BERSEPEDA DI TENGAH PANDEMI

Oleh Yohanes Yus Kristian (30117039)

 

Di masa pandemi seperti saat ini, semua orang memiliki ketakutan sama akan tertular virus COVID-19 yang belum ada obatnya. Hal tersebut akhirnya memaksa semua orang untuk mengurung diri dirumah dengan harapan terjaga dan tak tertular virus corona. Meski dirumah aja memberikan rasa aman dan terhindar dari penularan COVID-19, namun itu bukan berarti mereka baik-baik saja. Iya, dirumah aja memang memberikan rasa aman, namun ternyata jika terlalu lama dirumah hal itu juga menimbulkan rasa bosan, apalagi jika hal itu terjadi berbulan-bulan. Oleh karena itu, masyarakat di Indonesia mulai membuat berbagai trend baru selama masa pandemi. Beberapa trend seperti membuat vlog kegiatan dirumah, membuat konten instagram atau youtube menjadi berbagai pilihan yang dapat dilakukan. Sedangkan dari segi olahraga sendiri, trend yang sedang banyak di gemari masyarakat Indonesia, khususnya para remaja adalah bersepeda.

Benar, trend sepeda saat ini sedang melanda seluruh kalangan masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Trend ini menyerang seluruh kalangan usia mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia. Trend bersepeda kini digemari lantaran banyak yang beranggapan bahwa bersepeda memungkinkan penggunanya untuk tidak berdekatan dengan orang lain. Anggapa tersebut sesuai dengan larangan dan aturan pemerintah tentang harus menjaga jarak satu sama lain. Karenanya, bagi mereka yang mulai merasakan bosan karena adanya peraturan pemerintah untuk dirumah aja memilih untuk bersepeda. Awal mula trend sepeda diperkirakan mulai terjadi bulan maret 2020. Hal itu dapat dilihat dari meningkatnya permintaan sepeda di aplikasi penjualan online (Krisdamarjati, 2020). Tidak heran jika setelah itu banyak sekali masyarakat yang mulai beraktivitas menggunakan sepeda. Trend bersepeda ini juga memberikan keuntungan bagi para pengusaha sepeda. Jika biasanya penjualannya selama sebulan hanya dua. Namun sejak menjadi trend penjualannya menjadi meningkat. Bisa mencapai empat sepeda dalam kurun waktu satu bulan (Jannah, 2020).

Namun, meski bersepeda di tengah pandemi ini menjadi pilihan utama untuk dapat mengatasi rasa jenuh di rumah bagi beberapa orang. Bersepeda juga dapat menjadi malapetaka bagi beberapa orang. Hal yang dimaksudkan adalah kecelakaan disaat bersepeda. Mungkin sepertinya tidak mungkin, namun sudah banyak fakta dan laporan tentang kecelakaan akibat bersepeda yang diterima oleh pihak kepolisian. Di Yogyakarta sendiri, sejak tiga bulan terakhir sudah 29 orang yang mengalami kecelakaan disaat bersepeda (Nurhadi, 2020). Alasan kecelakaannya pun beragam, namun yang banyak terjadi adalah karena pesepeda telah mengabaikan keselamatan dan etika berkendara di jalan raya. Sedangkan di Jakarta, berita heboh akhir-akhir ini mengenai kecelakaan sepeda dialami oleh pesepeda bromton (KumparanOTO, 2020). Pesepeda mahal tersebut mengalami kecelakaan lantaran ditabrak oleh pengemudi sepeda motor dari belakang. Akibatnya, pesepeda tersebut harus mengalami kerusakan parah pada sepeda mahalnya dan mengalami luka pada bagian pelipis. Kejadian lain yang serupa juga sempat terjadi di depan Halte Transjakarta yang membuat seorang pengendara sepeda harus dilarikan kerumah sakit. Kecelakaan tersebut diakibatkan karena separator dari pengedara sepeda tersebut jatuh dan tersenggol bus Transjakarta yang sedang ada di area tersebut.  Mengacu pada beberapa kejadian yang telah terjadi, jadi sebenarnya bagaimana sih bersepeda di tengah pandemi saat ini?.

Beberapa pakar memberi tanggapan mengenai fenomena bersepeda di tengah pandemi ini. Jusri Pulubuhu, founder dari JDCC mengatakan bahwa bersepeda di tengah pandemi boleh dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun pesepeda juga harus mentaati peraturan di jalan raya dan tak bisa sembarangan, misalnya saja tidak menggunakan gawai waktu bersepeda. Meskipun dalam menggunakan sepeda tidak memiliki kesulitan seperti motor, namun keseimbangan menjadi kunci ketika membawa sepeda di jalan raya (KumparanOTO). Sebab, sepeda yang mudah sekali hilang keseimbangan ketika ada batu atau lubang, hal tersebut sangat rentan menimbulkan kecelakaan. Selain itu, bersepeda tanpa berjajar dengan pesepeda lainnya juga harus ditaati oleh para sepeda. Karena selain belum banyaknya jalur khusus sepeda di beberapa wilayah, hal tersebut juga dapat menimbulkan resiko kecelakaan yang cukup besar. Pendapat lain oleh Toto Sugirto, selaku co-founder serta pembina Bike2Work mengatakan bahwa pemerintah harus memenuhi hak para pesepeda. UU no 22 tahun 2009 yang mengatur tentang hak dan rasa aman bagi sepeda harus dipenuhi oleh pemerintah dengan mengontrol lalu lintas agar hak dan kewajiban para pesepeda terpenuhi. Dengan demikian, keamanan para pesepeda akan dapat terjamin karena terpenuhinya hak dan kewajiban mereka (Syambudi & Setiawan, 2020).

Dibalik banyaknya kontroversi yang terjadi, bersepeda di tengah pandemi sebenarnya juga memberikan banyak manfaat bagi para pesepeda. Salah satu manfaat yang paling dapat dirasakan adalah oleh para pesepeda adalah memperkuat sistem kekebalan tubuh. Di masa pandemi seperti ini, kesehatan menjadi hal yang sangat berharga dan mahal. Semua orang berlomba-lomba untuk terus berusaha menjaga kesehatan mulai dari olah raga hingga minum vitamin. Namun karena pandemi ini, beberapa tempat olahraga atau kebugaran harus ditutup, sehingga pilihan tempat untuk berolahraga pun menjadi sedikit. Oleh karena itu, bersepeda menjadi pilihan terbaik untuk dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hal itu dibenarkan juga oleh seorang dokter di Jerman, Michael Barczok yang mengatakan bahwa bersepeda dapat melancarkan peredaran darah dan kesempatan untuk pertukaran oksigen yang sangat baik. Kedua manfaat tersebut dapat membantu membersihkan paru-paru dan terhindar dari virus, sehingga hal itu dapat mencegah resiko tertularnya COVID-19 (Siyahailatua, 2020).

Sisi lain dari trend bersepeda ini juga secara tidak langsung mampu menjaga jarak aman antara orang lain. Sebab kebanyakan sepeda saat ini yang digunakan adalah sepeda yang hanya dapat memuat satu orang. Dengan demikian, secara otomatis para pesepeda akan langsung mampu menjaga dirinya sendiri dari penyebaran virus COVID-19. Terlebih lagi jika para pesepeda mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan, hal tersebut akan memperkecil resiko penularan virus COVID 19 yang saat ini telah di tetapkan WHO mampu menyebar lewat udara (Putri, 2020).  Manfaat terakhir dari trend bersepeda ini adalah dapat menghilangkan perasaan stres (Siyahailatua, 2020). Sejak pemerintah menetapkan aturan untuk menutup beberapa tempat dan belum mengijinkan untuk membuat suatu acara. Banyak orang yang akhirnya menghabiskan waktu dirumah saja. Namun waktu yang cukup lama tersebut membuat sebagian orang stres karena merasa bosen dan jenuh saat dirumah. Oleh karena itu, bersepeda bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas untuk dapat mengurangi stres akibat pandemi. Karena dengan bersepeda, kita akan dapat merasakan angin, bisa melihat sekitar dengan tetap menjaga jarak. Semua hal tersebut akan membuat seseorang memiliki perasaan senang yang akhirnya dapat menghindarkan dari perasaan stres akibat dirumah saja.

Kembali lagi, jadi sebenarnya bersepeda di tengah pandemi adalah sebuah fenomena yang memiliki beragam sisi. Semua tergantung dari mana kita memandang fenomena bersepeda yang sedang banyak di gandrungi para pemuda khususnya. Jika melihat dari sisi baiknya, bersepeda memberikan banyak manfaat positif di tengah pandemi, sehingga banyak para ahli yang berpendapat positif mengenai trend bersepeda. Namun disisi lain, jika melihat bahayanya, sepeda juga rentan mengalami kecelakaan. Hal tersebut terjadi lantaran kurang patuhnya para pesepeda ketika di jalan raya dan kurangnya fasilitas yang memadai untuk bersepeda. Melihat dua sisi yang muncul dari adanya trend bersepeda di tengah pandemi ini jadi menimbulkan pertanyaan, apakah bersepeda di tengah pandemi masih menjadi destinasi pilihan aktivitas bagi masyarakat?.

 

 

 

Referensi:

Putri, G, S. (2020 Juli 10). Pernyataan resmi WHO, virus corona menyebar di udara dan menular. Kompas.com. diakses dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/07/10/091406523/pernyataan-resmi-who-virus-corona-menyebar-di-udara-dan-menular?page=all, 15 Juli 2020.

Krisdamarjati, Y, A. (2020 Juni 30). Menebak arah “Booming” sepeda setelah pandemi. Kompas.id. Diakses dari https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/06/30/menebak-arah-booming-sepeda-setelah-pandemi/, 09 Juli 2020.

Jannah, S, M. (2020 Juni 20). Memotret peningkatan tren & bisnis gowes selama pandemi COVID-19. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/memotret-peningkatan-tren-bisnis-gowes-selama-pandemi-covid-19-fJji, 09 Juli 2020.

Nurhadi, M. (2020 Juni 25). Dalam 3 bulan, puluhan pesepeda terlibat kecelakaan di jalan raya. Suara.com. Diakses dari https://jogja.suara.com/read/2020/06/25/141457/dalam-3-bulan-puluhan-pesepeda-terlibat-kecelakaan-di-jalan-raya, 10 Juli 2020.

KumparanOTO. (2020 Juni 19). Belajar dari kasus kecelakaan sepeda Brompton di jalan raya. Kumparan.com. Diakses dari https://kumparan.com/kumparanoto/belajar-dari-kasus-kecelakaan-sepeda-brompton-di-jalan-raya-1tdscOizLmx/full, 10 Juli 2020.

Syambudi, I., & Setiawan, R. (2020 Juni 29). Kecelakaan sepeda meningkat, pemerintah wajib penuhi hak pesepeda. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/kecelakaan-sepeda-meningkat-pemerintah-wajib-penuhi-hak-pesepeda-fLKG, 14 Juli 2020

 

Siyahailatua, S,E,D. (2020 Juni 25). Makin Hits, 4 alasan bersepeda baik di tengah  pandemi corona. Tempo.co. diakses dari https://gaya.tempo.co/read/1357647/makin-hits-4-alasan-bersepeda-baik-di-tengah-pandemi-corona/full&view=ok, 14 Juni 2020.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *