Andia Sumarno_Perawat Benda Kuno dan Bersejarah.Kompas.26 Maret 2018.Hal.16

Jumlah koleksi benda kuno dan bersejarah di Indonesia sangat banyak. Benda – benda itu terseimpan di museum, hotel, koleksi pribadi, atau kantor pemerintah. Namun, tidak banyak orang yang mampu merawat semua benda koleksi tersebut. Padahal, semua benda koleksi itu akan terus bertambah umurnya dan kondisinya pun melapuk serta mulai rusak dimakan zaman. Andia Sumarno (63) tekun merawat benda – benda kuno tersebut.

(Ida Setyorini)

Andia adalah ahli konservasi dan restorasi, serta pensiunan pegawai Pusat Konservasi Cagar Budaya, yang sebelumnya bernama Balai Konservasi. Andia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Restorasi dan Preservasi Balai Konservasi DKI Jakarta.

Saat ini, jumlah ahli konservasi di Indonesia terbatas hanya enam orang. Namun, hanya Andia yang bisa mengerjakan konservasi organik ataupun anorganik, sperti logam dan batu. Sementara rekan – rekannya lebih spesialisasi ke logam, kayu, dan bangunan atau tekstil dan lukisan.

“Saya tidak sengaja menjadi ahli konservasi. Sejak lulus SMA, saya sudah bekerja dan ditempatkan di Museum Tekstil Jakarta,” kata Andia di Museum Taman Prasasti, Jakarta, Kamis (22/3). Andia dan timnya tengah mengerjakan proyek konservasi logam di museum tersebut.

Sebagai pegawai negeri, saat itu dia ingin memiliki uang tambahan untuk menghidupi keluarganya. Untuk itu, dia mau saja ditugaskan mengikuti berbagai lokakarya terkait konservasi koleksi museum. Selain mendapat ilmu baru, Andia pun mendapat uang saku dan makan selama lokakarya.

Lama kelamaan ilmunya terus bertambah dan dia kini sering mengajarkan orang lain soal konservasi. Dia pun sering diminta mengajar di sana sini.

“Tetapi sangat jarang orang yang mau menjadi ahli konservasi. Susah seklai mancari orang yang berminat,” kata Andia prihatin.

Ilmu konservasi memiliki pakem dan aturan dsar yang wajib diikuti. Misalnya, untuk konservasi kain dan tekstil jelas berbeda dengan konservasi logam, batu, kayu, dan bangunan. Begitu pula dengan langkah dan ramuan untuk mengobati serta merawat benda tersebut.

Secara garis besar, langkah awal adalah mengidentifikasi benda serta jenis logam atau tekstil yang akan dikonservasi. Kemudian membandingkan kondisi benda lewat foto, misalnya sebelum rusak dan setelah rusak terbakar. Tahap berikutnya adalah pembersihan kering, seperti dilap hati – hati, untuk membuang debu dan kotoran ringan.

“Berikutnya, pembersihan kimiawi. Khusus logam perlu membuang polutan dan karat. Sementara untuk tekstil perlu dilihat apa saja noda dan penyakitnya. Untuk itu perlu pelarut organik,” ujarnya Andia.

Untuk pembersihan kimiawi, Andia pun haal takaran dan unsur apa saja yang boleh dipakai dengan aman. Tidak bisa beli sembarangan di toko kimia. Harus meracik sendiri. Itu sebabnya, saat bekerja Andia mewajibkan timnya mengenakan jas laboratorium, sarung tangan, serta menggunakan peralatan yang tepat, seperti gelar ukur dan timbangan digital untuk menakar bahan kimia.

Sementara khusus tekstil yang melapuk, untuk mematikan serangga yang merusak kain, perlu melalui tahap dilapis dengan bahan yang lebih ringan dan mendekati warna asli. Kemudia direstorasi, sperti ditisik, guna menutup lubang kecil pada kain.

Tantangan

Salah satu tantangan benda koleksi di Indonesia adalah temperatur udara dan kelembaban tinggi. Kelembaban tinggal pun mengundang serangga, terutama rayap datang dan membangun koloni di daerah tersebut.

“Lebih berat lagi untuk benda koleksi di luar ruang seperti di Museum Taman Prasasti. Kena sinar matahari intens dan hujan. Belum lagi asap dan pulutan. Paling sedih jika ada vandalisme yang mencoret benda koleksi dengan cat semprot. Susah membersihkannya.” Ujar Andia.

Pengalaman betahun – tahun sebagai ahli konservasi. Andia beberapa kali mengalami kejadian konyol karena kurang disiplin, baik dia maupun orang lain. Dia pernah tak sengaja meminum cairan coating.

“Saat itu saya sedang mengerjakan proyek konservasi patung Dirgantara Pancoran. Siang itu panas terik dan saya membuka minum air kemasan. Minum sedikit lantas saya pergi sebentar, hanya beberapa menit. Begitu balik lagi, langsung saya menyambar minuman yang saya tinggalkan tadi. Ternyata cariran coating, bukan air mineral,” kata Andia.

Cairan lengket itu tidak membuatnya masuk rumah sakit karena dia sempat memuntahkan sebagian cairan itu. Namun, hal itu membuatnya menetapkan disiplin agar dia dan timnya harus selalu menuang cairan kimia dalam gelar ukur. Tidak boleh di wadah lain demi keselamatan bersama.

Begitu pula ketika dia membuka wadah bekas selai yang berisi cairan amonia. “Mungkin lama disimpan sehingga tutupnya sulit dibuka. Saya membawanya ke arah dada agar mudah dibuka. Begitu dibuka, saya menghirup uapnya dan langsung gelagapan tak bisa bernapas. Lebih apes lagi saat itu saya di laboratorium sendirian. Tak ada yang menolong. Begitu sadar, saya langsung mencuci muka,” kata Andia mengenang.

Saat konservasi koleksi kertas, seperti buku dan kitab, proses fumigasi biasanya berlangsung seminggu penuh dalam ruangan tertutup. Saat membuka pintu harus sembari membelakangi pintu.

“Agar tidak menghirup uap fumigasi. Memunggungi pintu lantas erus jalan menjauh sampai uapnya hilang,” kata Andia.

Meski telah pensiun sebagai PNS, Andia tetap berkeliling mengerjakan beberapa proyek konservasi di sejumlah museum di Jakarta. Dia terpaksa sering menolak pekerjaan di luar Jakarta karena pekerjaan di Ibu Kota tak habis – habis.

“Pernah saya menetapkan tarif mahal, puluhan juta rupiah, untuk memperbaiki lukisan yang rusak karena kotoran kelelawar di salah satu hotel di Bali. Saat itu, saya belum lama menjalani operasi pemasangan ring jantung. Eh, hotel tersebut mau saja membayar tarif yang saya ajukan. Padahal, semula saya menyebut angka itu agar dia enggan memakai jasa saya. Akhirnya, saya ke Bali ditemani anak saya agar ada yang menolong kalau ada apa – apa,” ujarnya.

Menurut Andia, pekerjaan sebagai ahli konservasi memang tidak glamor. Ia mesti disiplin dan rajin menambah ilmu pula. Namun, pekerjaan selalu ada dan sekarang malah pemakai jasa mereka terus bertambah seiring dengan makin banyaknya museum dan hotel di Indonesia.

“Bahagia rasanya ketika klien atau orang lain berkomentar, barang yang rusak itu menjadi bagus seperti semula. Seperti tidak pernah rusak,” ujar Andia diiringi senyum.

Andia Sumarno

Lahir: Garut, 1 September 1955

Istri: Sumiati

Pendidikan:

  • Ilmu Hukum Universitas Islam Jakarta
  • S-1 Administrasi STA YAPPAN Jakarta

Anak:

  • Ali Firmansyah
  • Aditiansyah S
  • Elfa Fidiawati

 

Sumber: Kompas.26-Maret-2018.Hal_.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *