Sell on May and Go Away

Sell om May and Go Away. Jawa Pos.26 April 2016.Hal.1,11

Oleh ELLEN MAY

 

MENJELANG pertengahan tahun, investor saham akan mulai waspada dengan fenomena ini. Konon, pada Mei biasanya pasar saham cenderung melemah. Benarkah demikian?

Istilah sell on May and go away lahir dari pasar saham negara Barat, terutama di Amerika Serikat (AS). Secara statistic memang terbukti. Apakah hal tersebut juga terjadi di Indonesia?

Sell on May and go away menggambarkan strategi investor yang menjual kepemilikan sahamnya pada Mei dan menginvestasikannya ke instrumen investasi lain.

 

Upaya Investor Minimalkan Risiko

Lalu, kembali ke pasar ekuitas sekitar November. Sebab, secara historis di pasar saham negara Barat seperti di AS, biasanya periode Mei-Oktober nilai investasi mudah menguap.

Kebalikan dari sell on May, Oktober sering disebut dengan indikator Halloween, merupakan sinyal bahwa pasar saham cenderung menguat.

Sell on May dan indikator Halloween tidak bisa dijadikan patokan. Namun, bisa menjadi sinyal bagi kita akan adanya reversal (pembalikan arah) di pasar.

Berdasar penelitian statistic terhadap Dow Jones dan S&P di AS disebutkan, seorang investor akan mendapatkan tingkat imbal hasil yang jauh lebih baik jika berinvestasi pada saham selama enam bulan terbaik saham (dari November hingga April) dan mengalihkan ke obligasi selama enam bulan terburuk saham (dari Mei hingga Oktober).

Sebagai contoh, berdasar hasil penelitian, jika Anda menginvestasikan uang USD 10.000 pada 1950 hingga 2007, dengan strategi di atas, uang Anda akan berkembang menjadi USD 578.413 (naik 5.684 persen). Namun, jika melakukan sebaliknya, dana tersebut akan tersisa USD 341 (turun 96,5 persen).

Jadi, strategi sell on May and go away bukanlah menjual saham pada Mei dan masuk pada bulan-bulan selanjutnya. Namun, merupakan strategi investasi untuk menempatkan dana secara bergantian pada saham dan obligasi.

Di negara Barat seperti AS dan Eropa, liburan musim panas merupakan bagian dari budaya. Momen tepat untuk menikmati hasil kerja atau hasil investasi pada periode setahun sebelumnya. Mereka bisa bepergian ke negara lain, bahkan sampai ke beberapa negara.

Dalam rangka menikmati dan fokus pada liburan itu, para investor tidak ingin terganggu dengan berita perkembangan pasar yang bisa mempengaruhi portofolionya. Maka, salah satu cara terbaik adalah keluar dari pasar saham terlebih dahulu, baik mengambil dana secara tunai maupun mengalihkan seluruh atau sebagiannya ke instrument yang lebih stabil seperti obligasi negara. Investor di Amerika cenderung keluar dari pasar saham saat liburan dan memilih investasi yang lebih rendah risiko.

Terlepas dari riset dan statistik tren pasar modal, diluar teori strategi investasi, bisa jadi munculnya istilah sell on May and go away merupakan upaya investor untuk meminimalkan risiko. Yakni, mengamankan portofolionya karena menjelang musim liburan panas yang  biasanya terjadi akhir Mei sampai Juni, Juli, dan Agustus.

Bagaimana dengan di Indonesia? Masyarakat kita juga mengenal liburan sekolah pada periode setelah Mei. Maka, bagi yang berencana liburan dan menikmati hasil investasinya, sell on May and go away bisa menjadi pilihan.

Namun, yang lebih penting lagi adalah butuh dana untuk memasuki musim tahun pelajaran baru di sekolah di berbagai level, mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi. Maka, kalau merujuk kepada alasan itu, ya boleh saja investor melakukan aksi jual pada periode akhir April sampai Mei. Dengan catatan, kita sudah berada dalam posisi untung alias cuan. Hehehe…

Anggap saja itu sebagai bagian dari manajemen risiko sekaligus untuk kemudian menata ulang portofolio investasi di pasar saham. Apalagi, pada periode April dan Mei kita sudah bisa menilai kinerja masing-masing emiten dan sektor bisnis yang ada di bursa saham Indonesia.

Rata-rata pada Mei itu emiten sudah melaporkan secara penuh kinerja pada kuartal pertama. Dari situ kita bisa menilai, apakah investasi kita di saham tersebut sudah tepat atau belum. Atau jangan-jangan ada saham emiten lain yang ternyata lebih kinclong dan potensial untuk kita miliki.

Di Indonesia, sebenarnya, secara statistik pasar saham Indonesia yang tercermin  dalam kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Mei tidak konsisten, malah lebih banyak return positifnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan secara rata-rata sejak 1984 sampai 2012 kinerja IHSG saat Mei naik 2,44 persen. Pada 1988 sampai 2012 juga naik 2,84 persen dan pada 1989 sampai 2012 naik 2,32 persen.

Di bulan Mei 2015 IHSG naik 2,55 persen dan investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp 3,460 triliun. Pada Mei 2014 IHSG juga naik 1,11 persen dan investor asing melakukan pembelian bersih Rp 8,089 triliun.

Investor asing memang dominan melakukan aksi jual, tetapi IHSG mampu menguat. Bisa diartikan bahwa investor local yang merupakan masyarakat Indonesia tidak terlalu meyakini fenomena sell on May and go away itu.

Beberapa kali memang strategi switching pada April dan Oktober tersebut menunjukkan hasil yang bagus. Apa yang akan terjadi saat Mei tahun ini? Mari kita lihat saja apa yang akan terjadi. Tahun lalu pasar saham mulai terperosok tepat pada 1 Juni 2014, dekat dengan Mei.

Meski hal menarik yang saya temui itu tidak bisa dijadikan patokan utama, secara historis terbukti bahwa Mei sampai September merupakan musim kemarau di bursa saham. Investor perlu mewaspadai, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang biasanya cenderung melemah. Mei juga bulan saat fund manager (pengelola asset) sedang melakukan rebalancing portofolio.

Tahun 2016 ini saya melihat beberapa saham yang sudah berada di puncak siklus enam bulanan adalah saham dari sektor perbankan. Itu perlu diwaspadai karena risiko dari NPL yang cukup tinggi dan turunnya margin (NIM) lantaran turunnya tingkat suku bunga.

Namun, jangan khawatir. Selain sektor perbankan, masih ada sektor lain yang menurut saya bisa berkembang, yaitu sektor property yang diuntungkan dari turunnya suku bunga.

Menjelang Mei ini, waspadai IHSG secara teknikal yang sudah berada dekat resistance kuatnya di angka 5.000, ada potensi penguatan terhalang di area itu.(*)

 

Pendiri Ellen May Institute, www.ellen-may.com

 

Darurat Impor Gandum Nasional

Langkah-Optimis-Pemimpin.Dewi-eds-5.XXIV.Mei-2015.pg-154

POLA konsumsi makanan pokok masyarakat yang dulunya lebih banyak nasi mulai bergeser ke bahan pangan dari tepung terigu, seperti mie dan roti. Pergeseran ini mendorong peningkatan permintaan tepung terigu yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Kisarannya 7% setiap tahun. Dengan konsumsi antara 5-5,5 juta ton per tahun, Kementerian Perindustrian memperkirakan permintaan tepung terigu pada 2015 akan meningkat sebesar 6% menjadi 5,83 juta ton.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, di Indonesia saat ini ada 29 pabrik terigu dengan total kapasitas giling gandum sebesar 9,7 juta ton. Kapasitas pabrik-pabrik tersebut baru dimanfaatkan sekitar 60%, jadi masih memiliki cukup banyak ruang untuk peningkatan produksi ke depan.

Gandum sebagai bahan baku tepung terigu dianggap sebagai tanaman non-tropis yang tidak dapat tumbuh di Indonesia. Meskipun saat ini beberapa universitas tengah mengembangkan varietas yang sesuai dengan iklim tropis di Indonesia, tapi varietas tersebut belum dikembangkan secara massal untuk memenuhi kebutuhan gandum di Tanah Air.

Oleh karena itu, Indonesia masih harus mengimpor gandum untuk dapat memproduksi tepung terigu. Dengan meningkatnya permintaan terigu, otomatis jumlah impor gandum juga akan terus meningkat. Tahun lalu Indonesia mengimpor 7,2 juta ton gandum, membuat Indonesia menjadi negara pengimpor gandum terbesar keempat di dunia setelah Mesir (9,5 juta ton), China (8,5 juta ton), dan Brazil (7,4 juta ton). Sebagian besar impor berasal dari Australia (55%), Amerika (18,7%), dan Kanada (14,2%).

Besarnya ketergantungan terhadap impor gandum ini tentu memberi sinyal bahaya bagi kedaulatan pangan Indonesia. Kementerian Pertanian mulai berusaha menyiasati masalah ini, salah satu caranya dengan menggantikan tepung terigu dengan tepung lokal seperti tepung jagung, tepung singkong, atau tepung ganyong. Namun, tentunya produksi komoditas-komoditas lokal tersebut juga harus ditingkatkan sebelum dapat menggantikan tepung terigu.

 

UC Lib-Collect

Insight. 15 Maret 2015

Harga Tinggi Saat Panen Raya

Harga-Tinggi-Saat-Panen-Raya.Bloomberg-Businessweek.eds-16-22-Mar.2015.pg-4

Musim panen raya padi di seluruh Indonesia berlangsung mulai Februari-Mei dan puncaknya pada Maret.Ironisnya,saat mulai panen raya harga beras justru melambung tinggi seperti tak terkendali.Harga beras jenis IR 64 pada akhir februari telah naik 18,9% menjadi Rp12.660,menurut data PD Pasar Jaya.

Meningkatnya permintaan di pasar akibat terhentinya penyaluran beras bagi rakyat miskin (Raskin) selama tiga bulan pada akhir 2014 membuat harga beras merangkak naik.Ditambah lagi mundurnya musim tanam akibat cuaca yang mengakibatkan molornya musim panen serta ulah para spekulan mencari keuntungan sesaat mendongkrak harga beras di pasar.

Indonesia merupakan negara agraris,dan makanan pokok masyarakatnya nasi.Akan tetapi,sepertinya pemerintah belum mampu mencukupi kebutuhan beras nasional.Setiap tahun pemerintah masih harus mengimpor beras dari lumbung beras negara tetengga,seperti Thailand,Vietnam,dan negara lainnya guna menjaga stok persediaan dan menstabilkan harga.

Produksi padi 2015 ditargetkan mencapai 73,4 juta ton gabah kering giling(GKG),atau meningkat 4% dari perkiraan tahun lalu dan produksi beras 41,2 juta ton,atau meningkat 2,8% dari tahun sebelumnya.Sasaran produksi padi Kementeriaan Pertanian pada 2019 sebesar 82,1 juta ton GKG dan menghasilkan 46,1 juta ton beras.Dengan asumsi konsumsi beras penduduk 31,7 juta ton,maka pada akhir 2019 akan terjadi surplus beras sekitar 14,4 juta ton.

Agar target tersebut tercapai dan tercipta swasembada berasperluh ada perbaikan infrastruktur irigasi,perluasan lahan pertanian,bantuan benih varietas unggul,serta insentif harga pupuk-dan yang terpenting-harga jual padi tidak merugikan para petani.

Sumber: Bloomberg-Businessweek.eds-16-22-Mar.2015.pg-4

 

Lonjakan Belanja Iklan Mobile

Lonjakan-Belanja-Iklan-Mobile.Bloomberg-Businessweek-eds-13-19-Apr.2015.pg-4

Iklan mobile (peranti bergerak) global tahun ini diperkirakan bakal bertumbuh 44,8% menjadi US$43,4 miliar,atau sekitar 26,59% dari total iklan di dunia maya.Pada 2019,iklan internet diprediksi mencapai US$120,2 miliar,atau 46,84% dari total iklan internet sebesar US$256,58 miliar.

Belanja iklan daring di Indonesia tahun ini baru mencapai US$883,1 juta,terdiri atas iklan desktop US$716,2 juta dan iklan mobile US$166,8 juta.Akan tetapi,trennya bertumbuh seiring meningkatnya penetrasi internet.

Media televisi masih mendominasi perolehan iklan global senilai US$219,6 miliar,disusul internet US$163,3 miliar,dan berikutnya koran US$73,1 miliar.Televisi juga mendominasi kue belanja iklan di Indonesia sebesar US$4.478,4 juta.Posisi kedua ditempati koran US$2.281,9 juta; dan ketiga iklan internet sebesar US$883,1 juta.

Viva B.Kusnandar

Sumber: Bloomberg-Businessweek-eds-13-19-Apr.2015.pg-4

To Catch a Thief

To-catch-a-thief.Entrepreneur-eds-Mei.2015.pg-72

Q : Which internal accounting controls can help prevent fraud?

By Joe Worth

 

A: This is a vast topic covered by countless books and consultants, so let’s narrow it down to employee fraud and theft. Aside from the obvious – conducting regular inventory checks and book audits, reconciling cash daily, and personally reviewing financial statements each month – there are several actions you can take to protect yourself and your business.

Establish a code of conduct.

Did you know that Walmart employees are not allowed to accept a bottle of water or cup of coffee from a vendor at a meeting without paying for it? That’s what I mean by a code of conduct. It’s a statement that you will not tolerate unethical or illegal behaviour toward anyone – customers, uppliers, employees or the company itself.

While you may not be as strict as Walmart, you should write and post a code of conduct that clearly spells out the rules for employees and the repercussions for not following them. Give the code to everyone upon hire, and periodically thereafter, and require written acknowledgement that they have read, understand and agree to comply with it.

Now look in the mirror. It’s one thing to demand honesty from your employees, but the code of conduct goes both ways. So you, as the enforcer of the code, need to follow it to the letter. If employees see you take home merchandise or use company property for personal reasons, they may follow your lead – or worse. If you treat employees with respect, compensate them appropriately and offer opportunities to advance their careers, they’ll have less motivation to steal or cheat.

Set up organizational checks and balances.

In a small business, one peron may wear many hats. But the most dangerous multitasker is a solitary administrator/bookkeeper who opens the mail, handles deposits and payments and files transaction documents. No one person should control that many aspects of the business – it’s asking for trouble.

At one of my companies that processed a high volume of mail, we conveed a dozen senior managers and their assistants to open the mail everyday. With all those hands, the task took about 15 minutes. All checks were set aside, with a tape of their total run. When the day’s bank deposit was prepared, the total had to match the tape run earlier.

Also avoid assiggning the same person to handle purchasing and vendor payments, or allowing the same employee to manage accounts payable and accounts receivable. If you’re manufacturer or distributor, you should have separate people managing receiving, warehousing and shipping.

At the very least, set up an operation in which one person controls what comes in (cash, checks, merchandise, supplies) and another handles what goes out (payments, orders, finishhed products).

Institute policies and procedures.

                Someone other than the bookkeeper should settle bank and credit card statements every month – and the person who reconciles the bank statements should not have the ability to enter or modify transactions in the accounting system.

Here’s why : One of my partners started working with a new client and began routinely looking at their credit card statements. For one card, there were no records of purchase that matched the charges. An investigation uncovered that the client’s former controller had taken a company card with him when he left and had run up more than $200,000.

Another way to rein in fraud is to have payroll prepared and authorized by HR but entered by accounting, then checked by management before the funds are sent to the payroll company.

Also, keep everything locked up that should be locked up, and enforce rigorous key control and computer – system access, especially for departing employees. Changing locks and passwords company wide when someone leaves or is dismissed is not an overreaction – it’s smart.

Watch employees’ behavior.

If you notice changes in an employee’s behavior – files have been misplaced; they don’t want help with a project; they’re giving a customer excessive attention – look into it. The same goes for an employee with access to critical parts of the company’s operations or finances who never takes vacation time, or who routinely works early or late when no one else is around.

Trust me, they’re not working those extra hours because they love their job. It might be because they don’t want anyone else to see what they’re doing. Insist that people usa their vacation time and stick to regular business hours.

Pay attention to any blips in your operation, no matter how minor. At one manufacturing company I worked for, a customer sent back an expensive item for warranty repair. We couldn’t find any record of the sale. Upon further inquiry with the customer, we discovered that our vice president of manufacturing and a foreman were building equipment inside the company, then shipping units out the back door along with their own company’s invoices. We were able to recover hundreds of thousands of dollars in losses berfore turning the two over to the police.

The key in all this is to trust your gut and recognize that no one knows your company as well as you do. If something doesn’t look or feel right, it’s probably not. By all means, investigate.

JOE WORTH IS VICE PRESIDENT OF OPERATIONS AND PARTNER AT B2B CFO. @BCBCFO_NJ

 

UC Lib-Collect

Entrepreneur.May 2015.Hal.72

Mengukur Kesejahteraan Petani

Mengukur-Kesejahteraan-Petani.Bloomberg-Businessweek-eds-20-26-Apr.2015.pg-4

INDONESIA dikenal sebagai negara agraris di mana sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya dari hasil produksi pertanian. Ironisnya, nasib para petani di negeri ini seperti terabaikan, bahkan banyak yang tergolong miskin. Penyebabnya mulai dari rendahnya upah buruh, minimnya lahan, hingga harga jual produk pertanian yang kurang menguntungkan petani. Tidak sedikit petani hanya mengandalkan upah sebagai buruh karena tidak punya lahan.

Untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data Indeks Nilai Tukar Petani (NTP). NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib) dalam presentase. It merupakan indicator tingkat kesejahteraan petani dari sisi pendapatan, sedangkan Ib indicator dari sisi kebutuhan petani, baik konsumsi maupun biaya produksi.

Jika NTP > 100 berarti petani mengalami surplus di mana harga komoditas pertanian naik lebih besar daripada kenaikan harga barang/jasa konsumsi dan biaya produksi. Jika NTP = 100, maka impas karena kenaikan harga komoditas sama dengan kenaikan harga barang/jasa konsumsi dan biaya produksi. Dan, jika NTP < 100, artinya petani mengalami defisit atau rugi.

Pada Maret 2015, indeks nilai tukar petani turun 0,64% ke posisi 101,53 dibanding Februari 2015 karena It petani turun 0,23% sementara Ib naik 0,42%. Artinya, kesejahteraan petani bulan lalu lebih rendah daripada bulan sebelumnya karena harga jual produk pertanian turun, tetapi harga barang/jasa konsumsi dan biaya produksinya justru naik.

 

UC Lib-Collect

Insight. 26 April 2015

Penurunan Penjualan Komputer Personal

Penurunan-Penjualan-Komputer-Personal.Bloomberg-Businessweek-eds-30Mar-05Apr.2015.pg-4

OLEH VIVA B.KUSNANDAR

SUMBER:INTERNATIONAL DATA CORPORATION/BLOOMBERG INTELLINGENCE

 

Pengapalan komputer personal (PC) global tahun ini diprediksi akan kembali turun 4,9% menjadi 293 juta unit dibanding tahun sebelumnya.Pada 2019 diprediksi bakal kembali turun 0,5%.

Tahun lalu,penjualan komputer dunia sudah turun 2,2% menjadi 308,1 juta unit dibanding periode 2013 sebanyak 315 juta unit.Menguatnya nilai tukar dolar Amerika terhadap mata uang dunia dan turunnya harga-harga komoditas membuat daya beli masyarakat terhadap produk komputer di negara berkembang merosok9,5% tahun lalu,dan pada 2015 diprediksi kembali susut 4,7%.

Pada 2014,produsen asal Negeri Ginseng,Samsung mengalami penurunan penjualan paling dalam sebesar 54,l% menjadi 5,6 juta unit dibanding tahun sebelumnya sebanyak 12,1 juta unit.Sebaliknya.Apple mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan 14,26% menjadi 19,6 juta unit dibanding periode 2013 sebanyak 17,1 juta unit.

Pangsa pasar komputer pada 2019 diprediksi akan semakin tergerus dan tinggal 4,8% untuk jenis desktop dan 6,8% untuk jenis portable.Sementara itu,telepon pintar (smartphone) justru tumbuh dan menguasai 77,7% perangkat yang terkoneksi.

 

Sumber: Bloomberg-Businessweek-eds-30Mar-05Apr.2015.pg-4

HP Masih Merajai Pasar Printer

HP-Masih-Merajai-Pasar-Printer.Bloomberg-Businessweek-eds-04-10-Mei.2015.pg-4

Hewlett Packard (HP) masih menguasai pasar hardcopy peripherals (printer, printer multifungsi, dan fotokopi digital) global sebesar 39,4% pada 2014. Akan tetapi, pengapalan printer maupun mesin fotokopi HP pada triwulan IV/2014 merosot 7,22 % menjadi 11,7 juta unit. Walhasil, sepanjang tahun lalu pengapalan HP turun 2,71% menjadi 43,37 juta unit.

Pengapalan mesin cetak digital global pada triwulan IV tahun lalu susut 2,6% menjadi 30,8 juta unit dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, nilainya justru tumbuh 1,7% menjadi US$15,2 miliar. Permintaan global melambat seiring terapresiasinya nilai tukar dolar Amerika terhadap mata uang dunia.

Pengapalan mesin cetak digital global telah mencapai puncaknya pada 2011 sebanyak 126,06 juta unit. Setelah itu kinerjanya terus menurun. Tahun ini, pengapalannya diperkirakan bakal kembali merosot seiring melambatnya perekonomian dunia.

Lembaga moneter internasional IMF pada Januari 2015 merevisi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,5% pada 2015 dan 3,7% pada 2016 dari prediksi sebelumnya sebesar 3,8% pada2015 dan 4% pada 2016. Belum pulihnya kawasan Eropa serta berlanjutnya perlambatan dunia usaha di China yang dianggap sebagai lokomotif ekonomi Asia bakal mengurangi permintaan printer global.

Penjualan printer (fungsi tunggal + multifungsi) jenis inkjet pada triwulan IV/2014 turun 3,9% menjadi 18,9 juta unit dibandingkan triwulan yang sama pada 2013. Sementara itu, untuk printer (fungsi tunggal + multifungsi) jenis laser pada triwulan IV/2014 berhasil tumbuh 0,2% menjadi 10,69 juta unit dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan kategori, printer multifungsi (inkjet + laser) pada triwulan IV tahun lalu terkoreksi 1,7% menjadi 22,26 juta unit dari tahun sebelumnya. Penjualan printer fungsi tunggal (inkjet +laser) pada triwulan IV/2014 juga turun 4,5% menjadi 7,34 juta unit dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya.

 

Viva B. Kusnandar

 

UC Lib-Collect

Insight.4-10 Mei 2015

Merger dan Akuisisi Menyongsong MEA

Merger-dan-Akuisisi-Menyongsong-MEA.Bloomberg-Businessweek-eds-23Feb-01Mar.2015.pg-4

Para pelaku usaha ketar-ketir menghadapi kerasnya persaigan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara setelah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN(MEA) akhir 2015.Dengan pengurangan atau bahkan peniadaan batasan perdangangan barang dan jasa antarnegara,para pelaku usaha dituntut memikirkan berbagai cara agar bisa bersaing dengan pebisnis dari negara lain.

Salah satu cara yang dianggap cukup mampu membendung derasnya persaingan adalah dengan merger ataupun akuisisi.Tampaknya banyak pelaku usaha yang menyukai cara ini.Survei A.T Kearney menyebutkan 40% pemimpin perusahaan di kawasan Asia Tenggara menganggap merger dan akuisisi sebagai jalan pintas untuk menghadapi MEA.

Preferensi para pemimpin perusahaan ini pun telah mulai dilaksanakan.Pada 2014,jumlah merger dan akuisisi di kawasan ini meningkat sekitar 12% menjadi US$68,4 miliar,dengan jumlah transaksi mencapai 1.751.Berbeda dengan tahun sebelumnya,angka ini bahkan mampu melampaui nilai merger dan akuisisi Jepang senilai US$ 64,7 miliar.Sebagian merger dan akuisisi tersebut terjadi pada enam bidang usaha: keuangan,energy dan listrik,real estat,teknologi tinggi,bahan baku,dan industri.

Beberapa transaksi tersebut berlokasi di Indonesia,seperti pembelian 30% aset minyak dan gas Murphy Oil Corporation senilai US$2 miliar yang dilakukan PT Pertamina,pembelian 100% saham PT Danone Dairy Indonesia (produsen susu Milkuat ) oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.senilai US$20,5 juta,dan pembelian saham Axis Telekom Indonesia (Axis) oleh PT XL Axiata Tbk.senilai US$865 juta.

Gencarnya aktivitas merger dan akuisisi sepanjang 2014 diperkirakan masih akan berlanjut tahun  ini.Pemerintah Indonesia sepertinya jugasudah berancang-ancang dengan mencoba menggabungkan dua bank pelat merah: Bank Mandiri dan Bank BNI.

Sumber : Bloomberg-Businessweek-eds-23Feb-01Mar.2015.pg-4

Menakar Kebutuhan Sapi Indonesia

Menakar-Kebutuhan-Sapi-Indonesia.Bloomberg-Businessweek-eds-06-12-Apr.2015.pg-4

Peningkatan pendapatan membuat pola konsumsi protein masyarakat menjadi lebih baik.Dengan daya beli yang semakin membaik,kebutuhan daging sapi Indonesia tahun ini diperkirakan akan mencapai 640.000 ton (setara 3,4 juta ekor sapi) atau meningkat 8,5% dibanding kebutuhan pada 2014 sebesar 590.000 ton ( setara 3 juta ekor sapi).Permintaan daging sapi berasal dari konsumen rumah tangga dan industri seperti toko daging dan supermarket (20%),industri pengolahan besar (22%),industri hotel,restoran,dan catering (27%),serta usaha kecil dan menengah (UKM),termasuk pedagang bakso(31%).

Namun,pasokan dari peternak sapi lokal tidak cukup untuk memenuhi permintaan daging sapi nasional.Walhasil,sebagian kebutuhan daging sapi harus diimpor.Pasokan daging sapi lokal sebanyak 355.979 ton dan 283.877 ton daging sapi impor.Impor dalam bentuk sapi hidup sebesar 60% dan 40% dalam bentuk daging beku.Sebagian besar impor daging sapi digunakan untuk industri hotel,restoran,dan catering.

Sebagai langkah awal untuk memenuhi kebutuhan kuartal pertama tahun ini,Indonesia telah mengimpor 100.000 ekor sapi hidup dari Australia.Sampai saat ini,Austraslia masih menjadi satu-satunya negara pemasok sapi hidup ke Indonesia.Situasi politik yang cenderung memanas antara Indonesia dan Australia akhir-akhir ini diprediksi tidak akan sampai mengganggu hubungan perdangangan kedua negara.

Impor sapi hidup pada 2014 menurun 31.000 ekor atau 23,7% dibanding 2013.Pengurangan kuota impor sapi tahun lalu disebabkan oleh semakin membaiknya kondisi sentra ternak lokal sekaligus memberdayakan peternak sapi domestik.Bagaimanapun,swasembada pangan masih menjadi tujuan utama pemerintah.

Spire Research & Consulting

 

Sumber : Bloomberg-Businessweek-eds-06-12-Apr.2015.pg-4