Investasi Menguntungkan dengan Saham

Investasi Menguntungkan dengan Saham

Berinvestasi bukan merupakan suatu hal baru dalam meningkatkan jumlah asset seseorang. Namun banyak orang-orang belum menyadari tentang pentingnya berinvestasi ketika mereka masih muda. Sebelum membahas tentang berinvestasi saham, ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu alasan “mengapa”kita harus berinvestasi.

We don’t have to be smarter than the rest, we have to be more disciplined than the rest.”(Warren Buffet, 2002). Setiap orang memiliki perbedaan tujuan dalam berinvestasi. Berbagai tujuan tersebut diantaranya : memperoleh tambahan penghasilan, agar uangnya bertambah dan tidak termakan inflasi, investasi dana pensiun di hari tua, ataupun untuk dana pendidikan.

Investasi yang berhasil akan menciptakan investor mengalami kehidupan yang damai dan sejahtera dalam hal kebebasan finansial. Namun, sebaliknya jika investasi mengalami kegagalan maka akan berdampak buruk bagi investornya. Sebelum berinvestasi lebih baik setiap calon investor mengenali tujuan berinvestasi, mengenali profil resiko, menentukan rentang waku dalam berinvestasi, mempelajari instrumen berinvestasi sebaik-baiknya, dan kategorikan diversifikasi ataukah konsentrasi?

Grafik resiko investasi, High risk high return. Semakin tinggi tingkat imbal hasil yang diharapkan, semakin tinggi resiko yang mungkin diterima.

investasi2

Ketika dalam berinvestasi, calon investor sebaiknya menentukan terlebih dahulu tentang karakteristik berinvestasi. Jika calon investor yakin dan percaya akan investasi, maka ia akan menaruh semua asset yang dimiliki nya dalam suatu investasi tersebut (konsentrasi). Sistem diversifikasi adalah sebuah system yang mengklasifikasikan investasi dalam berbagai macam bentuk, yang bertujuan untuk mengurangi resiko kerugian.

Investasi saham dapat memberikan imbal hasil yang paling tinggi. Mendapat imbal hasil diatas 50% per tahun merupakan hal yang sangat mungkin terjadi dalam investasi saham. Sebagai contoh nyata, salah satu saham yang mengalami pergerakan signifikan pada tahun 2012 adalah saham PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA), tumbuh sekitar 140% dalam setahun, dimana harga awal tahun Rp.450 per lembar, sedangkan harga di akhir tahun Rp. 1.080 per lembar saham. Bahkan pada tahun 2012 AISA sempat mencapai titik tertinggi di harga Rp.1.230 per lembar saham. Hal ini menunjukkan bahwa saham AISA mengalami kenaikan setinggi 174% sejak awal tahun 2012.

DepositoObligasiReksa danaSaham
Tahun 0  (mulai)Rp. 100.000.000Rp. 100.000.000Rp. 100.000.000Rp. 100.000.000
Tahun 1Rp. 105.254.804Rp. 111.243.000Rp. 120.000.000Rp. 130.208.667
Tahun 2Rp. 111.302.737Rp. 121.487.000Rp. 144.000.000Rp. 174.460.068
Tahun3Rp. 117.698.184Rp. 131.727.500Rp. 173.700.000Rp. 235.321.580

*tabel perbandingan pertumbuhan investasi berdasarkan imbal hasil dan resiko.

Berdasarkan tabel diatas, dengan kontrol manajemen resiko yang tepat maka investasi saham dapat memberikan hasil yang maksimal. Investasi saham dapat berhasil bila dilakukan dengan teliti, sabar dan disiplin.

Definisi dasar saham adalah bukti dari kepemilikan sebuah perusahaan. Pengetahuan yang mendasar tentang dunia saham adalah saham IPO (Initial Public Offering) dan karakter saham.

Saham IPO

Merupakan salah satu istilah yang dipakai ketika saham tersebut pertama kali akan di jual di masyarakat, nama lainnya adalah ‘penawaran saham perdana.’ Dimana sebelumnya perusahaan bersifat tertutup/privat dan sahamnya hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, berubah menjadi bersifat terbuka dengan melakukan IPO. Terbuka artinya, publik memiliki kesempatan untuk ikut memiliki saham sebuah perusahaan tersebut.

Tujuan perusahaan melakukan IPO adalah untuk mendapatkan dana segar. Dana yang diperoleh dipakai oleh perusahaan untuk melakukan ekspansi atau membayar hutang yang telah jatuh tempo. Terdapat dua cara bagi perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal, yaitu dengan melakukan debt financing (perolehan dana dengan berhutang) atau melakukan equity financing (perolehan dana dengan menawarkan sebagian hak kepemilikan perusahaan kepada pihak yang bersedia memberikan dana atau dengan cara menerbitkan saham ke publik).

Munculnya saham baru di dunia pasar modal merupakan suatu fenomena menarik untuk menjadi perhatian. Namun, bagi calon investor ketika ingin membeli saham IPO itu baik untuk dibeli atau tidak, hendaknya mereka memperhatikan cara untuk memilih saham IPO. 1) Melakukan riset objektif tentang perusahaan tersebut, 2) Memilih perusahaan dengan penjamin emisi yang kuat, 3) Membaca prospectus secara detil, 4) bersikap waspada, 5) mengecek grup perusahaan atau sector yang berhubungan dengan emiten, 6) mengecek peminatnya, dan 7) melakukan transaksi beli ketika saham IPO saat tren market sedang naik.

Pada pasar modal terdapat berbagai jenis saham yang diperjualbelikan. Berdasarkan tipe pembagian dividen, ada dua jenis saham, yaitu saham biasa dan saham preferen.

  1. Saham biasa (common stock).  Berdefinisi saham yang biasa diperjualbelikan secara umum. Pembagian dividen dilakukan tiap tahun jika perusahaan memperoleh laba. Perusahaan memperoleh laba
  2. Saham Preferen. Saham yang pemiliknya mempunyai hak lebih banyak bila dibandingkan dengan hak penilik saham biasa. Pemegang saham preferen akan memperoleh dividen terlebih dahulu, dan bersifat rutin dan besarannya sama. Mirip dengan sifat dari deposito.

Karakter saham

Berikut ini adalah beberapa karakter saham : 1) Kapitalisasi saham ; dan 2) Likuiditas

  • Kapitalisasi saham

Adalah besarnya nilai saham yang beredar di masyarakat, dimana cara menghitungnya adalah dengan mengalikan harga saham dengan banyaknya saham yang beredar di pasar.

 

Kapitalisasi = total saham beredar x harga saham

 

Berdasarkan kapitalisasinya, saham dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Saham blue chips / saham lapis pertama,

Dimana biasanya saham lapis pertama / blue chips merupakan perusahaan yang memiliki fundamental bisnis yang bagus, kinerja yang kuat, bergerak di dunia industry yang membutuhkan banyak orang, dan menghasilkan laba yang besar sehingga perusahaan tersebut dapat membagikan dividen secara rutin. Selain itu, saham lapis pertama ini memiliki tingkat likuiditas tinggi dan ramai diperjualbelikan oleh investor. Contoh : saham PT. Astra International Indonesia Tbk (kode saham: ASII), PT. Bank Central Asia Tbk (kode saham : BBCA) dan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. (kode saham : BBRI).

 

  1. Saham lapis kedua,

Dimana biasanya perusahaan bercirikan memiliki fundamental yang cukup bagus, tetapi masih dalam proses berkembang dan bertumbuh, dan sifatnya cukup likuid.

Contoh : PT. Media Nusantara Citra Tbk. (kode saham MNCN), PT. Bumi Serpong Damai Tbk. (kode saham : BSDE).

 

  1. Saham lapis ketiga.

Dimana biasanya perusahaan berfundamental tidak begitu bagus, dan bersifat tidak likuid dan jarang diperdagangkan, dan ketika ramai diperdagangkan jika terdapat aksi korporasi atau ada rumor yang diberitakan oleh beberapa “market maker”.

 

  • Likuiditas

Kelikuiditasan suatu saham sangat berperan penting dalam berinvestasi saham. Semakin likuid suatu saham maka banyak pembeli dan penjual yang sedang bertransaksi, artinya saham itu bersifat “cair” atau laku, dan ramai untuk diperjualbelikan. Likuiditas suatu saham ditunjukkan dengan tinggi dan rendahnya volume bertransaksi dalam satu hari. Untuk mengetahui volume transaksi dapat diperthatikan melalui pergerakan harga saham melalui grafik. Sedangkan saham yang tidak likuid berarti hanya ada sedikit orang yang bertransaksi akan saham tersebut.

 

Kesimpulan

Berinvestasi saham merupakan suatu bentuk investasi yang patut untuk diperhitungkan. Selain imbal hasil yang dihasilkan tinggi, berinvestasi saham merupakan suatu tindakan yang dapat menciptakan investor untuk berlatih semakin disiplin dan berani dalam mengambil suatu keputusan secara cepat dan tepat.

Semakin tinggi harapan penghasilan yang diharapkan maka semakin tinggi pula kemungkinan resiko yang akan dihadapi seorang investor. Investasi saham memberikan resiko yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan bentuk investasi lainya, yakni reksadana, obligasi dan deposito.

 

Penulis : Wendra Hartono, S.T., M.PA. (Lecturer in International Business Management, Universitas Ciputra)