Capture, Upload, and Share Youtube, solusi  musik milenial.

Capture, Upload, and Share Youtube, solusi musik milenial.

Capture, Upload, and Share Youtube, merupakan sebuah fragmen kata-kata yang mungkin harus disediakan Youtube dalam menjawab kebutuhan masyarakat untuk media sosial. Youtube sendiri merupakan sebuah situs web yang memberikan fasilitas secara gratis bagi para penggunanya di seluruh dunia untuk berinteraksi melalui merekam (capture), mengunggah (upload) dan membagikan (share) video kepada pengguna yang lain untuk ditonton di seluruh dunia. Lantas, apa peranan Youtube terhadap industri musik Indonesia? Menurut situs web portal berita Detik.com pada kanal Hot dan Music (publish: 22 Oktober 2018), ada 6 musisi lokal Indonesia yang berhasil meraih ketenaran karena Youtube. Tiga diantaranya adalah Brian Immanuel (Rich Chigga atau Rich Brian), Sabyan Gambus, dan Hanin Dhiya. Dahulu tidak ada yang mengenal mereka. Namun berkat Youtube, karya musik mereka sukses dikenal masyarakat dan tentu saja mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi mereka. Ini adalah contoh tokoh yang Capture, Upload, and Share Youtube secara berkala dan meraih kesuksesan.

Sedikit kilas balik sekitar 30 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1990an. Industri musik masih dilakukan dengan cara konvensional. Musisi berkarya dengan menciptakan lagu dan merangkumnya pada suatu album rekaman musik dalam bentuk kaset pita atau CD (compact-disc). Apresiasi penikmat musik disampaikan dengan cara membeli album dan menonton konser musisi favoritnya. Pada masa-masa inilah kita merasakan keseruan menikmati musik melalui radio dan bernyanyi, sambil membaca teks lagu yang terdapat sampul atau cover album. Ketika album laku keras di masyarakat, maka tawaran manggung pun akan semakin padat. Dan tentunya rekening bank para musisi pun semakin padat.  Namun, maraknya pembajakan berdampak langsung pada penjualan album. Penjualan album merosot drastis. Masyarakat memilih membeli album bajakan karena harga yang tentu lebih murah. Salah satu sumber pendapatan musisi pun berkurang kendati tawaran manggung masih ada. Hal ini dikarenakan adanya kebiasaan Capture, Upload, and Share Youtube

Memasuki awal tahun 2000an, angin segar datang bagi para musisi. Banyak penyedia layanan seluler memberikan layanan nada sambung pribadi. Layanan yang memungkinkan pihak penelepon melakukan panggilan, sambil menikmati musik yang diperdengarkan pada jalur telepon sebelum panggilan itu dijawab oleh penerima. Durasi musik yang dimainkan berkisar 30 sampai 40 detik. Biaya layanan NSP dibebankan kepada penerima. Ada rupiah yang harus dibayarkan supaya seseorang yang menelepon kita, dapat menikmati musik sembari menunggu kita menjawab panggilan. Sangat aneh memang. Seperti membeli sesuatu tetapi tidak dapat dinikmati sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut juga menjadi salah satu bentuk apresiasi dan solusi bagi musisi pada saat itu. Dengan adanya NSP, pembajakan pun dapat diminimalisasi. Kreativitas musisi kembali kondusif. Motivasi berkarya tetap terjaga. Potensi materi yang didapatkan dari lagu yang terjual untuk NSP juga menjanjikan. Walaupun dari durasi normal dalam satu lagu, hanya sekitar 30 detik saja yang digunakan. Namun sayangnya, secara tidak sadar ada dampak negatif dari fenomena ini. Arah dan tujuan bermusik pun mulai bergeser. Tidak lagi menonjolkan keindahan dalam lirik lagu dan musikalitas. Perkembangan musik pada masa itu terfokuskan pada 30 detik untuk NSP. Musik yang enak adalah musik bisa dipakai untuk NSP. Tak pelak, hal ini juga merontokkan idealisme dalam bermusik. Namun apa boleh buat, yang penting dari hasil karya masih mampu mempertahankan asap dapur tetap mengepul. Situs web berita Kompas.com pada kanal Tekno dan Feature menyampaikan bahwa semasa hidupnya, Mbah Surip (Urip Ariyanto) berhasil memperoleh keuntungan sebesar Rp 4,5 miliar dari royalti penggunaan NSP untuk lagu “Tak Gendong” (publish: 4 Agustus 2009). Sungguh angka yang fantastis tentunya.

Memasuki era milenial akhir tahun 2010an ini, berkarya dalam musik pun jadi semakin mudah. Seiring dengan banyak orang yang menjadi youtuber (pengguna Youtube), strategi dalam industri musik pun mengalami pergeseran. Banyak musisi senior yang menerapkan strategi ini. Youtube menjadi solusi bagi musisi untuk mempromosikan karya mereka. Respon dan reaksi youtuber akan video yang diunggah oleh para musisi, dapat dipantau secara langsung melalui akun Youtube-nya. Keuntungan finansial didapat dari monetasi video yang diunggah. Semakin banyak orang yang menonton video (viewers), maka pundi-pundi rupiah yang dihasilkan pun semakin bertumpuk. Hal ini juga menjadi motivasi bagi para musisi berbakat yang selama ini belum dikenal. Tidak ada batasan dalam berkarya dan berekspresi melalui Youtube. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan akan banyak musisi-musisi baru yang meraih sukses melalui Youtube. Lagu “Karna Su Sayang” yang dinyanyikan oleh Near dan Dian Sorowea menjadi bukti bahwa kesuksesan melalui jejaring Youtube adalah hal yang menjajikan. Karya musik yang lugas dengan menggunakan lirik pengucapan khas Papua, nyatanya bisa dinikmati dan diterima dengan dengan baik oleh youtuber. Saat ini video lagu “Karna Su Sayang” sudah ditonton lebih dari 79 juta youtuber di dunia (12 Desember 2018). Bisa jadi selanjutkan kesuksesan lagu “Karna Su Sayang” akan ditapak tilasi oleh lagu “Selow” yang dinyanyikan oleh Wahyu, yang saat ini sudah mencapai lebih dari 18 juta viewers. Atau juga “Sayur Kol” yang dinyanyikan oleh Punxgoaran dengan pencapaian lebih dari 2 juta viewers saat ini (12 Desember 2018). Kita tunggu saja tren selanjutnya.

Pada dasarnya, Youtube tidak memberikan batasan untuk karya video yang diunggah. Hal inilah yang sangat diminati oleh para pencipta video (content creator). Kreativitas memang selalu liar dan sangat sulit dibatasi. Potensi kesuksesan sangat terbuka lebar. Tidak hanya pada industri musik. Sukses melalui Youtube dapat diraih melalui bidang apapun. Bidang edukasi, hobi dan kegemaran, media promosi, atau dengan menerbitkan konten-konten video yang bersifat humor atau bahkan video keseharian. Tidak ada batasan berkarya dalam Youtube. Entah itu batasan gender, suku, usia atau yang lainnya. Semuanya terbingkai dalam satu arena kreasi yang sangat kompetitif.

 

Oleh:

Yoseva Maria Pujirahayu Sumaji, SE, MM, MBA

Dosen International Business Management

Universitas Ciputra Surabaya