Belajar atau Dihajar

Belajar atau Dihajar. Jawa Pos. 28 September 2016.Hal.29,39

Belajar itu bikin pinter. Tapi, kalau justru bikin sakit semua sampai stres, itu namanya dihajar. Ini penuturan orang tua yang anaknya justru drop staminanya karena “kebanyakan belajar”.

Vivi Martin, 35, harus berhenti dari usahanya. Dia merelakan hidupnya untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Bisnis-bisnis ditinggalkan. Itu dilakukan agar dia bisa berfokus pada anaknya.

Putra, sebut saja begitu, anak Vivi, menayndang attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Putra pun hiperaktif, imulsid, serta susah memusatkan perhatian. Dulu kelainan tersebut dikenal sebagai attention deficit disorder (ADD). Begitu kelas 1 SD, Vivi merasakan anaknya berubah. Setiap hari loyo. Berangkat sekolah loyo, begitu juga saat pulang.

“Anak saya seolah tidak bergairan,” imbuhnya. Meski begitu, bocah tujuh tahun tersebut selalu menuruti jadwal hariannya. Sehari-hari Putra masuk sekolah pukul 08.00. artinya, dia harus bangun satu atau dua jam sebelumnya. Dia baru tiba di rumah sekitar pukul 17.30. pulang pun, Putra tidak bisa langsung rehat. Ada sebarek les yang harus dia ikuti. Les bahasa mandarin, piano, serta renang. Masing-masing dua kali sepekan. “untuk les piano dan renang, memang kemauannya sendiri,” ucapnya.

 

Keterbatasan Anak

Vivi sejatinya tidak memaksa anaknya ikut beragam les. Bahkan Vivi mendukung les piano dan renang yang dipilih sendiri oleh Putra. Menurut dia, itu bisa jadi cara Putra untuk refreshing. Namun, Putra telah berubah. “terkadang saya lihat dia sering melamun. Pandangannya kosong, seperti ada beban,” katanya. Memiliki anak yang mengalami ADHD, menurut Vivi, tidak mudah. Apalagi ketika sekolah tidak memahaminya. Meski IQ-nya mencapai 123 tetapi Putra sering tidak fokus ketika belajar. “Kalau dipaksa belajar nanti dia lelah, pasti semakin blank,” ucapnya.

Lani, bukan nama sebenarnya juga merasa prihatin dengan keseharian anak tunggalnya yang kelas III SD. Setiap hari si anak harus masuk sekolah pukul 07.00 hingga 15.00 dan dia juga mengikuti beberapa les tambahan. Hampir setiap hari sampai rumah pukul 18.00. “Setelah itu, biasanya malam belajar, mengerjakan PR,” ucapnya.

Lani merupakan seorang karyawan swasra. Setiap hari dia dan suaminya harus bekerja. “Kalau siang biasanya rumah memang kosong,” ujarnya. Dia sengaja menyekolahkan anaknya di sekolah full day. Dia dan suami juga ingin menambah kemampuan putri satu-satunya itu dengan berbagai kemampuan. Karena itu, putrinya didaftarkan ke tempat les.

“Awal kelas I, rankingnya bagus. Tapi, saat mulai banyak les, prestasinya malah turun,” cerita Lani. Apalagi di sekolah, menurut Lani, beban belajar anaknya makin berat. Tugas-tugas semakin banyak. “Biasanya kalau mau ujian itu, dia demam,” ceritanya.

Kesibukan menjadi pelajar, menurut psikolog National Hospital Cicilia Evi, perlu diperhatikan orang tua. Sebagian menyekolahkan anaknya ke sekolah full day. Diluar itu, orang tua mengikutkan anaknya ke berbagai les tambahan. Tujuannya sebenarnya baik, yakni anak memiliki banyak kemampuan. Namun, apakah hal itu baik untuk tumbuh kembang anak?

Secara ilmiah, beban belajar anak di setiap perkembangan sudah diatur. Dalam dunia psikologi dikenal dengan teori psikologi perkembangan. Patokan yang perlu diperhatikan antara lain, usia, perkembangan fisik, minat, kondisi emosional, serta psikologis anak. Selain itu, ketahui keterbatasan yang dimiliki anak. “pada intinya adalah memahami bahwa setiap anak itu berbeda,” tutur Cicilia.

Hal tersebut juga berlaku dalam proses belajar anak. Tidak bisa diseragamkan secara mutlak. “Ironisnya, itulah yang terjadi di sistem pendidikan Indonesia saat ini,”katanya. Cicilia mencontohkan anak usia playgroup yang semestinya tidak dibebani dengan keharusan menulis. Mereka boleh diperkenalkan dengan aktivitas menulis sejak dini, tetapi tidak harus bisa menulis.

Menulis bisa dikenalkan dengan melatih motorik halus. Misalnya, melakukan kegiatan meremas bola karet kecil dan kemampuan menggenggam alat tulis. Semakin muda usia anak, semakin pendek jangka konsntrasinya. Dengan demikian, aktivitas yang dibutuhkan seharusnya disesuaikan. “memberikan instruksi pun harus efisien agar anak bisa memperoleh informasi yang diberikan,” tambahnya.

Cicilia pernah mmenangani beberapa kasus anak yang mengalami tekanan karena belajar. Salah satunya anak yang menunjukkan perilaku mengganggu di sekolah ataupun di rumah. “Anak itu dengan sengaja tidak mengisi lembar tugas atau ujian dan tidak  memedulikan lagi ketika dihukum guru kelasnya,” ucapnya. Cicilis melanjutkan, anak tersebut menolak untuk belajar dirumah.

Perilaku anak juga menjadi agresif. Dia mudah memukul saudara dan teman-temannya. “Kepada orang tuanya pun berteriak-teriak,” ungkapnya. Akhirnya anak tersebut dipindahkan ke sekolah baru. Orang tuanya mencari kelas dangan jumlah murid yang sedikit. Tujuannya, guru bisa memantau perkembangan si anak selama proses belajar di kelas.

 

Sumber : Jawa Pos. Mei 2016. Hal 29

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *