Apa itu Unicorn? Apakah yang Online-Online itu?

Oleh Natanael Yogie Prima (0106041810060)

Pengamat industri digital dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menjelaskan, bahwa istilah ‘Unicorn’ memang cukup asing bagi orang-orang yang tak dekat dengan industri digital atau bisnis Startup. Sebanyak 60-70% orang Indonesia masih belum mengenal istilah ‘Unicorn’. Istilah ‘Unicorn’ dinilai masih menjadi hal yang baru bagi masyarakat, kalau pun mengenal istilah Unicorn, biasanya mengarah ke makhluk legenda yang menyerupai kuda bercula. Namun yang menjadi pembahasan akhir-akhir ini pasca debat Pilpres tanggal 17 Februari lalu adalah Unicorn sendiri yang sangat erat kaitannya dengan Startup atau perusahaan rintisan. Istilah ini berarti Startup yang telah memiliki valuasi sebesar USD 1 miliar atau setara dengan Rp 13,8 triliun.

Berdasarkan data CB Insights, di Indonesia sendiri telah ada empat Startup yang menyandang status Unicorn, antara lain:

  1. Go-Jek. Nilai valuasi sebesar Rp 53 Triliun. Perusahaan rintisan yang bergerak di bidang transportasi onlineberbasis aplikasi ini didirikan oleh Nadiem Makarim pada tahun 2010. Sejumlah pencapaian telah diraih Go-Jek, termasuk memperluas lahan bisnis di Vietnam dan
  2. Traveloka nilai valuasi sebesar Rp 26,6 Triliun. Fery Unardi bersama rekannya membangun bisnis tiket online, Traveloka, pada tahun 2012. Berhasil menyandang predikat unicorn di tahun kelima berdirinya, Traveloka didanai oleh Expedia.
  3. Tokopedia. Nilai valuasi Rp 15 triliun. Bisnis yang bergerak di sektor jual beli online ini menyandang gelar unicorn pada 2017. Didirikan oleh William Tanuwijaya, Tokopedia berhasil memperoleh suntikan dana dari Softbank Japan, Sequoia Capital, dan Alibaba Group.
  4. Bukalapak dengan nilai valuasi sebesar Rp 13,7 Triliun. Serupa dengan Tokopedia, Bukalapak merupakan platform marketplace online. Didirikan oleh pria asal Solo Jawa Tengah, Achmad Zaky, Bukalapak menjadi startup keempat yang meraih gelar Unicorn.

 

Cukup berbangga karena 4 dari 7 Unicorn di Asia Tenggara adalah Startup yang berasal dari Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia mulai tertarik dengan kemajuan teknologi sehingga hal tersebut sangat membantu sebuah perusahaan untuk mengembangkan usahanya dan para investor pun juga mulai tertarik untuk berinvestasi di perusahaan tersebut yang mengakibatkan nilai valuasi sebuah perusahaan juga meningkat sehingga perusahaan dapat mengembangkannya.

Hal ini dapat membantu kita sebagai calon pengusaha atau Entrepreuner bahwa terdapat peluang usaha dibidang industri digital, karena dengan perkembangan zaman sekarang pengguna telepon seluler (ponsel) di tanah air mencapai 371,4 juta pengguna atau 142 persen dari total populasi 262 juta jiwa. Artinya, rata-rata setiap penduduk memakai 1,4 telepon seluler karena satu orang terkadang menggunakan 2-3 kartu telepon seluler. Keadaan ini membuat orang berlomba untuk menciptakan hal baru yang berhubungan dengan teknologi digital.

Di negara Indonesia sekarang ini sedang gempar-gemparnya menuju industri 4.0 dan posisi Indonesia sekarang masih berada antara 3.0 hingga 4.0 dan jika Indonesia sudah memasuki industri 4.0 kita tidak akan lagi bertatap muka secara langsung atau bertemu secara fisik. Contoh sistem pembelajaran diganti dengan sistem jarak jauh dan tidak lagi bertatap muka secara langsung. Dengan hal tersebut kita harus mengikuti perkembangan yang sedang berjalan dengan menciptakan hal-hal baru yang sangat kreatif dan sangat berguna bagi orang banyak.

Sebagai mahasiswa Universitas Ciputra kita juga dapat menciptakan sebuah Startup yang berhubungan dengan industri digital. Pada tanggal 15 februari 2019 lalu dari Fakultas Management dan Bisnis melakukan MOU dengan OVO, sebuah perusahaan yang bekerja dibidang Financial Technology dalam dunia industri digital, dan sangat memungkinkan bagi kita mahasiswa UC untuk belajar mengembangkan pembelajaran bisnis kita ke bidang digital.

Kita juga bisa berkolaborasi dengan pakar IT yang ahli dalam menganalisis sistem informasi, karena dalam membangun sebuah projek yang berhubungan dengan dunia digital kita butuh sekali pengetahuan tentang sistem informasi. Kita sebagai calon pengusaha atau Entrepreuner harus memiliki semangat dalam mencari peluang usaha, tujuan bisnis yang jelas, dan kita harus bisa menganalisis prospek ke depan untuk perusahaan yang akan kita dirikan. Dengan hal tersebut kita dapat memikat banyak investor agar membantu kita dalam membangun sebuah usaha dibidang digital.

 

 

Referensi:

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4433073/pengamat-60-70-orang-indonesia-tak-tahu-unicorn

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/08/29/pengguna-ponsel-indonesia-mencapai-142-dari-populasi

https://www.finansialku.com/unicorn-startup/

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190218042513-185-370215/4-sosok-di-balik-startup-unicorn-indonesia/4

https://www.viva.co.id/digital/startup/1122236-4-unicorn-indonesia-kebanggaan-jokowi-ada-yang-bikin-marah-netizen

https://www.jawapos.com/pemilihan/18/02/2019/debat-capres-singgung-unicorn-ini-lho-4-terbesar-punya-indonesia

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.