Bikin Desain Ramah Lingkungan Pakai Pati Jagung. Jawa Pos. 6 Agustus 2020.Hal.24. Stefani Evelyn. Alumni FDB

SURABAYA, Jawa Pos – Isu Sustainable Fashion semakin marak dari tahun ke tahun. Hal itu pun menjadi tema dalam ajang Asia New Gen Fashion Awards (ANFA) 2020. Tema itu tentu tidak mudah karena bahan-bahan yang dipakai memang harus ramah lingkungan. Hal tersebut diungkapkan desainer Surabaya Stefani Evelyn yang Idni tengah memasuld delapan besar di grandfinal regional Indonesia.

Stefani mengungkapkan bahwa setiap peserta mulanya harus menyiapkan 15 desain. Yang kemudian hanya dipilih satu untuk diwujudkan. Namun, tidak semua mendapatkan kesempatan untuk mewujudkannya. Di antara peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, kemudian ditarik 15 orang saja. Baru kemudian masuk di babak grand final yang tersisa 8 orang. “Nah, pemenangnya akan diambil dua orangyang kemudian ditandingkan lagi dengan negara di Asia Tenggara,” jelasnya saat clihubungi kemarin (5/8).

Perempuan alumnus Fashion Product Design &Business 2014 Universitas Ciputra itu mengungkapkan bahwa dirinya tidak percaya bisa masuk sampai babak grand final regional. “Soalnya, terakhir ikut lomba fashion itu 2015 di Surabaya Fashion Parade. Itu pun bikin aku cukup trauma karena persaingannya ketat banget. Ide-ide desainer yang ikut jugaluar biasa semua. Aduh pokoknya nggak pede sama desain sendiri,” kenangnya.

Namun, Stefani mencoba memberanikan diri lagi saat diajak temannya untuk ikut ajang ANFA kali “Dan rasanya masih nggak nyangka kalau juri itu memilih saya. Yang paling saya ingat, mereka bilang kalau bahan yang saya pakai untuk tema ramah lingkungan itu yang paling beda Tapi, masalah desainnya, saya masih mendapat banyak komentar dan masukan,” ceritanya.

Untuk desainnya, Stefani membocorkan sedikit bahan-bahan yang dipakainya untuk show virtual pada 8 Agustus mendatang, yang sekaligus akan menentukan apakah dirinya lolos menjadi perwakilan Indonesia di ajang internasional. Dia memakai pati jagung yang sudah diolah. Namun, dia belum bisa menjelaskan dengan detail olahan apa saja yang terkandung.

“Tapi, dengan bahan ini, karya saya bisa dibilang aman. Untuk 3-5 tahun ke depan, bisa hancur kalau misalnya dibuang,” terangnya. Setelah melakukan riset, cila mengclaim bahwa bahan yang dipakainya sudah sangat ramah lingkungan. Terlebih, jika terbuang ke laut pun, karyanya itu masih aman. “Ikan kalau mau makan pun nggak beracun karena ini bisa terurai. Ditanam di tanah juga bisa terurai Tapi, tentu perawatannya memang harus ekstra hati-hati,” jelasnya.

Selain itu, untuk detail lainnya, dia memilih menggunakan 3D printing. Perempuan asal Surabaya itu menjelaskan bahwa 3D printingmemang sudah sangat ramah lingkungan. “Kalau dijelaskan lebih detail, bahan-bahan ltu nanti mirip kayak case silikon buat handphone. Itu sudah sustainable banget,” tambahnya. (ama/c12/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 6 Agustus 2020. Hal. 24

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *