Ketekunan Livi Zheng dalam Dunia Perfilman

Ketekunan Livi Zheng dalam Dunia Perfilman

Pada Hari Rabu, 4 November 2014 Universitas Ciputra berkesempatan untuk mengundang sineas muda asal Indonesia yang telah berhasil menembus pasar perfilman Hollywood. Sineas muda tersebut adalah Livi Zheng. Film pertamanya yang berjudul “Brush with Danger” bahkan telah berhasil masuk kedalam daftar nominasi 323 film yang memenuhi syarat untuk kategori “Best Picture” dalam 87th Academy Awards Oscar 2015. Melalui sharing yang disampaikannya di Auditorium Universitas Ciputra tersebut, Livi Zheng menceritakan tentang kisah perjalanannya membuat film Brush with Danger dengan tema “My Life’s Journey to Hollywood”.

IMG_3969Livi Zheng adalah seorang WNI yang lahir di Malang Jawa Timur. Sejak kecil Livi Zheng dan saudaranya Ken Zheng telah terbiasa mengikuti pekerjaan ayahnya yang harus berpindah-pindah. Dari Malang ke Blitar, kemudian akhirnya menetap di Jakarta. Livi kecil telah dididik untuk terbiasa hidup mandiri oleh kedua orang tuanya. Livi dan Ken memutuskan untuk menempuh bangku SMP di Beijing karena sekaligus ingin mendalami seni beladiri Cina (Wushu). Setelah lulus, Livi dan Ken Zheng lantas melanjutkan jenjang sekolahnya ke Amerika. Strata S1 jurusan ekonomi telah berhasil diraih Livi Zheng di University of Washington hanya dalam waktu tiga tahun. Melihat latar belakang keluarganya yang tidak memiliki dasar seni melainkan engineer dan bisnis, Livi memutuskan untuk mengejar passion dan mimpinya sendiri menjadi seorang sutradara. Selama menempuh jenjang pendidikannya, Livi juga tidak melupakan minatnya dalam hal seni bela diri. Sepanjang karir seni bela diri Livi, dia telah berhasil memenangkan banyak piala dan medali dalam berbagai kompetisi di AS. Keterampilannya dalam seni bela diri telah membawa Livi Zheng ke industri film untuk pertama kalinya yaitu dengan menjadi seorang stuntwoman untuk beberapa film. Livi Zheng yang saat ini berusia 26 tahun telah mulai merintis minatnya di bidang perfilman di Amerika sejak tahun 2007 yaitu sejak usianya masih 18 tahun. Dan sejak awal itulah Livi sudah mulai membantu produksi film-film pendek, mulai dari menjadi asisten wardrobe hingga menjadi asisten sutradara dan asisten produser pun telah dilakoninya. Livi Zheng yang tetap menekuni dunia perfilman, sejak saat itu tertarik sepenuhnya terhadap dunia perfilman. Maka dari itu Livi memutuskan untuk mengambil gelar pasca sarjana jurusan perfilman di University of Southern California, LA. Selama pulang ke Indonesia, Livi fokus mengurus impor dan distribusi film di Indonesia.

Diimbangi dengan passion Livi terhadap industri perfilman dan didukung oleh kemampuannya terhadap bela diri Wushu, Livi ingin membuat film pertamanya tersebut dengan genre thriller dan action. Mengajak serta adiknya Ken Zheng, berdua mereka membuat skenario film Brush with Danger. Tidak hanya sampai disitu, Livi yang berperan menjadi sutradara, dalam film tersebut dia juga merangkap sebagai pemeran utama wanita (main role) bersama dengan Ken Zheng. Di Amerika Serikat, film Brush with Danger telah diluncurkan pada September 2014. Dan telah menuai banyak pujian dan kesuksesan di Negara-Negara seperti New York, Los Angeles, San Fransisco, Seattle, Dallas, dan Ohio. Saat ini Brush with Danger telah diterima dengan cukup positif oleh dunia perfilman Hollywood. Di Indonesia sendiri film Brush with Danger akan diputar pada tanggal 26 November 2015.

IMG_4004Kesuksesan Livi Zheng tidak didapatkan secara mudah. Livi mengaku mengalami banyak kendala dan tantangan ketika membuat film pertamanya ini. Dimulai dari penolakan pengajuan skenarionya yang bahkan harus direvisi sebanyak 32 kali namun Livi dan Ken Zheng tidak pernah menyerah maupun putus asa. Selain itu tantangan terbesar adalah mendapatkan kru film. Pada awalnya seringkali Livi dipandang sebelah mata oleh pelaku industri perfilman di Hollywood. Stigma bahwa Livi adalah seorang perempuan Asia, masih muda dan belum berpengalaman selalu menjadi pertimbangan utama. “Tantangan yang paling sulit bagi Saya pada waktu itu adalah untuk mencari kru profesional yang mempercayai Saya dan bersedia bekerja dengan Saya. Saya masih pemula dan Saya harus memastikan bahwa setiap orang yang bekerja dengan Saya memiliki visi yang sama” tutur Livi Zheng. Namun Livi tetap tidak menyerah dan menunjukkan bakat dan profesionalitasnya yang tinggi. Livi tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan dan keinginannya. Dua bersaudara Zheng ini melakukan yang terbaik untuk dapat mencapai keberhasilannya di dunia kompetitif perfilman Hollywood.

Menjadi sutradara sekaligus pemain bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah. Kerapkali Livi harus mengesampingkan hal-hal yang tidak penting misalnya tentang sedikit kekurangan penampilan fisiknya di depan kamera demi mendapatkan hasil film yang maksimal. Profesionalitas kerja sangat dijunjung tinggi oleh Livi, dan untuk mendapatkannya, Livi yang seorang perfeksionis harus melihat dirinya yang sedang akting didepan kamera sebagai aktor lain yang harus dia nilai. Jadi Livi harus berbesar hati untuk menerima kritik bagi dirinya sendiri demi hasil yang terbaik. Akibat lain adalah waktu syuting yang memakan waktu sedikit lebih lama karena Livi harus bolak-balik kembali ke monitor setelah berakting, untuk keperluan adjustment acting, evaluasi, dan koreksi.

Judul Brush with Danger ini sendiri sebenarnya memiliki dua arti, yang pertama adalah Nyaris Bahaya, dan yang kedua adalah hubungannya dengan pemain utama Alice Qiang (Livi Zheng) yang seorang pelukis, jadi Brush disini dapat diartikan pula dengan kuas lukis. Ken Zheng sebagai adik Livi, ikut bermain dalam film Brush with Danger sebagai pemeran utama pria (main role). Selain sebagai atlet Wushu di Jakarta, saat ini Ken merupakan mahasiswa S1 di University of Texas di Austin. Ide film Brush with Danger muncul dari cerita tentang banyaknya imigran di Amerika. Perjuangan seorang teman Livi dari Ethiopia yang menjadi imigran dan harus berjuang di Amerika untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya telah menginspirasi Livi untuk membuat film Brush with Danger ini. Selain itu, inspirasi juga datang dari pengalaman Livi dan Ken Zheng sendiri ketika harus hidup berdua di Beijing yang pada saat itu belum mengusai Bahasa Mandarin dan harus berjuang sendiri tanpa harus bergantung kepada orang tua yang ada di Jakarta.

Brush with Danger sendiri bercerita tentang dua imigran gelap asal Asia yaitu Alice Qiang (Livi Zheng) dan kakaknya Ken Qiang (Ken Zheng) di Amerika. Mereka sampai ke Seattle dalam sebuah truk kontainer dan kemudian menjadi tunawisma di Seattle. Dua saudara ini mencoba bertahan hidup dengan menjadi seniman jalanan yaitu dengan cara perpaduan dari menjual lukisan dan menunjukkan seni bela diri Wushu. Hingga akhirnya kedua bersaudara tersebut direkrut oleh Justus Sullivan yang merupakan seorang pemilik galeri seni namun dibalik itu memiliki motif jahat. Keterlibatan dua bersaudara Qiang dengan Sullivan membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup di dunia kriminal yang berbahaya di Amerika Serikat.

Saat ini Livi Zheng telah menyelesaikan film keduanya namun masih dalam tahap editing visual, serta rencananya akan tayang awal tahun depan di Amerika. Untuk film ketiga, sedang dalam proses develop. Film kempat, Livi Zheng berencana untuk melakukan syutingnya di Indonesia dan di Jawa Timur khususnya dengan melibatkan kru dan tim inti dari Indonesia dan Amerika serta untuk pendistribusian harapannya ingin dilakukan di Indonesia dan Amerika juga.


Pesan Livi untuk para entrepreneur muda, “Untuk sukses tentunya perlu kerja keras apalagi kalau mau jadi entrepreneur. Kita sebagai entrepreneur tidak boleh mengenal kata libur. Orang yang punya jiwa entrepreneur pasti memiliki prinsip ‘you have to eat, life, and breath in your passion’. Kita harus above and beyond jika bicara dengan waktu kerja”, kata Livi. “Sebagai entrepreneur kita harus mengerti semua minimum basicnya. Dan kita harus open untuk belajar hal-hal yang baru. Walaupun sudah sukses, jangan berhenti disitu karena sekali berhenti, nanti pasti akan ketinggalan, akan ada yang menyaingi kita dan lebih sukses. Jadi kita harus terus belajar dan jangan salah, kita bisa belajar dari seseorang yang lebih muda dari kita”, tambahnya.

Kesimpulan dari sharing yang dilakukan oleh Livi Zheng adalah yang pertama, bekerjalah sesuai dengan passion. Segala sesuatu yang dimulai dan didasari oleh passion tentunya akan lebih total dalam menjalaninya. Yang kedua adalah persistence atau ketekunan, selalu jalani hal yang disukai tersebut secara konsisten dan tidak berganti-ganti. Jangan takut terhadap tantangan, terus jalani dan hadapi tantangan-tantangan tersebut, bersikap terbuka dan siap untuk mengkritisi diri sendiri.

 

Instagram & Twitter : @LiviZheng

www.brushwithdanger.com