5 Hal Tentang Seni Instalasi

5 Hal Tentang Seni Instalasi.26 Oktober 2016.Hal.36

Percantik Dapur dengan Daur Ulang Perabot

Percantik Dapur dengan Daur Ulang Perabot. Kompas. 22 Agustus 2016. Hal 24

Banyak orang sengaja menata ulang rumah untuk mengganti suasana. Sayangnya, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk menata ulang rumah. Jika saja anda mau berkreasi, pengeluaran uang yang banyak bisa dicegah dengan mendaur ulang barang bekas.

 

Untuk menata ulang bagian dapur, misalnya, Anda bisa menggunakan botol selai yang sudah tidak terpakai. Pada botol yang biasanya terbuat dari kaca dan memiliki tutup yang rapat, Anda bisa menggunakannya kembali sebagai tempat bumbu dapur yang kering seperti biji pala atau lada. Caranya cukup mudah, cucilah bersih botol dan lepaskan stikernya dengan cara direndam di dalam air sabun. Setelah bersih, keringkan. Bila perlu, hiasilah botol dengan gambar dan motif yang unik. Selain itu, anda bisa memberi label sesuai dengan bumbu yang disimpan.

Besek bambu sisa acara selamatan atau bekas kukusan dimsum juga bisa dimanfaatkan untuk tempat bawang merah dan bawang putih. Bahkan, lazy susan yang jarang dipakai pun bisa berguna jika anda tempatkan di dalam lemari. Benda ini berguna Karena bisa memudahkan anda mengambil barang – barang yang disimpan di bagian dalam lemari dengan cara memutar permukaan lazy susan.

Talenan kayu yang sudah using pun bisa berguan sebagai tempat resep andalan. Caranya, lukis permukaan talenan semenarik mungkin dengan gambar atau motif yang menatrik. Setelah itu berilah paku pada bagian tengah untuk menempelkan koleksi resep yang dicetak dari berbagai laman andalan. Setelah itu, gantung talenan resep tersebut di salah satu sisi dinding yang mudah dilihat.

Botol – botol kaca bekas tempat sirup atau kecap juga bisa di daur ulang menjadi vas bunga yang cantic. Setelah anda bersihkan dan keringkan, cat botol kaca tersebut dengan warna – warna favorit anda. Setelah jadi, anda bisa meletakkan sekuntum mawar dari suami tersayang dalam “vas” tersebut.

Saat membersihkan dapur, pastikan anda bisa menggunakan keambali barang – barang tersebut menjadi benda yang lebih berguna. Selain unik, kreativitas anda akan membuat dapur memiliki dan menicirikan karakter pribadi anda. Dengan mendaur ulang perabot dapur, anda ikut menjaga lingkungan. Selamat mencoba !

 

SUMBER : Kompas 22 Agustus 2016

Kafe Kayu Rasa Homey

Kafe Kayu  Rasa Homey. Jawa Pos.4 Februari 2016. Hal. 36

SURABAYA-Tidak perlu bingung memilih tempat nongkrong. Banyak pilihan kafe dengan beragam konsep di metropolis. Setelah booming konsep coffee speciality dan industrial dining, saat ini sedang di sukai kafe dengan konsep homey.

Menurut Levin Juned Soediarto, 24, salah seorang pemilik kafe, banyak konsep yang diusung pengusaha kafe. Dia memilih nuansa natural dengan kayu-kayu berwarna cokelat. Mulai dinding ruangan sampai interior ruangan. Bahkan, dia membuat ornamen perapian di tengah-tengah kafenya. “ini seperti tempat peristirahatan para pemburu di wilayah dingin,” ujar pria yang juga usaha properti itu.

Tidak sekedar menyajikan beraneka kopi, “rumah kayu” di Surabaya Barat tersebut juga menyediakan makanan yang mengenyangkan. “Soalnya, sekarang jarang coffee specialty yang menyajikan makanan berat,” tambahannya.

Selain levin, ada Yohanes Bertonoadi, 35, owner kafe yang juga menonjolkan penggunaan kayu. Sebagai ciri khas, dia memadukan furnitur dari white oak wood dengan dinding kafe berwarna putih. Kafenya pun berkesan homey dan elegan. “Bukan sekedar kafe, ini juga rumah kami,” ungkap pria yang akrab disapa Berto tersebut.

Selain white oak wood, di bagian atas terdapat kayu-kayu dari bekas rel dan jembatan yang langsung di datangkan dari Jepara. Selain menjadi bagian arsitektur, kayu berukuran besar itu memunculkan kesan klasik.

Karpet pemanis ruangan juga menghiasi lantai dari kafe milik Berto. Karpet tersebut sengaja di datangkan langsung dari Turki, Persia, Iran, dan Afghanistan. “Umur karpetnya adalah yang sudah 18 tahun bahkan 40 tahun,” jelasnya.

Kfe yang di kelola Berto dan istrinya, Caecillia Herawati, itu di lengkapi aneka buku traveling dan fotografi. Buku-buku tersebut tertata rapi di lantai 2. Banyak buku menarik di rak dari white oak wood tersebut. Antara lain, The Giving Tree karya Shel Silverstein, History of God karya Kren Amstrong, 180 South, dan Cabin Porn.

Selain itu terdapat majalah lifestyle seperti Monocle kinfolk, Frankie, serta Magnum. Pengujung di persilahkan menikmati koleksi langka kepunyaan itu. “Terkadang nyesek juga sih kalau ada buku yang kena minuman atau gak sengaja sobek,” tuturnya.

Sajian di kafe yang juga teletak di Surabaya Barat itu terbilang lengkap dengan resep rumahan. “Kami tidak ingin pengunjung datang hanya untuk selfie, tapi juga enjoy dengan minuman dan makanan yang di pesan,” tambah Hera, sapaan Cacecillia Herawati

 

 

JC Lib-Collect

Jawa Pos

Kamis 4 Februari 2016

Pijitan untuk Keramik Cantik

Pijitan untuk Keramik Cantik. 12 Juli 2015.Hal.36

SURABAYA – Menikmati proses perlahan, menanggalkan segala keinstanan. Begitulah hal yang membunculkan kegembiraan di On Market Go Project Pottery Class kemarin (11/7). Ayu Larasati, ceramic artist yang menjadi pemateri, menjelaskan setiap tahap pembuatan barang – barang pecah belah. Mulai berupa tanah liat yang keras hingga menjadi bentuk – bentuk apik berwarna.

“kali ini kita menggunakan tanah liat stoneware. Ini berbeda dengan yang biasa digunakan untuk tembikar, tapi juga bukan porselen,” ujar pembuat keramik asal Jakarta tersebut. Tanah liat itu merupakan jenis lempung yang tidak mengalami perubahan bentuk ketika dibakar dengan suhu 900 derajat celcius selama enam jam.

Setidaknya ada tiga proses untuk membuat keramik. Yakni, pembentukan, pembakaran, dan pelapisan (coating). Workshop kali ini berfokus pada pemula. “Yang digunakan disini adalah teknik pinching. Ada dua tahap. Pertama membentuk dari tanah, lalu pewarnaan,” kata Ayu.

Keduanya sama – sama proses yang membutuhkan ketelatenan dan imajinasi. Mula – mula lempung dipadatkan dan dihaluskan menjadi sebuah bola. Bila dirasa cukup, dibuatlah lubang di tengah bulatan itu dengan cara menekannya. Barulah kemudian bola lempung di-pinching atau dijepit dari bawah keatas. “gerakannya harus ritmis dengan kesabaran. Diputar dan terus dipijit. Rasakan ketebalannya,” jelas lulusan Ontario Collage of Art and Design (OCAD University) Kanada itu.

Bagi para peserta yang kebanyakan baru mengikuti pembuatan keramik kali ini, proses membentuk tersebut begitu menantang. ”soalnya, apa yang kita bayangkan, eh ternyata belum tentu bisa membuatnya,” kata Dewi Anjasari, salah seorang peserta workshop.

Proses memijit dan menjepit harus sedemikian jeli. Ukuran, bentuk, ketebalan, dan keseimbangan harus dirasa – rasa sendiri. Itulah serunya. “melatih kesabaran dan surprise sama hasil karya kita sendiri,” imbuh Tri Darmadji, peserta lain.

 

SUMBER : JAWA POS, Minggu 12 Juli 2015

Dinding Bernapas, Lebih Sejuk

Dinding-Bernapas,-Lebih-Sejuk.-Jawa-Pos.-7-Juli-2015.Hal.18

Gaya Industri untuk Rumah Tropis Maureen Nuradhi

Dinding Bernapas, Lebih Sejuk

Menonjolkan material bangunan yang dulu pakemnya justru harus ditutupi adalah penjelasan senderhana dari gaya industri. Dinding unfinished menjadi elemen utama untuk menghadirkan gaya desain gaya interior tersebut di hunian Maureen Nuradhi.

 

Tata Cahaya Aksentausi

Palet warna abu-abu industrial akan terasa dingin dan kaku saat malam,  ketika pencahayaan alami menghilang. Pertimbangan itu membuat Maureen memilih tata cahaya berjenis aksentuasi. Cahaya lampu diberikan pada bagian-bagian yang membutuhkan saja dan bagian yang ingin ditonjolkan keindahannya.

Apa tidak terkesan remang? “justru itu saya suka, sedikit misterius. Tidak perlu semua terlihat. Biar yang jelek nggak kelihatan kan, haha,” jawab Jean, sang suami berkelakar. Dua buah hatinya ternyata lebih menyukai konsep tersebut. Bila mereka ingin menonton film seolah di gedung bioskop, lampu ruang keluarga di sisi atas televisi saja yang dinyalakan. Ingin mirip kafe? Matikan yang di dekat televisi, lalu nyalakan pendant dan lampu sekitarnya.

Dengan penyalaan aksentuasi, setiap bagian rumah menjadi punya irama gelap terang yang silih berganti. Mereka memilih cahaya putih kekuningan untuk keseimbangan kehangatan ruang. “sebab, warnanya sudah dingin. Abu-abu,” tegasnya. Selain tata cahaya, pada unfinished wall yang diberi papan silikat sebagai pelapis, dibuat gaya mondrian, kubisme, yang cantik agar tidak monoton. Gaya itu ada di dinding ruang keluarga dan kamar anak-anak. (Puz/c10/dos).

Kebutuhan tercukupi dan biaya pembangunan efisien. Dua hal itulah yang menjadi fokus pasangan  arsitek Maureen Nuradhi dan Jean Francois Pollot saat membongkar total huniannya. Pembangunan itu sekaligus menjadi proyek idealis yang menantang. “Cukup bukan berarti murahan”. Banyak yang bisa dihemat, tapi rumah tetap terkonsep dengan bagus, “kata Maureen.

Di atas tanah seluas sekitar 200 m2, bangunan rumah lama berdiri dengan dikelilingi lahan kosong di tiga sisinya. Agar tak perlu keluar biaya kontrak dan boyongan, digunakan teknik reversed house, yakni membalik area. Bangunan baru dibuat di lahan kosong sekeliling bangunan rumah lama.

“Kami baru pindah setelah bangunan baru jadi. Kemudian bangunan rumah lama dibongkar total menjadi ruang terbuka,” ujar Maureen. Selanjutnya baru diteruskan pembangunan bagian depan rumah, yakni kantor Jean Maureen and Partners. Hasilnya bentuk rumah menjadi dinamis dengan banyak ruang terbuka.

Gaya industri dipilih menjadi desain besar rumah yang baru. Elemen utama yang begitu mencolok ada pada bagian dinding yang dibiarkan tidak selesai (unfinished). Mereka menghentikan finishing sampai pada acian atau plester saja. “Ini memangkas biaya hingga 10 persen dan tampilan ruangpun lebih menarik,” jelas Maureen yang juga dosen di Universitas Ciputra Surabaya.

Dinding yang tidak bercat tersebut menampilkan warna abu-abu lengkap dengan goresan para penggarapnya. Menurut Maureen, itu lebih ekspresif dan tidak monoton. Satu lagi poin plus dari unfinished wall adalah membuat ruangan jauh lebih dingin. “Ketika dinding tida di-finishing, ia lebih berpori sehingga udara di dalam ruangan nggak mati. Istilahnya breathing wall. Ia bernapas. Artinya masih ada sirkulasi,” terang Maureen.

Desain dinding seperti itu cocok untuk daerah tropis yang sinar mataharinya sangat berlimpah sepanjang tahun. Karena itu, banyak rumah orang zaman dahulu yang berhenti di batu bata saja hingga dikapur. Hunian di wilayah beriklim tropis yang harus diperhatikan adalah jatuhnya cahaya bangunan dan sirkulasi udara.

Maureen dan sang suami sudah mempertimbangkan hal tersebut sehingga dibuatlah banyak ruang terbuka yang luas. “Kami tidak serakah menggunakan lahan untuk ditutup bangunan. Dipakai yang seperlunya saja. Jadi, paru-parunya lebih besar,” kata ibu dua anak itu. Seluruh ruangan di rumah ini mendapat cahaya dan sirkulasi udara langsung. Supaya tidak silau, dibuat banyak sosoran dengan mempertahankan bentuk atap segi tiga.

Setiap ruangan punya jendela dan pintu yang besar. Kecuali kamar, yang digunakan adalah jendela dan pintu kasa. Angin dan cahaya tidak terhalang apa pun untuk masuk, tetapi nyamuk tidak bisa menerobos.

Kelebihan gaya industri yang diincar Maureen adalah kenetralannya ketika dikombinasi dengan gaya interior lain. Industrial style tidak terasa fals bila di-mix dengan gaya klasik, art deco, retro, vintage, modern minimalis, bahkan colorful. Sebab strategi hemat lainnya adalah tidak membeli banyak perabot baru. “Segala macam perabot cocok,” celetuknya. Banyak perabot dari rumah lama yang bisa dimanfaatkan lagi, bahkan pantang untuk dibuang.

Sebagian adalah warisan dari nenek moyang, misalnya nakas (kadang disebut sebagai meja samping) tua bergaya art deco yang diperkirakan mulai 1900-an di kamar utama. Dia tak sendirian karena meja rias di kamar itu pun bergaya classic colonial. Hasilnya begitu cantik dengan kekhasan masing-masing. Di kamar untuk tamu, ada sebuah meja rias bergaya art deco sejak 1930-an. Dipadu dengan tempat tidur yang dibalut kain tenun Lombok, ambience-nya masih serasi.

Maureen juga bebas bermain-main dengan warna. Di ruang keluarga dan ruang makan yang dibuat menyatu tanpa sekat, ditempatkan perabot berwarna terang yang mencolok. Ada sofa ungu dan hijau dengan cushion yang motifnya dirancang sendiri oleh Maureen. (Puz/c19/dos)

Sumber: Jawa-Pos.-7-Juli-2015.Hal_.18

Kembangkan Pasar Kreatif

Kembangkan-Pasar-Kreatif.IDEA-eds-144.-XII.Mei.2015.pg-106

Apa jadinya jika para desainer Indonesia bersatu dan saling membantu? Tentu para desainer itu akan mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas sekaligus semakin dikenal dunia. Itulah yang menjadi salah satu tujuan terbentuknya Indonesia Desainer.

Indonesia Desainer merupakan sebuah komunitas yang ingin memajukan dunia desain kontemporer Indonesia, terutama furniture dan aksesori rumah. Anggotanya terdiri dari para desainer, studio desain, label keratif, lulusan sekolah desain, serta para mahasiswa desain.

Pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2015 lalu, Indonesia Desainer mengukuhkan komitmennya memajukan dunia desain Indonesia dengan mengadakan gelaran karya anggotanya. Dengan showcase ini, diharapkan karya-karya desainer akan lebih dikenal dan terjalin hubungan yang lebih baik antar desainer dan produsen, sehingga akan terbuka pasar baru di dunia desain.

Melalui showcase ini, Indonesia Desainer ingin menunjukkan proses pengembangan pasar yang dilalui seorang desainer, dengan membagi 4 zona.

  • Design Seed, diisi oleh bakat-bakat baru di bidang desain, dengan menampilkan prototype produk karya mahasiswa desain.
  • Design Shoot, menampilkan karya-karya desainer baru yang sudah diproduksi dan sedang diuji pasar.
  • Design Poles, menggambarkan tahap selanjutnya, di mana para desainer sudah memiliki labelnya sendiri yang sudah cukup dikenal masyarakat.
  • Design Peak, merupakan ajang bagi seorang desainer professional untuk berekspresi melalui sebuah karya instalasi.

 

 

Komunitas ini dibentuk agar para desainer punya wadah dan panggung untuk menampilkan karyanya, dan lebih memahami proses “good design”. Desainer Abie Abdillah, pada kesempatan itu menjelaskan, “Desain harus punya korelasi bisnis yang baik.” Menurutnya, ini penting untuk membuat sebuah desain mampu bertahan hidup.

 

Sumber : Idea Edisi 144/XII/Mei 2015 , Hal.108

Sambung Cantik Atas Bawah

Sambung-Cantik-Atas-Bawah.-Surya.-22-Mei-2015.Hal.9

Tangga menjadi bagian yang biasanya cukup sulit diaplikasikan di dalam bangunan. Posisinya yang cenderung mendominasikan ruang harus dipikirkan dengan seksama.

Desain tangga harus menyatu dengan suasana ruang. Bagai mana secara efisien mendesain tangga sesuai kebutuhan dan kondisi. Para arsitek dan desainer interior akan berbuat optimal dalam desain tangga yang memenuhi syarat-syarat efisiensi ruang.

Strategi Desain 1

Jika lahan sangat sempit Anda bisa memilih desain zig zag. Desain tangga seperti ini meletakkan kaki kiri dan kaki kanan pada injakan yang berbeda. Biasanya melangkah naik dari kaki kiri lebih dahulu baru kaki kanan. Desain seperti ini akan banyak sekali menghemat ruangan untuk tangga. Selain itu anda masih bisa menggunakan ruang pada masing-masing anak tangga sebagai tempat penyimpanan selama tidak ditutup.

Strategi Desain 2

Munkin anda yang belum terpikir untuk menempatkan tangga bukan di dalam ruangan, melainkan di luar bangunan. Untuk keamanan, tentu saja tangga ini di letakkan di tengah kaveling. Caranya, di dalam lahan di rancang dengan bentuk U. Ruang terbuka atau taman yag biasanya di letakkan di belakang kaveling, sekarang di letakkan di tengah sehingga tetap memberikan ventilasi yang baik.

Tangga di letakkan di tengah lahan untuk “menyambung” kedua kaki U tadi. Misalnya pada bagian bawah di gunakan sebagai area publik dan semipublik termasuk ruangan servis untuk asisten rumah tangga, sedangkan lantai atas di tempatkan fungsi-fungsi yang bersifat pribadi seperti kamar tidur.

Di atas tangga di berikan tangg transparan seperti menggunakan bahan polycarbonat. Dengan demikian penerangan ke bawah masih tetap baik.

Strategi Desain 3

Menempatkan tangga pada kolam struktur. Tangga bisa di letakkan mengelilingi kolam sehingga efisien ruangan bisa di pakai. Kolam ini bisa saja berupa dinding geser (shear wall) yang membentuk kolam dan tangga di tempatkan “melekat” pada dinding geser itu. Dengan cara ini ruangan yang di perlukan untuk tangga berkurang. Tangga melekat pada kolam menjadi pusat, apalagi jika ada sektor positif.

Stratgegi Desain 4

     Desain tangga yang paling efisien dalam pengunaan ruang adalah tangga dengan bentuk melingkar atau spiral. Ruang yang di gunakan tangga seperti itu tentu akan kecil, tetapi dalam fengshui tangga berbentuk spiral di anggap tabu.

Itu karena tangga spiral seperti mata bor yag menembus ke bawah. Rumah seolah di tusuk dari atas oleh tangga spiral itu. Para arsitek dan desainer interior tentu saja akan di buat bingung jika tidak mengetahui alasan utama itu. Namun, jika menyadari persoalannya, maka selalu ada cara untuk mengeliminasi kekhawatiran itu.

Cara mengatasi tangga spiral adalah dengan “memotong” tangga spiral itu separo sehingga tidak tembus dari lantai atas hingga bawah. “pemotongan” itu tampak secara visual jika di letakkan pada void. Lantai void seolah-olah memotong tangga spiral.

 

 

UC Lib-Collect

Surabaya.tribunnews.com 22 Mei 2015

Arsitektur yang Berdamai dengan Alam

Arsitektur-yang-Berdamai-dengan-Alam.-Kompas.19-Juni-2015.Hal.37

Perjalanan Eko Prawoto melanglang buana, termasuk menimba ilmu di Belanda dan mampir ke Inda, justru membulatkan tekadya untuk kembali ke kampung. Tiggal di sana dan menggali ilmu-ilmu arsitektur yang sejak dulu hidup dalam keseharian rakyat. Pilihan tersebut, seperti dilansir kompas (25/3/2006), didasari pemikiran bahwa tradisi pinggiran lebih memiliki energi kreatif.

       BAGI Eko, rumah kampung harus bisa menjadi wahana aktivitas warganya. Konsep ini jugalah yang menjadi dasar perancang rumahnya sendiri yang terletak di Yogyakarta. Secara keseluruhan, rumah ini terkesan rustic. Dinding-dinding bata dibiarkan tanpa plesteran. Sebagian kusen dan pintu di buat dari material bekas. Eko mebubuhkan pula spontanitas jenaka pada rumahnya, di pintu utama dekat teras, Eko menambahkan pahatan tokek.

Dalam karya-karya bangunan maupun instalasi rancangan Eko, atmosfer kampung yang di gabungkannya dengan pengetahuan moderen dari tradisional itu pun muncul. Di Galeri Nasrun, misalnya, rangkaian bambu, kayu, dan bata berpadu apik” dengan cahaya matahari dengan lingkungan sekitarnya. Bada Project menyajikan bangunan yang di inspirasi dari bentuk joglo dengan apik. Detail susunan batu bata membuatnya makin cantik.

Dalam buku Arsitektur untuk Kemanusiaan (2005), Eko mengemukakan pandangannya. Bagi Eko, kampung itu terhormat karena sangat inspiratif. Ia sering berkeliling dari kampung satu ke kampung lain untuk mencari ide-ide. Arsitektur kampung itu sangat dekat dengan kehidupan dan bisa menjawab beragam persoalan. Di sana, ditemukan pula kehagatan, relasi, kreativitas, dan kejujuran hubungan antarmanusia.

Rekonsiliasi

       “Saya punya simpati dengan empati dalam pada masyarakat kecil. Pada yang di lipakan, yang terpinggirkan, yang di remehkan, termasuk dalam hal ini tradisi dan alam. Saya kira panggilan zaman kita sekarang adalah untuk mulai rekonsiliasi dengan alam,” tutur Eko di rumahnnya, Sabtu (30/5).

Saat ini dilihatnya banyak arsitektur yang terlalu berjarak dengan situs yang menaunginya. Material-material diimpor, desain pun merajuk pada sesuatu yang jauh, yang tidak sesuai dengan kondisi lokal. Ia membandingkan bagai mana tradisi kita sudah belajar mengakrabi alam.

“Dalam arsitektur, kita mesti belajar mengenai material, prinsip-prinsip konstruksinya, bagaimana desain yang dulu merespons kondisi alam dan iklim serta menghidupi nilai-nilai di dalamnya. Dengan cara berpikir modern, kita cenderung menindas alam, berpikir pragmatis. Kita tidak mau repot, hanya mengambil sebagian tanggung jawab kita,” ujar Eko.

Eko mencotohkan respons arsitektur terhadap gempa yang sejak lama disadari leluhur kita. Di indonesia, gempa adalah sebuah keniscayaan. Pengetahuan membangun yang utuh, seperti yang di wariskan oleh leluhur kita, menyadari benar hal itu. Mereka menyikapi gempa dengan tidak melawan alam, tetapi berdamai dengannya. Konstruksinya fleksibel, bisa berayun. Sambungan-sambungannya pun lentur. Ia membuat analogi, “Di dunia beladiri, ada karate dan aikido. Arsitektur tradisional munkin seperti aikido.”

Eko yang lebih sering menggunakan material lokal dalam karya-karyanya juga ingin membangun kesadaran oang-orang, material lokal kita begitu kaya dan kuat. “Sebagian bangsa indonesia, kita merupakan bangsa yang besar dengan kebudayaan yang begitu banyak dan bervariasi. Dengan modal budaya seperti itu, harusnya kita bertindak lebih sebagai produsen, bukan konsumen. Kalau kita menengok tradisi, sebenarnya mereka bisa melengkapi sendiri apa-apa yang mereka butuhkan. Kalau kita bicara soal kemerdekaan, itu salah satu pointnya” ujar Eko.

Penggunaan material lokal dalam arsitektur ini, dalam konteks yang lebih luas, terkait dengan kesinambunan dan ketahanan kita sebagai bangsa. Kemauan kita menggunakan material lokal nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Yang lebih penting, menjaga tradisi ketukangan (local skill) tetap hidup. Satu-satunya cara adalah terus mempraktikkannya.

Kecenderungan arsitektur modern yang lain kita mencoba mengatur alam. “Suhu yang tropis kita coba ingkari dengan mengubah temperatur menjadi 16 derajat. Personalnya, apakah 29 derajat itu  unbearable? Membiarkan tubuh kita dalam suhu konstan juga membuat badan semakin lemah,” kata Eko.

Eko melihat, alam menyediakan sarana alami bagi kita untuk melatih ketahanan tubuh, menyeimbangkan otak, dan melatih reflek. Dalam kacamata yang lebih makro, alam adalah tempat beajar dan kita semestinya lebih selaras lagi dengan alam, termasuk dalam perkara arsitektur.

“Situs tidak pernah terisolasi. Tanah punya kaitan dengan masa lalu dan masa depan, maka saya melihat arstektur selalu nonpermanent. Kita tidak boleh sombong dan mengklaim eksistensi kita yang paling penting. Kita cuma bertamu, saya mencoba mendekati arsitektur dengan cara seperti itu. Saya juga mencoba mendamaikan yang moderen dengan yang tradisional.” Jelas Eko. Ia pun mengenyam realita yang di hadapinya di lapangan dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang di milikinya.

“Arsitektur kerap meminta banyak dari alam, termasuk meminta perhatian dengan keinginan untuk membuat sesutu yang tampak hebat dan menonjol. Saya pikir ini saatnya memberi. Memberi pada sekita, memberi oksigen, memberi hal baik,” tutup Eko.[NOV]

 

 

UC Lib-Collect

Kompas. 19 Juni 2015.Hal 37

 

Berkreasi Dengan Bahan Kayu

Berkreasi-Dengan-Bahan-Kayu.-Kompas.25-Mei-2015.Hal.38

Dari sebatang kayu, manusia bisa melahirkan berakam produk yang tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga bernilai. Hal inilah yang dilakukan oleh Gladys Angelina (24).

PEREMPUAN berdarah Surabaya, Jawa Timur, ini bisa menghasilkan  beragam kebutuhan aksesoris utnuk rumah yang berkualitas berbahan kayu. Kemampuan ini di rangkum dalam sebuah merek pribadi, GA, yang menjadi kependekan dari namanya.

“Merek GA sudah saya bentuk sejak masih kuliah di Universitas Pelita Harapan pada 2012. Sejak awal, saya sudah tertarik dengan dunia dekorasi rumah dan furnitur. Di situ saya belajar banyak tentang desain,” ujarnya.

Produk GA cukup beragam dengan cakupan yang luas. Mulai aksesoris rumah dan kantor, perangkat dapur dan alat makan, hingga layanan untuk mendesain interior. Semuanya di mulai dengan biaya sendiri. Gladys pun membangun mereknya dengan mengikuti banyak pameran, baik dalam maupun luar negri.

“Dulu sempat juga buat produk untuk furnitur. Namun, sudah 1,5 tahun sudah tidak membuat lagi. GA hanya menerima pembuatan berdasarkan permintaan. Sekarang fokusnya untuk produk ke tableware dan aksesoris lainnya,” ujarnya.

Produknya kini cukup tersebar luas. Mulai toko-toko seperti The Goods Dept, Dialogur Artspace, hingga dijual secara daring, antara lain dari situs Bobobobo.com dan situs luar negri di antaranya Shopdeca.com dan haystakt.com. Seluruh produknya desain sendiri, sedangkan pembuatannya di lakukan di dua workshop, di Surabaya dan Jepara.

“Dulu pemainnya masih sedikit, tetapi kini sudah semakin banyak. Namun, secara kuantitas, produk ini masih langka dan masih banyak yang mencari. Walaupun belum menjadi kebutuhan seperti di Jepang, Indonesia sudah mulai belajar menerima dengan menggunakan sebagai aksesoris,” ucapan perempuan yang juga berprofesi sebagai buzzer ini.

Guna menghadapi persaingan di pasarn, Gladys memperkuat produknya dengan mulai fokus juga membangun layanan desain interior. Justru kehadiran produknya bisa menjadi gimmick bagi klien dan menjadi ciri khas bagi usaha Gladys. “Produk dari kayu itu pasarannya sangat niche

Persaingan yang makin ketat membuat Gladys semakin fokus untuk mempertajam karakter dan ciri khasnya. Dengan memanfaatkan kayu mahoni sebagai bahan utama, Gladys membentuk karakter produknya yaitu clean and light.

Kini Gladys tidak hanya sibuk menjalankan bisnis. Dia pun aktif untuk berbagi cerita pengalaman dan lewat menjadi pembicara di seminar, juri perlombaan, hingga aktif di beberapa organisasi.

“Ke depannya, ada keinginan untuk mempunyai toko offline sendiri dengan merek GA. Namun, sekarang GA sedang dilakukan rebranding, baik dari sisi merek hingga produk. GA juga akan melakukan beberapa kolaborasi dengan beberapa orang,” pungkasnya.

[VTO]

UC Lib-Collect

KOMPAS/KLASIKA/ Senin,25 Mei 2015