Cara Mudah Ganti Background Foto Kamu!

Pakai situs web “Remove BG”

  • Kunjungi situs remove.bg
  • Unggah foto yang ingin kamu ganti atau hapus background-nya dengan klik tombol “Upload Image” atau “Drop a file”

  • WOW! Proses penghapusan background foto hanya berlangsung dalam beberapa detik saja!
  • Setelah selesai, tampilan foto original aka nada di sebelah kiri dan foto yang sudah dihapus background-nya ada di sebelah kanan.

  • Klik “Download” untuk preview image 408 x 612 atau “Download HD” untuk full image 1077 × 718
  • Selain itu, kamu bisa mengganti background dengan latar belakang warna, pemandangan, atau foto lain milikmu sendiri.

  • Caranya gampang! Klik tombol “edit di pojok kanan foto kamu yang sudah hilang background-nya. Lalu, kamu akan melihat dua menu, yaitu “Photo” dan “Color”.
  • Klik menu “Color” untuk mengganti warna background.

  • KLik menu “Photo” untuk mengganti background dengan foto lain yang unik dan menarik.
  • Jika sudah sesuai dengan keinginan kamu, klik “Download” untuk mengunduh file yang sudah kamu edit.

Seri 3. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Kenang-kenangan Jam Tangan Bung Karno. Harian Disway. 3 April 2021. Hal.6,7

Sebagai jurnalis Terompet Masjarakat, Oei Hiem Hwie mendapat kesempatan emas mewawancarai Bung Karno. Ia bertemu langsung di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Lalu diajak Bung Karno terbang ke istana negara. Saat itu adalah momen paling berkesan. Berdua saja dengan Bung Besar.

Kakek satu cucu yang tetap bersemangat di usia senja itu memperlihatkan sebuah foto pada Harian Disway. Foto itu terletak dalam lemari kaca di halaman depan Perpustakaan Medayu Agung, yang terletak di jalan Medayu Selatan gang IV 42-44.

Dalam foto itu tampak Bung Karno sedang berbincang dengan seorang pemuda yang mengenakan pakaian jas dan dasi. “Nah, pemuda itu saya!” serunya. Foto itu diambil oleh rekan jurnalisnya ketika Oei bertemu Soekarno di bandara Abdulrachman Saleh, Malang.

Sebagai jurnalis harian Terompet Masjarakat, ketika itu Oei mendapat kemudahan untuk bertemu Bung Karno. Harian yang dulu berkantor di sisi timur Tugu Pahlawan, Surabaya, itu memang dikenal selalu mendukung kebijakan Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Oei lalu bercerita bahwa ia sempat diajak bersafari keliling Malang oleh Bung Karno. Lalu ketika pulang ke Jakarta, Oei masih dibawanya serta. Satu pesawat dengan Bung Karno. Terbang ke ibu kota, lalu menuju istana negara.

Bung Karno mengajak Oei duduk di halaman belakang istana negara. Di bawah pilar, di depan taman bunga. Sang Presiden memberi kesempatan Oei untuk mewawancarainya langsung. Face to face. Duduk saling berhadapan.

Ketika itu banyak hal yang ditanyakan Oei. Mulai kebijakan-kebijakan Bung Karno, perlawanannya terhadap nekolim, serta ketegasan sikapnya. “Intinya itu. Tapi untuk detail pertanyaannya saya sudah lupa. Rentang waktunya terlalu jauh. Wong kejadiannya kalau tidak salah thun 1964, kok,” ujar Oei.

Menurut penuturannya, usai berbincang-bincang akrab dengan Bung karno, Oei meminta kesediaan Bung Karno untuk difoto.

“Lihat ini!” ujarnya kepada Harian Disway. Ia menunjuk sebuah foto Bung Karno berukuran besar. Bung Karno berpose duduk sambil menyerongkan kaki. Senyum mengembang. Cekung lesung pipitnya tampak. Kiranya itulah bagian dari Soekarno yang menawan hati para gadis.

Si Bung Besar memang akrab dengan kaum hawa. Namun dalam foto itu kedua mata sang proklamator tak melihat kamera. Melainkan memandang ke kiri. Sungguh, foto itu memiliki nilaih kisah: Seakan Bung Karno sedang melirik gadis cantik di sampingnya.

“Yang sampeyan lihat itu adalah foto Bung Karno. Disulap jadi besar berkat teknologi masa kini,” ujar Oei sambil memandangi foto idolanya itu.

“Nah, kalau ini foto aslinya,” ujarnya. Lalu menunjuk bagian dalam lemari kaca. Di dalam lemari itu terdapat foto serupa. Namun berukuran kecil. Mungkin ukurannya 3R. Foto itu adalah satu dari beberapa koleksinya yang berhasil diselamatkan.

Menurut kesaksian Oei, ketika itu Bung Karno tampak senang ketika diajak berbincang. Bagi Oei, mewawancarai orang nomor 1 di Indonesia itu adalah pengalaman terbaik seumur hidup. Ketika keduanya mengakhiri pembicaraan, Oei dan Bung Karno saling bersalaman.

Bung Karno sempat melihat tangan Oei. Lalu ia bertanya, “Oei, kenapa kamu tak mengenakan jam tangan?”. Lalu Oei menjawab, “Maaf Bapak, saya memang tidak punya jam tangan”.

Mendengar jawaban Oei, Bung Karno tertawa. Ia tiba-tiba membetulkan kerah jas yang dikenakan oleh Oei. Lalu menasihatinya, “Kamu itu pakai jas dan celana rapi, rambut pun klimis. Kurang padu jika tanpa jam tangan!” ujarnya.

Tiba-tiba Bung Karno melepas jam tangannya. Kemudian diberikannya pada Oei.

“Tak terbayangkan. Saya mendapat jam tangan langsung dari Presiden Soekarno,” kenang Oei dengan berapi-api.

Jam tangan pemberian Bung Karno itu hingga kini masih terpasang rapi di lemari kaca bagian paling depan. Harian Disway diajaknya melihat kondisi jam itu. Ternyata masih terawat dengan baik. Warnanya kuning keemasan.

Di atas bulatan penanda waktunya terdapat gambar burung garuda Pancasila. Di bawahnya tertulis: Istana Presiden RI.

Ia memandanginya cukup lama. Memang setiap benda yang memiliki kenangan, meski ada dan dipajang setiap hari, tak pernah bosan untuk dinikmati.

Oei kembali berjalan menuju kursi tempat kami semula berbincang. Ia duduk. Matanya memandang nanar ke tiap sudut ruangan perpustakaan. Sebagian besar foto yang dipajang adalah foto-foto Bung Karno. Ayah dua anak itu memang Soekarnois sejak muda. Sayang, kedekatannya itu di kemudian hari membawanya pada peristiwa-peristiwa pahit sepanjang hidupnya. Namun tak sekalipun ia mengeluh atau memendam sesal dan dendam.

“Sebenarnya dua kali saya bertemu Bung Karno. Pertemuan terakhir di Istana Negara, pada tanggal 29 September 1965,” ungkapnya. Itulah kali terakhir Oei bertatap muka dengan Bung Besar. Setelah itu ia melanglang buana. Dari penjara ke penjara. (Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

Sumber: Harian Di’s way, 3 April 2021

Seri 2. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Tangan Bung Karno Bisa Nyetrum. Harian Di’s way. 2 April 2021. Hal.6,7

Oei Hiem Hwie, mantan tahanan politik Pulau Buru dan penyelamat naskah tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer itu, memulai kariernya sebagai jurnalis. Tugas pertamanya cukup berat. Jurnalis pemula tapi langsung diserahi amanat untuk mewawancarai Presiden.

Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya. Tangannya melambai-lambai, menyuruh Harian Disway agar mengikutinya dari belakang. Usianya telah sepuh meski masih terlihat gagah. Langkah kakinya perlahan dan terseok-seok. Namun itu tak menghalangi antusiasmenya untuk bercerita tentang pengalaman masa lalunya.

Sambil berjalan, Oei menceritakan pengalaman masa lalunya saat menjadi jurnalis. Setelah kuliah di Akademi Ilmu Politik dan Hukum Universitas Malang, Oei sempat mengikuti kursus jurnalistik dengan Manan Adinda, staff Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Lalu ia dikuliahkan di Akademi Pro Patria, Yogyakarta. Mengambil jurusan jurnalistik.

Setelah lulus dan mendapat ijazah dari Jogja, ia menunjukkan ijazahnya itu pada para petinggi harian Terompet Masjarakat. Oei kembali mendapat pelatihan oleh Manan Adinda selama satu tahun. Setelah itu barulah ia ditugaskan liputan.

“Ikut saya. Dokumentasikan ijazah saya sebagai lulusan Pro Patria masih ada,” ujarnya. Ia berjalan menuju ruang samping perpustakaan Medayu Agung. Rupanya ruangan itu selain difungsikan sebagai tempat pemajangan sertifikat dan ijazah Oei, juga dipakai sebagai ruang kantor. Di situ ada dua pegawainya yang sedang serius mengerjakan sesuatu.

“Jangan sungkan. Masuk saja. Nah, ini ijazah saya sebagai tahanan Pro Patria,” ujarnya sambil menunjuk kertas lawas yang dibingkai. Ternyata benar. Kertas itu adalah ijazah. Ejaannya masih memakai ejaan lama dan tertulis angka tahun 1962. Terdapat pula foto Oei semasa muda. Waktu itu usianya masih 27 tahun. Lalu Oei melanjutkan ceritanya.

Setelah merasa puas terhadap perkembangan tulisan Oei, Manan, staff Goei Poo An memberinya mandate. Tugas pertamanya adalah interview dengan sosok terkenal. Oei tanya, “siapa?”. Dengan tegas Manan menjawab, “Bung Karno!”.

Meski merinding mendengar tugas itu, Oei bertanya tentang cara untuk menemui Bung Karno. Apakah ia harus pergi ke istana negara? Atau bagaimana?

“Dua hari lagi Bung Karno ada acara di Malang. Sambutlah di bandara. Bilang saja kalau kamu jurnalis Terompet Masjarakat,” ujar Manan pada Oei.

Pada hari yang ditentukan, sepagi mungkin Oei telah berada di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Ia menantikan kehadiran presiden pertama Republik Indonesia itu.

Ketika pewasat kepresidenan tiba, para pengawal Bung Karno segera bersiap. Mereka menghalau orang yang berusaha mendekat. Kecuali Oei. Pasalnya, ia telah memberi tahu bahwa dirinya berasal dari Terompet Masjarakat. Jurnalis dari harian itu memang diistimewakan, karena Haluan politiknya mendukung arah kebijakan Soekarno.

“Saya melihat Bung Karno datang. Ketika itu beliau menyalami para pegawai pemerintahan yang turut menyambutnya. Terakhir, ia berdiri di hadapan saya,” ungkap Oei.

Waktu itu ia gugup. Salah satu pengawal memberitahukan pada Presiden bahwa pria di hadapannya adalah jurnalis dari Terompet Masjarakat. Si Bung menatap Oei dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oei tampak menunduk, gugup dan berusaha tersenyum. Tak berani menatap. Hingga ia lihat uluran telapak tangan Bung Karno padanya.

Oei menjabat tangan sang Proklamator. Lalu Oei terkejut. Telapak tangan Bung Karno seperti dialiri listrik. Lengan hingga wajah Oei rasanya tersengat.

“Betul! Wibawanya itu membuat siapa pun tak berani memandang. Bersalaman dengannya, tangan saya seperti kesetrum!” ungkapnya sambil mengetar-getarkan tangannya sampai ke Pundak. Seolah ingin memeragakan peristiwa saat itu. Bahkan ekspresinya pun ia peragakan. Oei memang menjiwai saat bercerita.

“Bung, kenapa tanganmu bergetar? Kamu takut pada saya?” kata Bung Karno waktu itu. Lalu tertawa. Saat itulah Oei mulai berani memandang Bung Karno dan tersenyum padanya.

“Mau wawancara? Di istana negara saja. Sekarang kamu ikut saya,” perintah Bung Karno pada Oei. Ia menurutinya. Saat itu Oei diajak Bung Karno bersafari ke berbagai tempat di Kota Malang. Sore harinya, Oei bersama rombongan presiden terbang ke Jakarta. Menuju istana negara.

Oei tersenyum mengenangnya. Baginya, peristiwa itu adalah momen terindah dalam hidupnya.

Sampeyan tahu, kira-kira apa yang saya dapatkan di istana negara?” tanyanya pada Harian Disway. Tentu saja Harian Disway menggelengkan kepala. “Ini!” serunya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah sebuah benda yang tergeletak di lemari kaca.

Benda itu adalah jam tangan.

Ada apa dengan jam tangan?

 

Sumber: Harian Di’s way, 2 April 2021

Seri 1. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Sejak Kecil Tertarik Jurnalistik. Harian Di’s way. 1 April 2021. Hal.6,7

Jika saja Oei Hiem Hwie tak berupaya menyelamatkan naskah Pramoedya Ananta Toer, maka kita tak pernah tahu tetralogy dahsyat yang menghiasi khazanah sastra Indonesia. Oei masih sehat dan segar bugar. Meski langkahnya terseok. Perjalanan hidupnya penuh warna. Sedih, luka dan letih. Sebagian besar kenangan itu masih melekat di benaknya.

 

Setiap pagi, Oei selalu hadir di Perpustakaan Medayu Agung miliknya. Terletak di jalan Medayu Selatan gang IV no. 22-24. Oei masih menjalani rutinitasnya seperti biasa. Membaca berlembar-lembar koran, buku, lalu berkeliling untuk menyapa satu per satu stafnya. Ia bahkan telah hadir lebih pagi dari jadwal wawancara dengan Harian Disway kemarin.

Duduk di kursi ruang tamu, Oei masih setia dengan kemeja favoritnya yang bermotif batik. Tubuhnya masih kekar, tinggi semampai. Namun kini sedikit membungkus. Garis-garis wajahnya seakan kumpulan aksara yang membentuk rangkaian panjang jalan hidupnya. Memandangnya seperti memandang sebuah ketegaran. Keteguhan tanpa akhir.

“Ini nanti difoto juga ta? Dandanono fotoe yo cek aku ketok enom titik,” ujarnya memulai pembicaraan. Ia ingin jika difoto nanti, fotonya diedit. Agar terlihat lebih muda. Oei memang sosok humoris. Lekat dengan candaan-candaan. Kontras dengan masa lalunya yang keras. Sama sekali tak terlihat seperti pria yang pernah menghabiskan 13 tahun masa tahanan.

Oei adalah pria asli Malang. Tepatnya dari desa Lowokwaru. Tanah kelahiran sekaligus tanah yang kelak memenjarakannya. Ia adalah anak seorang pedagang yang berkeinginan kuat menjadi jurnalis. Kedua orang tuanya sebenarnya menolak niatnya. Karena sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga Tionghoa, seharusnya Oei meneruskan usaha berdagang ayah ibunya. Bukannya bekerja di bidang lain.
“Sempat ditolak. Tapi saya tetap teguh pada pendirian. Apalagi saya suka kalau lihat jurnalis. Bisa keliling, menulis dan bertemu banyak orang,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu. Ia sedari kecil memang gemar menulis. Menuliskan apa pun yang diamati maupun menulis tentang perasaan-perasaannya. Terlebih pada masa itu, Oei memandang profesi jurnalis laiknya seorang raja. Siapa saja pasti menaruh segan dan hormat bila bertemu seorang jurnalis.

“Tapi di balik segala penghormatan, profesi jurnalis dulu dijalani dengan sangat keras. Kalau jurnalis sekarang enak. Tinggal buka Google,” ujarnya. Kerasnya kerja jurnalis masa itu adalah minimnya bahan atau sumber lain yang sulit didapatkan. Oei sedari kecil memahami hal itu. Bahkan ketika SD ia mulai mengumpulkan dan menyimpan surat kabar. Siapa tahu besok ketika jadi jurnalis, ia dapat menemukan narasi tambahan dari artikel-artikel surat kabar itu.

Kegemaran Oei terhadap profesi jurnalis semakin menguat. Terlebih tetangga depan rumahnya yang bernama Na Hong Siong adalah jurnalis surat kabar Terompet Masjarakat. Ia kerap memberikan tulisan-tulisannya pada tetangganya itu. Ia meminta untuk dikoreksi. Diajak menulis dengan baik, juga kerap diajak liputan.

Dengan kata lain, Na Hong Siong adalah guru pertamanya dalam jurnalistik. “Pak Na Hong Siong yang banyak menuntun saya dalam menulis. Termasuk bertanya tentang tema-tema penulisan yang saya minati,” ungkap pria berusia 85 tahun itu. Oei selama ini berminat dengan tema-tema politik. Gurunya itu pula yang menyuruhnya agar kelak setelah lulus SMU, melanjutkan kuliah jurusan politik. Demi mendalami niatnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar hingga SMA di sekolah Tionghoa Hwie Kwan, Malang. Oei menuruti saran Na Hong Siong. Ia melanjutkan kuliah ke Akademi Ilmu Politik dan Hukum di kota Malang.

Ia dengan tekun mempelajari ilmu politik dan hukum. Dari studinya itu Oei menyerap banyak ilmu. Ia banyak menulis tentang politik, baik esai maupun tulisan-tulisan jurnalistik. Karya tulis Oei juga pernah dikirimkan ke media massa dan dimuat. Saat itulah Na Hong Siong, yang intens membaca tulisan-tulisan Oei mulai menangkap kesungguhan muridnya itu.

“Suatu siang, Pak Na Hong Siong mendatangi rumah saya. Memberitahukan bahwa pimpinan harian Terompet Masjarakat akan singgah ke rumahnya. Saya disuruh datang,” ungkapnya. Tanpa pikir panjang Oei menyetujuinya. Ia mulai menyiapkan naskah-naskah tulisannya. Dengan harapan ketika bertemu pimpinan, ia dapat menunjukkannya. “Siapa tahu dia suka, dan saya diangkat jadi jurnalisnya,” tambahnya.

Pada hari yang telah ditentukan, sedari pagi Oei telah bersiap di rumah Na Hong Siong. Seseorang yang dinantikan akhirnya tiba. Ialah Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Harian ternama yang ketika itu berkantor di sebelah timur Tugu Pahlawan. Sekarang jadi kantor gubernur Jawa Timur.

Na Hong Siong berbincang-bincang dengan pimpinannya, lalu mengenalkan Oei padanya. “Pak pimpinan, ini Oei Hiem Hwie. Anak ini berbakat menulis. Mungkin bisa dibaca dulu tulisan-tulisannya,” ujar Na Hong Siong ketika itu, seperti dituturkan oleh Oei.

Oei pun menyerahkan naskah-naskahnya. Ketika usai berbincang serius dengan Na Hong Siong, Goei Poo An tampak kembali serius membaca naskah-naskah Oei. Lembar per lembar dibalik, dibacanya dengan tuntas.

“Oei, kamu mau jadi jurnalis?” tanya Goei Poo An.

Oei mengangguk.

“Kursus dulu di Manan Adinda, lalu berangkatlah ke Yogyakarta. Kuliah lagi di Akademi Pro Patrial,” perintah Goei Poo An pada Oei. Namun ketika itu Oei belum menyelesaikan studinya di akademi Malang.

Jadi selagi Oei menyelesaikan studinya, ia juga mengikuti kursus jurnalistik pada Manan Adinda, staff Goei Poo An. Kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Pro Patria. Ia dijanjikan setelah lulus, diterima sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Saya dengan segera menyelesaikan kuliah pertama saya. Lalu langsung ke Surabaya, ke kantor Terompet Masjarakat. Dibiayai penuh, saya mendaftar di Pro Patria dan diterima,” ungkapnya. Sekitar empat tahun lamanya Oei kuliah dan lulus dengan nilai tinggi. Sesuai janji Goei Poo An, Oei langsung diangkat sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Tugas pertamamu adalah mewawancarai tokoh terkenal!” perintah Manan Adinda pada Oei.

“Siapa?”

“Bung Karno!”

Oei menelan ludah. Tubuhany menggigil. Ia menerima tugas pertamanya yang sungguh berat: Mewawancarai pemimpin tertinggi Republik.

(Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

 

Sumber: Harian DI’s Way, 1 April 2021

Elsa Maharrani. Menjahit Kesejahteraan. Kompas. 7 April 2021. Hal.16

Berwirausaha bukan sekedar perkara mencari untung, melainkan juga bagaimana mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dengan prinsip itu, Elsa Maharrani memberdayakan perempuan, sebagian ibu rumah tangga di Padang, Sumatera Barat, agar memiliki penghasilan sendiri.

Yola Sastra

Sukses menjadi penjual (reseller) daring dan distributor merek-merek pakaian muslim sejak 2016 tidak memuaskan hati Elsa. Ia melihat apa yang ia lakukan belum berdampak bagi orang di sekitarnya.

Ia pun memberanikan diri memproduksi pakaian muslim dengan merek sendiri, yakni Maharrani Hijab, pada 2018. Selain memberi keuntungan, ia juga berharap usahanya bisa membuka ladang rezeki bagi orang lain.

Akhir tahun, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola, memotong, dan menjahit pakaian. Ia kemudian menjajaki kerja sama dengan penjahit kampung di sekitar rumahnya di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Akan tetapi, upaya itu tidaklah mudah. Masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi. Mereka mematok upah menjahit Rp 100.000- Rp 150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp 25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan. Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong. Bahan-bahannya juga disediakan Elsa.

Tawaran Elsa menghasilkan penolakan. Namun, akhirnya ia menemukan mitra penjahit yang sesuai kriteria. Ia seorang perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen di Jakarta dan saat itu sedang menganggur. “Kemitraan dengan ibu itu lancar. Ia terus menjahit untuk kami hingga sekarang. Melihat itu, tetangganya mau juga bermitra. Akhirnya, mitra kami yang awalnya cuma satu bertambah dua, tiga, lima, sepuluh, hingga sekarang jadi tiga puluh orang,” kata Elsa di rumahnya di dekat pinggiran kota, Selasa (23/3/2021) siang.

Mitra Elsa 80 persen adalah perempuan. Sebagian besar baru belajar menjahit. “Ada yang awalnya cuma pandai manghoyak-hoyak masin (menggoyang-goyangkan mesin), sekarang sudah bisa menjahit baju,” ujar Elsa.

Para pemula itu belajar menjahit kepada tetangga. Elsa mengoreksi hasil jahitan mereka agar bisa sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

Siang itu, Elsa memantau proses praproduksi oleh tim produksi Maharrani Hijab di bengkel sebelah rumahnya. Dua laki-laki sedang mengukur kain untuk membuat pola. Seorang perempuan sedang menyusun pola yang sudah dipotong dan seorang perempuan lainnya menjahit.

Elsa menceritakan, proses penjahitan dilakukan oleh mitra di rumah masing-masing. Sementara itu, kegiatan praproduksi seperti pembuatan dan pemotongan pola serta pascaproduksi dan pengemasan dilakukan di rumah Elsa dan bengkel itu.

Maharani Hijab itu memproduksi baju gamis, baju koko, mukena, jilbab, seragam dinas, hingga masker. Untuk kategori pakaian saja, Elsa bisa memproduksi 1.500 hingga 2.000 helai per bulan.

Usaha Sosial

Menurut Elsa, jika sekadar berbisnis, ia sebenarnya bisa saja menggunakan jasa para penjahit di sentra konfeksi dari daerah lain, seperti Bandung, Jawa Barat. Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibandingkan upah penjahit di Padang. Walakin, Elsa memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.

Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp 45.000 per helai, sementara di Bandung ongkos produksinya hanya Rp 30.000-Rp 35.000 per helai. Elsa tinggal mengirimkan kain. Biaya bahan lainnya, seperti benang, risleting, dan kancing, ditanggung mereka.

“Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang,” tutur Elsa.

Rezeki mengalir

Dengan pemikiran itu, Elsa berupaya agar uang dari kalangan menengah mengalir kepada kalangan ekonomi rendah di Padang. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp 30 juta-Rp 50 juta untuk upah 30 orang mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di Kelurahan Pasar Ambacang. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.

Para mitra menjahit menggunakan mesin jahit mereka sendiri. Namun, bagi yang tidak punya atau mesinnya perlu diganti, Maharrani Hijab meminjamkan atau membantu membelikan mesin yang dibayar mitra secara kredit tanpa bunga.

Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya. Angka penjualan produk Maharanni Hijab yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat.

Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar. “Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni Hijab. Saat pandemi orang tidak berbelanja ke mal tetapi beralih ke cara daring. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat, dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat,” kata Elsa.

Dari segi produksi, Maharrani Hijab juga tidak terganggu. Pada saat perusahaan lain mesti menutup pabrik karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), perusahaan Elsa terus berproduksi. Sebab, proses penjahitan dilakukan di rumah mitra masing-masing.

Rezeki di masa pandemi juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Susi Meiniyeti (37), mitra di Kampung Villa Tarok, sekitar 1 kilometer dari bengkel Elsa, mengatakan, kerja sama dengan Maharrani Hijab telah membantu perekonomian keluarganya. “Dengan upah ini, saya bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai kuli bangunan,” ucap Susi.

Ke depan, Elsa punya target untuk memperluas dampak usahanya. Ia berharap bisa bermitra dengan ribuan orang.

Elsa Maharrani

Lahir: Padang, 5 Maret 1990

Pendidikan: S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (lulus 2012)

Penghargaan:

  • SATU Indonesia Awards Bidang Kewirausahaan (2020)
  • Finalis Wirausaha Muda Mandiri (2020)

 

Sumber: Kompas, 7 April 2021

Dwi Listyo Rahayu. Meneliti Kelomang dan Kepiting. Kompas. 5 Mei 2021. Hal.16

Selama puluhan tahun, Dwi Listyo Rahayu (64) setia meneliti biota laut. Saat ini, dia memilih mengambil peran meneliti keragaman jenis kelomang dan kepiting. Kelomang atau Paguroidea yang berfungsi menjaga keseimbangan laut dan kepiting atau Brachyura yang membuat lubang-lubang di dasar perairan untuk membantu aerasi (menambah oksigen).

Mediana

Setengah abad lebih setelah Ekspedisi Snellius I, Pemerintah Indonesia dan Belanda bekerja sama meneliti kembali perairan timur Nusantara. Indonesia di wakili Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Belanda melalui Netherlands Council for Oceanic Reseach yang berada di bawah Netherlands Organization for the Advancement of Science. Kedua negara sepakat melanjutkan penamaan sebelumnya, yakni Snellius II.

Ekspedisi itu terdiri atas lima tema penelitian, yakni geologi dan geofisika, ventilasi lubuk laut dalam, sistem pelagis, terumbu karang, dan dampak sungai terhadap lingkungan laut. Ekspedisi Snellius II dimulai Juni 1984. Dwi Listyo Rahayu atau akrab disapa Yoyo yang baru dua tahun bekerja sebagai peneliti Stasiun Penelitian Ambon LIPI ikut dalam rombongan itu.

Pengalaman ikut Ekspedisi Snellius II membuat Dwi berkenalan dengan peneliti-peneliti taksonomi senior. Mereka tampak girang ketika menemukan biota laut tak dikenal, lalu berhasil mendeskripsikannya. Dari sanalah dia mengakui mulai jatuh cinta dengan taksonomi, khususnya taksonomi morfologi.

Seusai ekspedisi, dia meraih beasiswa Overseas Fellowship Program (OFP) angkatan pertama yang digagas BJ Habibie. Dengan beasiswa itu, dia kuliah magister Biology Oceanography di Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, di Paris, Perancis.

Awalnya, dia berpikir mau bekerja meneliti ulang. Alasannya, udang bisa dimakan. Lalu, Dwi mencari professor taksonomi yang meneliti udang, tetapi ternyata materi penelitian ada di Kaledonia Baru. Lalu, dia mencari materi penelitian yang lebih dekat, yakni di Paris, Perancis. Saat itulah dia ditawari mengerjakan kelomang.

“Reaksi pertama saya ‘apa ini? (kelomang) tak bisa dimakan.’ Masih penasaran, saya mencari banyak literatur untuk pendukung riset. Saya kaget karena publikasi mengenai kelomang di Indonesia terakhir kali pada 1937 dan tidak ada lagi setelah itu,” ujar Dwi saat dihubungi pada Sabtu (24/4/2021) dari Jakarta.

Sejak itu, dia menekuni keragaman kelomang sampai kemudian melanjutkan doktoral di universitas yang sama. Dwi merasa beruntung dengan aturan beasiswa OFP yang mengharuskan S-2 lanjut ke S-3. Jaringan kerja dengan peneliti taksonomi morfologi dari sejumlah negara, seperti kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, membukanya jalan baginya menekuni kelomang.

Jejaring itu juga kelak membuatnya menjadi peneliti tamu berbagai Museum Natural History, antara lain di Singapura (Lee Kong Chian Natural History Museum-NUS); Jepang (National Science Museum, Tokyo; Natural History Museum and Institute, Chiba); Perancis (Museum National d’Histoire Naturelle, Paris); Amerika Serikat (National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC).

Setelah Snellius II, Dwi terlibat dalam ekspedisi biodiversitas berskala internasional, seperti Karubar, Sjades, Comprehensive Marine Biodiversity Survey (CMBS), Panglao, dan Kumejima. Selain dari perairan laut Indonesia, dia meneliti taksonomi kelomang dan kepiting dari berbagai perairan di Indo-Pacific.

Mencintai Laut

Hidup berdampingan dengan laut memang telah menjadi kesehariannya sejak kecil. Dia yang berasal dari Banyuwangi, akrab bermain di pantai setiap akhir pekan diajak ayahnya. Setelah lulus SMA, dia mantap mengambil jurusan perikanan di IPB University. Tugas akhirnya pun berhubungan dengan penelitian di laut.

Seusai studi pascasarjana, Dwi kembali bekerja di Ambon. Ketika Ambon mengalami kerusuhan tahun 1999, semua peneliti LIPI Ambon, termasuk Dwi, harus mengungsi. Sempat seminggu di pengungsian, dia dan peneliti lain terpaksa harus keluar dari Ambon karena suasana semakin tak terkendali.

Dalam ingatan Dwi hanya terpikir menyelamatkan spesimen-spesimen kelomang hasil Ekspedisi Siboga (1899-1900), koleksi dari sejumlah museum di Eropa, yang belum selesai dia teliti. Dia kembali ke kantor LIPI Ambon mengambil semua spesimen, memasukkan ke dalam ransel, dan naik kapal ke luar dari Ambon ke Jakarta.

Spesimen tersebut berhasil dipublikasikan tahun 2005. “Ada berkisar 20-25 botol specimen. Saya hanya bawa baju dan keperluan sedikit. Semua literatur tertinggal,” ujarnya.

Kesempatan mengeksplorasi laut kembali menghampiri Dwi saat ke Jakarta. Saat itu, sang suami mendapat kesempatan menjadi konsultan di Papua, Dwi mendapat tawaran mengeksplorasi dan meneliti kepiting di mangrove Papua.

“Keluar dari Ambon tanpa bawa literatur. Saya tetap ambil kesempatan meneliti kepiting. Saya ke singapura, semua literatur saya fotokopi guna mendukung penelitian kepiting itu,” kenang Dwi.

Pada penelitian mangrove di Papua, beberapa hasil sudah di deskripsikan dan dipublikasikan, yakni Elamenopsis gracilipes, Amarinus pristes, Clistocoeloma amamaparense, Paracleistostoma quadratum, dan Clibanarius harisi.

Sejak 1988 sampai sekarang, sebanyak 2 genus dan 71 spesies baru kelomang serta 6 genus dan 76 spesies baru kepiting telah ditemukan, dideskripsi, dan dipublikasikan ke dalam 88 artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Hasil tersebut dia tulis secara mandiri atau bersama peneliti lain.

Ada rasa takjub sekaligus bersyukur kepada Sang Pencipta setiap kali Dwi berhasil mengungkap spesies baru. Apalagi, di perairan Indonesia. Dia yakin Indonesia merupakan negara maha-biodiversitas. Dia memprediksi Indonesia mempunyai 200-300 spesies kelomang.

Beberapa contoh spesies baru kelomang di Indonesia yang berhasil dia deskripsikan secara mandiri ataupun bersama peneliti lainnya ialah Clibanarius rubroviria, Calcinus morgani, dan Pagurusfungiformis.

Hanya, kekayaan biota laut sebanyak itu belum banyak di teliti oleh peneliti Indonesia. Kegelisahan lainnya yang kini dirasakan oleh Dwi adalah berkurangnya generasi muda mau meneliti taksonomi morfologi. Kebanyakan anak muda suka mengerjakan taksonomi genetik. Padahal, tanpa menguasai taksonomi morfologi, penelitian taksonomu genetik akan kesusahan.

“Apa yang saya kerjakan sekarang adalah sains dasar. Taksonomi adalah dasarnya ilmu biologi. Kalau taksonominya tidak ketahuan, sainstis juga tidak bisa berbicara dan itu berdampak ke hal lainnya, seperti budidaya dan pelestarian ekologi,” katanya.

Dwi tidak pernah menyesali perjalanan hidupnya yang berkecimpung dengan kelomang dan kepiting. Padahal, mulanya dia ingin menekuni taksonomi Crustacea yang langsung cepat komersial, seperti udang.

“Saya punya pasangan peneliti yang mengerjakan budidaya biota laut yang bisa dimakan. Klop kan?” ujarnya sambil tertawa.

Masih banyak aktivitas penelitian keragaman jenis kelomang dan kepiting yang ingin dia kerjakan, baik melalui ekspedisi maupun menyelesaikan spesimen yang sudah tersedia. Dia juga sedang membimbing salah satu mahasiswanya agar bisa meneruskan penelitian taksonomi morfologi.

Di waktu luangnya, Dwi memilih membaca novel detektif yang dibelinya bandara-bandara luar negeri. Menurut dia, selain menghibur, dia bisa melatih kemampuan berbahasa Inggris yang bermanfaat untuk penulisan di jurnal ilmiah.

Ketika senja tiba dan dia masih di kantornya, Balai Bioindustri Laut LIPI Lombok, Dwi memilih menikmati suasana laut. “Sangat bisa sekali melihat padang lamun,” katanya menutup pembicaraan.

Dwi Listyo Rahayu

Lahir: Mojokerto, 31 Juli 1957

Pendidikan:

  • S-1 Perikanan, IPB University
  • S-2 (1988) dan S-3 (1992) Biology Oceanography, Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, Paris, Perancis

Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama, Profesor Riset di Balai Bioindustri Laut-LIPI di Lombok, NTB (2005-sekarang)

Penghargaan: Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun, dan Satyalancana Wira Karya

 

Sumber: Kompas, 5 Mei 2021

Disrupsi Digital. Media Mengoptimalkan Model Bisnis Baru. Kompas.19 Februari 2021. Hal.5

Disrupsi digital dan pandemi Covid-19 telah mengubah model bisnis media massa secara signifikan. Media tidak bisa lagi mengandalkan pada pendapatan iklan yang terus merosot. Meskipun begitu, era digital juga memunculkan peluang atau model bisnis baru yang bisa dioptimalkan.

Disrupsi digital membuat media massa tidak lagi menguasai hulu hingga hilir bisnis informasi ini. Media massa sebagai produsen konten hanya menguasai hulu, sedangkan hilir terutama model bisnis dan distribusi konten dikuasai platform digital global. Kemunculan sejumlah agregator media dan influencer juga turut “menarik” iklan yang semula masuk ke media.

Dalam ekosistem media yang demikian, transformasi digital tidak hanya harus dilakukan dalam cara media menyebarluaskan konten, tetapi juga dalam cara mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru di luar iklan. “Iklan tidak lagi direct sales (penjualan langsung). Pola ini pelan-pelan berubah, kini lebih ke iklan program-matic (penggunaan perangkat lunak untuk membeli ruang  iklan). Ini yang bekerja machine to machine,” kata Suwarjono, Pemimpin Redaksi Suara.com, dalam diskusi daring yang diseleranggakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Menurut Suwarjono, 70-80 persen media daring kini mengandalkan model bisnis ini karena lebih efisien sumber daya manusia dan menjanjikan dari sisi pendapatan. “Bisa mengunakan Google Adsense atau Google ADX. Sementara untuk (distribusi) konten berita bisa menggunakan Facebook Instant Articles, cukup taruh di halaman Facebook, mereka yang akan mengelola iklannya,” katanya.

Kunci sukses dalam kedua model bisnis tersebut pada tingginya lalu lintas (traffic) berita. Untuk ini, media harus mempunyai strategi dan mengenali karakter distributor, yaitu platform digital global, agar konten yang didistribusikan mendapatkan traffic tinggi.

Transformasi

Transformasi konten juga menjadi strategi bagi media yang menerapkan model bisnis berlangganan atau konten berbayar (subscriber). Harian Kompas yang sejak Februari 2017 menerbitkan edisi digital model berbayar melalui Kompas.id berupaya memperkaya konten yang menjadi pembeda dengan konten di media cetak.

“Kami menghadirkan konten yang lebih variative untuk Kompas.id, ficer-ficer yang lebih mendalam seperti Tutur Visual, Reportase Langsung seperti pada saat penangkapan Joko S Tjandra (terdakwa kasus Bank Bali), juga Riset,” kata Redaktur Pelaksana Harian Kompas Adi Prinantyo.

Selain itu, harian Kompas juga memproduksi liputan investigasi yang beberapa di antaranya berdampak memengaruhi kebijakan pemerintah. Hasil liputan ini dipublikasikan di platform cetak dan Kompas.id. Harian Kompas juga memproduksi liputan ekspedisi bekerja sama dengan pihak ketiga dan edisi khusus.

Dengan transformasi konten, pola kerja, dan organisasi, kata Adi, harian Kompas meyakini model berbayar mempunyai prospek bagus untuk bisnis media.

 

Sumber: Kompas, 19 Februari 2021

Devi Paulus Lopulalan. Laut Lestari dengan Sasi. Kompas. 26 Februari 2021. Hal.16

Perairan Seira di Kepulauan Tanimbar, Maluku, merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya laut, terutama ikan, telur ikan terbang, dan teripang. Pelaku kejahatan perairan sering mengeksploitasi hasil laut di kawasan itu. Sekitar satu dekade terakhir, Devi Paulus Lopulalan terlibat aktif menjaga perairan seluas 150 kilometer persegi itu.

Fransiskus Padi Herin

Devi Paulus Lopulalan, yang akrab disapa Depol, mendekati beberapa pria jangkung yang terus memolototinya saat ia berjalan mendekati mereka. Berhenti di tengah kerumunan pria bertelanjang dada itu, tatapan mata Depol tertuju pada salah satu dari mereka sambil memberi isyarat agar orang tersebut mengikutinya.

Pria yang diajak tadi mengikutinya dari belakang menuju sebuah gubuk dekat mereka berkumpul. Di sana Depol menyergah. “Su (sudah) dapat berapa juta dari hasil jual teripang?” tanya Depol.

Pria itu hanya menunduk terdiam. Depol kembali berkata untuk menggugah nurani pria itu. “Kamong (kalian) tau ka seng (tidak), sekarang banyak orang tua susah cari uang buat kasih sekolah dorang (mereka) punya anak. Beta (saya) minta stop,” ujar Depol kepada pria itu di Pulau Tatunarwatu, 26 Agustus 2017.

Tatunarwatu menjadi pulai kelima yang ia datangi dalam misi menelusuri jejak pencurian teripang (Holothuroidea) selama dua hari. Pulau itu diduga jadi tempat persembunyian komplotan pencuri teripang. Informasi itu ia dapat dari warga dan nelayan yang ia temui di Pulau Seira, Ngolin, Tamdalan Nawa, dan Wuriaru.

Gugusan pulau itu berada di sebelah barat Pulau Yamdena, pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Untuk menjangkau perahu motor dengan waktu sekitar 1 jam dari Yamdena. Untuk menuju ke empat pulau lain, butuh 2-4 jam.

Kedatangan Depol ke Tatunarwatu untuk memberi peringatan kepada kelompok itu agar berhenti mengambil teripang. Itu setelah masyarakat meminta agar pencurian dihentikan. Teripang menjadi sandaran hidup masyarakat setempat yang berjumlah sekitar 7.000 jiwa. Dengan menjual teripang, hasilnya digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Aksi pencurian teripang kala itu masif. Para pemuda, termasuk yang didatangi Depol di Pulau Taturnawatu, dipekerjakan pemodal. Mereka mendapat beking sejumlah oknum aparat. Mereka dibekali mesin kompresor dan peralatan selam untuk mengambil teripang pada malam hari. Harga teripang saat itu Rp 245.000 hingga Rp 1,8 juta per kilogram.

Berkat penelusuran Depol, informasi mengenai pencurian teripang akhirnya mencuat ke publik. Ia dicari banyak pihak, baik yang bermaksud menggali informasi maupun ingin mengintimidasi. Perwakilan dari sejumlah instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, datang ke Pulau Seira. Beberapa oknum aparat yang terlibat akhirnya diproses hukum.

Tak hanya pencurian teripang, Depol juga mendorong gerakan penertiban terhadap nelayan dari luar Maluku yang mengambil telur ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) secara berlebihan. Setiap tahun ada lebih dari 100 kapal yang mengambil telur ikan tersebut, biasanya pada bulan Mei hingga September.

Saat musim gelombang tinggi dan ikan terbang bertelur, mereka beraksi. Satu kapal bisa mengambil sampai 1 ton telur ikan yang kemudian dijual Rp 400.000 per kg. Pengambilan telur ikan berlebihan akan mengurangi populasi ikan terbang. Nelayan setempat mengeluh dan meminta pengambilan telur ikan dibatasi.

Kearifan Lokal

Di tengah kondisi itu, Depol melihat budaya sasi di kalangan masyarakat setempat jadi modal baginya untuk mengampanyekan gerakan menjaga laut. Sasi sudah ada sejak dulu dan perlu dilestarikan.

Selama periode sasi, hasil alam di tempat itu tidak boleh diambil. Setelah sasi dibuka, masyarakat boleh memanen teripang kembali. Tujuannya, agar pengambilan teripang dibatasi. Selain itu, juga memberi waktu pemulihan ekosistem perairan sehingga hasil produksi tetap maksimal.

Untuk mengawal itu, patrol dan pengamanan laut oleh masyarakat lokal di rancang Depol bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat. Mereka membentuk semacam tim penjaga laut yang melibatkan para pemuda. Di tiap pulau, Depol menugasi masyarakat setempat menjadi mata-mata.

Mereka memantau pergerakan orang dan kapal yang datang, mencatat temuan, dan mencari informasi dari lapangan. Jika ada yang mencurigakan, mereka segera menghubungi Depol agar diambil tindakan. Bagi yang tinggal di pulau di luar jangkauan jaringan seluler, mereka menitip laporan tertulis lewat nelayan untuk diteruskan ke Depol yang tinggal di Pulau Seira.

Berkat kerja sama itu, masyarakat mulai menikmati hasil laut yang semakin banyak dan berkelanjutan. “Sekarang ini, teripang sudah banyak dan masyarakat semakin mudah mendapatkan uang untuk menopang hidupnya. Pengambilan telur ikan terbang juga mulai mendapat perhatian dari pemerintah,” ujar Depol di Kota Ambon, awal Februari 2021

Menurut Depol, kearifan lokal, seperti sasi, menjadi kekuatan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dengan sasi, masyarakat adat memiliki otoritas untuk melarang dan mengizinkan pengambilan hasil alam.

Sepuluh tahun terakhir Depol bertugas sebagai pendeta pada Gereja Protestan Maluku di daerah itu. Ia membuktikan pentingnya tokoh agama dan masyarakat adat lokal berkolaborasi membangun kekuatan untuk menjaga alam tetap lestari.

Devi Paulus Lopulalan

Lahir: Porti, 28 Desember 1978

Pendidikan Terakhir: Sarjana Filsafat, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku (1996-2002)

IstriL Ellsye Alce Matakena

Anak: Alpha G Lopulalan dan Nalta E Lopulalan

 

Sumber: Kompas, 26 Februari 2021