Aljabar Kognitif Pemilih Pilkada

Jony Eko Yulianto@PSY_Aljabar Kognitif Pemilih Pilkada. Kontan. 8 April 2017.Hal.19

Jony Eko Yulianto,

Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya

Jika kita  cermati, ada yang menarik dari hiruk pikuk aktivitas pemilihan kepala daerah di tahun ini, yakni diskursus soal kedatangan pasangan calon (paslon) dalam acar debat. Apakah paslon kepala daerah perlu datang dalam debat di luar yang diselenggarakan oleh KPU? Urgensi pertanyaan ini semakin meruncing seiring waktu pemilihan mendekat, dengan penjelasan yang sama logisnya baik pada jawaban “perlu” mau pun “tidak perlu”. Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Apakah isu ini sebenarnya memiliki penjelasan teoritik atau hanya sekedar wacana biasa?

Dalam ilmu Psikologi Sosial, isu hadir tidaknya paslon dalam acara debat sebenarnya termasuk dalam kajian pembentukan impresi. Sehingga, debat antara paslon dalam sebuah pilkada sebenarnya dapat dikategorikan sebagai bentuk perilaku investasi di bidang politik. Memahami dinamika dan prinsip-prinsip investasi politik niscaya akan memberikan insight untuk diterapkan dalam perilaku investasi di bidang ekonomi.

Impresi pemilih terhadap paslon adalah factor terpenting yang akan menentukan apakah paslon akan dipilih atau tidak. Dalam ilmu psikologi social, proses pembentukan impresi diibaratkan seperti menyusun potongan puzzle maupun gambar besarnya adalah hasil evaluasi kita terhadap objek yang kita amati.

Bayangkan anda bertemu dengan seorang kenalan baru, sebut saja namanya Roby, disebuah pesta pernikahan teman, setelah beberapa menit berbincang, Anda akan melakukan evaluasi “Roby adalah seorang yang sangat humoris”, misalnya. Sampai disini, impresi yang terbentuk tentang Roby adalah positif. Informasi yang diterima dari interaksi dengan Roby  di pesta pernikahan tadi merupakan potongan-potongan puzzle yang membantuk kita menebak gambar besar potret Robby secara keseluruhan.

Dalam kesempatan interaksi dengan Robby selanjutnya, puzzle demi lainnya akan terus terkumpul. Semakin lama, kita akan semakin mengenal Roby melalui berbagai potongan puzzle tambahan tersebut. Sebagian puzzle masih merupakan hal yang positif. “Roby ternyata juga seorang penyayang binatang ,” misalnya. Atau dapat pula hal negatif. Sayangnya Roby seorang perokok berat “Kita menambahkan potongan-potongan informasi positif maupun negatif tadi untuk melengkapi gambar besar kita sebelum melakukan evaluasi final kembali.

Ilmu psikologi social menyebut proses penyumlahan dan pengurangan aspek ppositif dan negative potongan puzzle ini sebagai aljabat kognitif (Anderson, 1965). Tanpa kita sadari sebenarnya secara kognitif kita sedang menjumlahkan dan mengurangkan semua informasi yang kita miliki dengan jenjang minus tiga (-3) hingga plus tiga (+3) untuk membuat kesimpulan impresi terhadap seseorang. Pembobotan ini disesuaikan dengan tata nilai pribadi kita. Semakin kita mengganggap bahwa merokok itu hal yang tidak bisa ditolerir makan kita akan memberikan minus tiga pada seseorang perokok.

Roby yang humoris (+3) dan seseorang penyanyang binatang (+2) adalah seorang perokok (-3). Maka secara aljabar (+3+2-3), hasilnya masih menempatkan Roby sebagai seorang yang positif (+2). Penelitian dari Anderson (1965) menyebutkan bahwa tiga trait psikologis utama yang paling sering muncul dalam pembentukan impresi adalah cerdas (+2), tulus (+3) dan membosankan (-1). Selain itu ada dua jenis trait psikologis lain yang juga kerap digunakan  yakni humoris (+1) dan dermawan (+1).

Momentum Krusial

Jika kita menarik penjelasan ini kembali pada konteks debat pilkada, maka kita akan memahami bahwa kehadiran paslon dalam tiap acara debat sebenarnya merupakan momentum krusial dalam membentuk impresi positif dikalangan pemilih. Debat merupakan sarana yang sempurna dalam menunjukkan semua trait positif yang dimiliki oleh paslon. Dalam debat ada pertunjukkan kecerdasan, ketulusan dan berbagai atribut psikologis positif lain yang memiliki bobot besar  dalam membentuk impresi, khususnya untuk pemilih yang belum memiliki pilihan (undecided voters).

Keuntungan-keuntungan ini hanya dimiliki oleh media debat dan cenderung tidak dimiliki oleh media kampanye lain. paslon memang bisa saja menunjukkan kecerdasan, ketulusan dan hal positif lain melalui media iklan atau blusukan. Tetapi dua media kampanye tersebut tidak dalam posisi head to head dengan pasangan calon yang lain. Berdirinya semua paslon dalam sebuah panggung debat yang sama sejarinya merupakan momen kontestasi impresi itu sendiri.

Jadi dengan mengikuti setiap acara-acara debat, maka setiap paslon sebenarnya memilliki beberapa keuntungan. Pertama, ia dapat memproduksi banyak kesan positif melalui jawaban-jawaban dalam menjelaskan program atau menjawab kritik dari pasangan calon lain. Ia dapat menunjukkan kecerdasan, ketulusan dan bahkan kematangan emosi dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Hal-hal tersebut merupakan atribut pemimpin yang amat penting diketahui oleh pemilih sebagai konsumen politiknya.

Kedua, pasangan calon yang hadir dalam berbagai kesempatan debat dapat pula menunjukkan sejauh mana trait positif yang ia miliki bersifat reliable atau konsisten. Dengan menunjukkan konsistensi pasangan calon sebenarnya sedang memastikan hasil aljabar kognitif para pemilihnya adalah positif. Setiap kesempatan debat ibarat fakktor kali dalam aljabar politik. Sejauh mana seorang pasangan calon mampu menjaga impresinya dengan nilai positif tertinggi akan menentukan pengambilan keputusan politik seorang konstituen.

Melalui penjelasan-penjelasan diatas kita dapat memetik sebuah poin refleksi dalam konteks negosiasi dan persuasi dalam investasi ekonomi. Proses negoisasi dalam dan persuasi dengan klien tidak dimulai ketika seorang negosiator mempresentasikan konten penawaran investasi, tetapi saat ia berupaya membangun impresi positif lewat interaksi-interaksi informal. Betapa jamak kita temukan kasus-kasus penawaran investasi yang gagal bukan disebabkan karena konten investasi yang buruk melainkan karena kegagalan dalam menjalin relasi interpersonal yang baik dengan klien.

Artinya kata kunci proses pembentukan impresi sebagai investasi ekonomi adalah relas itu sendiri. Sebagaimana kita belajar bahwa interkasi positif yang konsisten dengan konstituen adalah kunci keberhasilan sebuah pembentukan impresi politik, demikian pula kita belajar bahwa pemeliharaan relasi (relationship maintenance) dengan para jejaring adalah materi keberhasilan sebuah proses negoisasi dan persuasi itu sendiri.

Sumber : Kontan. 8 April 2017. Hal. 19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *