Beberapa Fakta Seputar Jenderal Soedirman

Jenderal Besar Raden Soedirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama dan seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Ia mendapat tempat istimewa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia karena menjabat panglima angkatan bersenjata pada awal berdirinya republik ini. Berikut adala beberapa fakta mengenai Jenderal Soedirman:

  1. Panggilan Dinda dari Soekarno

“Kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran,” Ancam Soedirman di depan Soekarno tanggal 18 Desember 1948, ketika Yogyakarta –ibukota negara- jatuh ke tangan kekuasaan Belanda. Bung Karno ditangkap, sementara Soedirman memilih untuk bergerilya.

Soekarno dan Soedirman adalah Sahabat yang sangat dekat. Soekarno memanggil Soedirman dengan sebutan Dinda karena 15 tahun lebih tua, sementara Soedirman memanggil Soekarno sebagai Kanda. Seperti yang tertulis dalam surat berikut, “Kanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh…” yang ditulis Soekarno sebulan sebelum Soedirman wafat.

Setelah wafat, Soekarno menempatkan sahabatnya itu sebagi ikon sejarah. Ketika membangun sebuah jalan baru yang besar dan lebar tahun 1962 untuk akses ke pinggiran kota menuju sebuah stadion baru termegah di dunia saat itu, Soekarno menamakan jalan tersebut Jalan Jenderal Soedirman.

 

2. Pemuda Cerdas Yang Hidup Jauh Dari Orang Tua

Sejak lahir Jenderal Soedirman tidak hidup dengan kedua orang tuanya. Ia hidup dengan  saudara dari ibunya yang bernama Raden Cokrosunaryo yang saat itu jadi camat. Jenderal Soedirman pun mendapatkan gelar raden karena dianggap sebagai anak sendiri oleh Cokrosunaryo. Sejak kecil ia dididik dengan sangat baik oleh orang tua angkatnya itu. Ia disekolahkan hingga menjadi pemuda yang sangat cerdas.

Dari kecil hingga berumur 18 tahun, Jenderal Soedirman tidak pernah diberitahu siapa orang tua aslinya. Ia hanya tahu jika Cokrosunaryo adalah ayah yang menyayanginya dengan tulus. Setelah mengetahui fakta ini, Jenderal Soedirman akhirnya diperkenankan untuk hidup lagi dengan keluarganya meski pada akhirnya ia lebih aktif dalam belajar setelah sang ayah asli meninggal dunia.

 

3. Di Balik Foto Kisah Pelukan Bung Karno dan Jenderal Soedirman

 

Pada waktu Belanda menerjunkan ribuan pasukan Marinir dan pasukan infanteri ke Yogyakarta Desember 1948, terjadi pertengkaran kecil antara Bung Karno dan Jenderal Sudirman. Saat itu Bung Karno lebih memilih ditawan untuk memancing Belanda berunding dan memancing kemarahan Internasional, tapi Sudirman yang saat itu sudah terpengaruh dengan pikiran ‘perang total’ Tan Malaka menghendaki Bung Karno untuk ikut masuk hutan dan gerilya dengan Sudirman. Bung Karno menolak, pertimbangannya kalau gerilya pasti ketangkep juga, karena prinsip dari dulu bagi Sukarno adalah selalu ‘hadir’ ditengah mata rakyatnya dan mata dunia. “Ia tak boleh menghilang”.

Sukarno menang, tapi tidak bagi Sudirman. Ia masih marah. Akhirnya Sukarno memanggil Rosihan Anwar untuk menjemput Sudirman di hutan, sebelumnya beberapa surat sudah dilayangkan ke Sudirman sampai terakhir surat dari Sultan Hamengkubuwono IX, tapi Sudirman masih saja kepala batu. Sukarno tak hilang akal, dipakailah anak buah kesayangan Sudirman yaitu: Letkol Suharto untuk jemput Sudirman.

Rosihan Anwar membawa Frans Mendur, ahli potret dari IPPHOS. Juga tukang potret kesayangan Bung Karno. “Nanti kalo Dirman datang, kamu potret yang bagus” kata Bung Karno. Frans Mendur mengangguk.

Lalu datanglah Sudirman ke Gedung Agung, tempat tinggal Bung Karno. Dirman berdiri saja di pojokan, ia kaku, perasaannya masih marah. Tapi bukan Sukarno namanya yang mampu mencairkan suasana, ia mampu membuat Dirman tertunduk dan merasa hormat pada Sukarno yang lagak lagunya seperti bintang Tonil tahun 1930-an.

Sukarno datang sendiri ke Dirman dan memeluknya, tapi Dirman masih kaku, setelah memeluk Sudirman, Bung Karno melihat ke arah Frans Mendur dan berkata cepat “Dapet nggak sentuhannya?”

Frans Mendur menggeleng dan menyahut “Terlalu cepat” “Ya udah diulang lagi, adegan zoetnjes-nya” (zoentjes =ciuman) kata Bung Karno, lalu Bung Karno memanggil Sudirman agar mendekat. “Ayo supaya lebih dramatik” entah kenapa Dirman menurut saja bagai bintang iklan yang sedang disuruh sutradara.

Akhirnya momen pelukan Bung Karno dan Pak Dirman jadi foto paling terkenal sebagai ‘Foto penutup perang Revolusi 1945-1949’.

 

===

Sumber artikel:

Akun Facebook @indonesiajamandulu

Intisari, No. 635, Agustus 2015

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *