494 Tahun Jakrta Berperadaban Tinggi. Kontan. 22 Juni 2021. Hal.15. I Dewa GS. HTB

Pada 22 Juni ini, Kota Jakarta genap 494 tahun.  I Kemajuan sektor transportasi menjadi wajah baru di ibu kota negara Indonesia ini.

Pada peresmian transportasi massal Moda Raya Terpadu (MRT) beberapa tahun lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan perlunya seluruh masyarakat membangun peradaban baru, mulai dari budaya mengantre, bagaimana masuk ke MRT dan tidak terlambat, dan tidak terjepit pintu.

Di peringatan ulang tahun Jakarta ini, kepala nega menyadari bahwa hal itu mengingatkan baru bahwa hal itu mudah, hal-hal yang berkaitan dengan perilaku-perilaku baru di masyarakat.  Pernah beredar foto viral di media sosial, perilaku pengguna MRT yang tidak tertib dan memanfaatkan stasiun MRT tidak pada tempatnya.

Tradisi mengantre dan memanfaatk an hasil pembangunan dengan cara yang pantas, merupakan elemen pokok yang teramati bai peradaban bangsa.  Ketiadaan budaya mengantri berdampak negatif dalam kehidupan sosial, terjadinya kecelakaan lalu lintas dan jatuhnya korban yang selayaknya tidak perlu terjadi.

Salah satu bukti fatal budaya mengantre pada kecelakaan maut kereta api (KA) beberapa tahun lalu.  Penyelidikan tabrakan KA 1131 dengan truk tangki B 9265 SEH yang menyebabkan tujuh orang tewas dan lebih dari  70 orang terluka karena truk tangki menyerobot pintu lintasan KA.

Manajemen KAI tengah melakukan transformasi mendasar menuju perusahaan jasa (Service company) yang mengubah orientasi dari orientasi produk ke konsumen (consumer oriented).  Upaya tersebut seolah luluh-lantah oleh sikap dan mentalitas masyarakat.

Pentingnya mentalitas baru yang terkoneksi dengan peradaban baru mensyaratkan kemauan syarakat untuk belajar dengan tata aturan baru, khususnya dengan bijak menggunakan kemajuan infrastruktur.  Dalam penggunaan Jalan Tol misalnya, dibutuhkan kesadaran untuk berkendara dengan kecepatan yang sesuai aturan, kesiapan kendaraan sebelum melintas, termasuk kesiagaan pengendara.

Kebiasaan ini untuk membangun peradaban baru tersambungnya semua daerah di Jawa dalam jalan tol tol Trans Jawa sepanjang lebih dari 1.000 km.  Ketidaksiapan membangun kebiasaan baru menyisakan beberapa masalah yang seharusnya tidak terjadi.

Pertama, diperhatikan.  Seperti yang terjadi banjir di Jalan Tol berbayar yang terlihat di ruas jalan tol Ngawi-Kerto-sono di Madiun pada Kamis (7/3) silam. Kedua, kecelakaan maut setidaknya terjadi di empat titik yang berbeda, di jalan tol Sumo pada akhir September dan awal Oktober 2018, dan dua kecelakaan maut pada Maret ini.  Pada hari Jumat (1/3) kecelakaan maut di tol Madiun KM 604 dan Minggu (3/3) dini hari di jalan tol Semarang-Batang yang menimpa rombongan Bupati Demak.

Karenanya, MRT yang telah beroperasi di Jakarta kurang lebih dua tahun yang lalu, membutuh- kan dukungan masyarakat untuk membangun peradaban baru.

Membangun peradaban

Membangun peradaban bersama MRT dapat dianggap sebagai latihan membangun mentalitas berperadaban maju.  Sebagai bangsa, kehadiran MRT terkait pula dengan kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Jakarta kabarnya menjadi salah satu venue bila Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Pemerintah terus berpacu melakukan pembangunan infrastruktur baik yang terkait langsung dengan  olah raga maupun yang mendukung yang berkualitas dan berstandar internasional.  Infrastruktur yang terkait langsung terletak pada fasilitas dan standar kualitas arena pertandingan berstandar internasional.

Sarana pendukung mulai dari airport, transportasi (salah satunya MRT), akomodasi hotel, template pembangunan dan sarana rekreasi, rumah sakit, keamanan dan kebersihan, dan sebagainya. Persiapan di Beijing beberapa tahun lalu misalnya, peminatan memberlakukan kebijakan terkait dengan peredaran moda transportasi, khususnya di area pertandingan.

Kini, kesiapan penting lainnya terkait mentalitas bangsa Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade menemukan relevansinya pada kehadiran MRT.  Rendahnya budaya dan praktik fair play di dunia olahraga misalnya, bisa menjadi cerminan suatu bangsa.  Mentalitas tidak siap mengejar ketertinggalan dan kekalahan dengan kerja cerdas adalah bukti rendahnya praktik hidup fair play.

Menyibak skandal rendah pengaturan skor Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang terungkap tahun lalu, martabat sepak bola sebagai olah raga menjadi maknanya tatkala orientasinya hanya pada kemenangan. Padahal, kekalahan justru kerap kali dapat dikenang manis oleh para penonton sebagai permainan yang indah.

Permainan sepak bola tidak semata-mata bagaimana melatih saya memiliki strategi yang efektif untuk para pemainnya supaya bisa menang, tetapi bagaimana mereka menyajikan hiburan yang menyenangkan bagi pemirsa.

Sepak bola dengan tegas melibatkan penontonnya untuk berani bertahan di antara kemenangan dan kegagalan.  Karena itu, sepak bola dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Dan untuk mengantisipasi nasib buruk, bola harus digelindingkan dengan pemikirar, energi dan keahlian.

Seperti halnya kehidupan itu sendiri, walau banyak duka lara, toh masih harus diterima dan dilului.  Walau banyak kegetiran nasib ketidakadilan, toh mesti harus diterima sebagai ‘tendangan’ kehidupan. Walau kelompok kuat yang dikalahkan dengan kekuatan modal dan kekuasaan, masih banyak celah bagi rakyat untuk meraih kebahagiaan dan kenangan.  Dalam sepak bola dan olah raga hal itu sangat mengejutkan (Sindhunata, 2002).

Budaya fair play identik dengan prestasi.  Atas berbagai prestasi bangsa Indonesia di ranah olah raga internasional, di situ pulalah bangsa yang dikenal dan dikenang sebagai bangsa yang adil.  Hal penting terkait MRT sekaligus membangun mentalitas sebagai tuan rumah Olimpiade 2032, menyangkut niatan sebagai bangsa yang fair play, budaya antri dan berperadaban tinggi.  Selamat Ulang Tahun ke-494 tahun Jakarta.

 

Sumber: Kontan. 22 Juni 2021. Hal.15.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *