I Wayan Gde Yudane Bali Mengembara dalam Komposisi

Bali Mengembara dalam Komposisi. Kompas.28 Maret 2016.Hal.16

Karya music I Wayan Gde Yudane mungkin lebih dikeanl di negeri orang ketimbang di Tanah Air. Elemen rasa Bali melebur, menyusup dalam komposisi prias kelahiran Denpasar itu. Sebuah sumbangan Indonesia untuk khazanah music universal.

OLEH FRANS SARTONO

Sebagai anak seorang undangi atau arsitek tradisional Bali, Yudene kecil ingin menjadi tukang kayu. “kalau disuruh menggambar, keluarnya hanay gergaji atau palu karena hanya itu yang ada di kepala saya,” kata Yudane dalam obrolan sebelum pentas di Bentara Budaya Bali, akhir Februari lalu.

Cita-cita itu “kandas”. Yudane malah menjadi “tukang” menggubah komposisi yang karyanya terpapar di pentas dunia. “Crossroads of Denpasar” merupakan salah satu karya Yudane pesanan radio New Zealand yang kemudian dibeli Radio Australia dan BBC London. Karya lain, “paradise Regained”, yang terinspirasi oleh peristiwa bom Bali tahun 2002, dimainkan pianis Ananda Sukarlan diberbagai pergelaran Internasional. Karya kolaborasi dengan Paul Grabowsky, “The Theft of Sita”, dipentaskan di Next Wave Festival, New York City, 2011.

Profesor I Made Bandem menyebut Yudane sebagai bagian dari komponis baru dengan pendekatan yang melampaui hal-hal papkem atau baku. Karyanya disebut Bandem mampu memberi napas baru pada gambelan Bali.

“Dipaksa”

Yudane tumbuh di lingkungan yang dekat dengan gamelan. Ayahnya, I Nyoman Gebiyuuh, yang juga pembuat gamelan, mengajak Yudane berlatiih. Suatu kali diperlukan pemain gendang untuk festival gong kebyar se-Provinsi Bali. YUudane yang masih duduk dikelas VI sekolah dasar itu pun “dipaksa” ikut menjadi pemain gendang dalam tim Gong Kebyar Banjar Geladag pedungan mewakili Kabupaten Badung. “Ngeri sekali rasanya,” kata Yudane mengenang.

Daalm perjalanan hidup Yudane, rupanaya ada langkah-langkah yang berawal dari ke(sipaksa)an. “dari dulu saya dipaksa. Tidak murni menuruti keinginan saya. Waktu kecil, cita-cita saya hanya ingin menjadi tukang kayu. Saya dipaksa (bermain music) dan akhirnya menikmati. Kalau tidak dipaksa, saya tidak akakn tahu,” kata Yudane.

Keterpaksaan mengantar Yudane ke dunia kratif penciptaan. Suatu kali ketika mengikuti program residnsi artis si Selandia Baru, Jack Body sebagai pembimbing menggenjotnya habi-habisan sebagai komponis yang harus bekerja sendiri. Padahal, sebelumnya Yudane sudah merasa sebagai seniman ternma yang pernah tamppil di Eropa dan Amerika Serikat.

“saya terkucilkan dan dipaksa bekerja sendiri, bekerja dengan pikiran, menulis (menyusun komposisi).”

Suatu kali ia mendapaty komisi atau pesanan membuat komposisi untuk piano. Ia gamang luar biasa karena sebelumnya ia tidak pernah membuat komposisi piano. Lebih kaget lagi komposisi itu akan dimainkan oleh pianis terkenal Ananda Sukarlan.

“wah, ini ngeri-ngeri sedap karena pianisnya, kan, hebat.” Itulah kompposisi “Paradise Regained” yang menjadikannya cukup percaya diri. “Lumayan, sedikit mengangkat (nama) juga. Saya jadi percaya diri sejak itu.”

Rasa percaya diri Yudane tergetar juga. Tahun 2003, ia ditantang ol;eh Radio Selandia Baru untuk membuat komposisi. “ini gawat. Karena ibarat petarung, saya waktu itu baru belajar,” kata Yudane yang memang pernah menjadi petinju antardesa.

Music dan Puisi

Sejumlah komposisi Yudane lahir atau terinspirasi dari pusis. Dari pergaulan dengan penyiar Bali. Seperti Ketut Yuliarsa, Tan Lioe le, dan Warih Wisatsana, Yudane akrab dengan karya sastra. Yudane, mislanya, tampil dalam pergelaran Musik, Rupa, Gerak, dan Lafal Puisi di Bentara Budaya Bali, 28 Februari lalu. ia membuat komposisi yang ia olah dari puisi ramalan atau cia  si karya Tari Lioe le Berjudul “berbagai cahaya”dan “ Tertawa”.

Yudane memberi tafsir atas puisi tersebut seabagai titik tolak untuk menggubah komposisi. “jadi, ini music yang saya buat untuk puisi itu. Basic dari komposisi saya adalah puisi tersebut.”

Yudane pernah pula membuat komposisi “Entering the Stream” yang berangkat dari puisi karya Putu Yuliarso. Tidak seperti “musikalisasi puisi”, kata-kata dalam puisi Yuliarsa itu sudah dikunyah oleh tafsir Yudane . “Saya memikirkannya bait demi bait, kata demi kata.”\

Pecinta kebudayaan, Jean Couteau, yang hadir di Bentara Budaya Bali, menyebut proses penciptaan karya Yudane itu sebagai dialog antara music dan puisi. Dialog tersebut kemudian mewujud dalam komposisi untuk ppiano trio yang dimainkan piano, biola, dan cello yang pertama kali disuguhkakn oleh New Zealand Trio.

“Kata-kata semua hilang. Saya sudah baca puisinya dan selesai. Orang yang dengar bisa merasa cocok atau tidak cocok,” tutur Yudae.

Akan tetapi, untuk kebutuhan sebuah pertunjukan, Yudane juga masih menggunakan puisi secara utuh dalam komposisi. Misalnya, puisi Sinta yang kebetulan juga merupakan karya Yuliarsa. “itu untuk kebutuhan pentas teater. Untuk suatu adegan, kalau tidak ada kata-kata, mungkin penonton tidak mengerti. Jadi, dalam hal ini ada kebutuhan untuk menjelaskan..”

Bukan hanya puisi, Yudane juga pernah membuat komposisi yang berangkat dari cerita pendek. Salah satunya dari cerpen karya Rasta Sindu. Komposisi berupa ansambel perkusi ittu ia gubah atas pesanan dari Queens College, New York, 2013.

Sebagai komponis, Yudane mengutamakan orisinalitas karya,. Lewat karya yang jujur dan pribadi ia ingin berbagi dengan pendengar dari belahan dunia mana saja.

“saya juga butuh dukungan orang yang mau mendengarkan. Untuk apa kita bikin kalau tidak ada yang mau mendnegarkan. Saya berusaha membuat bagaimana orang mau mendengar. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa juga. Tetapi, saya membuat karya seperti yang saya mau,” kata Yudane.

Sumber : kompas , senin, 28 Maret 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *