Belajar Nilai dari Keluarga Jawa Mataraman

Keluarga berperan penting dalam pendidikan anak. Di ranah ini, keluarga sebagai mitra strategis bagi Negara dan pendidikan formal untuk menghadirkan generasi bangsa yang berkepribadian khas, serta mampu memberikan sumbangsih yang unggul di kehidupan. Di ranah ini, salah satu model pendidikan keluarga yang khas tampak pada budaya Jawa Mataraman. Istilah Mataraman terkait dengan budaya Mataraman sebagai bagian sub wilayah sosiokultural di Jawa Timur. Lingkup sub wilayah yang dimaksud merupakan eks wilayah Karesidenan Madium dan Kediri. Wilayah tersebut terbagi menjadi Mataraman Kulon (Kabupaten Pacitan, Ngawi, Magetan, Ponorogo) dan Mataraman Wetan (Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Madiun). Pembagian dua wilayah Mataraman berkaitan erat dengan longgarnya budaya Jawa di wilayah bersangkutan. Kepekatan sosiokultural Mataram lebih dijumpai di Mataraman Kulon ketimbang Mataraman Wetan.

Komunitas Mataraman lama memiliki tradisi dan kebudayaan yang khas, salah satunya laku hidup tirakat. Tiga laku hidup khas Mataraman, yaitu makan jika benar-benar lapar, minum jika benar-benar haus, dan tidu jika benar-benar mengantuk, menimbulkan kepemilikan waskito, kemampuan mengetahui sesuatu sebelum segala sesuatunya terjadi. Melalui ajaran-ajaran moral leluhur komunitas Mataraman, memegang teguh nilai-nilai kebajikan hidup yang relevan hingga sekarang. Di antaranya sangkan paraning dumadi saka karsaning Gusti, teguh rahayu saka berkahi Gusti, ing sung suwun langgeng tan ana sambikala dunyo lan akhiral. Maknanya, kemana pun kita pergi sudah ada yang mengatur, yaitu sang pencipta dan Tuhan memberkati setiap napas kehidupan lahir dan batin umat manusia sempurna.

Buah dari penerapan nilai kebajikan tersebut yang secara intensif ditanamkan lewat pendidikan keluarga generasi Mataraman terdahulu, kualitas hidup keturunan Mataraman cenderung memiliki citra positif. Diantaranya tidka bercerai, jujur, di beberapa organisasi keturunan Mataraman dipercaya sebagai bendahara, tidak berutang, citra tubuh guyub. Unggah-unggah yang kental dalam berelasi, hormat kepada orang tua dan pendidikan anak-anak Mataraman sebagian besar berhasil (berpendidikan tinggi dan berprestasi secara akademik). Di sisi lain komunitas Mataraman cenderung dikenal eksklusif. Pada awalnya tempat hunian komunitas ini berkumpul di satu atau beberapa lokasi. Kalau berada di satu lokasi masyarakat umum menyebut sebagai kampung Mataraman, di tempat tinggal komunitas Mataraman di Blitar dan Tulungagung misalnya di jumpai peninggalan rumah khas dan pusaka Mataraman, seperti tombak, payung dan keris. Secara umum arsitektur rumah mencontoh rumah tinggal di Kotagede, Yogyakarta dan Surakarta. Ciri-ciri rumahnya dikenali melalui tata letak ruang, pintu, jendela, cat dan hiasan/interior rumah.

Rumah mereka umumnya sederhana tidak mewah, kebersihan rumah selalu dijaga, dinding rumah ditempeli hiasan-hiasan yang khas, termasuk foto-foto para pinisepuh yang merupakan pendahulu mereka yang mengenakan pakaian kebesaran adat berupa blangkon, serta beskap model Ngayogyakarta. Karakteristik budaya Mataraman selain dideteksi lewat arsitektural tempat tinggal juga dapat dideteksi lewat cara berpakain (busana tradisional), bahasa yang digunakan (cenderung halus), makanan khas (cenderung manis), cenderung indogam (menikah dengan sesama Mataraman) dan egaliter. Kepemimpinan komunitas Mataraman hanyalah salah satu contoh betapa kebudayaan Jawa dan sub-sub kebudayaan yang berada di Jawa Timur, khususnya layak menjadi inspirasi bagi perjalanan hidup bangsa ini. Lebih-lebih dalam pendidikan karakter generasi bangsa yang saat ini semakin mengalami kompleksitas permasalahan dan pengaruh budaya asing yang kontradiktif dengan jati diri budaya bangsa sendiri. Orientasi budaya yang bersumber pada sejarah bangsa ini semakin penting untuk menemukan dan menamkan jati diri generasi saat ini dan seterusnya, di tengah arus kebudayaan global yang kian merajalela. Di ranah inilah Hari Pendidikan Nasional yang baru saja dirayakan menemukan relevansinya, dengan mengenalkan dan meneruskan pendidikan keluarga dan basis kearifan budaya local.

Belajar Nila dari Keluarga Jawa Mataram.Bali Post. 11 Juni 2016

4 replies
  1. anggia
    anggia says:

    Sangat bagus sekali artikelnya. Apakah saya boleh minta keterangan lengkap artikelnya untuk keperluan citatan? Koran apa, tahun, edisi dan volume nya? Terima kasih.

    Balas
    • admin_library
      admin_library says:

      Selamat pagi Sahabat UCLib,
      Kami akan melengkapi informasi sumber. Yang pasti dari koran Bisnis Indonesia.
      Senang berkenalan dengan anda.
      Terimakasih.

      Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *