KETUKLAH DAKU KAU KUKEPRAS

OLEH: FREDDY HANDOKO ISTANTO

Diterbitkan dalam DIS WAY (Harian Dahlan Iskan), Jumat, 28 Mei 2021

Suara Mesin gergaji itu menderu-deru. Pohon-pohon bertumbangan, lalu batang-batang itu ditumpuk rapi. Truk-pun hilir mudik keluar masuk mengangkut potongan pohon. Itu bukan hutan di Kalimantan, Kawan. Truk-truk itu milik Pemerintah Kota Surabaya. Di telantarkan lebih dari  sepuluh tahun, Ex penjara Kalisosok sudah berubah jadi hutan liar. Komunitas Pelestari Bangunan Cagar Budaya memergoki upaya-upaya pembangunan sebuah konstruksi yang patut diduga tidak legal itu disana. Lalu media massa kemudian seru meliputnya. Baru Pemerintah kota seolah tersentak dan segera melakukan bersih-bersih itu. Kepemilikan  Bangunan Cagar Budaya eks Penjara kalisosok ini memang bukan hak Pemerintah Kota Surabaya. Sejak adanya tukar guling dengan pihak swasta, bangunan ini sudah tidak dibawah tanggung-jawab Pemerintah lagi. Namun bangunan yang terletak di Jalan Kasuari Krembangan ini telah di-sah-kan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) oleh Walikota Surabaya melalui SK No. 188.45/251/402.1.04/1996. Setelah proses tukar-guling itu, Status hukum sebagai Bangunan Cagar Budaya tidak serta merta terlepas. Merawat, menjaga, mengembangkan BCB itu menjadi tanggung jawab pemilik baru. Pemerintah Kota Surabaya bertanggung jawab ikut mengawasi keberadaan BCB ini.

11 tahun yang lalu, Kalisosok jadi amatan komunitas Pelestari BCB. Saat itu atap bangunan besar diturunkan. Komunitas ini kuatir bangunan tanpa atap genting itu nantinya akan merusak perlahan-lahan bangunan itu secara keseluruhan. Beberapa media massa tidak bisa masuk menembus bangunan yang memang milik swasta itu. Tetapi Komunitas Surabaya Heritage Society (SHS) bersama-sama Lurah, Camat, satpol PP dan media akhirnya diijinkan masuk. Tentu kondisi saat itu tidak separah kalisosok hari-hari ini. Menariknya saat itu Pemerintah Kota Surabaya saat dicecar media, ternyata tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik bangunan tersebut.

Kejadian seperti ini bukan sekali ini saja. Sepuluh tahun lalu, pasca kebakaran gedung Balai Pemuda, gedung ini dibiarkan mangkrak. Empat bulan setelah itu, komunitas SHS menemukan tanaman tumbuh direruntuhan bekas kebakaran dalam gedung tersebut. Setelah dilaporkan ke media, barulah Pemerintah Kota besoknya datang untuk membersihkan belukar tersebut.

Terlambat merespons pengrusakan BCB sudah menjadi kinerja buruk Pemerintah Kota Surabaya. Tahun 2013, Gedung Sinagoge di Jalan Kayon dirata-tanahkan. Sinagoge satu-satunya di Indonesia itu hancur menjelang ulang tahun Kota Surabaya tahun 2013. Yang kemudian jadi seru adalah rata tanahnya Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Surabaya. Sama modus-nya, Pemerintah Kota seolah gagap ketika komunitas Pelestari sejarah yang memergoki kejadian penghancuran itu.

Seru terjadi saling silang pendapat karena ternyata bangunan itu sudah beberapa kali mengalami perubahan. Keaslian bangunan Rumah Radio Bung Tomo diragukan. Bertemu dengan pakar dari BPCB Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur keberadaan bangunan tersebut tidak diragukan dari sudut kajian arkeologis,. Kajian akademisnya yang tidak jelas, itu kata mereka. Prof Johan Silas juga meragukan Bangunan Jalan Mawar itu Rumah Radio Bung Tomo. Karena secara logika, pasti saat siaran Bung Tomo berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk menghindari terdeteksi oleh tentara Belanda.

Terlepas dari silang pendapat itu, Surabaya Heritage Society pernah mengusulkan agar momentum penghancuran Rumah Radio Bung Tomo itu dipakai sebagai Titik Putih program Pelestarian BCB di Surabaya.

Pemerintah Kota qq Dinas Kebudayaan dan Parisiwsata perlu mengkaji kembali BCB-BCB yang sudah ditetapkan dengan kajian akademis yang valid. Meng-evaluasi kembali kebijakan-kebijakan tentang Cagar Budaya secara detail dan tuntas. Memberdayakan Staff-staff di Dinas terkait dengan pemahaman yang baik tentang cagar budaya. Mengajak semua stakeholder kota untuk bahu-membahu melestarikan catatan sejarah kota Surabaya yang berupa BCB ini. Membina relasi yang baik dengan organisasi-organisasi seperti komunitas pelestari sejarah, pelestari bangunan cagar budaya dan memperkuat kerjasama dengan jaringan-jaringan organisasi sejenis. Seperti bagaimana peran dan keterlibatan Surabaya dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia dan sebagainya. Membangun kesadaran bersama pada pemahaman, apresiasi, sense of belonging wargakota tentang kesejarahan kota Surabaya.  Pemerintah Kota Surabaya dan walikota-nya harus punya political-will untuk menjaga, melestarikan dan memasakinikan Catatan-catatan Kota berupa bangunan cagar Budaya.

Selamat berulang Tahun Kota Surabaya.

Freddy H Istanto
Prodi Arsitektur Interior Universitas Ciputra
Surabaya Heritage Society
Menu