan atau relasinya. Dari situlah kenikmatan produknya tersebar langsung. Dan bermunculan reseller dan distributor.

Sama seperti Ai, Sofyani yang baru memulai usaha keripik dua tahun terakhir juga mengandalkan pemasaran secara of fline. “Saya gaptek, tidak mengerti pemasaran online. Jadi dari awal usaha target saya adalah toko-toko yang memiliki jaringan,” jelasnya.

Menurut Sofyani, jika produk sudah berizin dan kemasan baik, biasanya akan mudah di terima oleh pihak swalayan atau toko oleh-oleh.

Selanjutnya, ia mencoba mengajukan penjualan melalui minimarket berjejaring.

“Untuk mitra yang lama saya masih pakai sistem konsinysi tapi mitra baru pakai sistem beli putus bayar mundur,” jelas Sofyani.

Maksudnya, mitra membeli langsung sesuai jumlah yang diinginkan tapi pembayarannya tidak saat barang diambil, melainkan ada jeda 15 hari atau dua minggu. Dengan cara ini, Sofyani bisa mempertahankan cashflownya. Jika ada yang mitra yang lalai bayar sesuai tanggal yang dijanjikan, sebaiknya langsung diputus saja kerjasamanya.

Sofyani menitipkan ke toko oleh-oleh dan swalayan di Yog akarta. Dia bilang satu toko oleh-oleh biasanya punya lebih dari 3 cabang.

Perang Harga

Keripik tergolong jenis usaha yang mudah ditiru. Jadi tak heran ketika permintaan pasar tinggi, banyak lahir emain baru. Pelaku usaha keripik ini sudah menjamur. Menurut Ai lip Apipah, pemilik usaha Beledag Jagara, makin banyaknya pemain justru akan membuat produk keripik akan terangkat terus. Sehingga konsumen akan memiliki banyak pilihan..

“Memang secara marketing justru akan membantu, tapi di sisi lain, mau tidak mau harga menjadi bersaing,” jelas Ai. Hal itu juga diamini oleh Sofyani Mirah, pemilik usaha Bananania. Ramainya pemainnya tidak membuat khawatir karena pasar bisnis ini masih besar.

“Tapi, tak dipungkiri adanya perang harga,” jelasnya. Sofyani bilang, usaha makanan memang pada umumnya bisa untung 50%. Tapi karena persaingan harga di bisnis keripik ketat dia hanya mengambil margin 35%.

Selain harus pintar menyusun harga, menurut Sofyani pelaku usaha juga harus berinovasi.

“Saya dari awal sudah memiliki 5 varian keripik pisang, tapi saat ini saya coba produk lain yaitu granola dari pisang,” kata Sofyani yang baru saja mendapatkan order dari salah satu hotel di Yogyakarta untuk membuat keripik pisang asin yang disajikan di kamar-kamar hotel.

Dengan adanya inovasinya bertujuan untuk memberikan konsumen banyak pilihan. Ai pun juga melakukan banyak inovasi. Dari awalnya hanya keripik kaca dan baso goreng dia kini memiliki banyak pilihan keripik.

“Bahkan kami terus membuka aneka olahan singkong yang memang bahan bakunya muda untuk dibuat makanan yang memang bisa dibuat dengan citarasa pedas,” jelas Ai yang konsisten memasarkan produk keripik bercitarasa pedas ini.

 

 

Sumber: Kontan Mingguan 20-26 Desember 2021. Hal. 14