Book Review: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Halo UC People! Kali ini UC Library ingin mereview sebuah buku berjudul karya Mark Manson The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life atau dalam edisi bahasa Indonesianya berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

Pernah gak sih UC People ngerasa pengen mencapai banyak hal tapi rasanya gak sampe-sampe dan malah bikin kita stres? Di era dimana kita bisa menjadi apa saja, kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan. Ketika kita sudah fokus terhadap hal A, eh kok rasanya teman kita lebih sukses mengerjakan hal B ya, rasanya semua orang makin sukses dan kita makin ‘kentang’. Akhirnya kita semakin minder, bingung, dan justru berhenti mendalami hal yang awalnya kita sukai. Lalu sebagai langkah pertolongan kita memenenggelamkan diri kita pada buku-buku motivasi, tapi kok juga kenyataannya makin jauh ya sama diri kita sendiri. Sekarang semua terasa makin jauh dan makin susah aarghh! Apakah UC People pernah merasakan hal serupa?

Eitss tenang, buku ini bukan sembarang buku motivasi, buku ini justru mengatakan bahwa keinginan kita untuk memiliki banyak hal positif adalah hal negatif.

“Lah kok bisa?”

Manson bilang, semakin kita  ingin menjadi kaya, semakin kita merasa semakin miskin dan tidak berharga seberapapun uang yang telah kita hasilkan. Semakin kita ingin merasa bahagia dan dicintai, semakin kita merasa kesepian dan takut, tidak peduli sebanyak apa orang yang ada disekitar kita. Semakin kita ingin menjadi menarik dimata orang, semakin kita melihat bahwa diri kita tidak menarik dan harus diperbaiki. Pernah gak merasa hal yang kita gak terlalu pikirin malah berjalan lancar dan yang kita pikirkan dengan keras justru berjalan lebih sulit? Nah kurang lebih itu alasan mengapa kita merasa seperti itu.

“Tapi kalo gak gitu kita gak bisa maju dong?”

Sebaliknya, Manson bilang alih-alih mengejar hal positif yang dihasilkan dari apa yang kita inginkan, kita perlu mengejar hal yang sebaliknya.  Maksudnya, daripada mengejar tubuh yang ideal, kita perlu menikmati rasa sakit saat berolahraga yang nantinya secara bertahap akan membuat kita semakin sehat dan kuat. Alih-alih mengejar kesuksesan yang masih abstrak, kita perlu untuk menanti kegagalan yang nantinya akan membuat kita lebih paham dengan seluk beluk bisnis yang kita jalankan. Alih-alih menjejali diri sendiri dengan positivitas semu, seserorang perlu untuk menerima kekurangan, kesalahan, dan keterbatasan diri.

Manson juga menjelaskan bahwa kita perlu memisahkan antara “fault” (siapa yang salah) dan “responsibility” (siapa yang perlu bertanggung jawab). Karena banyak sekali masalah terjadi dalam hidup kita yang tidak disebabkan oleh kesalahan kita sendiri namun kita tetap perlu bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Kita perlu menerima kenyataan bahwa terkadang hidup memberikan banyak hal tidak terduga yang berada diluar kuasa kita, namun kita lah yang tetap harus bertanggung jawab, karena satu-satunya orang yang dapat bertanggung jawab terhadap respon, pikiran dan perasaan kita hanyalah diri kita sendiri. Setelah kita memahami hal tersebut barulah kita akan dapat menemukan keberanian untuk menjalani hidup sepenuhnya.

Karena menurut Manson rasa sakit dalam hidup adalah hal yang tidak terhindarkan karena sejatinya kehidupan akan selalu diwarnai dengan serangkaian masalah yang tidak akan ada habisnya. Untuk mereka yang merasa bahwa masalah hanyalah sebuah gangguan maka hidup akan terasa sulit dan menyebalkan. Tapi jangan salah UC People, menjadi masa bodoh bukan berarti kita menjadi apatis dengan segalanya. Namun tentang fokus memilih jalan yang telah kamu ambil baik itu karir, kesehatan maupun pilihan kehidupan lainnya secara general dengan tidak terlalu membandingkan pilihan kita dengan pilihan orang lain. Selain itu, masa bodoh yang dimaksud Manson adalah dengan tidak terlalu memikirkan kesulitan yang perlu dihadapi karena kesulitan merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri.

Seni untuk Bersikap Bodo Amat menawarkan sebuah sudut pandang baru dengan cara penyampaian yang lucu dan menyenangkan namun juga padat berisi. Pendapatnya pun didukung dengan beberapa riset akademis, buku ini juga beberapa kali mengutip beberapa pemikiran populer dari tokoh terkenal dan filsuf seperti Albert Camus dan Buddha yang diselingi dengan humor ringan dan bahasa yang membumi, familiar dan tidak bertele-tele. Dengan cover warna oranye dan judul yang mencolok, buku ini terasa jujur, ringan dan tidak terasa menceramahi.  Secara personal ini adalah salah satu buku pengembangan diri favorit saya dan mungkin ribuan orang lain. Maka dari itu tidak heran jika buku ini menjadi bestselling di beberapa negara. Kalau kalian penasaran tapi belum ingin mengeluarkan dana untuk buku baru, jangan khawatir UC People, karena buku keren ini bisa kamu akses di Library loh. Segera kunjungi website UC Library ya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.