Our Financial Mistakes and How to Fix it

Money can be a big problems if we don’t know how to mantain it. Kalo nggak dikurangin dari sekarang, these financial mistakes that we’ve made can seriously cost us in a long term!

LEND MONEY TOO OFTEN

Walaupun niatnya ngebantu orang-orag di sekitar kita, masalah yang timbul bisa lebih gede dibanding kalo kita nolak, mulai dari kelupaan atau nggak enakan buat nagih. At the end, we can loss of both the money and the relationship.

NO BUDGETING PLAN

Kita nggak terbiasa buat nentuin skala prioritas dalam nentuin pengeluaran. Tiap kali dapet uang jajan, keinginan buat ngabisinnya pun ikutan ninkat. Selain itu, banyak yang bikin budgeting plan pas-pasan dan nggak ngasih slot buat ‘emergency money’.

HAVE NO SAVINGS

Kalopun ada sisa uang, kita cenderung menyisihkan jumlah uang yang terlalu kecil buat ditabung dengan alasan nanti kebutuhan yang lain nggak akan cukup,- padahal ujung-ujungnya uang itu abis buat jajan dan belanja.

RECKLESS IN SPENDING MONEY

At one time or another, everyone has spent money frivolously. Karena selalu ngerasa ‘aman’ dari sisi finansial, kita jadi ngerasa bebas ngenguanin uang yang dipunya, yang sebenernya ngasih pengaruh jelek ke spending habit kita ke depannya.

 

FIX FINANCIAL MISTAKES

We made so many mistakes tapi belum terlambat kok buat memperbaiki financial habit kita jadi lebih bertanggung jawab.

  1. MAKE A BUDGETING PLANS EVERY MONTH

Bikin budgeting plans di awal bulan biar fixed expenses kita keliatan tiap bulannya, then evaluatin what work well and what’s not on the last month.

  1. START SAVING

Sisihin minimal 10% dari uang jajan kita setiap bulannya untuk ditabung. Kita bisa buka tabungan berjangkadi bank atau titip uangnya sama Mama.

  1. HAVE A PURPOSE AND VISION

Kita jadi punya bayangan yang jelas berapa yang harus kita kumpulin dan berpa yang bisa kita pake buat kebutuhan sehari-hari.

  1. DONT LET EMOTION PLAY YOUR DECISION-MAKING

Sebelum mutusin buat belanja sesuatu, pikirin baik-baik apa yang bikin kita harus beli. If it’s not that worth it, sayang uangnya kan?

 

 

Sumber: Gogirl!.vol153/oktober 2017/financial/hal 26-27

Menjadi harmoni peradaban dunia. Marketeers. Desember 2020 – Januari 2021. Hal. 92,93

Bertahan ditengah badai.Marketeers. Desember 2020-Januari 2021. Hal.52,53

Titanic vs Kapal Nabi Nuh.Tabloid Kontan.1 Februari – 7 Februari 2021. Hal.13

Hari-hari belakangan ini, investasi di pasar modal semakin bergairah. Peningkatan indeks harga saham gabungan yang cukup signifikan di awal tahun, membuat masyarakat awam yang tergiur melakukan transaksi surat berharga ini.

Kemudahan transaksi saham secara daring lewat aplikasi digital, membuat urusan jual beli saham menjadi sesederhana permainan jari-jemari. Apalagi, beberapa figure publik, mulai dari tokoh agama, selebritas dan anak pejabat tinggi, yang aktif berbicara mengenal urusan ini di media sosial, sambil memamerkan dan mempromosikan saham-saham tertentu. Sampai-sampai ada yang berani menyebut ulasan dan pandangan mereka dengan julukan X-mology atau Y-mology, mengacu kepada praktik bandamology dalam dunia pasar saham.

Antusiasme yang luar biasa ini, tak jarang membuat orang lupa diri dan ingin buru-buru mengeruk keuntungan dari jual beli kertas berharga ini. Bahkan, ada yang berani menggunakan hot money rumah tangga, seperti: uang belanja bulanan, modal persiapan nikah, hingga dana pinjaman online, untuk melakukan transaksi penuh risiko ini. Seolah-olah, dengan modal sedikit nyali, orang bisa menyulap uang recehan menjadi tumpukan harta dalam waktu seketika.

Saya jadi teringat cerita dari seorang sahabat fund manager yang sudah lama menggeluti bisnis semacam ini. Katanya, kalangan yang berhasil memetik sukses dari investasi seperti ini umumnya adalah orang-orang yang konservatif. Mereka bukanlah manusia-manusia sok pemberani yang membenamkan sebagian besar duitnya dalam perdagangan kertas berharga, sambil waswas memelototi papan indeks setiap hari. Mereka juga bukan kelompok high achiever yang ingin cepat kaya, sembari menertawakan potensi-potensi risiko yang bakal muncul. “High risk, high return. No risk, no return”, demikian kredo kawanan progresif ini.

Namun, mereka yang berhasil, justru adalah kelompok yang berniat melakukan investasi secara jangka panjang; bukannya pengharap rezeki nomplok dalam semalam.

Tidaklah mengherankan kalau para pemetik sukses investasi semacam ini adalah kaum pensiunan atau ibu rumah tangga biasa. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa mengelola uangnya dengan seksama.

Para pensiunan tahu persis, jika uang pensiunannya dibelanjakan secara tak bertanggung jawab, kemuraman masa tua akan menghadang di depan. Sama halnya, para ibu rumah tangga biasa, juga mengerti bila uang tabungannya diatur dengan cara setengah berjudi, jangan-jangan anaknya tak bisa menyelesaikan sekolahnya secara pantas.

Selanjutnya, sang teman melukiskan sikap seksama dalam berinvestasi lewat cerita kuno berikut. Ia membandingkan narasi tentang perahu kayu Nabi Nuh dan kapal modern Titanic. Titanic adalah kapal supermewah yang dirancang para insinyur perkapalan terhebat pada awal abad modern. Titanic juga direkayasa dengan bantuan teknologi mutakhir dan menelan biaya jutaan dollar. Dengan gagah perkasa, kapal ini diklaim sebagai the unsikable ship alias kapal yang tak bisa tenggelam. Siang hari, Titanic terlihat seperti hotel berbintang lima kelas platinum. Pada malam hari, ia tampak laksana kawasan mewah yang mengapung penuh kerlap-kerlip.

Namun, sejarah akhirnya bercerita, dalam awal perjalanannya. Titanic sudah harus kandas membentur gunung es akibat amukan badai.

Hitungan cermat

Bagaimana dengan kapal Nabi Nuh? Ah, itu hanya kapal sederhana yang dibuat sekadarnya oleh tangan-tangan manusia. Tanpa campur tangan rekayasa teknologi, apalagi aplikasi arsitektur empat dimensi yang canggih. Bahannya pun hanya gelondongan kayu yang seadanya pula. Walaupun demikian, karena pesan Ilahi yang diterimanya, Nuh membuatnya dengan sabar, cermat, dan sekaligus penuh hikmat.

Hasilnya? Sungguh luar biasa. Kapal Nabi Nuh yang terisi penuh dengan anggota keluarga dan segenap hewan dapat bertahan kokoh menghadapi gejolak badai dan air bah. Tak tanggung-tanggung, hingga empat puluh hari empat puluh malam lamanya!

Titanic dibuat dengan semangat pamer dan unjuk kehebatan, sementara kapal Nabi Nuh dikerjakan dengan ketekunan dan penuh keseksamaan.

Sang teman fund manager menutup ceritanya dengan nasihat berikut. Katanya, pada hakekatnya, investasi adalah sebuah bisnis. Ada proses yang perlu ditempuh, bukan melulu hasil yang ngotot diburu. Perlu kesabaran, perhitungan, dan prudence.

Dalam bahasa Indonesia, prudence acapkali diterjemahkan sebagai sikap kehati-hatian. Tetapi, secara pribadi, saya lebih suka mengartikannya sebagai keseksamaan alias cermat dalam perhitungan.

Dan, jangan lupa, lakukan perhitungan pada waktu kita dalam keadaan yang sungguh-sungguh tenang. Mengapa? Karena pada saat sedang diliputi rasa antusiasme dan euphoria, orang hanya bisa melihat satu sisi dari investasi, yakni: potensi keuntungan. Padahal, yang namanya investasi saham, peluang untung dan buntung sama besarnya.

 

Oleh Ekuslie Goestiandi

Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

 

Sumber: Kontan, 1-7 Februari 2021

Telunjuk Mulai Mengarah ke Segmen Pasar Potensial. Kontan. 30 Januari 2021.Hal.8

Ratih Waseso Aji

Telunjuk.com, startup yang memberi informasi perbandingan harga ke pebisnis online, mulai merambah ke layanan informasi pasar. Hasilnya tergolong positif, dan kini mereka berupaya menambah fitur anyar lagi di platformnya.

Memanfaatkan peluang bisnis menjadi salah satu cara untuk bisa memperluas ekspansi bisnis. Langkah inilah yang dilakukan oleh startup Telunjuk.com.

Platform yang awalnya menyediakan layanan pembangding harga bagi para penjual online ini justru melihat peluang bisnis lainnya. Yakni, sebagai penyedia informasi soal data-data bisnis di pasar online yang bisa menjadi rujukan bagi pebisnis daring.

Layanan tersebut bernama Compas.co.id, yang meluncur Juni tahun lalu atau di tengah pandemi virus korona baru. Lewat fitur ini, pebisnis online bisa membaca gambaran pasar dari usahanya. Contoh, seberapa besar kue pasar online dan siapa saja pesaingnya.

“Lewat data yang tersaji juga bisa membuat segmen pasar baru, seperti seberapa besar market untuk produk minuman kopi satu liter, termasuk juga para pesaingnya,” kata Hanindia Narendrata, Chief Executive Officer dan Co-Founder Telunjuk.com, saat kunjungan virtual ke redaksi KONTAN, belum lama ini.

Tujuh bulan setelah peluncuran, kini Compas.co.id sudah memiliki tujuh klien yang menggunakan layanannya. Ketujuh klien itu adalah Abbott, Vita Flow, TP Link, PapaMama, Orami, Wyeth, dan Meadjohnson.

Saat ini, Compas.co.id masih fokus di kategori fast moving consumer goods (FMCG). Rencananya, di kuartal satu tahun ini, Compas.co.id akan mulai merambah kategori ponsel. Tujuannya, tentu saja untuk memperluas segmen pasar. Kemudian, di setiap kuartal mendatang, targetnya ialah ada tambahan kategori bidang bisnis lainnya.

Maklum, semakin banyak klien, tentu bakal membuat pundi-pundi Compas.com semakin bertambah banyak. Sebab, setiap klien yang memanfaatkan layanan data dari Compas.co.id bakal dikenakan biaya sekitar Rp 15 juta per bulan.

Hanya, untuk sementara, kontribusi pendapatan dari Compas.co.id memang belum signifikan ketimbang yang didapat dari Telunjuk.com. Namun, Hanindia berharap, secara perlahan kontribusi bisnis dari Compas.co.id bisa semakin signifikan.

Supaya target tercapai, fitur-fitur yang ada di Compas.co.id bakal terus dikembangkan. Misalnya, rencana membuat fitur price monitoring. Fitur ini bisa membantu pebisnis online memantau pergerakan harga dari para kompetitor.

Ada lagi fitur yang akan membantu penjual online melakukan audit kepada pihak ketiga yang membantu penjualan produknya secara daring. Jadi, si pemilik brand bisa mengecek kerja dari pihak ketiga tersebut.

Nah, dengan rencana bisnis itu, Hanindia menargetkan, bisa meraup 60% dari total 9.000 perusahaan FOMG di Indonesia yang sudah melaksanakan penjualan secara online. Supaya target tersebut tercapai, Telunjuk.com tengah menjajaki kerjasama dengan investor untuk bisa menginjeksi modal ke startup ini.

 

Sumber: Kontan, 30 Januari 2021

Self Leadership. Kompas. 30 Januari 2021.Hal.7

Seorang atasan mengeluhkan seorang manajer di bawahnya yang cerdas dan berprestasi bagus, tetapi tidak bisa melakukan bimbingan kepada anak buahnya. Ia memang melakukan koordinasi dan pemecahan masalah, tetapi tidak memberikan umpan balik yang membuat performa kerja anak buahnya berkembang menjadi lebih baik.

Dalam pembicaraan empat mata dengannya, tambak bahwa memberi masukan kepadanya pun tidak mudah. Semua masukan dari hasil assessment tentang kepribadiannya cenderung ia bantah dengan, “Kalau saya memang begini, kenapa? Apa saya harus berubah? Kalau tidak bisa, bagaimana?” atau “Ya, itu sudah saya lakukan. Saya sudah banyak berubah kok sekarang.”

Setiap manusia memang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tetapi bisakah Anda membayangkan orang yang tetap begitu saja dan tidak mau mengembangkan diri? Di sinilah self leadership berperan. Orang sering berpikir untuk meningkatkan dan memperbaiki keterampilan leadershipnya, tetapi lupa bahwa leadership yang efektif didahului oleh self leadership. “Self-leadership is the practice of intentionally influencing your thinking, feeling, and actions towards your objectives” (Bryant and Kazan, 2012).

Walaupun studi mengenai kepemimpinan sudah lama dilakukan, self leadership tampaknya baru disebut pada 1983 oleh Charles Manz yang mendefinisikannya sebagai: “a comprehensive self-influence perspective that concerns leading oneself”. Peter Drucker juga mengatakan, sebelum seseorang menjadi chief, captain, atau CEO, ia harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dulu. Ia harus menentukan tujuan yang ingin ia raih dalam hidupnya, berusaha mencapainya, dan bertanggung jawab terhadap pencapainnya.

Mastering others is strength. Mastering yourself is true power,” -Lao Tzu

Banyak sekali yang merasa, latihan kepemimpinan sulit mendapatkan hasil yang terlihat signifikan dalam waktu singkat. Padahal, kepemimpinan ini masih bersifat eksternal. Apalagi self leadership yang lebih bersifat inner game. Individu yang ingin mengembangkan self leadershi-nya harus menyadari intensi, rasa percaya diri, dan keyakinan dirinya terlebih dahulu.

Intensi selalu mempertanyakan “mengapa” kepada diri sendiri. Mengapa saya mengambil tindakan ini atau mengapa saya berbicara seperti ini.

Self awareness berkenaan dengan menyadari intensi dan nilai-nilai yang kita anut, tentang apa yang membuat kita bergerak, terganggu, ataupun menarik diri.

Self confidence bersumber dari kesadaran akan kekuatan dan kelemahan kita sehingga sigap menyusun strategi pengembangan diri.

Self efficacy adalah keyakinan bahwa kita bisa menanggulangi apa pun rintangan yang menghalangi. Kemampuan untuk menerima dan menggarap umpan balik serta melihat efeknya terhadap pengembangan diri.

Bila inner game ini dijalankan dengan baik, kita akan mendapat dua kekuatan baru sekaligus dalam proses kepemimpinan. Influence sebagai hasil dari purpose yang jelas dan kita yakini betul. Kita dengan mudah menularkan semangat untuk berubah. Penguasaan self leadership kita akan membawa impact yang besar.

Komponen yang utama dalam memimpin diri sendiri adalah bagaimana kita melihat dan mengelola masalah. Individu dengan self leadership yang kuat, mampu mengambil tanggung jawab untuk memecahkan masalah. Seorang pemimpin tidak mungkin berharap orang lain yang memimpin pemecahan masalah. Ia sendiri yang harus mendorong kreativitas tim dalam berpikir kritis dan berkolaborasi.

3 pilihan “self leadership”

Mereka yang memiliki self leadership yang kuat akan mampu menyeimbangkan kebutuhan pribadinya dengan organisasi. Ada tiga pilihan yang dihadapi seorang pemimpin: pertama, melakukan dengan caranya, kedua melakukan sesuai dengan keinginan organisasi, dan ketiga mencari jalan agar kita dan organisasi berjalan berdampingan dan tumbuh bersama.

Dalam memimpin, ada saat-saat ketika tidak sejalan dengan situasi, pelanggan atau otoritas tertentu. Di sinilah pemimpin perlu menyinkronkan antara kehendak jati dirinya dan tuntutan eksternal.

Implementasi “self leadership”

Pernahkan kita melihat seorang pemimpin yang tetap tenang ketika krisis melanda, bahkan terus memimpin timnya menembus kesulitan? Seorang pemimpin harus mampu memimpin timnya dengan tujuan jangka pendek, panjang, bahkan dalam menghadapi krisis. Di sinilah self leadership berperan.

Ada beberapa strategi berikut ini, yang bisa dilakukan para self-leaders agar bisa sukses.

Perjelas nilai yang dijunjung tinggi. Kepemimpinan akan tergambar dari bagaimana kita berhubungan dengan kolega dan stakeholder lain serta bagaimana kita mengambil keputusan. Hal ini didasari oleh nilai dan prinsip yang kita pegang. Bila kita memahami nilai-nilai kita sendiri, kita akan semakin engage dan dapat mengirim pesan yang jelas pada para pengikut sehingga mereka tahu alasannya mengikuti kita.

Kembangkan “common language” dengan pengikut. Bila antara pemimpin dan pengikut tidak ada pemahaman yang sama, proses kemajuan yang diharapkan akan sulit terjadi.

Rancang kemenangan Anda. Menggerakkan tim tidak sama dengan menggerakkan diri sendiri. Karenanya, kita perlu membuat rencana detail menuju kemenangan, meninjaunya dari hari ke hari, agar pengikut juga bisa mengejarnya dengan derap yang sama. Kita juga perlu mengantisipasti tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanannya dan bereaksi dengan bijak sesuai dengan nilai yang kita anut.

Dalam setiap kepemimpinan, self awareness yang kuat dan kemampuan memanfaatkan pengetahuan tentang diri sendiri ini akan membuat kita menjadi pemimpin yang kuat. Empowerment is a concept; sel-leaderhip is what makes it work. Empowerment can’t exist, won’t work and is meaningless without self leaders – people who passes the ability, energy and determination to accept responbility for success in their work-related role.

EILEEN RACHMAN & EMILIA JAKOB

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

 

 

Sumber: Kompas, 30 Januari 2021

Deretan Film Tentang Financial Planning Wajib Nonton Untuk Tips Mengelola Keuangan!

Masa pandemi ini memberikan banyak waktu untuk menata kembali kondisi keuangan. Salah satunya bagi kita, kita dapat berhenti sejenak untuk mengevaluasi gaya hidup dan kebiasaan belanja. 💸
Nah kali ini UC Library punya rekomendasi film tentang tips mengelola keuangan yang wajib kalian tonton nih 😊

  1. Uptown Girls 

    Molly Gun (Britanny Murphy) tidak pernah memikirkan masa depan, sampai suatu hari ayahnya meninggal. Ia baru menyadari pentingnya perencanaan keuangan sejak usia dini. Akhirnya, ia bekerja menjadi seorang pengasuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Film ini mengajarkan kita 5 cara mengelola keuangan yaitu SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time-based)

  2. Pursuit of Happiness 

    Chris Gardner (Will Smith) seorang ayah yang bertanggung jawan untuk menjaga keluarganya disaat krisis ekonomi melanda negaranya. Ia mengalami kesulitan membayar sewa rumah dan mengharuskan dirinya dan putranya tinggal di toilet sebuah statiun. Kesulitan tersebut tidak menghalanginya untuk menyerah, ia terus berusaha mencari pekerjaan. Film ini menginspirasi agar memiliki strategi pengaturan keuangan yang baik dan pantang menyerah dalam berusaha.

  3. Confession of A Shopaholic 

    Seorang jurnalis, Rebecca Bloomwood menyalahgunakan kartu kreditnya. Hingga suatu saat hutangnya menumpuk dan ia diburu oleh banyak debt collector. Film ini mengajarkan untuk bijak dalam menggunakan kartu kredit. Wajib banget ditonton buat kalian pengguna kartu kredit.

  4. Knocked UpBen Rogan (Sett Rogan) selama hidupnya bergantung pada uang jaminan sosial dan pekerjaan sambilan lainnya. Sampai suatu saat ia memiliki seorang anak dan harus menghidupi keluarganya. Film ini mengajarkan bahwa dalam hidup akan selalu ada kejadian yang tidak terduga. Oleh karena itu, menabung merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh kita semua.
  5. The Wall of Wall Street 

    Film yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio ini akan membuat terpesona penontonnya. Bagaimana tidak, usaha Belfort untuk membangun perusahaan investasi kecil menjadi perusahaan jutaan dolar dengan hanya mengandalkan ilmu pemasaran dalam jual beli saham disajikan dengan sangat epic. Film ini mengajarkan bahwa menjadi investor tidak selalu harus cerdas, tetapi harus memiliki karakter cekatan, berpikir kritis dan berani memanfaatkan peluang yang ada.

     

    Gimana UC People, film mana dulu yang rencana akan kalian tonton? 😊