Bijak Menghadapi Buah Hati yang Baru Lulus_Desakan Cari Kerja Bikin Pusing. Jawa Pos. 6 Desember 2019.Hal.7. Livia Yuliawati. PSY

Desakan Cari Kerja Bikin Pusing

 

ANEKA PILIHAN SETELAH WISUDA

 

MENIKAH SEBELUM SEMPAT BERKARIR

Bukan masalah. Tentu masalah bekerja setelah menikah bisa dikomunikasikan dengan significant others, baik orang tua maupun pasnagan. Namun, pad amasa sekarang, banyak pekerja yang jam kerjanya relatif fleksibel. Pekerjaannya pun tidak selalu menuntut berada di kantor. MIsalnya, menjadi freelancer bidang desain atau make-up artist.

 

INGIN MENGAMBIL JEDA, TIDAK SEGERA BEKERJA SETELAH LULUS

Sah-sah saja. Namun, komunikasikan dengan orang tua. Pastikan ada rencana jelas. Kapan liburan diakhiri, rencana setelah liburan berakhir, dan lain-lain. Jadi, tidak sampai hilang arah setelah masa liburan selesai,

 

IDEALIS DALAM MEMILIH KERJA

Orang tua dan anak perlu berdiskusi. Buka wawasan anak tentang pekerjaan yang ada. Jika perlu, ajak mereka mengobrol dengn rekan yang berpengalaman di bidang pekerjaan yang diinginkan anak. Jangan sampai idealisme dalam mencari kerja dalam mencari kerja membuat anak hanya punya satu rencana.

 

HARUS SEGERA BEKERJA KARENA TUNTUTAN EKONOMI

Jangan buru anak untuk segera mendapat pekerjaan. Ajak anak berdiskusi tentang pilihan pekerjaannya. Dengan begitu, mereka tidak stres dan terbebani oleh tuntutan keluarga.

 

DIMINTA MENDAFTAR CPNS

Dalam bidang-bidang penempatan PNS. Cari yang setidaknya mendekati bidang keahlian anak. Jadi, mereka tetap bisa menyalurkan passion ketika bekerja kelak.

 

BUKA USAHA BARENG TEMAN

Buka diskusi dengan anak. Pastikan mereka tertarik memulai membuka usaha karena memang memiliki minat. Anak pun tidak terpaksa menjalaninya.

 

“Sudah wisuda, ya? Rencananya kerja di mana?” Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, bagi yang ditanya, hal itu bisa memusingkan. Seakan-akan keberhasilan hanya diukur dengan mendapat pekerjaan.

 

SETELAH lulus. (idealnya) lanjut bekerja. Anggapan tersebut seolah sudah mendarah daging di Indonesia. Para fresh graduate diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan setelah wisuda. Alhasil. masa-masa setelah wisuda pun diisi pcnantian panggilan kerja bagi sejumlah lulusan baru.

Psikologi Vivi Kurnia Lestari Mpsi menjelaskan, periode itu merupakan peralihan yang berdampak besar buat anak, ”Di masa itu anak sudah lulus. Dari awalnya harus ngampus atau bertemu dosen jadi tanpa aktivitas,” ucapnya. Sebenarnya, periode kosong tersebut bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi, anak baru saja menuntaskan tugas akhir yang mungkin menyita perhatianya.

Psikologi yang juga guru bimbingan karir Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya itu melanjutkan, periode tersebut justru bisa jadi bumerang. Terlebih jika anak mendapat tekanan dari lingkungan sekitar. Misalnya desakan segera kerja oleh keluarga besar. Atau teman-teman seangkatan anak sudah mendapat pekerjaan. Menurut Vivi, hal itu bisa menimbulkan setres.

“Muncul rasa rendah diri karena anak tidak mampu mencapai standar sukses yang diharapkan orang sekitar. Mereka juga cenderung membandingkan dengan teman,” ungkapnya. Padahal, masa tcrscbut bisa dimanfaatkan. Misalnya, mengikuti worshop atau pelaihan. “Pengayaan Ini bisa menambah value anak di mata perekrut kerja.” lanjut Vivi

Sementara itu, psikolog Livia Yuliawan SPSI MA PhD menilai peran orangtua pada masa mencari kerja sangat pcnting. Menurut dia, Ibu dan ayah perlu ikut “belajar” bersama anak. Terutama tcrkait ragam profesi masa kini. “Pendekatan kerja milenial cukup beda. Banyak pekerjaan sekarang yang enggak ada di zaman lbu-bapaknya,” paparnya.

Livia mencontohkan profesi vlogcr dan remote workers alias profesi yang memungkinkan tugas kcria dilakukan di luar kantor. Psikolog sekaligus dosen Universitas Ciputra Surabaya itu menilai anak muda masa kini lebih fleksibel dalam hal bekerja. Satu orang bisa merangkap beberapa role. misalnya. menjadi make-up artist sekaligus vloger.

Pilihan lain. bekerja freelance di beberapa bidang sekaligus. Jadi. mereka cenderung mencari pekerjaan yang dinamis dun fleksibel. “Dari sejumlah Studi komparasi, masa kerja milenial rata-rata 2-3 tahun. Setelah itu. banyak yang pindah bekerja atau merintis karir sendin,’ jelasnya.

Karena itu. lanjut Livia, orang tua dan anak perlu berdiskusi. “Orang tua punya pengalaman, termasuk dari teman. Di sisi lain, anak punya idealisme dan potensi. Dua hal itu perlu dipertemukan,” tuturnya.

Livia maupun Vivi menegaskan. anak perlu mengenal potensinya sebelum mencari pekerjaan Caranya, lewat diskusi serta kilas balik masa sekolah hingga kuliah. Karakter anak juga patut dipertimbangkan. Dengan begitu, ketika bckerja, anak tidak merasa terbebani. “Diharapkan. potensi anak bisa maksimal lewat jalur karir yang dipilih,” ujar Livia. (fam/c18/nda)

 

Magang untuk Tambah Pengalaman

MASA magang adalah kesempatan emas buat anak. Sebab, pada masa tersebut. mereka bisa merasakan budaya dalam sebuah kantor atau lembaga. “Ini adalah periode test: the water. Saat magang, anak tentu bisa menyimpulkan, mereka cocok enggak dengan pekerjaan seperti Ini,” papar Livia. Karena Itu, pemilihan lokasi magang hendanya bcnar-bcnar dipertimbangkan dengan matang.

Dia mcnjelaskan, magang seyogianya dilalui dcngan sungguh-sungguh. Tidak sekedar memenuhi mata kuliah, ”Sebab, masa magang ini bisa jadi portofolio yang membantu saat cari kerja,” tegas Livia. Anak, saran dia, hendaknya mcnjalin rekanan yang baik semasa magang. “Kalau cocok, bisa dilanjutkan. Kalau enggak, anak bisa mempertimbangkan profesi lain yang masih sesuai bidang keahlian mereka,” imbuhnya.

Vivi menambahkan, mereka yang mencari kerja juga bisa mengambil opsi magang. Memang, durasi kontrak kerja umumnya tidak terlalu lama. Pelamar magang, terutama di luar tuntutan studi, perlu menyadari hal tersebut. “Fokus magang memang mencarl pengalaman. Bukan lantas mencari penghasilan.” tuturnya.

Pilihan magang menguntungkan mereka yang punya utang tua atau kerabat pemiIik usaha. “Anak bisa belajar. Di sisi lain. pihak employer mendapat masukan karena fresh graduate punya visi dan misi yang segar.” ungkap Vivi. Meskipun magang di usaha kerabat, anak punya kedudukan sama dengan pegawai lain. Dengan demikian, tidak perlu ada perlakuan khusus. (fam/c6/nda)

 

Sumber: Jawa Pos, Jumat 6 Desember 2019. Hal 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *