Ajarkan Bahaya Stunting sejak SD. Jawa Pos. 26 Januari 2022. Hal 13 & 19

Usulan Dewan Terkait Penanganan Gizi Buruk di Surabaya

SURABAYA-Tren angka stunting di Surabaya memang turun pada triwulan terakhir tahun lalu. Pada triwulan sebelumnya, angka kasus stunting mencapai 5.727, kemudian pada triwulan terakhir turun menjadi 1.785 kasus.

Meski merosot 300 persen, stuntingmasih menjadi PR besar bagi Pemkot Surabaya. Wakil Ketua Komisi D Ajeng Wirawati meminta agar target penurunan kasus stunting tidak hanya dibuat untuk jangka pendek. Dia mengatakan, kurikulum kesehatan keluarga sejak dini juga perlu digalakkan.

Menurut Ajeng, tidak hanya sebagai pengetahuan saat mau menikah, tetapi sejak SD dan SMP sudah diajarkan materi mengenai stunting. Dengan demikian, gizi untuk generasi emas bisa tercapai dan investasi untuk tetap zero stunting.

Ajeng menambahkan, selain permasalahan kemiskinan, stun- ingjuga disebabkan pola keluarga dalam mengambil keputusan 41 Yakni, terlalu muda saat menikah, terlalu tua saat hamil, terlalu dekat jarakkehamilan, dan terlalu banyak anak. “Dan, erat kaitannya juga dengan pola asuh dalam pemenuhan gizi,” terangnya.

Politikus Partai Gerindraitumeng- ungkapkan, Surabaya memiliki anggaran dan kesiapan fasilitas untuk penanganan kuratif dan rehabilitatif stunting. Namun, lanjut dia, peran preventif dan promotif dalam memerangi stunting akan lebih bermanfaat jika dilakukan sejak dini. Tidak hanya sebelum persiapan pernikahan.

Terpisah, anggota Komisi B dr Zuhrotul Marahmengungkapkan, pemkot perlu memetakan kasus stunting berdasar kelas ekonomi masyarakat. Menurut dia, stunting tidak mengenal kondisi ekonomi seseorang Bisa menyerang siapa saja. Untukmasyarakat dengan ekonomi ke bawah, dia menyarankan agarpemkot memberdayakan orangtua bayi sturting “Pemberdayaan bertujuan mengangkattarafekonomi orang tua bayi stranting” ujamya

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mendorong pemkot untuk memberikan pelatihan hingga permodalan bagi orang tua bayi stunting. Setelah bisa menghasilkan produk, pemkot tidak boleh melepaskan begitu saja. Fasilitasi produk tersebut untuk sampai ke pasar. “Kemudian, kader kesehatan juga jangan lupa tetap terus bekerja,” imbuhnya.

Di lain sisi, puskesmas pun proaktif menjaring warga yang anaknya masih mengalami stunting. Mereka diberi edukasi pengolahan makanan dan diimbau untuk rutin konsultasi gizi.

Di Puskesmas Wonokromo misalnya Petugas gizidi puskesmas tersebut berfokus untuk menjaring wargayangmemiliki anak dengan masalah gizi. Septi Dwi Winami, salah seorangahligizi Puskesmas Wonokroma, menuturkan bahwa salah satu faktor penyebab sainting yang banyak ditemui adalah kesalahan pola asuh orang tua

“Kadang orang tua enggak ngerti, jadinya dibiarkan saja. Yang penting, anak bisa bergerak dan beraktivitas,” tuturnya kepada Jawa Pos, Selasa (25/1). (sam/deb/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 26 Januari 2022. Hal 13 & 19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.