Pono Wiguno Ahli Waris Kreasi Topeng Tari

Ahli Waris Kreasi Topeng Tari.Kompas.26 Januari 2016.Hal.16

Awalnya adalah keresahan Pono Wiguna. Kakeknya, Ki Warso Waskito, satu-satunya pembuat topeng tari gaya Yogyakarta, telah uzur. Ayah dan saudara-saudaranya tidak ada yang tertarik meneruskan kerja sang kakek. Keresahan itulah yang menyemangati Pono untuk belajar membuat topeng dari sang kakek.

Pono yang mulai belajar memahat topeng tari sejak tahun 1980-an menjadi ahli waris satu-satunya keahlian Ki Warso Waskito lantaran keuletan dan kegigihannya. Kalau kemudian Pono sering menjadi pembimbing lokakarya pembuatan topeng di kota-kota di Nusantara dan di beberapa negara, itu karena dia satu-satunya seniman yang mampu memberikan keterampilan tradisi tersebut untuk semua orang yang mencintai.

Rumah Pono Wiguno di Dusun Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak hanya menjadi studio, tetapi juga semacam padepokan tempat nyantrik atau belajar membuat topeng. Siswanya bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari Malaysia, Hongkong, Singapura, Australia, Spanyol, dan Perancis.

“Ya, semua harus saya jalani karena saya memang penghapus budaya tradisi dan Keraton Yogyakarta menjadi semangat saya untuk terus mengembangkan budaya tradisi,” kata Pono yang kini berusia 55 tahun.

Karena kesetiaanya mengabdi di Keraton Yogyakarta, dia diangkat menjadi abdi dalem keraton dengan pangkat Bekel Sepuh Pono Wiguno. “Dari keratin, langsung atau tak langsung, saya mendapatkan (pelajaran) tentang kebudayaan, tentang kawruh urip (teladan hidup) sampai kesenian.”

Begitu cintanya kepada kesenian Jawa, jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menguasai seni Jawa. Selain menekuni pembuatan topeng, Pono juga belajar tari di sanggar tari Keraton Krido Bekso Wiromo dan belajar seni pahat wayang kulit dari kakek pamannya, Raden Bekel Prayitnowiguno. “Semuanya saya tekuni sampai sekarang,” ucap Pono.

Topeng karakter

Pono merasa bahagia bisa mencapai ilmu membuat topeng tari dari kakeknya. “Untung saya cepat cepat belajar karena ayah saya, kakak kakak saya, tidak ada yang mau belajar. Yang pasti kini masih ada penerus membuat topeng tari,” tuturnya.

Dalam tardisi gaya Yogyakarta, tari topeng cenderung ke kisah panji-kisah sastra tentang cinta Panji Asmoro Rangun dengan Dewi Sekartaji. Membuat topeng tari, menurut Pono, lebih membutuhkan kekuatan membaca karakter. Bagaimana membuat topeng agar dari pandangan depan, samping kanan, dan kiri berkarakter.

Warna dan bentuk topeng panji, misalnya, bisa dimodifikasi dalam nuansa seni topeng, tetapi karakter itu tetap yang harus utama. “Prinsipnya, kita harus mampu menghidupkan karakter penari topeng semaksimal mungkin lewat bentuk dan tata warna topeng,” ungkap Pono.

Membuat topeng tradisi, khususnya untuk tarian topeng panji yang terus mengarus, memang tugas utama dia. Namun, sebagai seniman yang hidup dalam pergaulan dunia seni rupa modern, dia tergugah juga untuk membuat topeng kreatif meskipun lebih banyak atas dasar pesanan.

Karya kreatif topeng yang dipesan oleh penari dan koreografer legendaris Didik Nini Thowok adalah topeng yang makin mendukung kreativitas Didik Nini Thowok sebagai koreografer andal. Tarian Didik Nini Thowok berjudul Pancawarna yang semua topengnya dibuat Pono adalah tarian populer dan laris dari sisi tanggapan.

”Tarian itu memang unik, Didik Nini Thowok tanpa harus meninggalkan panggung terlebih dahulu bisa menarikan beberapa karakter, seperti Jawa, India, Tiongkok, tarian dangdut, dan tarian kocak dengan wajah topeng yang juga kocak.

“Pokoknya saya membuat topeng untuk Mas Didik itu banyak. Di antaranya, topeng Dwi Muka, topeng Ardanaresvara, topeng Hagoromo, dan topeng Mr Bean,” kata Pono.

Selain topeng Mr Bean, semua topeng yang dibuat Pono itu merupakan topeng tarian sakral yang diciptakan Didik Nini Thowok.

Ada satu kreativitas topeng yang diciptakan Pono, yakni topeng tokoh novel Anak Bajang Menggiring Angin, karya GP Sindhuta. Anak Bajang dibuat dua bentuk berupa raksasa kecil yang berwarna merah dan pink.

Pono dan kakeknya adalah orang yang memberi sumbangan tari topeng di dalam keratin.

”Sebab, tari topeng bukanlah tari (yang hidup) di dalam keratin. Tari topeng adalah tari rakyat yang hidup di luar keratin,” ujar Pono.

Menurut Pono memang ada tari memang ada tari topeng di dalam keraton pada zaman Sultan Hamengkubowo VII (1839 – 1921). Hanya saja, waktu itu topengnya hanya kertas dan kisah tariannya bukan dari cerita panji, melainkan dari cerita Mahabharata dan Ramayana.

Baru pada masa Tedjokusumo (almarhum) tokoh tari di dalam keraton yang berkiprah pada 1940 sampai 1960-an tari topeng masuk ke dalam keratin. “Waktu itu Tedjokusumo sengaja mengundang penari topeng kenamaan bernama Gondosono,” kata Pono.

Oleh Tedjokusumo, tari topeng itu digarap lebih dalam bernuansa keratin. “Sejak saat itu, tari topeng berkembang di dalam keraton dengan menggunakan topeng buatan kakek saya dan (belakangan) termasuk buatan saya,” tuturnya.

Ditanya berapa harga topeng karyanya, Pono menyatakan, paling mahal Rp 6,5 juta. “Ya, soal harga bagi saya sangat lewes, bahkan saya sering berikan saja,” katanya.

Sumber : Kompas, Januari 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *