5 Cerita Webtoon yang Diadaptasi Ke Live Action

Hay UCpeople, kalian ada yang suka baca webtoon? Udah banyak loh webtoon yang dibuat versi live actionnya selain true beauty 😉 ada apa aja sih?

 

  1. Itaewon Class

Drama korea ini diangkat dari webtoon karya Gwang Jin dan diproduksi Snowbox. Drama korea ini menceritakan tentang kehidupan Park Sae Royi yang sudah terlibat kasus ketidakadilan dan korupsi sejak ia remaja. Secara garis besar, Park Sae Royi berupaya untuk melakukan balas dendam kepada CEO dan keturunannya dari sebuah perusahaan makanan atas rasa tidak adil yang diterima Park Sae Royi di masa lalu.

Drama korea Itaewon Class ini memiliki adegan persaingan yang sengit seorang entrepreneur. Tokoh-tokoh didalamnya berdialog mengenai strategi bisnis yang dapat mengedukasi. Hal yang dapat kita pelajari adalah jangan menyerah apabila engkau gagal dalam menjalani suatu usaha karena sesungguhnya hasil tidak akan pernah menghianati proses.

 

2. My ID is Gangnam Beauty

Drama korea My ID is Gangnam Beauty diadaptasi dari webtoon yang dipublikasikan pada tahun 2016. Drama korea ini sendiri dibintangi oleh Lim Soo Hyang sebagai Kang Mi Rae dan Cha Eun Woo dari boy band Astro sebagai Do Kyung Seok. Dalam drama korea ini dikisahkan tentang kehidupan Kang Mi Rae yang merupakan gadis terintimidasi karena penampilannya yang dianggap jelek oleh lingkungan sekitar dan ia melakukan operasi plastik saat akan memasuki perguruan tinggi. Saat memasuki masa perkuliahan, ia memiliki banyak teman baru dan dipertemukan kembali dengan Do Kyung Seok, teman sekolah lamanya. Terdapat satu teman bernama Soo A yang memiliki rasa benci kepada Kang Mi Rae karena Soo A merasa tersaingi dengan kecantikan hasil operasi plastik Mi Rae.

Hal inti yang dapat kita pelajari dari drama korea ini adalah jangan memiliki rasa iri hati kepada orang lain yang lika-liku hidupnya tidak kamu ketahui, syukuri apa yang sudah kamu miliki dan cobalah untuk memikirkan hal positif yang sudah kamu terima.

 

3. Cheese in The Trap

Drama korea Cheese in The Trap mengisahkan tiga mahasiswa yang terlibat cinta segitiga. Hong Seol merupakan mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan harus melakukan banyak pekerjaan paruh waktu untuk membayar kuliahnya. Sedangkan Yoo Jung merupakan mahasiswa yang sangat tampan dan pandai serta memiliki kepribadian yang baik. Yoo Jung berasal dari keluarga berada dan ia akan menjadi pewaris perusahaan milik ayahnya. Selanjutnya, Baek In Ho merupakan sosok yang membenci Yoo Jung dikarenakan insiden buruk masa lalu dan ia mengenal Hong Seol karena sebuah peristiwa sebelum akhirnya ia jatuh hati padanya.

Hal yang dapat kita petik adalah rasa cinta yang dimiliki perlu didampingi dengan komunikasi yang baik sebagai bentuk nyata dari perhatian dan kasih sayang yang tulus. Selain itu, rasa saling memahami antar pasangan juga sangat penting bagi kelancaran sebuah hubungan.

 

4. Extra Ordinary-You

Drama korea Extra Ordinary-You menceritakan tentang kisah cinta segitiga yang dialami oleh Eun Dan Oh, Haru, dan Baek Kyung saat menempuh kehidupan di Era Goryeo. Baek Kyung dan Eun Dan Oh terlibat perjodohan oleh kedua orang tuanya karena faktor bisnis keluarga. Akan tetapi, Eun Dan Oh mengalami rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan karena Baek Kyung tidak memiliki rasa yang sama. Beberapa waktu kemudian, muncul Haru yang membantu Eun Dan Oh ketika membawa buku yang terjatuh dan pada akhirnya Haru jatuh hati pada Eun Dan Oh. Keduanya saling memiliki perasaan yang sama hingga akhirnya Haru hilang tanpa meninggalkan jejak dan Eun Dan Oh berakhir menjalin kasih dengan Baek Kyung.

Hal yang dapat kita pelajari berdasarkan drama korea ini adalah jalani kehidupanmu dengan sebaik mugkin karena Tuhan sudah menentukan takdir terbaik pada setiap makhluk hidup.

 

5. True Beauty

Drama korea True Beauty ini menceritakan tentang seorang wanita bernama Im Joo Kyung yang memiliki wajah kurang cantik dan mendapatkan perlakuan tidak baik oleh teman-teman di sekolah lamanya. Ia dibully dan diejek serta diperlakukan sebagai seorang pesuruh. Semenjak ia pindah sekolah, ia mempelajari cara merias wajah untuk menutupi kekurangannya dan hal itu berhasil ia lakukan. Ia menjadi seperti seorang dewi, ia memiliki banyak teman dan terdapat dua orang laki-laki yang menyukai dirinya walaupun telah mengetahui wajah asli Im Joo Kyung.

Berdasarkan drama True Beauty ini dapat kita simpulkan bahwa rasa sayang dan cinta seseorang tidak bisa diukur melalui paras saja, namun hatilah yang berbicara.

Dedaunan Hitam Anusapati_Kompas.31 Januari 2021.Hal.11

Hitam legam menawarkan aura suram, juga kemurkaan. Inilah yang dituangkan Anusapati (63), seniman yang lebih dikenal sebagai pematung kontemporer, yang juga dosen di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, melalui pameran lukisan dedaunan hitam untuk mengingatkan murka alam atas hilangnya hutan yang tak berkesudahan.

Nawa Tunggal

Ini sebuah lukisan abstraksi dari pengalaman masa kecil tinggal di Cibubur, Jakarta, ketika masih dipenuhi rerimbunan dedaunan. Saya pernah tinggal di Munjul, Cibubur, dari 1962 sampai 1966, masih duduk di bangku SD Kelas I sampai IV,” tutur Anusapati, Selasa (26/1/2021), di Yogyakarta.

Sekilas lukisan-lukisan Anusapati seperti abstrak monokromatik hitam di atas putih. Bidang lukisan dipenuhi warna hitam berlubang putih di sana-sini secara tidak beraturan. Ketika dengan saksama menyimak lekuk-leku lubang putih itu, terdapat liukan garis hitam yang menggambarkan garis bentuk dedaunan berumpun.

Anusapati memamng melukiskan rerimbunan dedaunan yang ditatap secara vertikal dari bawah. Ia menggambarkan lubang-lubang putih itu sinar putih matahari yang menembus celah-celah dedaunan.

Dalam seni fotografi, inilah teknik backlight atau cahaya dari arah belakang.

Seperti pada lukisan yang diberi judul, Shadow Series #20, dengan media arang di atas kertas berukuran cukup panjang, 200 x 100 sentimeter, dibuat tahun 2020. Anusapati memberi dominasi warna hitam yang lebih banyak dibandingkan dengan titik-titik lubang putihnya.

Celah dedaunan yang tertembus sinar matahari lebih sedikit ketimbang dedaunan yang menutup rapat. Anusapati hendak menceritakan betapa lebatnya pepohonan pada masa itu.

Lukisan-lukisan itu ditampilkan dalam pameran tunggal di Galeri Artsphere, Dharmawangsa Square, Jakarta, 16 Desember 2020 hingga 15 Februari 2021. Alia Swastika dalam catatan kuratorialnya menyebutkan, Anusapati melalui tema lukisannya membangun ruang-ruang kontemplatif yang mengajak kita memasuki ingatan dan pengalaman tubuh atas daun, pepohonan, dan semesta.

Ini cukup kontekstual jika dikaitkan dengan persoalan ekologi di Tanah Air. Tanah longsor akibat hujan adalah petaka berulang tak terhindarkan di negeri ini. Kemudian banjir besar menjadi petaka masif yang bergilir di banyak provinsi setiap kali memasuki musim hujan.

Lukisan dedaunan hitam Anusapati seperti lantang berteriak. Kembalikan dedaunan menutup rapat segenap permukaan tanah di Planet Bumi ini.

Kayu dan keseharian

Karya-karya Anusapati berkait erat dengan riwayat hidup Anusapati, yang terlahir di Solo, Jawa Tengah, pada 29 September 1957. Kira-kira berselang tiga bulan kemudian, Anusapati diboyong orangtuanya merantau ke Jakarta. Ayahnya kemudian diterima bekerja di kantor bea dan cukai.

Genap usiam enak tahun, orangtuanya membeli rumah dan tanah di Cibubur. Mereka kemudian tinggal di sana. Anusapati teringat pada masa itu Cibubur masih seperti hutan. Tanaman karet banyak tumbuh di sana.

“Di masa kecil itu saya sering bermain ke danau yang sekarang ada di Bumi Perkemahan Cibubur. Dari rumah ke danau itu hanya 3 menit berjalan kaki,” tutur Anusapati, yang juga akrab disapa Ninus ini.

Pada 1966 orangtuanya berpindah kerja ke kota kelahirannya, Solo. Sejak itu mereka tidak pernah tinggal lagi di perdesaan seperti di Cibubur. Pengalaman masa kecil selama empat tahun di Cibubur inilah yang membentuk karakter Anusapati dalam berkarya seni patung dan melukis sampai sekarang.

Pengelola Galeri Artsphere, Maya Sudjatmiko, menyebutkan bahwa Anusapati selama ini lebih populer dengan karya-karya patung kontemporer yang menggunakan media kayu. Bentuk kayu yang dipergunakan mulai dari dahan dan ranting hingga kayu-kayu limbah dan bekas benda-benda fungsional yang terbuat dari kayu.

“Anusapati berhasil menciptakan karakter-karakter patung yang kuat melalui media kayu. Saat ini, dengan semangat yang sama menggoreskan kayu yang sudah berubah menjadi arang untuk lukisan-lukisannya,” ujar Maya.

Anusapati sempat bercerita tentang kesedihan hatinya tatkala diajak meninggalkan Cibubur ke kota Solo pada 1966. Setahu dia, sewaktu itu hanya diajak untuk berlibur ke kampung halaman. Ternyata, mereka harus menetap di Solo.

Ayahnya sejak itu berpindah tempat kerja dari kantor bea dan cukai Jakarta ke Solo. Di kemudian hari ayahnya sempat pula berpindah tugas ke Surabaya dan beberapa kota lainnya.

“Yang jelas, semenjak pindah dari Cibubur, kami tidak pernah lagi tinggal di lingkungan perdesaan atau kawasan yang masih dipenuhi pepohonan, seperti di Cibubur,” tutur Anusapati, yang menyimpan erat-erat memori masa kecilnya di Cibubur.

Anusapati menuntaskan pendidikan seni patung di Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSR) ASRI, yang kemudian berubah menjadi ISI Yogyakarta pada 1984. Selanjutnya, ia menjadi dosen di almamaternya hingga beberapa tahun berikutnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi seni patung di School of Art and Design, PRATT Institute di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, 1988-1990.

“Karya patung yang pernah saya buat di Brooklyn terbuat dari logam untuk membentuk karakter bubu perangkap ikan. Bahan patungnya dari logam karena di Brooklyn mudah saya jumpai besi-besi rongsokan,” ujar Anusapati.

Setiba di Tanah Air, materi patung yang lebih mudah dijumpai adalah kayu. Apalagi batin Anusapati selalu tergoda untuk menciptakan karya patung secara kontemporer berupa instalasi seni bertalian dengan masalah ekologi dan lingkungan.

“Sekarang melalui karya lukisan di atas kertas dengan arang kayu, saya kembali ke dalam diri. Konteks karya bisa ditarik ke persoalan-persoalan aktual,” kata Anusapati.

Menabrak gagasan

Alia Swastika dalam catatan kuratorialnya menyebutkan Anusapati sebagai figure penting dalam perkembangan seni patung kontemporer di Indonesia. Ia menciptakan kebaruan dari hasil pertemuannya dengan gagasan seni Barat di New York serta akar dan ingatan yang kompleks tradisi dan masa lalunya.

“Karya-karya patung kontemporernya ada kelekatan terhadap memori kolektif atas benda-benda yang dipahatnya, seperti lesung, antan (alu), kentongan, bubu, alat-alat pertanian, dan alat-alat tradisional lainnya. Patung-patungnya menawarkan cara pandang yang lain dalam memaknai bentuk,” ujar Alia.

Anusapati merujuk pada kompleksitas makna yang menabrak gagasan ruang dan waktu. Bentuk-bentuk karya patung yang awalnya kita asosiasikan dengan latar perdesaan atau kampung akhirnya muncul dalam semangat dunia yang kontemporer.

Ada keberanian yang mendekonstruksi bentuk dalam konteks ruang dan waktu. Inilah yang membuat karya Anusapati berbeda dari tradisi patung modern Indonesia yang berkembang hingga tahun 1990-an.

Pada masa tumbuh kembangnya gagasan patung kontemporer, Anusapati masih dilingkupi karya patung secara umum dengan bentuk-bentuk figuratif dan naratif. Pilihan Anusapati menunjukkan posisi konfrontatif dengan tradisi patung modern sebelumnya.

Anusapati muncul dalam bentuk pergaulan semacam ini. Persilangan yang asing dan yang dekat, yang global dan yang lokal, yang kini dan yang lalu. Anusapati menemukan jejak ideologis dan visi estetisnya sendiri.

Kini, Anusapati hadir melalui karya dua dimensi dengan tetap menghadirkan elemen yang sama, yaitu kayu, meskipun sudah berubah menjadi arang. Ideologinya tetaplah sama, menggedor hati untuk berpaling pada kelestarian pepohonan, kelestarian hutan.

 

Sumber: Kompas, 31 Januari 2021

Bedah Arsitektur Rumah Parasite

Penulis: Evan Junior Gunawan

 

PARASITE – merupakan salah satu film asal Korea Selatan yang berhasil menembus pasar Hollywood dengan kemenangan mutlak yang diperolehnya pada 4 jenis kategori penghargaan dunia perfilman bergengsi OSCAR 2020. Disutradarai oleh Bong Jon Ho, Parasite menceritakan sebuah kisah dari penggambaran isu kesenjangan sosial yang riil terjadi dalam kehidupan antara keluarga kaya dan miskin di Seoul, Korea Selatan. Berawal dari penggambaran cerita sebuah keluarga miskin yang hidup di dalam rumah semi basement, ayah Kim Ki Taek (Song Kang Ho), ibu Choong Sook (Jang Hye Jin), beserta kedua anak laki-laki dan perempuannya yang bernama Kim Ki Woo (Choi Woo Sik), dan Kim Ki Jung (Park So Dam) berusaha untuk melakukan segala jenis pekerjaan demi memenuhi kehidupan sehari-hari mereka. Suatu saat teman Ki Wo (Park Seo Jun) datang mengunjunginya untuk menawarkan sebuah pekerjaan sebagai seorang guru bahasa Inggris privat bagi seorang gadis dari keluarga kaya Park Dong Ik (Lee Sun Kyun), yang bernama Park Da Hye (Jung Ji Soo). Berbekal ijazah palsu, akhirnya Ki Woo menerima dan mulai bekerja di dalam rumah keluarga kaya tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Ki Woo yang telah memperoleh kepercayaan cukup besar dari keluarga Park Dong Ik, mulai merencanakan untuk memasukkan seluruh anggota keluarganya untuk dapat bekerja di dalam rumah mewah milik keluarga kaya tersebut. Selayaknya parasit, keluarga Kim akhirnya dapat bekerja dan menikmati kemewahan serta kenyamanan hidup dari gaya hidup keluarga kaya dalam rumah Park Dong Ik. Namun, sayangnya kebahagiaan tersebut hanyalah bersifat sementara, sebab akhir cerita yang cukup tragis menjadi penutup dari film ini. Cerita yang begitu menarik dan realis, membuat Parasite mendapat banyak sekali perhatian dan kepopuleran, salah satunya terkait perancangan arsitektur dari rumah milik keluarga kaya Park Dong Ik. Berikut pembahasan seputar fakta-fakta menarik di balik rancangan hunian dari film Parasite ini.

 

Bukan Rumah Asli

Fakta menarik yang pertama sebelum memasuki pembahasan mendalam terkait aspek perancangan arsitektur dari hunian dalam film Parasite ini ialah, rumah mewah milik keluarga kaya Park Dong Ik bukanlah rumah asli yang terbangun setinggi 2 lantai layaknya penggambaran yang muncul dari klip-klip di film Parasite ini. Berkolaborasi dengan desainer produksi Lee Ha Jun, rumah mewah yang tertampil dalam film merupakan bagian set syuting film yang dirancang dengan bantuan Cinema Graphic.  Sehingga, penetapan seluruh rancangan hunian dilakukan melalui pendekatan dunia perfilman bukan pendekatan arsitektural.

 

Tangga sebagai Representasi Makna Perbedaan Tingkat Sosial

Menghadirkan elemen tangga di area teras, maupun berbagai ruang yang ada dalam hunian sebagai elemen transisi yang memiliki perbedaan level satu sama lain, menjadi sebuah bentuk representasi makna perancangan dari sebuah hunian yang ingin menunjukkan perbedaan status sosial antara keluarga kaya dan miskin. Adapun posisi rumah yang diletakan lebih tinggi dari letak gerbang utama secara arsitektural juga dapat dipahami memliki tujuan untukm emperoleh sirkulasi penghawaan dan pencahayaan yang lebih optimal di dalam hunian.

Optimalisasi Bukaan Mendukung Ketersediaan Pencahayaan dan Penghawaan Alami

Memiliki luas bukaan jendela yang besar pada setiap ruang dalam hunian, menjadikan rumah dari keluarga Park Dong Ik ini mampu memperoleh kualitas penghawaan maupun pencahyaaan alami yang baik. Adapun secara arsitektural, hal ini juga menjadi sebuah strategi perancangan yang tepat dan wajib dalam usaha menghemat penggunaan energi listrik untuk kepentingan pencahayaan maupun penghawaan buatan dalam hunian. Selain itu, melalui bukaan yang optimal, maka kemampuan penghuni ruang untuk memperoleh gambaran visual dari lingkungan taman sekitarnya yang telah disusun secara baik juga dapat diperoleh secara maksimal.

 

Pencahayaan Ruang Menentukan Suasana Ruang yang Ingin Ditampilkan

Kemewahan dan eksklusifitas dari rancangan hunian miliki keluarga Park Dong Ik ini secara sinergis ditampilkan melalui berbagai penetapan model pencahayaan dari masing-masing ruang yang disesuaikan dengan penggunaan material perancangan interiornya. Kehadiran general dan accent lighting pada setiap ruang yang ada dalam hunian, berhasil membantu penegasan setiap karakter material finishing interior yang digunakan berdasarkan aspek kemewahan dan eksklusifitas. Dengan demikian suasana rumah yang mewah dapat tertampilkan secara jelas dalam film ini.

 

Ruang yang Luas Menghadirkan Kemewahan dalam Hunian

Besaran luas yang maksimal dari setiap ruang dalam hunian tak terkecuali pada area koridor, menjadikan rumah milik keluarga kaya dalam film ini semakin terlihat mewah dan eksklusif. Minimalisiasi skat antar ruang dengan pemanfaatan konsep desain open space dalam hunian juga menjadi salah satu usaha yang dapat mendukung pengadaan visual hunian yang semakin terlihat luas. Selain itu penempatan berbagai dekorasi dalam hunian yang tidak begitu ramai juga menjadi usaha dalam menciptakan desain sebuha hunian yang luas dan nyaman untuk ditinggali.

 

Material dengan Warna Senada Menciptakan Keharmonisan dalam Hunian

Aspek perancangan arsitektur dan interior hunian terakhir yang menjadikan rumah milik keluarga Park Dong ik ini berhasil terlihat sangat mewah dan eksklusif adalah melalui pemilihan material finishing dalam hunian yang berfokus pada elemen kayu, beton, dan metal. Ketiga material ini memang telah dipahami dalam dunia perancangan arsitektur maupun interior sebagai kombinasi yang harmonis dalam menciptakan sebuah karakter perancangan yang mewah dan homey. Adapun faktor glossiness dari setiap karakteristik material juga penting untuk dikolaborasikan dalam usaha menciptakan sebuah perancangan hunian yang mewah dan eksklusif.

 

 

Daftar Pustaka

Indie Wire. (2019). Building the ‘Parasite’ House: How Bong Joon Ho and His Team Made the Year’s Best Set. Diakses pada 28 Februari, 2021, dari https://www.indiewire.com/2019/10/parasite-house-set-design-bong-joon-ho-1202185829/

Kompas. (2021). Sinopsis parasite, Film Terbaik Oscar 2020. Diakses pada 28 Februari, 2021, dari https://www.kompas.com/hype/read/2021/02/14/175822466/sinopsis-parasite-film-terbaik-oscar-2020#:~:text=Parasite%20mengisahkan%20tentang%20kesenjangan%20sosial,basement%20yang%20kumuh%20dan%20lembab.

 

 

New Normal Design for Cafe

Bersantai dengan ditemani aroma kopi atau desert yang instagramable tentu menjadi kerinduan bagi sebagian besar orang, khususnya kaum milenial di tengah situasi pandemi saat ini. Keberlangsungan gaya hidup baru dalam masyarakat, yang terwujud dari peran pemerintah untuk memberllakukan kebijakan social distancing, seakan menjadi sebuah penghalang imajiner bagi ppola kehidupan sosial masyarakat dunia saat ini. Interaksi antar anggota masyarakat yang awalnya dilakukan secara bertatap muka di kafe, atau tempat-tempat publik lainnya, kini sudah tidak dapat dilakukan lagi. Namun sejatinya hal ini bukan semata-mata menjadi sebuah fenomena yang akan terus berlangsung sehingga dapat mengancam eskistensi dari usaha para penyedia area komunal tersebut. Berikut ada beberapa tips dan prediksi terkait perkembangan tren perancangan ruang interior dari objek bangunan usaha layanan penyedia area komunal, terkhusus kafe yang dinilai mampu merespon fenomena pandemi saat ini.

 

Berikan Sistem Penghawaan Maksimal

Menyediakan luas bukaan ruang yang optimal berupa pintu maupun jendela sebagai media ventilator alami di dalam sebuah ruang kafe, serta medukung sistem sirkulasi udara yang baik melalui ketersediaan ventilator buatan seperti air purifier atau automatic aerosol disinfectan menjadi tips yang dapat dilakukan guna mencegah penularan virus di dalam ruang kafe yang cenderung tertutup.

Selain itu pengadaan tipe ruang kafe yang memiliki ketinggian plafon (ceiling) cukup tinggi juga dapat menjadi opsi yang digunakan oleh para pelaku usaha dalam menghadirkan sebuah perancangan area ruang dalam kafe yang optimal merespon sirkulasi penghawaan ruang komunal di era pandemi saat ini.

 

Vegetasi

Menyediakan elemen hijau berupa tanaman dalam bentuk dekorasi interior sebuah kafe, sekali lagi menjadi tips yang disarankan dalam konsep desain interior area komunal pada saat pandemi. Hal ini disebabkan lantaran pengaplikasian dari elemen hijau dalam sebuah perancangan ruang interior terbukti mampu menyegarkan suasana dalam ruang baik secara visual maupun penghawaan. Sehingga tips yang satu ini dapat sangat fungsional dalam usaha mengahdirkan performa ruang kafe yang menarik sekaligus sehat bagi penggunanya.

 

Sistem Sensor

 

Kemajuan teknologi yang begitu pesat, nyatanya menjadi faktor yang esensial dalam mengahdirkan sebuah sistem sensorik dalam kehidupan maysarakat modern saat ini, tak terkecuali dalam konsep perancangan sebuah ruang interior. Penggunaannya pada berbagai elemen pendukung ruang seperti pintu, faucet, ataupun toilet menjadi tips aktual yang dapat diperhatikan dalam merancang sebuah detail ruang interior kafe di era pandemi. Semakin besar usaha dalam meminimalkan kemungkinan pengunjung untuk menyentuh berbagai hal dalam ruang interior kafe, maka semakin besar pula tingkat keamanan yang dapat dicapai melalui konsep perancangan interior yang diaplikasikan.

 

Material Antimikroba

Selain berbicara mengenai sistem dalma perancangan, pemilihan material antimikroba juga mengambil peranan penting dalam mencegah kemungkinan virus untuk bertahan lebih lama di dalam ruang interior sebuah kafe. Adapun salah satu contoh material interior yang memiliki sifat antimikroba adalah tembaga. Kuningan atau tembaga memiliki karakteristik membunuh mikroba yang menepel di permukaannya, sehingga hal ini dapat menjadi solusi dalam konsep perancangan sebuah ruang interior di era pandemi saat ini.

 

Menjaga Jarak

 

Mengatur mobilitas antar individu pengguna ruang dalam kafe juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyusun konsep perancangan sebuah interior kafe. Adapun inovasi penyusunan komposisi tempat duduk dalam ruang interior kafe yang memanfaatkan orientasi vertikal seperti gambar ilustrasi terlampir, secara inovatif mampu menjawab persoalan terkait pola mobilitas pengunjung agar tidak berpotensi saling menularkan virus antar individu. Hal ini sendiri juga dapat terealisasi melalui pemilihan ruang kafe yang memiliki ketinggian plafon (ceiling) cukup tinggi. Apabila ruang kafe tidak memiliki ketinggian ceiling yang mendukung pengadaan dari solusi peracangan tersebut, maka alternatif untuk menggunakan media pelindung berupa membran atau partisi transaparan dapat menjadi pilihan dalam perancangan sebuah ruang interior kafe.

 

Menggunakan Warna Cerah

Adapun melalui kepastian dari kondisi ruang yang selalu bersih dan mudah untuk di maintenance, maka keperceyaan konsumen dalam memilih untuk datang berkunjung dan membeli produk di kafe tersebut juga diharapkan dapat meningkat.

 

 

Daftar Pustaka

IDN Times. (2020).7 Tips Desain Interior Restoran di Era New Normal. Diakses pada 25 Februari, 2021, dari https://www.idntimes.com/life/diy/anastasia-michella/tips-desain-interior-restoran-di-era-new-normal-c1c2/7

Kompas. (2020). Ternyata Material Tembaga Membunuh Bakteri dan Virus Termasuk Covid-19. Diakses pada 26 Februari, 2021, dari https://www.kompas.tv/article/76239/ternyata-material-tembaga-membunuh-bakteri-dan-virus-termasuk-covid-19?page=2

 

Redecor Your Room Like Character’s Room in Drama True Beauty

Penulis: Evan Junior Gunawan

 

Menjalani aktivitas selama masa pandemi di rumah tentu membuat kita merasa jenuh dengan ruang yang ditinggali mulai pagi hingga malam hari. Beragam jenis inspirasi menarik dapat digunakan dalam usaha untuk mengolah ruang di dalam hunian agar tidak menjadi membosankan selama menjalankan kebijakan Work from Home saat ini. Adapun salah satu ruang yang mungkin menjadi favorit bagi sebagian besar orang selama menjalankan aktivitasnya di dalam rumah saat ini ialah kamar tidur mereka masing-masing. Pada pembahasan artikel kali ini, inspirasi mendekor interior kamar tidur dari penggambaran gaya interior yang digunakan dalam drama populer Korea True Beauty akan dijabarkan sebagai berikut.

 

Vintage Gothic

Penerapan gaya gothic terlihat sangat jelas pada desain interior ruang kamar tidur milik karakter Lim Joo Kyung. Meski bukan menjadi bagian dari tren interior yang cukup digemari pada era modern saat ini, penerapan gaya gothic yang dipadukan dengan floral vintage, berhasil menghadirkan gaya kamar tidur yang estetik, menarik, serta tidak membosankan bagi pengguna ruang kamar tersebut. Penyesuaian gaya vintage gothic dengan jalan cerita dari drama True Beauty yang menggambarkan sosok Lim Joo Kyung sebagai penggemar dari komik bergenre horror, dapat semakin membantu penerapan gaya vintage gothic pada area kamar tidur ini lebih berkesan untuk diaplikasikan sebagai inovasi dekor ruangan pada masa pandemi.

Adapun poin penting yang dapat mewakili penerapan dekorasi kamar tidur bergaya vintage gothic ini dapat diperoleh melalui aplikasi wallpaper bermotif floral, dengan dominasi ornamen berwarna ungu atau pink yang memiliki tone cukup gelap. Alhasil nuansa ruang kamar tidur yang warm, estetik, dan tidak membosankan dapat menemani waktu seharian di kamar selama pemberlakuan kebijakan Work from Home saat ini.

 

Modernism

Berbeda dengan gaya sebelumnya, penerapan desain interior kamar dari karakter Lee Soo Ho yang modern didominasi dengan warna biru, hitam serta putih yang sangat tegas menggambarkan karakter dari Lee Soo Ho yang cool, chic, dan masculine. Pemilihan perabot yang simpel dengan minimalisasi ornamen dekorasi menjadi ciri khas dari penerapan gaya interior kamar Lee Soo Ho. Adapun pencahayaan yang cool dengan beberapa spot aksen cahaya biru dalam ruangan kamar Lee Soo Ho, berhasil memperkuat nuansa maskulin dan futuristik di dalam ruang interior kamar tidurnya.

Penerapan gaya satu ini akan sangat bermanfaat dalam usaha meningkatkan konsenterasi bekerja selama masa pandemi saat ini. Selain itu, poin penting yang dapat diperhatikan dalam usaha menerapkan gaya perancangan ruang kamar tidur yang modern seperti karakater Lee Soo Ho dalam drama True Beauty ini dapat diwakili dengan penyediaan produk dekorasi lampu meja yang bergaya minimalis, dengan warna cahaya putih ataupun biru.

 

Scandinavia Classy

Menghadirkan suasana mewah yang lembut, penerapan gaya Scandinavia Classy nampak pada gaya ruang interior kamar tidur dari karakter Kang Soo Jin. Hidup di tengah keluarga konglomerat, perancangan gaya ruang interior kamar tidur Kang Soo Jin memang dikondisikan se-elegan mungkin agar status kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Kang Soo Jin benar-benar tersampaikan kepada para penonton drama True Beauty ini.

Adapun penerapan gaya Scandinavia Classy ini sendiri tetap dapat diaplikasikan dengan harga yang terjangkau melalui fokus pemilihan ornamen dekorasi yang terbuat dari logam, seperti kuningan, sehingga nuansa mewah dan classy masih dapat diperoleh dalam gaya interior kamar tidur di masa pandemi saat ini. Selain itu pemilihan warna dinding yang didominasi warna netral yang cerah seperti ivory white juga menjadi penting untuk dipadukan secara serasi dengan produk dekorasi logam yang disiapkan.

5 Tips Sketsa Bangunan Arsitektur dan Interior

Penulis: Evan Junior Gunawan

 

Sketsa merupakan aktivitas menggambar cepat yang dilakukan secara spontan, guna menampilkan ide konsep dalam sebuah perancangan. Adapun dalam usaha untuk melakukan dan mengembangkan kemampuan bersketsa objek bangunan arsitektur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mulai dari penetapan alat dan media sketsa yang digunakan, teknik menggores yang tepat, pemahaman terkait sudut pandang dan pencahayaan, logika pembayangan, dan proporsi skala. Dalam lingkup arsitektur, komunitas urban sketcher dapat menjadi referensi yang baik dalam memperdalam ilmu dan minat untuk bersketsa objek arsitektur. Berikut penjabaran mengenai hal tersebut.

 

Alat dan Media Sketsa

Ada beragam jenis alat yang dapat digunakan dalam melakukan kegiatan sketsa, mulai dari pensil, pulpen, hingga kuas. Begitu pula dengan media yang dapat dimanfaatkan juga sangat beragam mulai dari kertas, kanvas, atau media permukaan halus lainnya. Pertimbangan terhadap pemilihan alat atau media sketsa ini sendiri nantinya akan sangat mempengaruhi penampilan hasil akhir dari sketsa yang dibuat, jadi pastikan gaya sketsa seperti apa yang ingin diperoleh sebelum memulai untuk melakukan sketsa.

 

Teknik Tepat dalam Menggores

Merupakan poin penting dalam bersketsa, teknik menggores yang tegas dengan posisi tangan yang sesuai dalam memegang alat sketsa menjadi 2 hal esensial yang dapat mempengaruhi hasil karya sketsa yang cepat dan komunikatif. Adapun teknik goresan tegas berarti menggariskan garis gambar sketsa dengan satu gerakan menerus tanpa putus, sehingga hasil gambar yang disajikan dapat terlihat bersih dan jelas. Sedangkan posisi tangan yang sesuai dalam memegang alat sketsa dapat digambarkan melalui peletakannya yang tidak terlalu menempel pada permukaan media sketsa, sehingga gerakan tangan dalam menggoreskan garis gambar akan dapat lebih leluasa tanpa mengkotori bidang permukaan dari media sketsa tersebut.

 

Sudut Pandang dan Pencahayaan

Menghasilkan gambar sketsa yang riil sehingga mudah untuk dipahami menjadi tujuan penting dalam menggambar sebuah sketsa. Sehingga pemahaman terkait sudut pandang dan pencahayaan dalam gambar sketsa dapat menjadi tips lainnya yang wajib digunakan dalam menghasilkan gambar sketsa yang komunikatif. Terdapat 3 jenis sudut pandang dasar dalam sebuah gambar sketsa perspektif sebuah bangunan yakni, ant view, human view, dan bird view, yang penggambarannya dapat memanfaatkan teknis satu titik lenyap atau dua titik lenyap. Sedangkan untuk pencahayaan nantinya akan berkaitan erat pada penetapan letak dari sumber cahaya tersebut dengan bayangan yang dihasilkan.

 

Logika Pembayangan

Menyabung pembahsan terkait pencahyaan sebelumnya, peranan elemen pembayangan (shading) dalam sebuah gambar sketsa tidak kalah pentingnya dari tips-tips sebellumnya, dengan memberikan bayangan yang tepat dengan sumber cahaya yang ada, maka tekstur gambar, kedalaman serta karakteristik objek yang digambarkan dalam sketsa dpat benar-benar dipresentasikan secara jelas dan tepat. Adapun jenis pembayangan juga sangat beragam, mulai dari pemanfaatan kerapatan garis arsir pada gambar sketsa, ketebalan dari goresan arsir pada objek permukaan gambar, hingga penetapan arah dan pola goresan arsir yang mengikuti objek utama dalam gambar sketsa menjadi variasi dari pemebrian elemen bayangan pada gambar.

 

Proporsi Skala

Tips terakhir yang penting untuk diperhatikan dalam menghasilkan sebuah gambar sketsa bangunan ialah skala dan proporsi. Keselarasn atau keharmonisan proporsi dan skala gamabar, menjadi faktor esensial yang mempengaruhi estetika hasil pneggambaran sketsa yang dibuat. Hal ini dapat diwujudkan melalui penambahan ilustrasi pembanding dalam berupa orang ataupun objek lainnya yang mewakili aspek proporsi dan skala pada objek gambar sketsa yang digambarkan. Sehingga tampilan sketsa yang dimunculkan dapat secara jelas menggambarkan ukuran dan komposisi bentuk dari ide perancangan sebuah bangunan arsitektur.

Filosofi Fasad Tiga Segi Tiga.Jawa Pos.31 Januari 2021. Hal.24,25

Sabar dan menikmati proses. Begitulah Resi Wimbadi dan Vicca Egistha membangun Rumah Naganara. Hunian yang nyaman, memikat, dan punya sederet makna.

Rumah Naganara, yang namanya diambil dari kedua anak mereka, Naga dan Nara, adalah mimpi Resi bersama istri tercinta. Tiga segitiga menjadi wajah rumah. Dari sekian banyak bagian cantik di bangunan tersebut, fasadlah yang sejak awal tidak berubah. Resi menyebut, mereka tegas meminta wajah rumah.

Ada nilai di balik tiga bentuk segitiga yang menyambut di bagian depan. “Maka, kami minta fasadnya itu tiga-tiganya dibedakan warnanya” kata dia. Abu-abu, warna kayu, dan putih. Masing-masing punya arti. “Ada filosofinya,” tambah Resi. Warna abu-abu dan kayu melambangkan keinginan dan perjuangan memiliki rumah impian.

Mulai mereka-reka rumah impian, menabung, bekerja keras menghabiskan banyak waktu sampai impian itu terwujud. Yang berwarna putih, lanjut Resi, merupakan pengingat. “Kami sudah mempunyai semuanya, jangan lupa bersyukur, selalu rendah hati,” imbuhnya. Sebelum membangun Rumah Naganara, Resi dan Vicca sempat berkeinginan tinggal di klister. Namun, jodoh mereka tidak di sana. Rumah Naganara dibangun di atas eks Rumah berarsitektur Betawi.

Semula di atas tanah 200 meter persegi itu hanya berdiri bangunan dengan luas sekitar 30 meter persegi. Resi dan Vicca membeli rumah tersebut, kemudian membangun ulang. Namun, tidak semua stuktur bangunan lama dibongkar. Ada yang masih mereka gunakan. Itu pula yang membuat Rumah Naganara tidak memakan biaya besar untuk konstruksi. Gambaran rumah tersebut sudah ada lama dalam kepala Resi dan istri.

Rumah di Pondok Ranji, Tangerang Selatan, tersebut dibangun dalam tempo delapan bulan. Tidak sedikit yang bertanya-tanya saat mengetahui biaya total untuk membangun rumah tersebut di bawah Rp 1 miliar. Melihat bentuk, isi, fungsi, serta opsi penambahan bangunan yang tersedia, banyak yang mengira butuh minimal Rp 1-2 miliar untuk rumah tersebut.

Namun, Resi dan Vicca membuktikan hunian cantik @rumahnaganara yang sudah setahun lebih mereka tempati itu dibangun dengan biaya hanya Rp 800 jutaan. Dan, itu sudah termasuk dengan berbagai isinya. “Bahkan, kalau sesuai desain yang digambar arsitek kami, biayanya bakal kurang dari 800 juta (rupiah),” katanya saat berbincang dengan Jawa Pos. Sejak awal Resi dan Vicca ketat terhadap bujet.

Rumah tumbuh, rumah bernapas, ada sentuhan industrialis, serta unsur-unsur Scandinavian di dalamnya. Bila memaksakan membeli rumah jadi di kluster, kata Resi, mungkin saja semua keinginan itu tidak bisa terwujud. Namun, karena mereka memilih membangun rumah sendiri, semua keinginan tersebut bisa diakomodasi arsiteknya.

Terdiri atas dua lantai, lantai atas difokuskan sebagai tempat istirahat. Ada satu kamar utama dan dua kamar anak di sana. Sementara itu, di bagian bawah, mereka mengaplikasikan desain tanpa sekat. “Kami nggak mau nanti anak-anak sibuk di kamar terus,” imbuhnya.

Karena itu, mereka sengaja memilih open space untuk lantai bawah. Menurut dia, dengan begitu suasana bisa lebih intimate. Selain itu, pilihan tersebut membuat Rumah Naganara memiliki sirkulasi udara yang baik. Pun demikian pencahayaannya.

Konsep one space, ceiling tinggi, dan bukaan-bukaan besar membuat rumah terasa lebih luas dan terang. Tidak butuh banyak lampu selama ada sinar matahari. Saat siang hanya TV dan mesin cuci yang paling banyak memakan listrik.

 

Rumah Naganara

Project architect:

Mande Austriono

Lokasi:

Pondok Ranji, Tangerang Selatan

Luas Tanah:

200 meter persegi

Luas Bangunan:

196 meter persegi

Lama pengerjaan:

Delapan bulan mulai desain sampai konstruksi selesai

 

Sumber: Jawa Pos, 31 Januari 2021

Lukis OTS Sekaligus Pameran.Jawapos.3 Februari 2021.Hal.24

Aneka rupa dan warna lukisan di kanvas terlihat di Taman Puspa Raya CitraLand, Surabaya, Minggu (31/1). Puluhan karya seni itu diletakkan berjajar di area taman. Lukisan-lukisan itu merupakan karya seniman yang tergabung dalam Ikatan Pelukis Indonesia (IPI). Sebagian dilukis pada hari itu saat event melukis on the spot (OTS) bersama.

Agenda tersebut diawali dengan ramah-tamah anggota IPI pukul 06.00. Sebanyak 16 anggota hadir pagi itu. Lantas, mereka mengambil peralatan lukis untuk mengikuti agenda melukis bersama. Dalam waktu satu jam, berbagai rupa telah tampak dari setiap kanvas. Di antaranya, objek bunga, hewan, cityscape, dan bangunan.

Sebagaimana seniman Esty Ardian yang memilih melukis kupu-kupu dengan penuh warna cerah. “Saya tadi melihat kupu-kupu di sekitar sini, jadi inspirasi itu yang muncul,” ucapnya sembari menyelesaikan lukisannya.

Terdapat enam belas karya seni rupa dari enam belas seniman yang mengikuti agenda tersebut. Seluruhnya kompak diselesaikan pukul 10.00 dan langsung dipamerkan. Satu per satu pengunjung pun tertarik datang dan melihat langsung proses hingga pameran lukisan itu.

Ketua IPI Supaat Margie menyatakan bahwa tidak ada tema khusus pada agenda kali ini. “Bahkan, jika ada pengunjung yang menawar untuk dilukiskan objek tertentu, kami juga bersedia,” ucapnya.

Menurut dia, aktivitas melukis bersama anggota IPI saat pandemi kali pertama diadakan. Sebelumnya, mereka kerap melukis bersama di beberapa event tertentu. Rencananya, agenda itu kembali digelar rutin setiap minggu. Lokasinya juga akan berpindah-pindah sesuai dengan kesepakatan anggota.

“Kami pilih lokasi di ruangan terbuka yang sekiranya mengundang pengunjung, tapi tetap patuh protokol kesehatan,” imbuhnya.

Pemilihan lokasi itu berdasar tujuan utama agenda melukis bersama. Yakni, ingin mengedukasi sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat. Hal itu dirasa bisa menyentuh langsung para pecinta seni. Terlebih pada masa pandemi ini, masyarakat jarang menikmati lukisan di pameran seni.

 

Sumber: Jawa Pos, 3 Februari 2021