GURU BAGI PAHLAWAN  dan PAHLAWAN BAGI GURU: Dimanakah Peran Guru sebagai Pahlawan dalam era distrupsi saat ini ?

GURU BAGI PAHLAWAN dan PAHLAWAN BAGI GURU: Dimanakah Peran Guru sebagai Pahlawan dalam era distrupsi saat ini ?

Oleh:

Dr. Christina Whidya Utami M.M., CLC., CPM (Asia)

Dekan Fakultas Manajemen dan Bisnis

Universitas Ciputra Surabaya

Apa yang menjadi perhatian kita di bulan November, maka ingatan kita akan mengarah pada tanggal 10 November sebagai peringatan hari Pahlawan. Padahal bagi yang lebih cermat sebenarnya di bulan November terdapat 2 tanggal penting sebagai moment peringatan Nasional yakni Tanggal 10 November sebagai hari Pahlawan dan tanggal 25 November sebagai hari Guru Nasional.

Berbeda halnya dengan hari Pahlawan, di mana hampir semua warga negara Indonesia akan mengingatnya. Maka hari Guru Nasional mungkin hanya akan di ingat oleh 3 juta penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai guru dan 282.000 penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai dosen. Sedemikian malang kah? profesi guru dan dosen untuk di apresiasi oleh kalangan tua, muda, profesional, dan bahkan akademisi  sendiri? Sehingga peringatan hari Guru Nasional pun menjadi bagian yang kurang di ingat seperti halnya hari Pahlawan tanggal 10 November

 

Esensi Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional

Peringatan hari Pahlawan bertujuan untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah merebut dan mempertahankan kemerdekaan  bahkan mereka yang telah mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik mereka. Di sisi lain peringatan hari Guru Nasional adalah peringatan untuk menunjukkan penghargaan terhadap jasa guru dalam mendidik generasi muda bangsa.

Hampir setiap negara di dunia ternyata mempunyai momen untuk memperingati hari guru, meskipun dengan tanggal yang berbeda beda tergantung dari masing masing historinya misalnya Malaysia peringatan hari guru di tetapkan pada tanggal 16 Mei, karena pada 16 Mei 1956, Majelis Undang-Undang Persekutuan Tanah Melayu menerima rancangan kurikulum dari Laporan Jawatan kuasa Pelajaran, sedangkan di Korea Selatan ditetapkan tanggal 15 Mei karena Perayaan ini dimulai oleh sekelompok anggota palang merah remaja yang mengunjungi guru-guru yang sedang sakit di rumah sakit. Perayaan hari guru secara nasional tidak dilangsungkan dari tahun 1973 hingga 1982, dan baru dilanjutkan kembali sejak 1983. Guru menerima hadiah bunga anyelir (https://id.wikipedia. org/wiki/Hari_Guru). Sedangkan di Indonesia ditetapkan hari guru pada tanggal 25 November bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

Sebaliknya jika kita melakukan pencarian informasi di wikipedia untuk menggali informasi tentang hari Pahlawan maka hanya peringatan di Indonesia yang muncul, sedangkan di Inggris dan US biasanya mereka memperingatinya sebagai hari veteran nasional. Dalam konteks ini lah, tampaknya nilai dan esensi kepahlawanan memang perlu diperluas. Dimana Pahlawan tidak hanya dimaknai sebagai orang yang gugur dengan mengangkat senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan (yakni para veteran), tetapi juga sosok sosok yang berjuang, berjasa, berdharma bhakti serta memberikan manfaat serta mengisi kemerdekaan untuk bangsa dan negara termasuk guru dan dosen.

Guru Bagi Pahlawan dan Pahlawan Bagi Guru

Peran dan jasa seorang guru ternyata tidak lepas implikasinya bagi aktualisasi dan eksistensi seorang Pahlawan, baik di masa penjajahan maupun pada masa kemerdekaan. Beberapa Pahlawan Indonesia ternyata ber profesi sebagai guru disamping memberikan karya dan pengorbanan terbesar dalam aspek kebangsaan, namun esensi keberhasilan nya tidak terlepas dari peran yang dijalankannya sebagai seorang pendidik dan pengajar. Beberapa Pahlawan yang sekaligus menjalankan peran sebagai guru antara lain:

KH Hasyim Asy’ari  pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin (pengikut NU) dan para ulama pesantren, Kiai Hasyim dijuluki dengan sebutan Hadratusyeikh yang berarti mahaguru. Beliau memiliki kemampuan dalam bidang ilmu agama, dan hukum Belanda. Tak hanya gigih memimpin perjuangan melawan Belanda, Kiai Hasyim juga mengajarkan ilmu agama dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada murid-muridnya. Pesantren yang ddirikan nya yakni Pesantren Tebu Ireng, di Jombang, Jawa Timur. Salah seorang putranya, KH Wahid Hasyim, adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama, sedangkan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau dikenal Gus Dur, menjadi Presiden ke-4 Reprublik Indonesia.

Jendral Sudirman memiliki kemampuan dalam strategi perang Gerilya. Sebelum dikenal sebagai ahli strategi, Sudirman pernah menjadi guru di sekolah perguruan Muhammadiyah dikenal memiliki kepribadian yang tegas dan disiplin. Kepribadiannya merupakan buah dari tempaan sistem perkaderan Hizbul Wathan, yakni organisasi kepanduan Muhammadiyah. Hizbul Wathan adalah salah satu organisasi otonom (ortom) di Muhammadiyah yang bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader yang berdisiplin tinggi dan tegas dalam mengambil sikap.

Bung Karno. Perjuangan Kemerdekaan RI tak bisa lepas dari sosok Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno. Dalam riwayat perjalanan hidupnya, Bung Karno pernah menjadi guru di sebuah sekolah Muhammadiyah di Bengkulu. Profesi itu dia lakukan saat hidup dalam pengasingan Belanda. Saat itu, Bung Karno yang diasingkan Belanda aktif melakukan pertemuan dengan para pemuka Muhammadiyah Bengkulu. Pada suatu hari Hassan Din, Ketua Muhammadiyah Bengkulu saat itu mengajak Bung Karno untuk menjadi guru di sekolah rendah agama milik Muhammadiyah.

Kartini dikenal sebagai perempuan Indonesia yang memiliki gagasan modern tentang perempuan Indonesia. Gagasan Kartini diketahui luas setelah surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda, diterbitkan menjadi buku tahun 1911 oleh Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Perjuangan Raden Ajeng Kartini bukan dalam hal mengangkat senjata melawan penjajah, namun ide dan gagasannya saat itu, yang menginginkan kemerdekaan perempuan Indonesia dari larangan untuk mendapatkan pendidikan layak ikut mempengaruhi kondisi bangsa saat itu. Gagasan Kartini di buku itu cukup mengejutkan masyarakat pada masanya, dan sebagian besar masih relevan hingga hari ini, termasuk bagi generasi milenial yang sedang giat membangun karier atau merintis usaha. Tak hanya berjaung melalui tulisan-tulisannya, Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka

 

Selain guru sebagai pahlawan, guru juga memiliki sosok idola yang layak dijadikan pahlawan. Sosok tersebut bisa beragam dari tokoh yang sangat lekat secara pribadi misal orang tua, guru mereka saat sekolah. Bahkan dalam konteks pendidikan tentunya sosok Ki Hadjar Dewantara layak mendapat sebutan sebagai Pahlawan bagi guru. Namun, jika diperkenankan sedikit menawarkan pemikiran kritis, tetapi bukan berarti skeptis terhadap segala sesuatu yang bersifat histori (mengingat Pahlawan biasanya sangat lekat dengan histori atau sejarah) atau pun ahistoris. Namun konsep pahlawan masa kini sebaiknya tidak hanya mengenai sosok Pahlawan, sebagai seseorang yang telah berjasa tapi lebih pada seberapa besar kita dapat menginspirasi orang terdekat kita untuk hidup lebih baik, seberapa mampu kita meyakinkan diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Baiknya pilihan pahlawan dari orang – orang terdekat yang senantiasa memberikan semangat atau dukungan fisik moril untuk kita, atau mungkin tokoh – tokoh yang ternyata tanpa kita sadari dapat menjadikan contoh yang sesuai konteks dan zaman, misalnya, remaja yang menjadikan Captain America sebagai pahlawan berkat perannya di “serial film film Marvel” atau perempuan dimana pasangan yang senantiasa “ojek gratis” antar-jemput  sebagai pahlawan.

 

Dimana Peran Guru sebagai Pahlawan di era Distrupsi?

Keberadaan guru hanya sebagai fasilitator karena tersedianya beraneka ragam sumber belajar siswa, menempatkan guru pada posisi yang sulit. Jika dahulu peran guru sangat vital, saat ini banyak sumber belajar yang bisa menggantikan peran guru dalam mendapatkan materi belajar. Dengan demikian di manakah Guru bisa mendapatkan peran yang dominan dalam sistem pendidikan kita saat ini?

Beberapa waktu yang lalu, sebuah harian Nasional mengungkap fakta bahwa “nalar bermatematika siswa Indonesia” saat ini berada pada titik kritis. Data IFL Indonesia Family Life Survey pada tahun 2000, 2007 dan 2014 yang mewakili 83% populasi Indonesia menunjukkan kedaruratan bermatematika. Lebih dari 85% lulusan SD, 75% lulusan SMP, dan 55% lulusan SMA hanya mampu menjawab soal dengan level siswa kelas 2 ke bawah. Hanya sedikit yang bisa memecahkan soal matematika dengan level kelas 4 dan 5.   Kondisi ini mencerminkan adanya penurunan pola berfikir sistematis dari anak anak Bangsa kita. Penurunan pola berfikir sistematis ini membawa dampak yang sangat besar bagi struktur belajar anak pada aspek ilmu ilmu yang lain, bahkan pada pola pengambilan keputusan anak anak Bangsa sepanjang hidup mereka.

Distrupsi dari berbagai sumber informasi menjadi gempuran tersendiri bagi anak siswa pembelajar, di samping juga peran guru semakin melemah dalam kehidupan pendidikan tergantikan oleh berbagai media pembelajaran yang ternyata tidak semuanya efektif membangun pola belajar sepanjang hidup .

Hal ini menjadi tantangan untuk terus dipikirkan solusi serta jalan keluar dari permasalahan ini. Dimana, anak anak milenial yang semakin meninggalkan peran Guru dalam sejarah kehidupan belajarnya, dengan lebih mementingkan media tehnologi namun sebenarnya semakin kehilangan arah esensial proses belajar yang sesungguhnya.

Haruskah peran Guru ditegaskan kembali dalam konteks Pahlawan yang akan menjalankan peran vital dan esensial dari proses belajar siswa? Hal ini menjadi pemikiran kita bersama

 

 

 

Reference:

https://www.liputan6.com/news/read/3174707/hari-guru-4-pahlawan-ini-pernah-jadi-pengajar

Kompas, Senin 12 Nov 2018 halaman 12: Nalar bermatematika Gawat