Azhari. Mentor Film dari Aceh. Kompas. 22 Juni 2021. Hal.16

Keterlibatan Azhari (35) dalam dunia perfilman dokumenter awalnya ikut-ikutan, lama-lama dia justru menemukan kebahagiaan. Bagi Azhari, film tidak sekadar seni, tetapi juga medium advokasi.

Tahun 2005, setelah tamat sekolah menengah atas di Kabupaten Bireuen, Aceh, Azhari mendaftar sebagai calon anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tetapi gagal. Alih-alih kecewa, Azhari memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur. Dari sini petualangannya di dunia film dokumenter dimulai.

Meski kuliah di Jurusan Pemerintahan, Azhari banyak berteman dengan mahasiswa dari Jurusan Komunikasi. Suatu hari dia dilibatkan oleh mereka dalam proyek pembuatan film fiksi cerita tentang mahasiswa perantau. Azhari jadi pemain sekaligus penulis naskah.

Dari sana dia mulai menyukai dunia perfilman. Tahun 2010, Azhari pulang ke Aceh. Dia ingin membuat film tentang pendidikan Aceh di daerah basis konflik, yakni di Nisam, Kabupaten Aceh Utara. Lewat film, ia bermaksud memperlihatkan kondisi pendidikan Aceh agar mendapat perhatian.

Dibantu oleh temannya, Jamaluddin Phonna, mahasiswa dan dosen UMM, film dokumenter berjudul Menjemput Ilmu di Sarang Peluru rampung dikerjakan. Lokasi pengambilan gambar di sebuah rumah sekolah swasta hasil swadaya warga. “Bangunan kayu nyaris seperti kandang lembu. Tetapi, anak-anak sekolah di sana,” ujar Azhari pada Rabu IL (16/6/2021) di Banda Aceh.

Film ini diputar di kampus- kampus. Tidak lama kemudian, pemerintah membuatkan bangunan permanen untuk rumah sekolah itu. Azhari merasa bahagia, advokasi yang dia perjuangkan berhasil.

la makin tertantang membuat film dokumenter lagi. Tahun 2011, dia menggarap film dokumenter tentang kehidupan petani garam tradisional di Bireuen. Melalui film itu, dia ingin menggugat pemerintah agar memperhatikan kehidupan petani garam. “Isinya banyak kritik terhadap pemerintah, warga takut memutar film ini. Filmnya tidak jadi kami putar,” katanya.

Azhari sempat kecewa film yang digarap berbulan-bulan gagal diputar. Namun, atas saran teman-temannya, materi film itu diikutsertakan dalam ajang Eagle Awards, program kompetisi film dokumenter yang digelar Metro TV. Azhari mengikuti saran itu. Hasilnya, ia dan Jamaluddin Phonna terpilih sebagai peserta, tetapi film harus diproduksi ulang.

Nyaris sebulan dia berada di Jakarta mengikuti pembekalan tentang perfilman. Dia mendapatkan banyak pengetahuan dari tokoh film nasional, mulai dari mencari ide, membuat naskah, mengambil gambar, hingga menangani pascaproduksi. Mentor dari Eagle Awards ikut mendampingi proses pengambilan gambar di Bireuen.

Film yang diberi judul Garamku Tak Asin Lagi terpilih jadi film terbaik. “Saya beruntung bisa belajar dari tokoh-tokoh film nasional. Saya semakin termotivasi untuk melahirkan film lain,” kata Azhari.

Pada kesempatan lain, Azhari membuat film dokumenter tentang mirisnya pendidikan di sebuah pulau terpencil, Pulau Aceh di Kabupaten Aceh Besar. Film yang diberi judul +1 Menit di Belakang 0 KM menjadi bahan kampanye perbaikan pendidikan di Pulau Aceh. Film diputar di kampus dan di warung kopi. Karya Azhari menggugah banyak orang untuk berpartisipasi membenahi pendidikan di sana.

Komunitas

Minat Azhari terhadap film dokumenter semakin kuat. Bersama para sineas muda di Aceh, ia menginisiasi lahirnya komunitas Aceh Dokumenter pada 2012. Mereka menggalang dukungan dari para seniman di Aceh. Setahun kemudian, Aceh Dokumenter meluncurkan program kompetisi film dokumenter dengan tema “The Power of Aceh”.

Mereka melakukan kunjungan kebeberapa kampus di Aceh, mengajak para sineas muda bergabung dalam program itu. Mereka juga melobi sponsor. Sebanyak 30 ide film masuk ke panitia, tetapi yang diproduksi hanya lima film.

Malam pemutaran dibuat menarik. Pemutaran film digelar di aula dan dilanjutkan dengan diskusi film. Publik menyambut antusias meski dipungut tiket masuk. Namun, pendapatan tidak seimbang dengan biaya penyelenggaraan acara. “Walaupun (harus) berutang, kami bahagia, ternyata publik menerima film yang kami produksi,” kata Azhari.

Aceh Dokumenter setiap tahun menggelar kompetisi film dokumenter. Tema kompetisi beragam, mulai dari lingkungan, budaya, pendidikan, hingga sosial. Pada momen-momen tertentu mereka menggelar nonton bersama. Pemutaran dilakukan hingga ke desa-desa tempat lokasi film diproduksi. Karena di Aceh tidak ada bioskop, mereka menonton melalui layar yang ditancap di lapangan terbuka.

Selama 11 tahun perjalanan, Aceh Dokumenter telah memproduksi 100 film dokumenter dan melahirkan 200 sineas muda tersebar di 23 kabupaten/kota. Para sineas muda besutan Aceh Dokumenter menjadi inisiator lahirnya komunitas film di daerah-daerah.

Azhari tak pelit ilmu. Dia membimbing para sineas muda dari praproduksi hingga pascaproduksi. Di kalangan sineas muda, Azhari dikenal sebagai mentor.

Film produksi sineas muda Aceh Dokumenter nyaris setiap tahun masuk dalam nominasi Festival Film Dokumenter (FFD). Bahkan, karya komunitas ini masuk nominasi Festival Film In donesia (FFI) kategori dokumenter, yakni 1880 mdpl pada FFI 2017 dan Minor pada FFI 2019.

Azhari setiap tahun memproduksi film dokumenter. Terakhir ia membuat film Suloh yang bertutur tentang tradisi peradilan adat di desa-desa di Aceh. Ia akui biaya produksi film cukup besar. Namun, hasilnya bisa digunakan untuk medium pembelajaran, kampanye, dan advokasi dalam jangka panjang. “Film dokumenter ini tidak hanya karya seni dan hiburan, tetapi juga medium advokasi,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas. 22 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *