Bisnis di Dua Kota

Jiwa wirausaha nampaknya memang kental berada dalam diri Ana Fitriana. Sejak kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tangerang, dia terbiasa mengambil tawaran kerja lepas di bagian penjualan.

Seakan tak cukup, di sela-sela aktivitasnya itu, dia pun melirik bisnis bunga kertas atau paperflower yang sedang populer dan mulai mendirikan toko online bernama Kembang Paper sejak Juni 2017.

Menurutnya, tren dekorasi bunga kertas membuat bisnis ini memiliki prospek yang cukup menarik di kalangan kawula muda. Selain itu, bisnis ini juga ramah bagi pemula, mudah dipelajari, dan tidak memerlukan modal besar untuk memulainya.

Terbukti sejak awal pendiriannya, pesanan pun mulai berdatangan mulai dari kalangan teman-teman kuliahnya, dan merambah hingga masyarakat luas.

“Aku buka modal Rp. 100.000. Belajar membuat pola melihatnya dari tutorial Instagram luar negeri sama Youtube,” ujarnya.

Untuk menarik minat konsumen yang luas, Kembang Paper menyediakan beragam paket bunga kertas dengan varian  harga yang cukup terjangkau. Paket paling kecil seharga Rp. 150.000 untuk 13 bunga, hingga termahal Rp. 500.000 yang menyediakan puluhan bunga kertas untuk dinding dengan lebar hingga dua meter.

Keuntungannya pun cukup lumayan, dia menggambarkan untuk setiap paket seharga Rp. 150.000, dia dapat menikmati keuntungan hingga Rp. 70.000.

Pelan tapi pasti, bisnis yang dipasarkan secara online melalui media sosial Instagram dengan akun @kembangpaper ini pun mulai menunjukkan hasilnya. Ana mengatakan telah menerima rata-rata puluhan pesanan secara online.

Terlebih lagi, bisnisnya pun telah berkembang lebih jauh. Selain menjual dekorasi bunga kertas, Kembang Paper juga menyediakan jasa sewa backdrop pesta dengan beragam ukuran, mulai dari 1 meter x 2 meter hingga 2 meter x 3 meter. Harga sewanya berkisar Rp. 850.000 hingga jutaan rupiah. Setiap minggunya dia mengatakan rata-rata menerima pesanan dua penyewaan backdrop.

“Untuk backdrop sebenarnya desain tergantung keinginan customer, bisa disesuaikan dengan tema juga. Pakemnya tetap dari aku tapi tema di bagian bawahnya terserah mau apa, bisa rumput, daun juntai, kayu,” jelasnya.

Memanfaatkan relasi saudara yang tinggal di Lampung, Ana menjalankan bisnis dekorasi tersebut di dua tempat, yaitu Jakarta dan Lampung. Di Lampung, ia mengkhususkan bisnisnya lebih ke penyewaan backdrop karena jarangnya ketersedian kertas jasmine sebagai bahan baku dekorasi paper flower di kota tersebut. Sementara itu di Ibu Kota, Kembang Paper melayani permintaan bunga kertas sekaligus backdrop.

Hingga saat ini, dia dibantu oleh beberapa orang untuk menjalankan Kembang Paper. Adiknya berperan sebagai admin media sosial, tetangga rumahnya ikut membantu pemotongan kertas, saudaranya di Lampung menjalankan sewa backdrop di Lampung, dan Ana sendiri berperan dalam penentuan pola bunga kertas.

“Mebuat paper flower itu seperti memasak. Jadi orang maunya apa, warna apa, baru kita bikin. Dibikin mendadak [sesuai pesanan] dengan dibikinin sendiri hasilnya beda,” jelasnya.

Dia optimis bisnis ini dapat berjalan secara berkelanjutan, dan tidak khawatir dengan tren dekorasi yang berganti. Pasalnya, bunga kertas dapat dipakai hingga beberapa kali, dan harganya pun cukup terjangkau.

Untuk pemasaran, Ana mengandalkan promosi gratis ongkos pengiriman untuk meningkatkan penjualan.

Dia menilai pelanggan lebih menyukai promosi gratis ongkos kirim ketimbang inovasi bunga kertas. Terbukti, setiap kali dia mengadakan promosi ongkos kirim, pesanan bunga kertas pun dapat meningkat hingga dua kali lipat.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *