Menelisik Sejarah Kawasan Boto Putih (21)_Bercampurnya Suku Bangsa Pengaruhi Karakter Warga. Radar Surabaya. 25 Mei 2021. Hal.3,7. LIB. Chrisyandi

Kawasan Botoputih merupakan kawasan yang terus bertransformasi seiring perubahan zaman.  Sehingga kondisi kampung tua itu juga berpengaruh secara umum terhadap karakter warganya.

Rahmat Sudrajat Wartawan

Radar Surabaya

Tak hanya berkarakter terbuka namun warganya juga menpunyai nilai-nilai kebersamaan.  Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, pengaruh dinamisnya warga itu sejak dulu sudah tampak.  Mengingat kawasan Boto Putih mempunyai atau budaya yang kental karena bercampurnya nilai-nilai suku bangsa. Bahkan dibandingkan dengan kawasan Nyamplungan yang ada di seberangnya, Boto Putih berbeda.

“Sebenarnya sama seperti jalan di seberangnya, yaitu Nyamplungan. Namun, bedanya di Boto Putih lebih campur dalam suku bangsa,” katanya kepada Radar Surabaya.

Bercampurnya suku bangsa ini disebabkan banyaknya saudagar yang melakukan perdagangan di kawasan Kalimas. Sehingga tak sedikit saudagar pun tinggal di Boto Putih.  “Selain itu, (Boto Putih) pengaruhnya masih kental atau kuat dalam hal keagamaan,” jelasnya.

Bahkan saat masa Kolonial Belanda, ketika pemerintah kolonial Belanda memberikan pembatas antara pemukiman suku bangsa asing, untuk mempermudah kontrol pemerintahan saat itu.  “Ya pemukiman itu seperti adanya kampung Melayu, kampung Arab, kampung Cina, dan sebagainya,”

Pembagian pemukiman itu akhirnya berakhir dengan membludaknya jumlah penduduk yang sangat banyak. Sehingga pemukiman penduduk yang tersekat itu semakin melebar ke arah timur dan selatan.”Semakin bertambahnya penduduk maka semakin lebar juga kawasan.  Seperti Boto Putih juga mengalani nelebaran kawasan.

 

sumber: Radar Surabaya. 25 Mei 2021. Hal.3,7.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *