Batuk Kering Gejala Umum Omicron. Kompas. 25 Januari 2022. Hal. 8

Mayoritas pasien Covid-19 varian Omicron mengalami gejala batuk kering dan nyeri tenggorokan. Meski begitu, ini tidak boleh dianggap remeh karena bagi sebagian orang gejalanya bisa lebih buruk.

JAKARTA, KOMPAS – Gejala yang muncul pada kasus Covid-19 varian Omicron tidak jauh berbeda dengan varian-varian sebelumnya. Meski begitu, sebagian besar pasien bergejala mengeluhkan adanya batuk kering dan nyeri tenggorokan. Jika mengalami hal ini, segera periksakan diri agar bisa ditangani sejak dini.

“Infeksi virus SARS COV-2 varian Omicron tidak terlalu banyak ditemukan di jaringan paru, tetapi di saluran napas. Oleh karena itu, gejala yang muncul lebih banyak berupa batuk kering dan nyeri tenggorokan,” kata dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat (SUP) Persahabatan Erlina Burhan, di Jakarta, Senin (24/1/2022).

Berdasarkan data pasien ka sus positif varian Omicron di RSUP Persahabatan, dari total 17 pasien yang dirawat, 11 pasien mengeluhkan adanya gejala ringan. Dari pasien yang bergejala tersebut, 63 persen mengalami batuk kering, 54 persen mengalami nyeri tenggorokan, 27 persen mengalami pilek, 36 persen mengeluhkan sakit kepala, dan 18 persen mengeluhkan adanya demam.

Erlina menyampaikan, meski gejala yang muncul terbilang ringan, berbagai data melapor kan adanya perburukan pada pasien sehingga perlu perawatan lebih lanjut. Ini terutama terjadi pada kelompok rentan, seperti masyarakat lanjut usia, mereka dengan penyakit penyerta, dan anak-anak. Kelompok masyarakat ini perlu waspada jika tertular Covid-19.

Apabila gejala mulai muncul, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan harus segera dilakukan. Jika positif Covid-19, maka isolasi mandiri di rumah bisa dilakukan apabila memungkinkan atau ke tempat isolasi terpusat. Protokol kesehatan juga harus disiplin di jalankan. Vitamin bisa dikonsumsi disertai dengan pemenuhan gizi seimbang dan is tirahat cukup.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menambah kan, gejala ringan yang lebih banyak ditemukan pada kasus varian Omicron tidak boleh di sepelekan. Varian Omicron memiliki daya tular yang lebih cepat. Perburukan pada pasien tetap berisiko terjadi, terutama pada kelompok rentan.

Oleh sebab itu, pembatasan mobilitas masyarakat yang sudah diatur harus betul-betul di laksanakan. Bahkan, dengan kondisi penularan yang terus meningkat, pembatasan perlu diperketat. Aturan karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri juga diharapkan tetap diberlakukan secara ketat. Selain itu, vaksinasi Covid-19 juga perlu dipercepat dan diperluas. Vaksinasi dinilai menjadi salah satu upaya untuk mening katkan imunitas atau daya ta han tubuh dari penularan Covid-19.

Pasien Covid-19 varian Omi cron yang meninggal di Indo nesia diketahui belum menda patkan vaksinasi dan memiliki penyakit penyerta.

Kelompok rentan

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tar mizi, kasus pertama varian Omicron berusia 64 tahun yang terpapar dari transmisi lokal, memiliki penyakit penyerta, dan belum mendapatkan vaksinasi lengkap. Sementara kasus meninggal kedua merupakan pelaku perjalanan luar negeri yang sudah divaksin, tetapi dengan komorbid yang tidak terkontrol.

Hal tersebut menunjukkan bahwa vaksinasi dan perlindungan pada kelompok rentan amat dibutuhkan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, total warga yang sudah mendapatkan vaksin dosis primer lengkap sebanyak 124,3 juta orang atau 59,7 persen dari seluruh sasaran vaksinasi. Sementara jumlah penduduk lanjut usia yang sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap sebanyak 10 juta orang atau 46,5 persen dari total sasaran warga lansia.

Erlina menyampaikan, vaksinasi memang tidak bisa sepenuhnya mencegah penularan Covid-19. Namun, melalui vaksinasi, perburukan akibat penyakit tersebut bisa dicegah. Dari laporan yang didapatkan, sebagian besar pasien yang terpapar Covid-19 varian Omicron tanpa gejala sudah mendapatkan vaksinasi lengkap.

“Pencegahan primer juga perlu diperkuat, yakni dengan protokol kesehatan. Upaya pelacakan dan pemeriksaan juga perlu diperluas agar kasus penularan di masyarakat bisa segera terdeteksi sehingga tidak semakin meluas,” kata Agus.

Cegah kolaps

Seiring terus meningkatnya kasus Covid-19 dan meluasnya penularan varian Omicron, upaya pencegahan harus diperkuat. Tidak hanya untuk memutus rantai penyebaran, tetapi juga untuk mencegah kolapsnya fasilitas kesehatan menangani pasien Covid-19 yang melonjak.

Berdasarkan data kasus harian yang dilaporkan satgas penanganan Covid-19, pada 24 Januari 2022 terdapat 2,927 kasus baru Covid-19. Adapun jumlah kasus varian Omicron di Indonesia secara kumulatif hingga 23 Januari sebanyak 1.629 kasus yang terkonfirmasi. “Masyarakat harus waspada karena risiko kematian akibat Covid-19 masih bisa terjadi, apa pun variannya. Upaya pencegahan harus dilakukan, mulai dari pencegahan primer, sekunder, hingga pencegahan tersier,” ujar Agus.

Erlina menambahkan, kewaspadaan akan varian Omicron perlu ditingkatkan. Kasus terkonfirmasi varian tersebut dari transmisi lokal semakin banyak. Lebih dari 20 persen ka sus varian Omicron di Indonesia berasal dari transmisi lokal. Artinya, penularan tidak hanya terjadi dari pelaku perjalanan luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat.

Tingkat keparahan penularan varian Omicron belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, tingkat penularannya bisa lebih tinggi daripada varian sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian karena penularan yang tinggi bisa berisiko puta menyerang kelompok rontan yang akhirnya membutuhkan perawatan yang lebih serius.

“Pemerintah dan masyarakat harus maksimal melakukan upaya-upaya penanganan Covid-19, terutama mencegah penularan. Jika kasus terus meningkat dan tidak terkendali, ada kemungkinan sistem ke sehatan Indonesia akan kewa lahan,” tuturnya.

Nadia menyebutkan, berba gai upaya tengah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi meluasnya kasus Omicron di Indonesia. Upaya tersebut, antara lain, mengoptimalisasi upaya pelacakan, pemeriksaan, dan isolasi, meningkatkan rasio pelacakan kasus, menjamin ke tersediaan ruang isolasi terpusat, menggencarkan akses telemedik, dan meningkatkan ketersediaan tempat tidur Covid-19 di rumah sakit.

“Penanganan pasien konfirmasi Omicron dilakukan sesuai dengan penanganan Covid-19, di mana untuk kasus sedang sampai berat dirawat di rumah sakit, sementara pasien tanpa gejala hingga ringan difokuskan untuk isolasi mandiri dan isolasi terpusat,” kata Nadia. (TAN)

 

Sumber: Kompas. 25 Januari 2022. Hal. 8

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.