Keren, Produk Bisnis Mahasiswa E5 sejajar dengan Produk Korea

Keren, Produk Bisnis Mahasiswa E5 sejajar dengan Produk Korea

November lalu, Mahasiswa Entrepreneurship 5 (E5) ikut serta SIAL InterFood yang diadakan di Jalan Expo, Kemayoran Jakarta. Tahun ini SIAL diikuti oleh 27 negara dengan produk yang dipamerkan adalah seputar Food and Beverages. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selain pameran, SIAL juga mengadakan kompetisi produk. Dari 18 tim mahasiswa UC, 13 tim mengikuti kompetisi ini.

Total peserta yang mengikuti kompetisi ini adalah 72 tim untuk kemudian masuk dalam beberapa kali proses seleksi. Seleksi pertama adalah untuk menentukan 25 tim terbaik (8 tim dari UC). Seleksi kedua untuk menentukan 8 tim terbaik. Dari 8 tim terbaik ini kemudian diseleksi lebih ketat lagi untuk menjadi juara 1,2 dan 3. Pada proses terakhir ini penilaian menitikberatkan pada produk inovasi, rasa, dan pembawa kekayaan local. Produk mahasiswa dengan nama Le Precieux ( Indonesian Style Strudel) berhasil meraih juara 2, dimana juara 1 dan 2 diraih oleh peserta dari korea. Dengan menghadirkan varian rasa rendang, nasi goreng, opor ayam yang menjadi ciri khas Indonesia, Le Precieux berhasil dinobatkan sebagai produk makanan yang inovatif.

Pengagas Le Precieux (Indonesian Style Strudel) ini adalah mahasiswa Program Culinary Business angakatan 2016 yaitu Demitria Sherine Christio, Olive Limantoro, Ryanne Natalia Hamdali. Produk mereka nantinya akan dipamerkan di tiap event yang diselenggarakan oleh SIAL. “Kami sajikan menu kekinian dengan kombinasi makanan khas indonesia. Kalau bisanya strudel dengan varian isi manis, kali ini dengan menu Indonesia. Dengan begini menu Indonesia semakin dikenal,” terang Demitria.

Maureen Nuradhi sebagai Koordinator E5 menjelaskan bahwa SIAL InterFood adalah exhibition yang reputasinya sangat bagus karena disana ada international Buyer, stand yang diikuti oleh stand – stand dalam dan luar negeri sehingga mahasiswa dapat belajar secara nyata. “Dalam acara ini juga mahasiswa berpontensi untuk mendapatkan buyer dan networking dari luar negeri”, terangnya. “Mahasiswa dilatih untuk bisa berbahasa Inggris dan juga menyiapkan price tag dengan 2 harga yaitu rupiah dan dollar”, Maureen menambahkan.