Belajar menjadi Konten Kurator

iTalk Learning Has Gone Digital

Dalam masa pembelajaran online ini banyak sekali problem yang kita hadapi, baik untuk tenaga pendidik ataupun mahasiswa. Bagi para pendidik dan pengajar tantangannya yaitu menyiapkan materi digital yang relevan dan menarik dimana dipersiapkan untuk mendukung proses pembelajaran dalam masa daring ini. Namun banyak yang belum memahami tentang seluk beluk tentang hak cipta, sedangkan dalam penggunaan materi sangat dibutuhkan untuk pembelajaran online. Maka dari itu jangan sampai kita melakukan pelanggaran dalam hak cipta. Dan Pada kesempatan kali ini UC library kembali hadirkan iTalk (Innovation Talk) melalui aplikasi zoom yang bertemakan, Learning Has Gone Digital Understanding is More Important than Ever. Acara iTalk dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus yang di moderatori oleh Christye Dato Pango. S. SOS., M. A. (Pustakawan Universitas Ciputra).

iTalk ini adalah iTalk ke-5 yang sudah dilaksanakan secara online oleh UC library dan dihadiri sebanyak 114 peserta. Dalam iTalk ini sesi pertama disampaikan oleh Pak Johan Hasan S. KOM., M. HUM. (dosen pengajar dan koordinator mata kuliah umum Universitas Ciputra). Beliau menjelaskan secara garis besar apa itu hak intelektual. Beliau menjelaskan beberapa jenis dari hak intelektual, yaitu hak cipta merupakan hak eksklusif pencipta yang mencakup buku, program komputer, karya tulis, sastra, dsb. Yang kedua yaitu hak paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya dibidang teknologi yang mempunyai peranan strategis dalam mendukung pembangunan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Yang ketiga yaitu merek (Trademark) yaitu tanda yang dapat ditampilkan secara grafis, suara, dan hologram untuk membedakan barang dan atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Yang keempat yaitu indikasi geografis yaitu suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau faktor kombinasi. Dari kedua faktor tersebut memiliki reputasi kualitas dan karakteristik tertentu pada barang atau produk yang dihasilkan. Dan masih banyak macam-macam hak intelektual yang lainnya.

Seperti yang disampaikan oleh Pak Johan bahwa Adanya pembatasan penting yang benar-benar berguna bagi masyarakat yaitu pembatasan hak ekonomi untuk copyright yang dibedakan sesuai dengan jenis-jenis hak  intelektual itu sendiri. Secara hukum copyright itu bergerak pada awalnya Pada tahun 1790 itu hanya buku yang tercetak lalu masuk ke musik dan masuk lagi ke beberapa hal, salah satunya software komputer. Indonesia juga memperbolehkan adanya Fair Us yaitu membatasi hak cipta asal memenuhi beberapa pertimbangan misalnya tujuan dan karakter penggunaan contohnya apakah menggunakan makna atau ekspresi baru,  nature karya dengan melihat yang nonfiksi lebih diterima dari pada karya fiksi yang sudah dipublikasi lebih diterima dari pada yang belum dipublikasi,  jumlah penggunaan berapa banyak,  dan  efek terhadap market karya cipta. Adapun ini sudah diterapkan di YouTube ketika kita ingin mengunggah sesuatu harus penciptanya sendiri atau mereka yang diberikan izin oleh penciptanya. Ini penting dipelajari karena dapat membantu kita untuk menghindari pelanggaran atas hak cipta. Pak Johan mengatakan bahwa, copyleft maupun copyright sama-sama memiliki hak kekayaan intelektual.

Sedangan narasumber ke-2 yaitu Ibu Siti Nurleily Marliana, Ph.D. (Anggota creative commons Indonesia dan dosen fakultas biologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) yang biasa dipanggil Bu Leily. Beliau menjelaskan tentang, banyak yang tidak memahami mengenai  copyright. Melakukan pembelajaran dalam masa daring ini pastinya menggunakan media seperti presentasi atau media-media yang mudah dicerna agar lebih jelas dalam  penyampaiannya. Dapat dipastikan materi-materi yang  kita ambil sedikit banyak kita ambil dari karya kreator terdahulu yang sudah ada filenya dari internet, buku, atau media lainnya, karena kita mengambil dari karya orang lain maka kita membutuhkan etika untuk menggambilnya. Sebelum itu kita harus mengetahui apakah materi tersebut dilindungi hak cipta apakah materi tersebut dilisensi secara terbuka dan apakah rancangan penggunaan materi tersebut sesuai kriteria penggunaan wajar dan materi tersebut bebas untuk digunakan atau tidak.

Dijelaskan pula oleh Bu Leily bahwa spektrum hak penggunaan ciptaan yang dimaksudkan disini adalah hak antara lain untuk diberi kredit atau atribusi penerbitan menggandakan menyebarluaskan mengubah dan mempertunjukkan ciptaan. Antara antara lain lisensi terbuka yaitu pencipta atau pemegang hak cipta melepaskan sebagian hak penggunaan pada publik melalui lisensi terbuka. Public domain yaitu ciptaan tidak dilindungi  hak cipta karena,  hak cipta atau dan bebas untuk digunakan. Copyright yaitu pencipta atau pemegang hak cipta mempertahankan seluruh hak penggunaan ciptaan. Fair Use yaitu penggunaan wajar pengecualian penggunaan ciptaan yang dilindungi hak cipta tanpa izin secara terbatas menurut UUD pasal 44.

Dalam sesi iTalk ini  juga terdapat sesi tanya jawab yang berhubungan dengan hak intelektual. Dari penjelasan kedua narasumber ini kita semakin paham tentang apa itu hak intelektual dan bagaimana etika ketika kita menggunakan media-media di berbagai sumber untuk kita jadikan bahan materi pembelajaran.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *