Dodo Darsa Belajar Dari lebah

Dodo Darsa Belajar dari Lebah.Kompas. 18 Januari 2016. Hal 16

Penulis : Abdullah Fikri Ashri

Andai bisa menjelma menjadi hewan, lelaki ini mengangankan menjadi lebah, penghasil madu yang bermanfaat bagi manusia. Namun, itu mustahil. Ia hanyalah orang biasa yang mencoba memberdayakan masyarakat di sekitarnya untuk memanen madu tanpa mencederai hutan.

Itulah Dodo Darsa (43), pemanen sarang lebah di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tahun demi tahun, ia hidup dan belajar dari lebah.

Saat malam sudah terlalu larut, pertengahan Desember lalu, di rumahnya yang tak bertegel di Padabeunghar. Dodo masih sibuk menyiapkan perlengkapan mengajar. Sarang lebah yang kosong dan stoples madu menjadi alat peraganya.

Ia bukanlah dosen atau guru. Namun, bagi masyarakat setempat. Dodo adalah “suhu” tentang lebah, utamanya lebah hutan (Apis dersata). Bahkan, sejumlah wisatawan asal Jakarta datang ke kawasan Batu Tulis, Padabeunghar, untuk melihat bagaimana pengolahan madu hutan ala Dodo.

Siang sebelumnya, Dodo meneruma rombongan wartawan yang juga penasaran dengan madu lebah hutan atau dikenal sebagai lebah odeng. Dengan senyum merekah, lelaki bertubuh kurus ini meniriskan madu segar langsung dari sarangnya. Rasa lelah pun lenyap, tergantikan wajar mesem, ketika madu lumer di mulut.

Tak tampak seekor anak lebah pun di sarang yang berbentuk seperti bola rugbi itu. Sebuah pertanda sarang tersebut diambil setelah para penghuninya pergi.

Cara memanen Dodo masih tradisional dan arid. Ia tidak memotong dalam pohon tempat sarang lebah bertengger, tetapi menyingkap dahan-dahan pohon dengan tangan sendiri.

Untuk mengusir lebah, ia menggunakan asap dari karung goni atau sabut kelapa yang dibakar. Hanya sarang yang sudah tua, bulatan sarang sudah tertutup, yang diambil. Pun, hanya tiga perempat bagian sarang yang boleh diraup. Sisanya merupakan bagian larva lebah. “Itu cara agar regenerasi lebah masih ada,” ucap Dodo.

Pantang pula mengambil dua sarang dalam satu pohon. Madu juga hanya boleh dipanen paling cepat 15 hari sekali.

Begitulah ajaran ayahnya. Sang-sang, tentang alam. Hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai, puluhan warsa silam, ayah Dodo kerap memanen lebah odeng. Madu lebah odeng lalu menjadi konsumsi rumah tangga. Tak banyak warga yang memanen madu. Selain karena takut disengat, warga lebih menggantungkan diri pada bercocok tanam.

Namun, sejak 2004, sekitar 20 persen dari 2000 warga Padabeunghar, termasuk para tatangga Dodo, terpaksa tak lagi bercocok tanam. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut-H/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Gunung Ciremai Menjadi Taman Nasional.

Paling tidak 2000 hektar area Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka rusak. Perubahan fungsi hitan menjadi lahan sayuran serta penebangan liar menjadi penyebabnya. Dodo pun berinisiatif mengajak warga untuk belajar memanen madu lebah. Apalagi, panen madu lebah tak perlu menebang pohon dan mengubah fungsi hutan. “Ya… Cuma digigit, sih,” ucapnya terkekeh.

Sakitnya sengatan lebah yang membuatnya hampir pingsan tiga kali tidak melunturkan semangatnya di dunia perlebahan. Hal itu dijadikan pertanda, mungkin ada caranya yang mencederai lebah.

Difasilitasi Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Dodo mendirikan Kelompok Pujangga Manuk Batu Luhur (KPMBL) pada 2010. Melalui kelompok tersebut, ia mencoba merangkul satu per satu tetangganya untuk memanfaatkan potensi hutan tanpa mesti menggarap lahan yang dilindungi tersebut.

Warga yang masih sulit menerima kenyataan kehilangan mata pencarian emoh dengan ajak Dodo. Bahkan, ia dituding sebagai perpejangan tangan Balai TNGC. Hanya satu-dua orang yang bergabung.

Tak ada masalah baginya. Dodo, yang sejak belasan tahun belajar memanen madu, tidak ingin “pintar” sendiri soal panen lebah. Ia mulai mengajar satu-dua warga setempat soal panen madu odeng.

Lewat KPMBL pula, Dodo mengajak warga setempat mengelola wilayah Batu Luhur, yang dikelilingi batu cadas seukuran kerbau, sebagai kawasan wisata. Di sana, madu lebah odeng dijajakan kepada pengunjung.

Lebah madu yang sebelumnya hanya dijadikan konsumsi rumah tangga pun menjadi salah satu penghasilan Dodo dan kawan-kawan. Harga sebotol madu ukuran 600 mililiter, misalnya, Rp 250.000.

Di pasaran, madu alami tersebut dibanderol hingga Rp 450.000 untuk ukuran yang sama. Kota Cirebon dan Jakarta merupakan beberapa tempat tujuan penjualan maju odeng. “Cara memanennya tetap sama, tidak boleh serakah,” katanya.

Dodo pun kedatangan banyak tetangga yang ingin belajar panen madu lebah. Kini, KPMBL memiliki 50 orang anggota, termasuk ibu-ibu yang juga berusaha menyuguhkan es cuing (cincau/Cyclea barbata), sejenis tumbuhan merambat berwarna hijau, kepada pengunjung.

Saat ditanya tentang ketakutan lahan panen berkurang karena semakin banyaknya pemanen madu, yang juga muridnya, Dodo spontan menjawab, “Supaya rezekinya berkah, ilmunya harus dibagi.”

Bahkan, Dodo kerap menjadi narasumber dunia perlebahan di Kuningan hingga Jakarta. “Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah datang ke sini untuk belajar,” ujar tamatan sekolah dasar ini.

Di samping rumah Dodo yang tak berplafon tertampang empat baris bambu memanjang layaknya pagar bambu tempat budidaya lebah Apis trigona. Di sanalah “mata pelajaran lebah” kerap disesuaikan.

 

Jaga hutan

Namun, pengalaman dari alam blum mampu membuatnya menghentikan kebakaran hutan di sekitar Gunung Ciremai. Tidak hanya merusak hutan, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia juga memaksa lebah odeng hidrah. Dari 50 koloni-sekitar 25.000 lebah-yang berdiam di sekitar Batu Luhur, hanya 25 koloni yang mempu bertahan.

Bersama Balai TNGC di Pasawahan dan anggota KPMBL Dodo rela menghabiskan malam demi malam di hutan, mengantisipasi kebakaran hutan. Sarana komunikasi radio (HT) menjadi alat untuk mengabarkan kepada Balai TNGC jika titik api terlihat. “Biasanya saya sendiri di hutan, tetapi bilang kepada istri ada teman,” katanya tertawa.

Hawal Widodo, Kepala Seksi TNGC Wilayah I Kuningan, mengatakan, Dodo tidak hanya memberdayakan warga setempat, tetapi juga ikut menjaga hutan. “Kalau enggak ada Pak Dodo dan teman-temannya, Gunung Ciremai bisa terbakar terus,” ujarnya.

“Saya ambil hidup dari hutan. Kalau hutan terbakar, sama saja hidup saya hilang,” kata Dodo sembari menatap langit mendung pagi itu. Satu per satu anggota KPMBL datang ke rumahnya, bersiap mengikuti acara penanaman pohon di salah satu bukit di Padabeunghar.

Blum sempat mandi, Dodo bergegar pergi. Ia tak terbang seperti lebah yang bisa ke sana kemari. Namun, ia mencoba bermanfaat seperti lebah.

Sumber : Kompas Senin 18 Januari 2016

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *