Berani Jujur.Bisnis Indonesia Weekend.22 April 2018.Hal.4

Oleh : Yoseph Pencawan (yoseph.pencawan@bisnis.com)

Meluapkan amarah karena mendapati anak berbohong bukanlah cara mendidik yang benar. Apalagi bila sang anak masih kecil atau usia sekolah atau amarah diikuti dengan tindakan kekerasan.

Bukannya jadi pelajaran, tindakan semacam itu justru bisa menjadi persoalan yang menghambat penanaman nilai-nilai kejujuran pada anak.

“Jika mengetahui anak berbohong, orang tua tidak perlu memarahi atau memberikan hukuman, tetapi cukup menasehatinya bahwa kebohongan itu tidak baik,” ujar psikolog Katarina Ira Puspita.

Meskipun kejujuran merupakan salah satu nilai dasar kehidupan yang harus diajarkan sejak kecil, tetapi ancaman dan kekerasan bukan cara yang baik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.

Cara terbaik untuk membina kejujuran anak adalah dengan mencontohkan kejujuran dimulai dari orang tuanya sendiri. Seringkali, orang tua sangat tidak suka anaknya berbohong, tetapi di sisi lain mereka kerap melakukan kebohongan yang diketahui anak.

Cara mengajarkan kejujuran berikutnya adalah dengan tidak memberikan reaksi yang berlebihan kepada anak bila berbohong. Sebaiknya orang tua memberi reaksi yang wajar, serta lebih banyak adalah mendorong keberanian anak untuk bersikap jujur.

Anak biasanya tahu kebohongan dilakukan telah membuat orang tuanya kecewa. Namun bila reaksi yang ditunjukkan orang tua terlampau berlebihan, maka ia akan cenderung merasa takut untuk bersikap jujur.

Selanjutnya sikap kejujuran perlu menjadi salah satu kesehatian yang dipelihara oleh setiap anggota keluarga.

Anak-anak butuh melihat sesuatu yang konkret yang menunjukkan kejujuran itu bukan hal yang abstrak atau tidak konsisten diterapkan dalam keluarga. Apa yang diucapkan harus konsekuen dengan apa yang diperbuat, dengan kata lain, ucapan harus bisa “dipegang”.

Anak-anak juga perlu diberikan pengetahuan dan keyakinan bahwa Tuhan maha melihat. Di mana pun dan kapan pun mereka berbohong, Tuhan pasti melihat dan mengetahui, meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan.

PERASAAN NYAMAN

Sementara itu, psikolog lain, Tanti Diniyanti, berpendapat bahwa anak perlu diberi pemahaman soal perilaku jujur memberikan dampak perasaan nyaman saat dilakukan.

Anak perlu diajarkan untuk mendahulukan perilaku jujur sehingga dapat membawa mereka kepada kehidupan yang tenang, damai dan tidak dirasuki rasa bersalah.

Menurutnya, selain menjadikan anak sebagai manusia yang baik, pembinaan kejujuran juga sangat penting dilakukan untuk mempererat jalinan hubungan di dalam keluarga. Saling jujur akan terbangun komunikasi yang berkualitas antara orang tua dan anak, serta meningkatkan rasa saling percaya.

“Komunikasi yang baik dan kepercayaan ini penting diajarkan orang tua karena anak-anak masih peka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar, terutama lingkungan sekitar, baik sekolah maupun rumah,” katanya.

Penanaman nilai-nilai kejujuran kepada anak sejak usia dini mutlak jadi tanggung jawab orang tua. Bukan saja agar menjadi manusia yang baik, nilai-nilai kejujuran yang terpatri pada anak juga bisa mendorong integritas yang tinggi.

Namun diakuinya, banyak kendala orang tua menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anaknya, seperti timbilnya sikap perlawanan. Sikap melawan semakin kentara ketika cara mendidik anak dilakukan dengan kekerasan dan bukan dengan contoh.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend 22 April 2018 Hal 4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *