Bangun Bonding Erat sebelum Terjadi Pubertas. Jawa Pos. 30 Juli 2020. Hal.15. Psikologi. Ersa Lanang S

Surabaya, Jawa Pos – Masa peralihan anak-anak remaja merupakan momen menantang bagi sang anak maupun orang tua. Banyak perubahan yang terjadi sehingga berpotensi menciptakan rasa stress. “Perubahan drastis dari fisik, ini juga bisa mempengaruhi secara sosial nanti,” ucap dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Ersa Lanang Sanjaya SPsi MSi.

Secara fisik kamar laki-laki dan perempuan mengalami perubahan hormon yang memicu munculnya menstruasi, mimpi basah, hingga perubahan suara. “Cara sosial juga bisa berdampak jika teman-temannya sudah mengalami, sedangkan dia belum,” tuturnya. Kedai tarikan seksual untuk hubungan romansa juga mulai terjadi.

Perubahan ini juga berdampak pada citra diri titik remaja sudah memiliki kemampuan berpikir yang lebih  Advance sehingga mampu berpikir abstrak. “Siapa dirinya, identitas dirinya, mulai paham konsep cinta, keadilan, banyak lagi,” ujar Bapak dua anak tersebut.

Akhirnya, dan wajah jadi lebih sering bersinggungan dengan orangtua. Mereka sudah mampu melakukan kritik berdasarkan idealismenya . “Karena pengalaman pribadi juga masih kurang, tetapi secara kemampuan berpikir hampir sama dengan yang dewasa,” ungkapnya .

Dalam menghadapinya, Ersa menekankan pentingnya peran orang tua untuk berbesar hati. Orangtua harus mengakomodasi kebutuhan anak. “Untuk saat ini, cara komunikasi dengan remaja itu dengan diskusi. Bukan intruksi,” katanya. Orang tua sebaiknya memosisikan diri sebagai m untuk remaja.

Selain itu, Ersa mengingatkan bahwa ada perubahan di aspek sosial. pada masa ini, remaja biasanya melihat faktor pertemanan sebagian besar, pakan utama. “Akhirnya, mereka tidak Sedekat Itu lagi dengan orang tua,” ujarnya saat diwawancarai kemarin. (29/7).

Karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki bonding yang kuat dengan anak sebelum mereka beranjak remaja detik  “Kalau sudah kuat, remaja saat remaja awal hingga akhir, orang tua tetap bisa menjadi mentor dan Kawan bagi anak, ucap anggota laboratorium di Universitas Ciputra Marriage and Family Center.

Eva juga menyebutkan, ada peran sekolah dan komunitas untuk membantu remaja melalui masa pubertas. “Sebab mereka juga mencari identitas melalui sekolah dan komunitas,” jelasnya. (dya/c20/nor)

 

Sumber: Jawab  pos. 30 Juli 2020. hal. 15 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.