Antisipasi Dampak Belajar dari Rumah. Jawa Pos. 15 Juni 2020. Hal.15. Ersa Lanang Sanjaya. Psikologi

SURABAYA, Jawa Pos – Sejak pertengahan Maret lalu, siswa di Surabaya diminta melakukan pembelajaran dari rumah. perubahan mendadak tersebut kini sudah jadi kebiasaan baru. Meski begitu, ada beberapa hal yang harus diantisipasi. Ersa Lanang Sanjaya SPsi MSI mengatakan, tantangan pada anak dan remaja cukup kompleks.

“Kita orang tua, sudah dewasa, sudah bisa mengekspresikan keadaan emosi kita. Sedangkan mereka masih belajar,” ucap dosen psikologi Universitas Ciputra tersebut. Tidak jarang, anak mengalami stres, tetapi tidak menyadarinya. Mereka belum bisa mengelola dan meregulasi emosinya tersebut.

“Dulu, bayi kan mau lapar, tidak nyaman, semua ekspresinya hanya menangis,” paparnya. Pada usia anak dan remaja, mereka juga belum memahami sehingga juga tidak bisa mencari solusi sendiri.

Dalam tahap tersebut, perlu ada kerja sama antara orang tua, siswa, dan sekolah. Dari rumah, orang tua dan anak harus membangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, anak bisa nyaman menyampaikan rada tidak nyaman yang muncul. Orang tua bisa memfasilitasi kebutuhan anak.

“Kalau sekolah normal, mereka bisa habiskan energi di sekolah untuk asah kemampuan, Nah di rumah, bagaimana caranya? turur anggota Lab Universitas Ciputra Marriage and Family Center tersebut. Orang tua bisa mengajak anak untuk mencoba beberapa hal baru. Dengan begitu, anak jadi lebih tahu kemampuannnya dalam bidan tersebut. Akhirnya, anak juga lebih percaya diri.

“Dari sekolah juga bisa memfasilitasi apa? buat activity kit, misalnya.” tambahnya. Jadi, siswa dan orang tua juga terbantu untuk mengisi kegiatan dan mengasah kemampuan. Orang tua juga diharapkan menerima sugesti tersebut sebagai hal bermanfaat. “Bukan dianggap merepotkan sekali,” tambahnya saat dihubungi kemarin (14/6).

Momen kenaikan kelas juga bisa jadi memberikan tantangan baru bagi siswa, orang tua, dan sekolah. Pergamtian kelas biasanya mendorong siswa untuk bersosialisasi dengan teman sekelas yang baru. “Nah, kalau keadaan belum memungkinkan masuk sekolah, berstti bagaimana caranya sosialisasi tetap terjadi? ucap bapak dua anak itu.

Sekolah mungkin bisa mempertimbangkan agar kelas tidak diacak sehingga siswa tetap bisa bekerja sama dengan teman sekelas yang sama. “Tapi, kalau tidak begitu, ya guru mungkin bisa buat video conference di luar mata pelajaran,” ucapnya. Bisa juga memasukkan agenda bercerita secara personal selama beberapa menit di awal kelas daring dimulai. Hal itu bisa mendoronf siswa untuk saling mengenal satu sama lain.

“Kan tidak mungkin kita hanya mikir sisi kognitifnya. Ada sisi afeksi juga untuk siswa yang perlu dipenuhi,” paparnya. Sementara itu, pemerintah, sekolah, dan orang tua bisa bersinergi memikirkan sisi psikologis siswa. Tidak melulu fokus pada sisi fisik. (dya/c15/tia)

Sumber:  Jawa Pos. 15 Juni 2020. Hal. 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *