Data Science dalam Dunia Bisnis

Data Science dalam Dunia Bisnis

Oleh:

Dimas Bagus Prakoso B.Sc., S.Kom., MBA.

Dosen International Business Management

Universitas Ciputra Surabaya

Apabila kita mendengar data science, orang yang awam atas hal tersebut pasti berpikir tentang data statistik sensus penduduk, data pendapatan domestik bruto, data masyarakat miskin yang diolah di Excel maupun di perangkat olah data lainnya dengan segala kerumitannya. Pertama kali dikenalkan oleh William S. Cleveland, seorang dosen di Purdue University, AS pada sebuah jurnal berjudul Data Science: An Action Plan for Expanding the Technical Areas of the Field of Statistics. Data science dikenalkan pada khalayak oleh Jeff Hammerbacher pada tahun 2008 saat dia menjadi Manajer data di Facebook dan digaungkan oleh DJ Patil yang pada tahun yang sama menjabat sebagai Head of Data Products di LinkedIn (dikutip dari buku Doing Data Science karangan Cathy O’Neil dan Rachel Schutt). Pesatnya dunia teknologi berimplikasi pada pesatnya perkembangan data science dan permintaan atas sumber daya yang memahaminya. Mengacu pada laman glassdoor.com, secara rata – rata jabatan Data Scientist berpenghasilan sebesar $139.840 per tahun. Jumlah yang sepadan dengan kompleksitas pekerjaan yang dihadapi seorang data scientist. Terlihat menarik, bukan? Lalu, apa implikasi data science terhadap suatu bisnis?

Sumber: Doing Data Science, O’Reily Press

 

Sesuai pada gambar di atas, data science adalah irisan antara kemampuan substansi dari suatu bidang (marketing, finance, operation, dll.) dengan pengetahuan akan matematika dan statistik serta ditambah dengan kemampuan hacking. Tujuannya adalah untuk menghasilkan wawasan dari data yang seringkali tidak dapat ditangkap oleh manusia. Data science sendiri terdiri dari beberapa aspek yaitu: ilmu komputer, matematika, statistika, machine learning, keahlian spesifik dari bisnis yang dijalankan, skil komunikasi dan presentasi, serta kemampuan untuk memvisualisasikan data sehingga analisis dapat dikonsumsi oleh business people dan khalayak. Data science bisa menjadi analisis deskriptif yang kompleks, menemukan hubungan antara beberapa variabel dan peristiwa, atau hasilnya bisa menjadi model prediktif. Basis informasinya adalah data, tetapi dapat berupa kombinasi data internal maupun eksternal, dan mungkin juga dari sumber data yang tidak terstruktur seperti dokumen, gambar, video. Output nya sering kali bukan berupa laporan, melainkan model pembelajaran mesin yang berupa suatu bagian dari algoritma yang telah belajar mengenali penipuan, memprediksi profitabilitas pelanggan, atau menentukan penawaran terbaik berikutnya untuk ditampilkan kepada pelanggan. Untuk pembuatan keputusan, tetap dikembalikan kepada manusia yang berarti manajemen perusahaan sebagai pemegang kendali dari strategi yang akan dipilih.

Dengan hadirnya Big Data yang berisi tentang ragam data baik itu numerikal maupun suatu gambar, bisnis akan memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai jenis data dan membantu manajemen membuat keputusan penting. Ini bukan hanya analisis keuangan tetapi juga analisis tentang perilaku, geografi, dan demografi konsumen. Manajemen jadi lebih jelas dalam menentukan strategi dan positioning selama beberapa tahun ke depan, sehingga mereka dapat membuat keputusan dengan percaya diri, karena dilandasi oleh fakta dan data yang ada.

Penggunaan data science di Indonesia sendiri masih belum semasif di luar negeri. Hanya ada beberapa firma/agensi yang menawarkan jasa analitika menggunakan data science. Kebanyakan dari firma/agensi tersebut lebih menawarkan Business Analytics, sub-ilmu dari data science. Namun, beberapa perusahaan sudah merasa terbantu dengan analisis yang dihasilkan oleh data science salah satunya adalah H.M. Sampoerna. Dikutip dari laman Swa.co.id, perusahaan fast moving consumer goods tersebut mengakuisisi berbagai data seperti data trafik, demografi, internal sales, volume, serta point of interest (POI). Perusahaan tersebut mulai mengimplementasi big data analytic sejak awal tahun 2014 hingga diimplementasikan di 6 kota besar pada kuartal III-2014.