Belajar dari Film “Happiness for Sale”

UC Library kembali mengadakan Movie Time @ UC Library yang memutar film bertemakan drama komedi Korea berjudul “Happiness for Sale”. Film ini menceritakan tentang ayah dan putrinya pemilik toko mainan anak-anak yang mengajak kita merenungkan apakah materi menjadi penentu utama kebahagiaan?

Acara ini diadakan pada Jumat (15/3) lalu pada pkl. 13.00 WIB dan bertempat di Library Lounge

Film yang disutradarai oleh Ik-Hwan Jeong ini mendapuk Choi Gang-hee, Bong Tae-gyu, Joo Jin-Mo, Park Sa-Rang, Goo Seung-Hyun, Kwon Hae-hyo sebagai para pemainnya. Menceritakan tentang Kang Mi-na (Choi Gang-hee), seorang PNS dan bekerja di kantor perpajakan, karena sikapnya yang kadang sulit mengontrol emosi, membuatnya mendapat skorsing. Ia terpaksa pulang ke kampung halamannya di daerah pinggiran untuk menjual toko mainan milik ayahnya yang sedang sakit-sakitan.

Ayahnya yang tidak akur dengan Mi-na, tidak ingin menjual toko itu, tapi Mi-na ngotot ingin menjualnya karena tidak akan ada yang mengurus. Karena keadaan toko amburadul, Mi-na harus membereskannya terlebih dahulu agar laku dijual. Tidak hanya itu, dia juga harus membuatnya terlihat laku agar pelanggan berminat. Ia pun melakukan berbagai cara agar anak-anak senang main ke tokonya.

Choi Kang-ho (Bong Tae-gyu) guru baru di sekolahan di depan toko Mi-na. Ia sangat menyukai permainan game yang ada di depan toko Mi-na dan terobsesi untuk selalu menang. Ternyata ia punya ikatan masa lalu dengan toko itu dan juga dengan anak pemiliknya.

[Spoiler Alert!]

Semenjak toko tersebut dibuka, anak-anak yang bersekolah di seberang toko pun kembali ramai berdatangan ke tokonya. Walau awalnya Mi-Na tampak tidak acuh, tetapi lama-kelamaan dia mulai menyukai anak-anak tersebut. Perlahan sifatnya mulai melunak, bukan hanya terhadap anak-anak tetapi juga dengan sang ayah. Selain itu dibukanya kembali toko milik sang ayah itu membuat Mi-Na dipertemukan kembali Mi-Na dengan sahabat masa kecilnya, yaitu Choi Kang-ho (Bong Tae-gyu) sang guru baru yang. Mi-Na akhirnya menemukan kebahagiaan yang luar biasa namun sederhana melalui toko kecil itu.

Apa saja sih yang kira-kira bisa kita pelajari dari film ini?

  1. Materi bukanlah penentu kebahagiaan. Mi-Na yang tadinya membuka kembali toko karena ingin menjualnya untuk mendapatkan uang perlahan mulai menemukan arti kebahagiaannya sendiri melalui interaksinya bersama dengan anak-anak maupun ketika bersama guru Kang-Ho. Mi-na pun menyadari kebahagiaan serupa dirasakan olehnya ayahnya ketika melihat pertumbuhan dan perkembangan dirinya semasa kecil walau Mi-Na kerap kali menunjukkan sikap tidak suka kepada ayahnya.
  2. Bullying is NEVER OK! Selain tentang Mi-Na, film ini juga menyorot siswi bernama So-Young yang kerap diejek teman-temannya karena ayahnya masuk penjara. Yang menarik adalah adegan ketika guru Kang-Ho menyuruh para murid bergantian maju ke depan kelas dan meminta anak-anak yang lain untuk memuji atau mengatakan sesuatu yang baik untuknya. Giliran So-Young yang maju malah anak-anak yang lain mulai mengejek dan menertawakannya. So-Young bukannya marah atau menangis, malah ia mulai memuji dan menceritakan kebaikan teman-temannya yang lain yang tadi menertawakannya. Sebuah respon yang patut diajarkan ke seorang anak. Selain itu, film ini juga menyampaikan betapa pentingnya sebuah dukungan yang diberikan seorang teman untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan kebahagiaan dalam dirinya dan teman-temannya yang lain.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *