Rencana Travel Bubble : Solusi Aman Berwisata

Apa itu Travel Bubble ?

Travel Bubble menjadi solusi yang sedang diperbincangkan di berbagai negara untuk memulai kembali perjalanan internasional di tengah kondisi “new normal” pasca pemulihan pandemic Covid-19. Travel Bubble menarik perhatian banyak negara, seperti Australia, Selandia Baru, Estonia, Latvia, dan Lithuania. Indonesia senidri berencana membuka Travel Bubble dengan empat negara yaitu China, Korea Selatan, Jepang dan Australia. Lalu, apa sih sebenarnya Travel Bubble itu? Yuk sama-sama kita pahami!

Travel Bubble adalah ketika beberapa negara yang berhasil mengontrol virus corona, sepakat untuk membuka koridor atau boarding, di mana  ini akan memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas, dan menghindari kewajiban karantina mandiri. Langkah tersebut akan memudahkan masyarakat dalam melintasi perbatasan dengan kerumitan minimum. Travel bubble digunakan sebagai upaya untuk mendorong kembali sektor pariwisata dan transportasi.

Pemerintah telah melakukan perundingan dengan beberapa negara di Asia untuk merencanakan Travel Bubble. Pada akhir Juli 2020, sudah ada perjanjian Travel Bubble yang disepakati. Namun hal tersebut tergantung pada kondisi penurunan tingkat infeksi kasus Covid-19 di masing-masing negara. Salah satu negara yang diajak bekerjasama oleh Indonesia yakni Korea Selatan, menyambut secara baik tawaran tersebut dan mengharapkan adanya pertukaran wisatawan dengan Indonesia. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat diputuskan dalam waktu dekat.

Pemulihan pariwisata dengan membuka pintu bagi wisatawan untuk menjelajah Nusantara dan merencanakan Travel Bubble harus dilakukan dengan penuh persiapan dan juga memperhatikan protokol kesehatan secara baik dan benar. Keputusan dari Satuan Gugus
Tugas Penanganan Covid-19 yang terdiri dari para praktisi dan ahli epidemologi, karena mengingat banyaknya dampak yang dikhawatirkan akan terjadi bila tidak mengutamakan prosedur kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat.

Travel Bubble sendiri merupakan kerja sama antar negara untuk saling mendatangkan turis. Tidak hanya itu, Travel Bubble dianggap sebagai salah satu solusi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, setelah pandemi virus corona. Oleh karena itu, langkah untuk menyasar wisatawan nusantara menjadi strategi utama untuk memulihkan sektor pariwisata.  Pemulihan pariwisata dengan membuka pintu bagi wisatawan nusantara pun harus dilakukan dengan penuh persiapan, tidak hanya sekedar promosi tapi juga memastikan protokol kesehatan berjalan. Dengan kondisi saat ini, target kunjungan wisatawan pun tidak akan bisa sama seperti tahun – tahun sebelumnya.

Wacana tentang Travel Bubble tidak hanya negara-negara di ASEAN lho! Seluruh negara di dunia sedang bernegosiasi satu akan yang lain untuk menjalin hubungan “Travel Bubble” ini. Seperti contohnya Australia yang ingin bekerja sama dengan Selandia Baru, walaupun masih belum ditentukan kapan pelaksanaannya. Ketidakpastian penerapan Travel Bubble antara kedua negara tersebut dikarenakan banyaknya regulasi yang perlu ditaati, dan pastinya dilakukan secara ketat. Untuk mencegah adanya pandemi ke-2, contoh regulasi tersebut termasuk karantina selama 14 hari bagi wisatawan asing. Negara-negara ini juga tidak sembarangan saat mencari rekan untuk menerapkan Travel Bubble, mereka juga pasti akan melihat keadaan negara tersebut. Walaupun potensi peningkatan ekonomi suatu negara saat mereka membuka diri untuk Travel Bubble ini tinggi, mereka akan menolak apabila negara tersebut masih belum pulih dari pandemi.

Sumber :
www.kompas.com/travel
www.forbes.com/sites

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *