Belajar dari film ‘Sokola Rimba’

Untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2019 lalu, Movie Time @ UC Library hadir dengan menayangkan film “Sokola Rimba”. Cerita dalam film ini diangkat dari kisah nyata perjuangan Butet Manurung untuk mengajarkan baca, tulis dan menghitung kepada anak-anak Rimba. Orang-orang Rimba adalah sebutan bagi suku yang mendiami daerah pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi.

Riri Riza sebagai sutradara pada film ini memilih Prisia Nasution untuk memerankan Sosok Butet Manurung. Film ini berawal ketika Butet Manurung pingsan karena terserang demam malaria pada saat berusaha masuk hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Seorang anak tak dikenal datang menyelamatkannya. Nyungsang Bungo (Nyungsang Bungo) nama anak itu, berasal dari Hilir sungai Makekal, yang jaraknya sekitar 7 jam perjalanan untuk bisa mencapai hulu sungai, tempat Butet mengajar. Diam-diam Bungo telah lama memperhatikan Ibu guru Butet mengajar membaca. Ia membawa segulung kertas perjanjian yang telah di’cap jempol’ oleh kepala adatnya, sebuah surat persetujuan orang desa mengeksploitasi tanah adat mereka. Bungo ingin belajar membaca dengan Butet agar dapat membaca surat perjanjian itu.

Ketika sadar Butet Manurung sudah berada diantara orang-orang Rimba. Pada proses pendekatan dan pengajaran kepada anak-anak Rimba Butet mendapat pertanyaan apakah dengan bisa baca tulis bisa mencegah orang menebang pohon mereka, “…Kita potong kayu dengan parang hanya ambil secukupnya. Kalau kita pintar kita bisa tolak mereka ambil kayu kita?”. Pertanyaan ini menjadikan Butet Manurung lebih semangat mengajar.

Pertemuan dengan Bungo menyadarkan Butet untuk memperluas wilayah kerjanya ke arah hilir sungai Makekal. Namun keinginannya itu tidak mendapatkan restu baik dari tempatnya bekerja, maupun dari kelompok rombong Bungo yang masih percaya bahwa belajar baca tulis bisa membawa malapetaka bagi mereka.

Namun melihat keteguhan hati Bungo dan kecerdasannya membuat Butet mencari segala cara agar ia bisa tetap mengajar Bungo, hingga malapetaka yang ditakuti oleh kelompok Bungo betul-betul terjadi. Butet terpisahkan dari masyarakat Rimba yang dicintainya.

Akhirnya Butet Manurung memilih untuk berhenti bekerja di LSM WARSI (Warung Konservasi Informasi) karena ia merasa rekan di tempat ia bekerja hanya mengekspose hasil kerja hanya untuk pencitraan di media massa. Ia kemudian memilih sepenuhnya mengabdi untuk mendidik anak-anak Rimba.

Ketika kembali ke pedalaman hutan, ia bertemu kembali dengan Bungo berserta kelompok rombongnya sedang bernegoisasi dengan para orang luar hutan yang berusaha mengambil lahan milik mereka. Butet Manurung tampak terharu karena Bungo mulai bisa membaca surat perjanjian dengan lancar dan mengetahui serta menolak pasal-pasal mana saja yang dapat merugikan Bungo, kelompoknya, maupun hutan milik mereka.

Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari dari film. Apa saja?

  1. Butet Manurung berhasil menunjukkan kepada kita sikap gigihnya ditengah kesusahan proses perjuangan. Ia harus masuk keluar hutan dengan besar kemungkinan ada banyak binatang buas yang siap memangsa. Ia terus mendapatkan penolakan hingga akhirnya diterima oleh orang-orang Rimba.
  2. Butet Manurung menunjukkan kepada kita sikap integritas untuk menentang ketidakjujuran dan ketidakadilan. Butet Manurung menentang rekan kerja yang hanya mau mengeksploitasi orang-orang Rimba di hadapan wartawan. Ia pun terus mendidik anak-anak Rimba agar bisa membaca tulis agar tidak dibodohi oleh “orang terang” untuk mencuri pohon mereka, sama seperti perkataannya di akhir film, “Bungo mengingatkanku pada sikap yang tepat menghadapi perubahan. Menjadikan pengetahuan sebagai senjata beradaptasi.”
Oleh Christye Dato Pango

Suasana Movie Time pada Jumat, 3 Mei 2019

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *