Endri Susanto Mengabdi Kepada “Si Sakit”

Endri Susanto Mengabdi kepada Si Sakti. Kompas. 9 Januari 2016. Hal 16

Berbuat kebaikan, selain membantu orang lain, adalah membantu diri sendiri mendapatkan kebahagiaan dari memberi. Begitu kata orang bijak. Endri Susanto (29), warga Dusun Pekatan, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mencoba mengamalkan kata bijak itu dan nyata.

Endri membantu anak anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas untuk mendapatkan kursi roda, para penyandang tunanetra mendapatkan tongkat, dan anak penderita hydrocephalus mendapatkan pengobatan / perawatan. Ia juga mencarikan dana dan donatur bagi anak penderita kanker agar bisa dioperasi demi penyembuhan penyakitnya.

Merujuk si sakit ke Puskesmas dan rumah sakit di NTB, kemudian mengawalnya apabila menjalani operasi di luar NTB, menjadi pekerjaan rutin Endri. Seperti pada hari Minggu (3/1) lalu, ia bersiap merujuk seorang anak penderita hydrocephalus ke Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali. Endri menerima konsekuensinya, dia meninggalkan keluarga untuk menemani penderita mondok di luar NTB.

Persinggungannya dengan kemanusiaan dimulai 2014 saat berkeliling ke desa-desa di Pulau Lombok selama dua hari dua malam. Belakangan, ia bertemu rekannya dari Selandia Baru yang peduli terhadap masalah social. Mereka kemudian sepakat melakukan aksi, sebagai tindak lanjut temuan di lapangan, bahwa ada benang kusut yang harus diurai terkait dengan pelayanan kesehatan.

Benang kusut tersebut, antara lain adanya ratusan orang, baik anak maupun dewasa, menderita beragam penyakit yang jarang diketahui public. Penyakit-penyakit itu, di antaranya down syndrome (keterbelakangan perkembangan fisik dan mental), brain damage (kanker pada otak), cerebral palsy (kelumpuhan otak besar), dan Ewing’s sarcoma (tumor ganas).

Penderita umumnya berasal dari keluarga miskin, yang tidak punya biaya untuk berobat. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh tani, yang penghasilannya sekedar untuk bertahan hidup.

Warga umumnya belum mengetahui ada layanan kesehatan gratis yang bisa didapatkan, asal terdaftar sebagai anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, pengurusan proses persyaratan administrasi keanggotaan dari dusun sampai institusi teknis memakan waktu relatif lama, bisa sampai satu sampai dua pecan.

Terkadang Endri harus mengabaikan akal sehat untuk menghadapi masyarakat. Seorang anak yang terdapat benjolan di bagian matanya, misalnya, tidak diizinkan orang tuanya diperiksa dokter. Sang ayah beralasan, benjolan tersebut sudah ada sejak anaknya lahir. Untuk menghadapi warga seperti ini, ia meminta bantuan kepala dusun dan kepala desa untuk “mencuci otak” pemahaman orang tua yang salah itu.

Lewat media social, Endri menggalang partisipasi dan menemukan donatur buat si sakit. Selain itu, keberadaan program BPJS telah membangkitkan semangatnya untuk membantu si sakit. Saat ini, ada 50 relawan, 2 dokter, dan 1 perawat bergabung dengannya. Selain itu, satu unit sepeda motor untuk kegiatan operasional juga dari uluran tangan penyumbang.

Sumbangan uang dari perorangan dan yayasan digunakan untuk ongkos transportasi dan sewa penginapan selama penderita dirujuk dan dirawat di rumah sakit. Berkat upayanya, ada 14 anak penderita hydrocephalus asal NTB yang sudah memperoleh pengobatan atas bantuan sebuah yayasan di Denpasar, Bali. Dua anak penderita penyakit yang sama kini dalam penanganan dokter Rumah Sakit Sanglah, Bali.

Lainnya, seorang anak perempuan (11 tahun) yang menderita kanker di jaringan kaki kirinya kini dalam penyembuhan. Vonis amputasi kepada anak tersebut oleh dokter di Mataram “dipatahkan” seorang dokter ahli di rumah sakit swasta di Surabaya, Jawa Timur, lewat operasi.

Media social

Dari sponsor di Australia, Endri mendapat bantuan 20 tongkat bagi penyandang tunanetra dan 45 unit kursi roda untuk anak-anak dengan harga Rp20 juta per unit pada periode Agustus-Desember 2015 lalu.

Kursi roda dan sumbangan pakaian di bawa pelancong Australia yang berwisata ke Bali dan Lombok. Untuk itu, ia membuat tulisan di media sosial yang berisi permintaan bantuan tersebut. Sebelum sampai ke tangan Endri, kursi itu mampir di drop point yang terdapat di Kuta, Bali, objek wisata Gili Trawangan dan Senggigi, Lombok Barat. Selanjutnya, Endri membuat foto “barang bukti” dan penerimanya yang dikirimkan kepada penyumbang.

Totalitas

Menurut Endri, saat ini lebih dari 200 orang membutuhkan kursi roda dan tongkat. Ia berharap dan yakin sumbangan akan bertambah pada tahun ini. Keyakinannya itu mulai terbukti setelah seorang sponsor memberinya honor Rp 2 juta sebulan setelah melihat wujud nyata ketulusan Endri.

Ia tak berhenti menyisir desa-desa di Lombok untuk menemui “si sakit” yang perlu bantuan dan meyakinkan orang lain tentang langkah yang dilakukannya.”Jujur, amanah, komitmen, dan fokus adalah perilaku dan sikap untuk mendapat kepercayaan orang lain,” katanya.

Sikap kepedulian nya itu sudah di tempa sejak kecil. Ia membantu orang tuanya, Irsah-Miarnip, yang bekerja sebagai buruh tani. Selain buruh tani, ayahnya acapkali juga bekerja sebagai buruh pikul kayu dan balok.

Kehidupan sulit keluarganya mendorong Endri juga menyambi menjadi kuli pikul batu dan pasir serta menyambit rumput setelah jam sekolah. Itu rutin dijalaninya sejak SD hingga SMA. Ia pun beruntung karena bisa sekolah dengan mendapat beasiswa.

Bekerja membantu orang tuanya berakhir setelah ia bekerja di sebuah hotel di Lombok Utara dengan gaji Rp 5 juta – Rp 6 juta sebulan pada 2006-2007. Berkat keuletannya, ia pun sempat menjadi wakil kepala dapur (chef de partie) untuk makanan dingin (cold kitchen) di sebuah hotel di Singapura (2007-2008) dengan gaji sekitar 19 juta sebulan. Setelah itu, Endri pulang kampung dan menggunakan uang tabungannya untuk memperbaiki rumah orang tuanya, dan biaya kuliah.

Endri pun melepaskan pekerjaan sebagai anggota staf ahli Komisi IX DPR dan membentuk Endri’s Foundation dengan niat bisa total mengurus masalah sosial.

Sumber : Kompas , Januari 2016

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *