Aneka Kisah Unik dari Bung Hatta

Siapa yang tidak mengetahui sosok Bung Hatta? Ia adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama Bung Karno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Sebagai orang Indonesia, kita harus bangga memiliki pemimpin seperti beliau.

Bung Hatta adalah sosok yang sederhana, bahkan untuk membeli sepatu impian tak terwujud karena tak tercukupinya uang. Bayangkan, seorang wakil presiden sebuah negara tak mampu membeli sepatu Bally! Ketika pensiun, uang pensiunannya tak mampu membayar tagihan air dan PBB. Kesederhanaan yang sungguh luar biasa! Meski begitu, cintanya ibu pertiwi justru sebaliknya. Apapun rela dia korbankan untuk Indonesia, entah itu darah, keringat, air mata, atau bahkan nyawa.

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku,” tegas bung Hatta. Beliau memang tidak meninggalkan harta benda, namun ia memberikan ‘legacy’, yaitu keteladanan. Seorang pemimpin sederhana dengan cinta yang megah.

Berikut adalah beberapa kisah unik tentang Bung Hatta:

 

  1. Si Bung dan Sepatu Bally

Pada era 1950-an, sepatu Bally buatan swiss sangat terkenal ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mohammad Hatta yang kal itu menjabat sebgai Wakil Presiden Republik Indonesia juga mendambakannya. Suatu hari dia membaca sebuah iklan sepatu Bally di Koran yang mepromosikan tempat dijualnya sepatu idaman tersebut. Bung Hatta sangat ingin membelinya, tapi uang di kantongnya tak mencukupi.

Saking menginginkannya Bung Hatta lalu menggunting iklan tersebut. Kemudian dia diam-diam menabung agar bias membelinya.

Sayang seribu sayang, uang tabungannya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya sepatu Bally tersebut tidak pernah terbeli. Padalah jika mau, dia bias saja menrima sepatu itu dalam wujud hadiah dari para kolega dan pengusaha.

Banyak yang tidak percaya bahwa hingga akhir hayatnya Bung Hatta masih menyimpan guntingan iklan sepatu tersebut, tanpa pernah mampu membelinya. Kertas usang itu menjadi saksi keinginan sederhana Hatta, sang proklamator republik ini.

 

  1. Demi Rahasia Negara, Gagal Membeli Mesin Jahit

Jika Hatta mendambakan sepatu Bally, sang istri yakni Rahmi Hatta sangat menginginkan sebuah mesin jahit. Bukannya apa-apa, Rahmi berharap dengan mesin jahit dia bias menghemat pengeluaran keluarga. Sebab, dengan menjahit sendiri dia bias menghemat pengeluaran untuk membeli baju untuk dirinya dan keluarga.

Setiap bulan dia menyisihkan uang belanja bulanannya untuk ditabung. Setelah sekian lam, akhirnya uang pun terkumpul dan hampir mencukui untuk membeli sebuah mesin jahit.

Tapi ketika hendak membeli mesin jahit, tiba-tiba pemerintah mengumumkan kebijakan pemotongan nilai mata uang rupiah. Uang dari Rp 100 mendadi Rp1.

Walhasil, uang ditabungan Rahmi jatuh nilainya dan tak bias membeli mesin jahit.

Dengan sedih ia mendatangi suaminya: “Pak,Bapak ‘kan seorang Wakil Presiden, pasti tahu bahwa Pemerintah akan mengadakan sanering, mengapa bapak tidak memberi tahu kepada ibu?”. Bung Hatta menjawab : “Bu…, itu’kan rahasia Negara, kalau bapak beritahu pada ibu, berarti itu bukan rahasia lagi.”

 

  1. Naik Haji Dari Honor Menulis

Saat ini seorang pejabat naik haji dengan fasilitas Negara adalah hal yang jamak. Andai Hatta masih hidup, jangan pernah sekali-sekali menanyakan perkara itu kepadanya. Sudah pasti akan ditolaknya mentah-mentah fasilitas tersebut.

Pada 1952, Hatta hendak melakukan ibadah haji bersama istri dan dua saudarinya. Waktu itu Bung Karno menawarkan agar menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung Negara. Tapi Hatta menolak karena ingin pergi haji seperti rakyat biasa.

Akhirnya Hatta bisa menunaikan rukun islam tersebut. Dari mana uangnya? Bukan dari Negara melainkan dari hasil honorarium penerbitan beberapa bukunya.

 

  1. Menginspirasi Jenderal Moegeg

Jenderal Hoegeg Imam Santosi adalah Jendral Polisi yang melegenda karena kejujuran dan kesederhanaanya. Toh, kapolri untuk periode 1968-1971 ini tetap saja terkagum-kagum terhadap kesederhanaan Hatta.

Kebersahajaan Hatta membuat Hoegeg malu untuk berbuat hina seperti Korupsi. Dia Sampai mengelus dada saat tahu betapa miskinnya Hatta ketika mundur sebagai Wapres RI pada 1956.

“Saat itu dia diberitakan hanya punya tabungan Rp 200. Uang pensiunannya pun tak cukup untuk membayar lsitrik,” ungkap Hoegeg dalam buku memoearnya. Sebagai perbandingan, kala itu gaji prajurit terendah TNI adalah kisaran Rp 125-150 per bulan. So, bias dibayangkan konsisi Hatta kala itu.

 

  1. Tak mampu bayar PAM dan PBB

Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, Ali Sadikin, terenyak. Dia kaget saat mendengar bahwa Hatta tak mampu membayar iuran air PAM dan PBB saking kecilnya uang pension. Bang Ali terharu melihat kondisi Hatta. Hal itu dikisahkan Ali dalam Biografinya “Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977”

Tak Cuma terharu, Bang Ali langsung bergerak. Dia melobi DPRD DKI untuk menjadikan Bung Hatta sebagi warga kota utama. Dengan begitu bung Hatta terbebas dari iuran air dan PBB. DPRD setuju. Pemerintah pusat juga memberikan sejumlah bantuan, di antaranya bebas bayar lsitrik.

 

  1. Sangat Menyukai Kucing

Bung Hatta sangat menggemari kucing. Dulu saat mendekam di Penjara Glodok, seekor kucing entah kepunyaan siapa selalu datang ke tempat Bung Hatta. Kucing itu disayangi dan diberi makan olehnya.

Demikian juga ketika ia dibuang ke Boven Bigul. Hatta memelihara seekor anak kucing dan anjing, namanya hitam dan juli. Kedua hewan tersebut akur. Di bandaneira hal itu terjadi lagi. Hatta memelihara kucing bernama Hitler. Sayang kucing ini kabur. Kemudian bung Hatta memelihara kucing lain diberiinama Turki. Di rumahnya, kucing kesayangan Hatta bernama Jonkheer, sebuah gelar bangsawan pada masyarakat Belanda

 

  1. HampirMenjadi Ulama

Jika saja Bung Hatta menuruti kehendak keluarga dari pihak ayahnya, bias saja jalan hidupnya akan berbeda. Keluarga dari pihak ayahnya menginginkan Hatta muda mengikuti pamannya bermukin di Mekkah, Saudi Arabia. Harapannya, dari sana Hatta melanjutkan pendidikan agamanya di Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Sejak Kecil, dia dididik dengan pendidikan agama yang keras ala kakek dan ayahnya. Tapi setalah beranjak dewasa, Hatta ternyata lebih condong ke daerah pedagang ibunya, dam Mekah bukanlah pilihan yang tepat baginya, pada 3 Afustus 1921, ia pergi belajar ke Belanda menggunakan kapal “TAMBORA”.

 

Sumber: intisari Agustus 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *