725 Tahun Surabaya Terdisrupsi. Jawa Pos. 31 Mei 2018.Hal.4

Oleh Dewa Gde Satrya

*)Dosen Hotel & Tourism Business Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya

 

PERISTIWA heroik kemenangan prajurit laut Mojopahit pimpinan Raden Wijaya atas pasukan Tartar pimpinan Kubilai Khan pada 31 Mei 1293 yang diperingati sebagai tonggak sejarah lahirnya Kota Surabaya kali ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ledakan bom di tiga gereja pada 13 Mei lalu menandakan sesuatu yang tidak harmoni terjadi di kota ini.

Tragedi kemanusiaan di Minggu pagi itu menyakitkan hati warga Surabaya. Merujuk pada konsep yang kerap diulas Prof Rhenald Kasali (2017), boleh jadi peristiwa ini merupakan “disruption” bagi kehidupan di Kota Surabaya. Aktivitas rutinitas normal terpaksa melambat atau bahkan sementara terhenti.

Ya, discruption yang dalam konteks kemanusiaan menggugah kegetiran itu menguras energi dan emosional warga untuk mengumpulkan kembali ikatan kebersamaan sebagai warga yang dikenal dengan jati diri pemberani dan guyub. Discruption mengingatkan warga Surabaya akan “core competency” yang dimiliki. Pintu maaf dan pengampunan dibuka selebar-lebarnya oleh keluarga korban dan pemuka agama Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno. Inilah signal “core competency” warga kota yang mudah mengulurkan cinta kasih.

Banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa orang Surabaya tidak hanya dikenal sebagai komunias dengan gaya berbahasa yang kerap kali dinilai kasar jika dibandingakan gaya bertutur warga dari daerah lain, juga tidak hanya bisa membuat kerusuhan (bonek) di ibu kota negara. Orang Surabaya juga dikenal sebagai komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas, keterusterangan, pengorbanan, dan berprestasi.

Dalam kaitannya dengan pluralitas, orang Surabaya yang dikenal memiliki budaya arek, di antaranya memiliki sifat tegar, tidak mau dijajah, dan peduli pada orang lain, merupakan faktor dominan yang bertahun-tahun terbukti sukses dan berhasil memperkecil munculnya konflik antaretnis. Di akhir kekuasaan Orde Baru, misalnya, tatkala ibu kota Jakarta dilanda kerusuhan etnis berskala masal, Surabaya terselamatkan meski ada riak-riak kecil. Budaya arek ini menganggap tidak fair bila ada perbedaan perlakuan antaretnis.

Dalam konteks discrupsion yang diluas Prof Rhenald Kasali, mungkin ini pertanda jebakan kesuksesan (success trap) yang membuat warga kota dan pemangku kepentingan di kota ini terlena atau kurang waspada. Ancaman radikalisme secara nyata “menegur” agar nilai kemanusiaan dan persatuan harus lebih di depan, lebih menarik, dan lebih banyak memenangkan hati warga.

Autar Abdillah (Jawa Pos,30/10/07) dengan mengutip Sugiyarto (Pengaruh Alam Terhadap Kehidupan Sepanjang Sungai Brantas, dalam Wiwik Hidayat, 1975: 43) menuliskan, berkaitan dengan letusan Gunung Kelud yang menutupi sebagian besar sungai-sungai turut menciptakan karakter budaya arek. “Letusan gunung berapi, hutan lebat, dan angin besar yang sering memberikan tantangan kepada penghuni sepanjang Kali Brantas dijawab dengan tindakan-tindakan setimpal, dengan pikiran-pikiran yang mendalam dan matang guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh alam. Tantangan-tantangan tersebut merupakan gemblengan bagi nenek moyang kita. Mereka tidak melarikan diri dari kesulitan-kesulitan itu, tetapi berusaha keras menundukkan dan mengatasinya. Maka, timbullah kebudayaan yang berkembang dengan pesat akibat tantangan-tantangan tersebut. Mental dan fisik digembleng, menimbulkan renungan-renungan yang kemudian menjiwai tata kehidupannya dan mendasari kehidupannya sebagai bangsa yang militan. Uung Galuh menjadi tempat penting dan kemudian menyebabkan lahirnya Surabaya sebagai tempat yang ditakdirkan selalu harus wani ing pakewuh, berani menghadapi kesukaran.”

 

Myelin

Pakar manajemen perubahan Prof Rhenald Kasali dengan judul Myelin (2010) memberu penegasan betapa penting pengelolaan intangible assets suaru produk, perusahaan, bahkan bangsa untuk melakukan percepatankemajuan dan keunggulan masing-masing. Menurutnya, selama ini ada kesalahan mindset dan practice yang membumi di bangsa Indonesia dengan hanya memberikan singgasana yang terhormat pada brain memory. Memori yang terbentuk dari pengetahuan ini tidak dapat berdiri sendiri, diperlukan muscle memory yang terletak di seluruh jaringan otot manusia yang terbentuk karena latihan terus-menerus.

Kita bisa merasakan ada atau tidaknya intangible dan myelin dari mudah atau sulitnya melakukan perubahan, dari getaran-getaran inovasi atau pergeseran usaha. Intangible itu sendiri berasal dari dua sisi, di internal berwujud dalam hal value & creation, skill, knowledge, teamwork. Sementara itu, external intangibles mewujud dalam kepercayaan, reputasi, brand, image, brand loyalty. Peran myelin (muscle memory) semakin penting guna membentuk banyak dimensi yang dibutuhkan untuk membangun daya saing suatu bangsa, diantaranya, gesture, kecepatan, spontanitas, sikap hidup yang menunjukan action oriented, inisiatif, respons, disiplin, intrapreneuring, knowledge management, dan sebagainya.

Di sektor pariwisata, myelin yang menggerakkan industri hospitality ini sangat diperlukan yang secara kasat-mata dapat dirasakanmelalui kualitas layanan yang diberikan, agresivitas melakukan ekspansi pasar, totalitas dan integritas dalam profesi, hingga jaminan kepuasan customer.

Diusianya yang ke-725 tahun ini, warga, para leader, dan pemangku kepentingan Kota Surabaya perlu terus-menerus melatih muscle memory. Di sini kita melihat, kearifan lokal yang tertuang dalam budaya arek menyatukan aset tak berwujud guna membangun kembali sendi kehidupan bersama yang menjadi “core competency” warga Kota Surabaya selama bertahun-tahun sejak era Majapahit, pendudukan VOC, masa revolusi dan awal kemerdekaan, hingga transformasi era reformasi hingga saat ini. Selamat ulang tahun, Surabaya (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.31-Mei-2018.Hal.4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *