Burung Fenghuang dalam Batik Pesisir. Jawa Pos. 8 Oktober 2020. Hal.20. FDB

SURABAYA, Jawa PosJatuh cinta dengan batikpesisir sejakdua tahun lalu membuatfashion designer Enrico terus mengembangkan batikpesisir. Misalnya, karya batik terbarunya yang baru dirilis pada Hari Batik 2 Oktoberyanglalu. Batik pesisir yang dikembangkannya dalam koleksi Elok Penggalih Luhur itu adalah batik pesisir dari daerah Jember.

Dalam pembuatan karya yang melibatkan batik, Enrico mengaku selalu berkolaborasi dengan pegiat UKM batik. “Begitu juga untuk batik pesisir daerah Jember ini. Karya batik di sana menarik, jadi coba saya kembangkan menjadi busana untuk bisa membantu mengembangkan UKM di daerah tersebut juga,” terangnya saat dihubungi kemarin (7/10).

Dalam koleksi Elok Penggalih Luhur tersebut, pria yang juga seorang dosen Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra itu menjelaskan bahwa motif batik yang diangkatnya lebih ke akulturasi budaya. “Motifnya di sini saya memakai burung

fenghuang yang mungkin sekilas mirip seperti phoenix. Tapi, sebenarnya berbeda,” jelasnya. Fenghuang ataul ebih akrab disebut burung hong, jelas dia, adalah burung spesias betina yang karakternya lebih lembut. Berbeda dengan phoenix yang biasa digambarkan dengan berapi-api.

“Dari karakter burung hong yang lembut itu, saya ingin menggambarkan perempuan yang selain fisiknya, sebenarnya mereka pun punya inner beauty yang cantik,” jelasnya.

Namun, aura itu bisa terpancar jika memang memilild sifat yang berbudi luhur. Begitulah Emico menggambungkan budaya-budaya lewat batiknya. Penggambaran motifnya pun tidak digambar langsung dengan bentukburung. “Tapi, saya buat bentuknya seolah-olah seperti wayang,” tambahnya.

Bagi dia, menggambungkan budaya dalamkarya punya sesuatu yang menarik tersendiri. Bagaimana mencocokan motif-motifyang berbeda agar bisa tetap diterima masyarakat. “Karena menggabungkan dua atau lebihbudaya pasti ada tantangannya sendiri. Terlebih, saya selalu membubuhkan budaya khas Tionghoa,” ujarnya. (ama/c13/tia)

 

Sumber:  Jawa Pos. 8 Oktober 2020. Hal. 20

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *